
Pasutri itu saling melempar senyum saat hasrat mereka telah tersalurkan dalam kepuasan batin. Johan menghujani wajah sang istri dengan kecupan sayang.
"Jo, sampai kapan kita tinggal disini?" tanya Sandra masih dalam dekapan Pria itu.
"Kenapa, Sayang? Apa kamu sudah merindukan anak-anak, hmm?" ucap Johan seraya mengusak wajahnya di dada wanita itu.
"Ya, aku merindukan Alia," jawabnya yang membuat Johan tersenyum gemas.
"Tenanglah, Alia aman dalam penjagaan Hanan. Baru juga dua hari disini, tetapi kamu sudah menanyakan berapa lama kita akan disini. Apakah kamu tidak bahagia menghabiskan waktu bersamaku?" tanya Johan sembari menatap wajah cantik yang belum lekang dimakan usia.
"Tentu saja aku sangat bahagia bersamamu. Tetapi tempat ini terasa asing. Kenapa kamu tidak memilih liburan di luar kota saja, jadi kita tidak perlu sejauh ini keluar negeri," ungkap wanita itu.
"Tapi aku ingin disini, Sayang. Baiklah jika kamu tidak nyaman disini, besok kita pulang," jawab Johan tak ingin memperpanjang masalah.
"Jika ini keinginan kamu, maka aku akan senang hati menemanimu disini. Kita tidak perlu pulang besok. Mari kita menikmati waktu berdua di tempat ini. Tapi jangan pernah tinggalkan aku," ujarnya sembari menarik hidung mancung ayah dari anaknya itu.
"Hahaha... Ternyata Sandraku masih seperti dulu, yaitu penakut," ujarnya dengan kekehan.
"Tentu saja aku takut, karena ini bukan negara kita."
"Kamu tidak perlu takut, Sayang. Mana mungkin aku meninggalkanmu. Sudahlah, jangan pikirkan hal itu. Sekarang ayo kita mulai kembali," ucap Johan tersenyum penuh arti.
Pasangan itu kembali mengulangi mereguk madu cinta, sehingga mereka lelah dan tertidur pulas.
***
Tak terasa sudah satu bulan lebih Sandra dan Johan berada di luar negeri. Dan kini kehamilan Alia juga hampir memasuki tujuh bulan. Rencananya minggu depan pasangan itu akan mengadakan acara tujuh bulanan.
Pagi ini seperti biasanya, setelah melaksanakan ibadah dua rakaat, Alia menyiapkan segala keperluan sang suami untuk bekerja. Karena Hanan sekarang bukan hanya sekedar Dokter saja, maka stelan kerjanya juga berbeda dari yang biasanya.
Setelah menyediakan pakaian, Alia beranjak menuju dapur untuk menyediakan sarapan dan minum untuk suami tercintanya.
"Kopi, Mas," ucap Alia menaruh secangkir kopi dimeja yang ada di kamar. Memang sudah kebiasaan Pria itu menikmati kopinya di dalam kamar sembari memeriksa agendanya di MacBook.
"Terimakasih, Sayang," jawab Hanan menerima dan segera menyeruput dengan pelan.
"Mas, kamu sudah kasih kabar Papa dan Ibu tentang acara yang akan kita adakan minggu depan?" tanya Alia sembari duduk di samping suaminya.
"Belum, nanti siang aku akan menghubungi mereka. Apakah Ibu tidak ada menghubungimu?"
"Kemaren ada, tapi aku belum memberi tahu, karena kita belum menentukan harinya," jawab Alia sembari merapikan kerah kemeja suaminya yang tampak belum sempurna.
"Sayang, kamu tidak ingin liburan juga seperti Papa dan Ibu?" tanya Hanan menatap begitu lekat.
Alia berpikir sejenak. "Hmm, kayaknya nggak deh, Mas. Tunggu anak kita lahir dulu. Biar nanti kita liburannya sudah bertiga," jawabnya begitu polos.
__ADS_1
Cup!
"Baiklah, aku akan mengikuti segala kemauanmu," ucap lelaki itu sembari mengecup bibir Alia.
"Tapi, sepertinya Ibu dan Papa betah banget di sana ya, Mas?"
"Hmm, aku tahu Papa sengaja menunda kepulangan mereka sebelum usahanya berhasil," jawab Hanan tersenyum saat mengingat bagaimana semangatnya sang Papa yang menginginkan anak lagi.
"Usaha? Usaha apa, Mas?" tanya wanita itu sangat polos.
"Usaha memberi kita adik kecil. Hahaha..." Hanan terkekeh. "Dasar Opamu itu ya, Nak," ucap Hanan sembari mengusap perut buncit sang istri.
"Iya juga ya, Mas. Aku juga penasaran, apakah sekarang Ibu sudah hamil?" tanya Alia ikut senang.
"Mana aku tahu. Nanti kita tanyakan."
Pasangan itu ngobrol pagi sembari menunggu beberapa menu yang masih di sajikan oleh Bibik.
"Berangkat dulu ya, Dek. Jangan mengerjakan yang berat-berat. Biarkan segala persiapan di urus oleh pihak WO. Kamu harus banyak istirahat agar tiba harinya tidak kecapean," pesan lelaki itu sebelum beranjak ke RS.
"Baik, Mas." Alia mengangguk patuh sembari menyalami tangan sang suami dengan takzim.
Jika Alia dan Hanan sedang mempersiapkan acara tujuh bulanan, berbeda dengan ayah dan ibunya.
Pagi ini Sandra enggan untuk beranjak dari tempat tidurnya. Tak ada sarapan yang tersedia di meja makan. Wanita itu seperti menikmati sekali tidurnya.
"Aduh Johan, kenapa bau kamu busuk sekali," ucap Sandra sembari menutup hidungnya dengan selimut yang masih membungkus tubuhnya.
"Busuk?" Tanya lelaki matang itu sembari mengidu bagian tubuhnya. "Nggak tuh, siapa juga yang bau, orang udah wangi begini," ucapnya sedikit heran.
"Tapi benaran aku tidak suka bau aroma parfum yang kamu pakai itu. Sana ganti baju kamu," titah wanita itu yang masih menutup hidungnya.
"Tapi ini parfum yang biasanya kita gunakan, Sayang. Kamu kenapa sih?" tanya Johan heran.
"Aduh jangan banyak tanya, Jo. Aku benar-benar ingin muntah." Sandra segera berlari masuk kedalam kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya.
Huek! Huek! Huek!
Johan hanya tertegun, otaknya berpikir sejenak ada hal apa yang sedang menimpa pada diri istrinya.
Seketika senyum mengembang di bibir lelaki matang itu. "Apakah benar usahaku sudah membuahkan hasil?" ucapnya dalam keseorangan.
Johan bergegas menukar pakaiannya, lalu menyingkirkan aroma yang di benci olah sang istri. Setelah itu ia segera menyusul wanita itu yang masih betah berada di dalam kamar mandi.
"Apakah masih mual?" tanyanya sembari mengusap tengkuk wanita itu.
__ADS_1
Sandra hanya menjawab dengan gelengan. Sandra melihat Johan sudah menukar pakaiannya.
"Kenapa menatapku seperti itu? Apakah kamu terkesima?" gurau lelaki itu sembari membantu wanitanya untuk kembali keatas ranjang.
"Johan, kenapa akhir-akhir ini aku sering mengalami pusing dan mual ya?" tanya Sandra dengan wajah kuyu.
"Tidak apa-apa, Sayang. Itu hal yang wajar," jawab Johan memahami.
"Hal wajar apa maksud kamu? Apakah aku sedang mengalami suatu penyakit?" tanya Sandra tampak cemas.
"Iya, penyakit cinta," jawab Johan yang mendapat pukulan dari wanita itu.
"Aku serius, Jo!" kesalnya menatap malas.
"Hahaha... Ya baiklah, Sayang. Untuk mengetahui kalau kamu itu sakit atau tidaknya, maka ayo berbaringlah. Aku akan memeriksa dirimu," ucap Johan. Lelaki itu segera mengambil peralatan Dokternya, lalu memeriksa kondisi sang istri.
Sebenarnya Johan bukan memeriksa penyakit, tetapi ia ingin memastikan bahwa wanita itu fix sudah hamil apa belum.
"Ayo berbaringlah. Aku akan memeriksa tensimu, ada kemungkinan tensimu sedang naik, karena beberapa hari ini kamu sangat pemarah," ujar Johan sembari mengukur tensi wanita itu.
Sandra hanya mengikuti segala perintah lelaki itu. "Bagaimana hasilnya?" tanya Sandra dengan mimik wajah serius.
"Tensi kamu normal, seratus sepuluh per delapan puluh," jawabnya dengan jujur.
"Sekarang kita cek dan ricek jantung dan hatimu." Johan segera menempelkan stetoskop di dada wanita itu sembari mendengarkan dengan seksama.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Sandra. Meskipun dia juga seorang Dokter, tetapi tentu saja dia tidak bisa memeriksa kondisinya sendiri.
"Hemm, kalau jantung kamu normal, sepertinya hatimu yang sedikit bermasalah. Karena ada penyakit kekhawatiran disana," jawab Johan mendiagnosa penyakit sang istri.
"Johan, aku serius!" sarkas wanita itu begitu jengkel oleh perangai suaminya yang masih saja bercanda.
"Hei, aku ini serius. Karena semua organ kamu sehat, tetapi hatimu saja yang sedikit bermasalah. Apa yang kamu khawatirkan?" tanya Johan sembari mengeluarkan sebuah alat yang sering digunakan oleh Hanan saat memeriksa pasiennya.
Johan sengaja mengambil benda itu di ruang praktek putranya sebelum mereka berangkat waktu itu. Dan Sandra masih tak menyadari. Mungkin karena Sandra hanya berfokus dengan spesialis di bidangnya, maka ia tidak tahu benda apa itu. Dan disaat dia hamil Hanan dulu, belum ada benda seperti itu ia temukan pada bidan desa.
Johan mengolesi sedikit gel untuk membantu memudahkan benda itu mendeteksi detak jantung malaikat kecil yang sudah bersarang di rahim Sandra.
"Itu untuk apa kegunaannya, Jo?" tanya Sandra sedikit aneh.
"Untuk mendeteksi apakah rahimmu bermasalah," jawab Johan sembari mendengarkan dengan seksama.
Seketika senyum lelaki itu mengembang sempurna.
"Apa hasilnya?" Tanya Sandra.
__ADS_1
Bersambung.....
Happy reading 🥰