
Akhirnya tugas pasutri itu selesai. Semua pasien rawat jalan telah mereka periksa dan diberikan resep obat. Johan tersenyum melihat mimik wajah sang istri yang sedari tadi tampak kesal.
"Wajahnya jangan begitu dong, Sayang. Nggak suka banget kalau aku nemenin kamu praktek," ucap Johan yang berdiri tepat dihadapan wanita itu.
"Ck, apaan sih kamu. Lagian kamu kenapa buru-buru banget untuk pergi. Aku belum ada persiapan apapun," ucap Sandra mengeluhkan tindakan suaminya yang terkesan buru-buru.
"Kamu tidak perlu melakukan persiapan. Semuanya kita beli disana. Kamu hanya perlu mempersiapkan stamina dan vitalitas saja," ucap Johan sembari mengerlingkan mata nakalnya.
"Johan, kenapa perangai kamu seperti anak muda saja. Kita ini bukan lagi pasangan muda yang sedang honeymoon, aku rasa kita tidak perlu kemana-mana. Dengan menghabiskan waktu bersama sama anak-anak saja itu sudah cukup," ujar Sandra menatap malas.
"Kamu kok gitu ngomongnya? Bukankah semalam kamu sudah setuju?" tanya Johan dengan wajah kecewa.
"Maksud aku..."
"Sudahlah, jika kamu tidak mau. Ayo kita pulang sekarang." Johan segera keluar dari ruangan itu dengan langkah lebar.
"Johan, tunggu dulu!" panggil Sandra sembari sedikit mengejar langkah lelaki baya itu.
"Ada apalagi, Sandra?" jawabnya masih mengayunkan langkah tanpa menoleh pada wanita itu.
"Kamu marah?" tanya Sandra sembari meraih tangan sang suami.
Johan menatap sesaat. "Aku tidak marah, tapi kecewa saja. Karena aku merasa di beri harapan palsu," jawab Johan mode ngambek.
"Ya ampun calon kakek labil banget. Gitu aja ngambek," celoteh Sandra dengan senyum khasnya sembari mengapit lengan lelaki itu.
Johan tak menyahut, ia masih menyusuri koridor RS itu untuk menuju parkiran. Tentu saja tingkah mereka tak luput menjadi sorotan para staf RS. Dan baru kali ini mereka melihat Professor yang selama ini terkenal dengan wibawanya. Namun, sejak menikah dengan Dokter Sandra, tingkah lelaki baya itu berubah seratus delapan puluh derajat.
Johan lebih semangat, dan rona bahagia tampak begitu nyata. Jiwa lelaki itu seperti anak muda. Senyum selalu terukir di wajahnya.
"Sepertinya Dr. Sandra adalah cinta sejati Prof Johan. Lihatlah mereka begitu tampak bahagia dan selalu tersenyum," bisik-bisik mereka yang sempat terdengar oleh pasangan itu.
Pasangan itu tak menghiraukan ucapan para stafnya. Johan dan Sandra segera menuju parkiran untuk menaiki kendaraan mereka.
__ADS_1
"Ibu! Papa!" panggil Alia yang baru saja datang diantar supir.
"Alia, kamu ngapain kesini?" tanya Ibu yang segera menghampiri anak menantunya itu.
"Mau ajak Mas Hanan maksi. Ibu dan Papa udah makan?" tanya Alia.
"Belum, nanti saja. Soalnya Ibu dan Papa mau siap-siap dulu," jawab Ibu dengan jujur.
"Loh, Ibu dan Papa mau kemana?" tanya Alia sedikit bingung.
"Alia, kami mau liburan dulu. Kamu dan Hanan baik-baik ya. Jaga cucu Ibu dengan baik," jawab Ibu sembari mengusap perut Alia yang sudah mulai membuncit.
"Oh, Ibu dan Papa mau honeymoon? Wah, semoga pulang dari sana ada kabar bahagia ya. Nanti anakku punya Oom kecil atau Tante kecil," jawab Alia yang membuat mood Sandra seketika berubah.
"Ya ampun, Nak. Kamu dan Hanan kenapa mikirnya sama saja sih. Ibu sudah tidak ingin punya anak lagi," tegas wanita itu yang di tanggapi dengan senyum oleh Johan dan Alia.
"Sudahlah, Sayang. Aminkan saja Do'a anak-anak. Itu tandanya mereka menginginkan adik lagi," timpal Johan yang mendapat tatapan tajam dari Sandra.
"Johan, berapa kali aku katakan bahwa aku sudah tidak ingin mempunyai anak lagi!" sarkasnya sembari berlalu.
"Ah, baiklah Papa. semoga hari-hari Papa dan ibu menyenangkan disana. Jangan lupa kabari kami jika sudah sampai tujuan," jawab Alia tersenyum bahagia.
"Tentu saja, Nak. Kalau begitu Papa dan Ibu pergi dulu ya. Bye..."
Alia membalas lambaian tangan sang ayah mertua sebelum masuk kedalam kendaraannya, lalu wanita itu segera menuju ruang praktek sang suami.
Alia sudah sampai di depan ruang praktek Hanan. Ia berpapasan dengan suster yang baru saja keluar.
"Ah, Sus. Apakah suami saya masih di dalam?" tanyanya dengan senyum ramah.
"Ada, Bu, Dokter Hanan sedang memeriksa pasien terakhir," jawab suster dengan jujur.
"Baiklah, kalau begitu saya tunggu disini saja." Alia duduk di bangku tunggu yang ada di ruangan itu, dan suster mengangguk sembari berpamitan untuk pergi dari hadapannya.
__ADS_1
Sudah cukup lama wanita hamil itu menunggu, tetapi pasien yang di maksud tak kunjung keluar dari ruangan suaminya. Begitu lamakah? Apakah konsultasi memakan waktu lama?
Alia sudah merasa bosan dan jenuh, ia ingin masuk, tetapi merasa tidak enak, takut mengganggu pekerjaan suaminya. Namun rasa penasaran yang begitu besar mendorong dirinya untuk membuka ruang praktek itu.
Seketika jantung wanita itu berdegup kencang saat melihat siapa pasien yang sedang bicara dengan sang suami.
"Saya rasa apa yang telah saya terangkan sudah sangat jelas. Jadi silahkan datang lagi di tgl yang sudah saya tentukan," ucap Hanan dengan datar.
"Mas Hanan, apakah kamu mempunyai waktu untuk makan siang bersama?" tanya Nova dengan penuh harap.
"Tolong bersikaplah secara formal. Aku disini hanya Dokter yang akan mengobatimu, jadi tugasku sudah selesai, maka aku harus pulang sekarang," tegas Hanan segera berdiri sembari meraih snelli Dokternya yang tersampir di bangkunya.
"Mas Hanan, tunggu!" seru wanita itu sembari meraih tangan lelaki itu. "Mas, kenapa sikap kamu bisa berubah seperti ini? Padahal dulu kamu memperlakukan aku begitu baik dan sangat lembut. Tapi setelah kehadiran Alia, kamu begitu membenciku, kenapa, Mas?" tanya Nova yang telah menjatuhkan air matanya.
"Nova, tolong jangan membahas hal pribadi disini. Semuanya telah menjadi masalalu. Aku sangat mencintai Alia, jadi aku rasa kamu sudah tahu apa jawabannya," ujar Hanan yang segera keluar dari ruangan itu.
"Sayang!" ucap lelaki itu saat menemui sang istri yang sudah berdiri di depan pintu.
"Hei, kamu sudah selesai?" tanya Alia tersenyum manis, ia berusaha untuk tetap tenang seperti tak mendengar apapun yang mereka bicarakan.
"Kamu! Kamulah wanita yang telah mengambil lelaki yang selama ini aku cintai. Kamu yang telah merampas kebahagiaanku!" tuding Nova dengan nada tinggi.
"Nova, berhenti mengatakan hal itu pada Alia. Karena dari awal aku memang tak pernah mencintaimu. Jadi jangan pernah kamu menyalahkan Alia!" sergah Hanan dengan tegas.
Nova menyorot Alia dengan tajam dengan buliran bening menetes disudut matanya. "Ingatlah Alia, aku akan mendapatkan kembali apa yang seharusnya menjadi milikku!" ancam wanita itu sembari beranjak meninggalkan mereka.
Seketika Alia teringat akan kisah antara Ibu Sandra dan Papa Johan. Apakah nanti perjalanan cintanya akan sama seperti itu? Mungkin sekarang Hanan mengatakan tidak mencintai Nova, tapi suatu saat nanti dia akan bucin akut terhadap wanita itu, sama halnya dengan Papa Johan sekarang ini.
"Tidak! Aku tidak mau..." Alia segera berlari meninggalkan Hanan.
"Alia! Dek! Kamu kenapa!" panggil Hanan mengejar langkah sang istri.
Bersambung....
__ADS_1
Happy reading 🥰