Penyesalan Seorang Dokter

Penyesalan Seorang Dokter
Kebahagiaan mereka


__ADS_3

"Ah, tentu saja tidak. Mana mungkin kami ada masalah," jawab Sandra sembari bergelayut mesra di lengan sang suaminya.


"Syukurlah kalau begitu. Yasudah, kalau begitu aku tutup telponnya. Kami tunggu kedatangan ibu dan Papa," ucap Hanan mengakhiri obrolan mereka.


"Baiklah, kami pasti akan pulang. Apakah kamu tidak mengundang adik-adikmu?" tanya Johan.


"Tentu saja, setelah ini kami akan menghubungi Sonya dan Shella," jawab Hanan.


Setelah obrolan mereka selesai, Sandra kembali berbaring dengan wajah cemberut. Sepertinya mood wanita itu sedang bermasalah. Mungkin karena bawaan si jabang bayi.


"Kok tidur lagi, Sayang?" tanya Johan sembari ikut merebah di samping sang istri. Johan memeluk dari belakang, dan tak lupa mengecup tengkuknya berulang kali.


"Jangan ganggu aku, Jo. Aku ngantuk banget," jawab Sandra tak berminat untuk berinteraksi apapun.


"Kamu tidak bisa mengubah panggilan ya?" tanya Johan masih mendekap mesra.


"Nanti aku pikirkan kembali mau panggil kamu apa. Sekarang biarkan aku tidur," jawab Sandra sembari memejamkan matanya.


"Baiklah, Sayang. Tidurlah, hari ini biarkan aku masak sesuatu buat kamu."


Sandra membuka matanya. "Aku tidak mau makan apapun," jawabnya yang sudah mual memikirkan aroma masakan.


"Baiklah, untukku saja."


"Jangan masak, Johan, aku benar-benar neg dengan aroma masakan," larang wanita baya itu.


"Terus, kita harus makan apa dong?" tanya Johan bingung.


"Kamu makan di luar saja, jangan bawa makanan pulang."


"Mana mungkin kamu tidak makan, kamu harus makan walau sedikit. Ayo pikirkan apa yang kamu inginkan?" ucap Johan membelai rambut wanita itu dengan lembut.


Sandra masih memejamkan mata, tetapi otaknya berpikir apa yang rasanya enak untuk di konsumsi.


"Jo, aku tidak ingin makan masakan apapun. Aku cuma mau makan buah-buahan yang segar," jawab Sandra.


"Ah, baiklah. Akan aku sediakan untuk kamu." Lelaki itu bergegas untuk mencarikan bermacam aneka buah untuk sang istri.


Sandra membalikkan tubuhnya menatap kepergian sang suami. Hatinya merasa bahagia saat mendapat perhatian dari lelaki itu.


"Perhatian sekali dia," ujarnya tersenyum senang.


***


Waktu yang ditunggu telah tiba. Besok pagi adalah acara tujuh bulanan yang akan di selenggarakan di kediaman Johan Lesmana.


Malam ini Alia dan Hanan sudah menyediakan hidangan istimewa untuk menyambut kedatangan kedua orangtuanya, dan juga adik-adiknya yang akan datang dari luar negeri.


"Mas, kenapa Papa dan Ibu lama sekali sampai?" tanya Alia sembari menata hidangan diatas meja.


"Mungkin sebentar lagi. Tadi sudah di bandara," jawab Hanan sembari membantu istrinya.


"Duduk saja, Dek. Biar aku dan Bibik yang melakukannya," titah Hanan.


"Nggak pa-pa, Mas. Ini tidak berat kok."

__ADS_1


Tak berselang lama terdengar suara ucapan salam dari kedua orangtuanya dan juga adik-adiknya. Alia dan Hanan segera menyambut mereka.


"Alhamdulillah, akhirnya sampai dengan selamat," ucap Alia menyalami kedua mertuanya, dan juga adik-adik iparnya.


"Wah, perut kamu sudah semakin besar. Sehat-sehat ya cucu Oma," ucap Sandra sembari mengusap perut Alia.


"Aamiin, terimakasih Oma."


"Loh, mana suami kalian?" tanya Hanan pada kedua adiknya.


"Maaf ya Kak Alia, Bang Hanan. Mas Febri, dan Mas Halim tidak bisa hadir, karena mereka sedang terbang," jawab Shella.


"Ya, tidak apa-apa. Ayo kita makan sekarang," ajak Hanan pada kedua orangtuanya dan juga kedua adiknya.


Hanan dan Johan berjalan di belakang para wanita itu. Hanan mengamati wajah sang Ayah yang tampak sangat senang.


"Sepertinya Papa sangat bahagia, ada sesuatu?"


"Tentu saja, bahkan lebih dari sesuatu," jawab Johan berbisik.


"Benarkah? Apakah Papa tidak ingin berbagi denganku?" balas Hanan dengan bisikan.


"Nanti akan Papa beritahu. Sekarang kita makan dulu."


Ayah dan anak itu tersenyum penuh arti. Dan tentu saja membuat Sandra menatap aneh.


Keluarga Dokter itu makan penuh kekeluargaan. Alia begitu bahagia karena berada di tengah-tengah mereka. Ternyata inilah kebahagiaan yang menantinya setelah melewati ujian dan kesedihan.


Jika yang lainnya makan dengan lahap, berbeda dengan Bu Sandra. Wanita itu sedari tadi menahan rasa mual yang tak terkira. Rasanya ia ingin segera beranjak dari meja makan itu. Namun, ia merasa tak enak pada anak-anaknya.


"Ah, tidak. Enak kok. Ibu masih kenyang, Nak. Bolehkah Ibu langsung istirahat saja ke kamar?" ucap Sandra.


"Makan sedikit saja, Bu. Masakan Kak Alia enak-enak semua," jawab Shella. "Apalagi iga bakarnya. Nih ada Ibu co..."


"Stop! Tidak. Ibu tidak mau, Shell!" ucap Sandra yang segera ingin memuntahkan isi perutnya. Wanita baya itu segera berlari masuk kedalam kamarnya.


Tentu saja semua orang yang ada di meja makan itu terdiam, tetapi tatapan mereka bertumpu pada sang Papa dengan penuh selidik.


"Apakah ini kebahagiaan yang ingin Papa bagi denganku?" tanya Hanan. Sebagai seorang Dokter SpOG, tentu saja ia sangat mudah mengetahui ciri-ciri orang yang sedang mengandung.


Johan tersenyum tipis. "Hmm, apakah kalian tidak setuju bila Papa dan Ibu memberikan kalian seorang adik lagi?" tanya Johan pada anak-anaknya.


Shella seketika menutup mulutnya dengan mata melebar. "Itu berarti bukan aku yang menjadi si bungsu. Ah, Papa kenapa tega sekali menggantikan posisiku," ujarnya dengan rengekan manja pada sang Ayah.


"Ish, mengkek banget. Udah tua juga...," sambung Sonya.


"Apakah Papa serius?" tanya Sonya tampak bahagia.


"Ya, Papa serius."


Mereka semua mengucapkan syukur dan tersenyum bahagia. Hanan menatap ayahnya dengan kagum. Ternyata lelaki itu begitu tokcer.


"Aku senang sekali, berarti kami mempunyai adik kecil lagi. Ah, sudah tak sabar," ucap Sonya antusias.


Johan tersenyum senang melihat anak-anaknya yang menerima baik atas janin yang ada di kandungan sang istri.

__ADS_1


Johan menyelesaikan makanannya dengan cepat, ia ingin menemui Sandra yang sedang mengalami mabuk.


"Papa ke kamar dulu untuk menemui Ibu kalian. Mungkin dia ingin sesuatu. Oya, kalian jangan bahas masalah kehamilannya dulu ya. Karena saat ini Ibu kalian masih sensitif, dia masih malu untuk mengatakan yang sebenarnya pada anak-anak," jelas Johan pada mereka.


"Baiklah, Papa. Kami paham," jawab mereka bersamaan.


Johan memasuki bilik yang sudah beberapa bulan tak dihuni. Dan terlihat wanita itu tidur membelakangi. Johan duduk di pinggir ranjang.


"Sayang, kamu makan sesuatu?" tanya Johan sembari mengusap rambutnya dengan lembut.


Sandra segera mengubah posisi tidurnya menghadap pada sang suami. "Aku tidak ingin apapun, tapi hanya ingin di temani kamu disini," jawabnya sembari tangannya membelenggu pinggang Johan.


Lelaki itu tersenyum manis. "Baiklah, dengan senang hati Papa menemani kamu, Sayang," ujar Johan sembari mengusap perut datar Sandra.


Johan ikut merebah disamping Sandra, tangannya mendekap tubuh wanita itu dengan Sayang. Sandra benar-benar merasa nyaman dan bahagia bila berada dalam pelukan Ayah anaknya. Wanita itu menikmati momen yang dulu tak pernah ia dapatkan saat hamil Hanan.


Pukul sebelas malam, Sandra terbangun dari tidurnya. Ia melihat sisi tempat tidur kosong. Wanita hamil itu duduk sembari memanggil suaminya.


Sementara itu Johan dan Hanan sedang ngobrol di balkon. Hanan membawa dua cangkir kopi.


"Kopi, Pa."


"Terimakasih."


Johan menyeruput kopi hitam yang baru ia terima dari putranya. Begitu juga Hanan menikmati minuman yang berwarna hitam legam itu.


"Bagaimana dengan persiapannya? Apakah sudah beres?" tanya Johan.


"Alhamdulillah sudah, Pa."


"Syukurlah. Apakah banyak tamu yang kamu undang?"


"Tidak terlalu, Pa. Lagipula ini hanya acara syukuran, jadi aku hanya mengundang rekan-rekan dekat dan keluarga saja."


"Yaya. Semoga acaranya berjalan lancar," jawab Johan yang di aminkan oleh Hanan.


"Oya, aku masih penasaran bagaimana rencana Papa bisa berhasil?" tanya Hanan yang di tanggapi dengan tawa renyah oleh Johan.


"Hanan, Hanan. Apakah kamu lupa bahwa Papamu ini adalah seorang profesor, kalau masalah itu adalah hal kecil bagi Papa," jawab Johan menyombongkan diri pada putranya.


"Alah, palingan juga berbuat curang," cibir Hanan.


"Tak masalah. Yang penting hasilnya memuaskan," jawab Johan tersenyum senang.


"Apakah Ibu sudah mengetahui tentang kecurangan Papa?" tanya Hanan penasaran.


"Tentu saja tidak. Emangnya mau bunuh diri."


Sandra yang sudah berdiri di pintu balkon, seketika tangannya mengepal erat. Ternyata semua ulah suaminya.


"Johan...!" pekik wanita itu yang membuat Hanan dan Johan terkesiap.


Bersambung....


Happy reading 🥰

__ADS_1


__ADS_2