Penyesalan Seorang Dokter

Penyesalan Seorang Dokter
Drama pagi


__ADS_3

"Sebenarnya... Sejak kejadian malam itu perasaan Papa goyah. Jujur, sejak dulu Papa memang tak ada perasaan apapun dengan Ibumu. Papa hanya menganggapnya sebagai sahabat baik, dan mungkin lebih tepatnya sebagai adik. Karena dulu Ibumu seorang gadis yang cengeng, dan Papalah yang selalu melindunginya dari kejahatan orang-orang sekitarnya. Hingga kejadian yang tak disangka-sangka terjadi diantara kami."


Johan mengatakan isi hatinya yang sebenarnya. Hanan menjadi ragu untuk menyatukan kedua orangtuanya. Ia tak ingin diantara mereka ada yang terpaksa menjalaninya.


" Tapi, apakah Papa tidak pernah mengetahui bahwa perasaan Ibu begitu besar mencintai Papa?" tanya Hanan.


"Sungguh Papa tidak mengetahuinya. Ibumu begitu pandai menyimpannya. Bahkan jika kami sedang bersama, dia tidak pernah memperlihatkan rasa sukanya. Papa sangat sulit percaya saat kamu mengatakan bahwa ibumu mencintai Papa sudah sejak lama."


"Setelah mengetahui yang sebenarnya, sekarang apa rencana Papa? Apakah Papa dan Ibu akan tetap bercerai?" tanya Hanan dengan serius.


"Mana mungkin Papa setuju dengan permintaan Ibumu. Papa akan berusaha untuk memperbaiki dan menerima kehadirannya didalam hidup Papa," jawab Johan dengan yakin.


"Baiklah, aku berharap Papa dapat memperbaiki dan memperlakukan Ibu dengan baik. Aku hanya ingin melihat ibu bahagia bersama lelaki yang selama ini dia cintai. Jika Papa tidak bisa melakukannya untuk ibu, maka lepaskanlah. Mungkin Papa dan Ibu memang tidak berjodoh," ujar Hanan begitu dewasa dalam menyikapi hubungan kedua orangtuanya.


"Hanan, berikan Papa waktu untuk membuktikannya bahwa Papa bisa membuat Ibumu bahagia."


"Baiklah, aku dukung usaha Papa. Semoga sesuai dengan keinginan Papa."


"Yasudah, ayo sekarang tidurlah. Jangan sampai besok kita bangun kesiangan, karena ibumu dan Alia tidak akan ada yang mau membangunkan kita," ucap Johan.


"Tenanglah, aku akan menyetel alarm ponselku."


Ayah dan anak itu mengakhiri perbincangannya. Mereka merebah di Sofa untuk menemui mimpi hingga pagi menyapa.


Pagi-pagi sekali Alia sudah bangun, ia segera melaksanakan ibadah dua rakaat, setelah itu seperti biasanya dapur adalah tujuan utama.


Setibanya di dapur, wanita hamil itu tak lantas melakukan tugasnya, ia berjalan menuju ruang tamu untuk melihat suaminya yang semalam sengaja ia hukum demi menemani sang ayah mertua.


Sebenarnya Alia tak begitu kesal karena Hanan pulang terlambat. Namun ia tidak tega melihat Papa Johan tidur sendiri, maka dari itu ia sengaja pura-pura marah dan menyuruh Hanan tidur diruang tamu.


"Mas, ayo bangun. Sholat subuh dulu," ucap Alia dengan memelankan suaranya.


Hanan segera membuka matanya. Ternyata dugaan Papa salah, nyatanya sekarang istri cantiknya itu sengaja membangunkannya.


"Sayang, kamu sudah tidak marah lagi?" tanya Hanan segera duduk.


"Tidak, ayo mandi dan sholat," titah wanita itu.

__ADS_1


"Baiklah, tapi aku bangunkan Papa dulu."


"Jangan, Mas. Kasihan," ucap Alia.


"Tidak apa-apa, Dek. Nggak mungkin juga membiarkan waktu subuh Papa terlewatkan." Hanan segera mendekati ayah biologisnya itu.


"Pa, Papa!" ucap Hanan mengusap bahu Johan dengan pelan.


"Hmm..." Johan membuka matanya sembari meregangkan otot-ototnya. "Jam berapa ini?"


"Jam lima tiga puluh. Ayo kita sholat dulu," ajak Hanan.


"Ah, baiklah." Johan segera duduk. "Loh, Alia kamu sudah tidak marah lagi dengan Hanan?" tanya Johan karena melihat anak menantunya ada disana.


"Tidak, Pa. Aku kalau marah cuma sebentar," jawab Alia tersenyum damai.


"Ah, syukurlah. Andai saja ibumu juga begitu pasti..."


"Pasti apa? Jangan samakan aku dan Alia!" sambung Sandra yang juga telah berada disana.


"Cepatlah, setelah itu pulanglah ke rumahmu." Sandra meninggalkan mereka yang masih bengong disana.


"Sabar, Papa. Semua butuh proses. Aku saja berbulan-bulan untuk mendapatkan maaf dari Alia," ujar Hanan menyemangati sang Ayah.


Johan hanya menghela nafas dalam sembari mengusap wajahnya dengan lembut.


"Baiklah, semoga amarah ibumu segera mereda." Johan beranjak menuju kamar Sandra. Sementara Hanan dan Alia masih berdiri disana.


"Ayo, Mas. Nanti waktu subuh kamu habis," ucap Alia membuyarkan lamunan lelaki yang berumur tiga puluh tahun itu.


Hanan mengikuti langkah Alia masuk kedalam kamar. Sesaat ia masih berdiri mengamati sang istri yang sedang menyediakan pakaian ganti untuk dirinya. Tak terlihat di wajah cantik itu menyimpan marah dan kesal. Apakah semudah itu istrinya mengembalikan moodnya?


"Mandi, Mas," ucap Alia menarik handuk yang tersampir di angeran, lalu menyerahkan pada suaminya.


"Sayang, kamu benaran tidak marah lagi?" tanya Hanan belum yakin.


"Tidak, Mas. Ayo mandi. Aku mau ke dapur dulu," titahnya dengan nada lembut.

__ADS_1


Hanan tersenyum, lalu memeluk wanita itu dari belakang. "Terimakasih ya, Sayang. Aku takut banget jika kamu marahnya lama kayak Ibu," ujarnya yang membuat Alia tersenyum mendengarnya.


"Jangan samakan, persoalannya berbeda, Mas. Aku hanya kesal, kalau Ibu kecewa. Karena kecewa dan kesal itu berbeda. Kesal hanya sesaat, tapi kecewa akan membekas dihati," jawab Alia.


"Ya, kamu benar. Semoga Papa mampu mengobati kekecewaan Ibu, dan menggantinya dengan kebahagiaan," timpal Hanan masih mengusak hidungnya di leher jenjang Alia.


"Geli, Mas. Sudah sana mandi," titahnya sembari melepaskan pelukan suaminya.


"Siap, Boss!" lelaki itu terkekeh kecil sembari meninggalkan jejak sayang di kedua pipi Alia.


Setelah mengurus pakaian ganti suaminya, Alia kembali ke dapur untuk menyediakan sarapan. Ia melihat Bu Sandra telah sibuk sendiri.


"Ibu masak apa?" tanya Alia sembari mengamati bahan-bahan yang sedang di rajang oleh wanita baya itu.


"Bikin omelette, apakah kamu ingin makan sesuatu?" tanya Sandra, mengingat menantunya itu sedang mengandung, dan tentu saja punya selera yang berbeda.


"Aku sangat suka omelette, buatan ibu pasti enak. Tapi untuk aku porsinya harus banyak ya, Bu," celoteh wanita itu dengan manja.


Sandra hanya tersenyum mendengarnya. "Baiklah, nanti ibu buatkan yang spesial untuk kamu."


"Yee... Terimakasih, Ibu mertua."


Kedua wanita itu terkekeh bahagia. Sementara Hanan dan Johan baru saja selesai menunaikan ibadah dua rakaat. Ayah dan anak itu terlihat sudah rapi, meskipun Johan tidak bertukar pakaian, tetapi Pria baya itu masih terlihat tampan.


"Kamu lagi ngapain, Alia?" tanya Bu Sandra.


"Mau buatin kopi untuk Mas Hanan," jawab Alia yang hanya menyediakan satu cangkir kopi untuk suaminya.


"Sekalian untuk Papamu," pinta Bu Sandra.


"Aduh, kalau Papa Ibu saja yang buatin ya. Soalnya Alia sakit perut. Udah nggak tahan." Wanita itu segera beranjak dengan membawa secangkir kopi untuk suaminya.


"Hah, malas sekali rasanya buatin kopi untuk dia. Tapi, bagaimana pula tanggapan Hanan. Yasudahlah, semoga setelah sarapan nanti dia pulang, dan tak kembali lagi kesini," wanita itu bergumam sendiri sembari menyajikan secangkir kopi untuk Johan.


Bersambung....


Happy reading 🥰

__ADS_1


__ADS_2