
Sementara itu di sebuah rumah sakit yang ada di Singapore. Seorang wanita paruh baya sedang menatap sebuah gambar yang baru saja ia terima. Terlihat Johan sedang memeluk Sandra dengan penuh kehangatan.
"Akhirnya sekian lama kalian bisa bertemu kembali. Maaf jika aku telah menjadi penghalang cinta diantara kalian berdua," ucap Ratih dalam keseorangan.
"Ma, lagi bicara dengan siapa?" tanya Sonya baru saja masuk kedalam ruang rawatnya. Sonya adalah putri sulungnya bersama Johan, dan tentu saja bagi Johan adalah anak keduanya setelah Hanan.
"Ah tidak, Nak. Mama hanya kangen dengan Papamu," jawab Ratih berbohong.
"Kalau begitu kenapa tidak meminta Papa datang saja?" ucap Sonya sembari duduk di samping sang Mama.
"Nanti saja, saat ini Papa sedang banyak kerjaan. Tapi, sepertinya Mama ingin pulang saja ke Indonesia. Mama ingin menjalani perawatan di RS kita saja," ucap Ratih yang membuat Sonya tak habis pikir.
"Ma, kenapa Mama mendadak ingin dirawat disana? Bukankah disini kondisi Mama sudah lebih baik? Aku tidak mau jika nanti terjadi hal buruk dengan kondisi Mama."
"Sonya, dimanapun kita berobat, Mama rasa sama saja hasilnya, yang membuat seseorang itu sembuh, ialah semangatnya. Lagipula rumah sakit kita itu rumah sakit yang sudah tak diragukan lagi, penanganannya juga sangat bagus. Lagian pasien seperti Mama juga banyak yang sembuh kok. Papamu saja yang berlebihan," sahut Ratih pada putrinya.
"Tapi, Ma..."
"Sudahlah, Nak. Mama tidak ingin berdebat. Nanti telpon Papamu suruh jemput Mama," potong Ratih tak ingin di bantah.
Sonya hanya menghela nafas pelan, ia tak bisa mencegah bila sang Mama sudah tetap dengan pendiriannya.
Sementara itu Hanan masih menyusuri jalanan kompleks itu. Ia tak menggunakan kendaraan apapun dari rumah itu. Hatinya masih belum mampu berdamai.
"Mas Hanan! Tunggu!" teriak Alia sedikit berlari mengejar langkah lebar Pria itu.
"Eh, Dek!" sahut Hanan menyadari telah mengabaikan wanitanya.
"Mas, kenapa kamu ninggalin aku?" rengek Alia sedikit cemberut.
"Ah maaf, Sayang," ucap Hanan yang segera menghampiri sang istri. Karena terlalu kalut ia melupakan Alia begitu saja.
__ADS_1
Alia mengatur nafasnya yang terasa sedikit sesak karena berlari mengejar suaminya yang sedang emosi.
"Kamu tidak apa-apa, sayang? Maaf ya," sesal Hanan meraih tangan Alia.
"Iya, tapi kita mau kemana, Mas?" tanya Alia bingung.
"Bukankah mau ziarah ke makam bayi kita?"
"Terus, kita harus jalan kaki begini? Capek, Mas..." Kembali wanita itu merengek yang membuat Hanan tersenyum gemas.
"Oh, jadi istri aku capek? Ayo sini gendong," ucap Hanan sembari berjongkok membelakangi Alia.
"Kamu mau ngapain, Mas?"
"Gendong kamu, ayo aku gendong," sahut Hanan serius.
"Nggak mau, ih kamu apaan sih, Mas. Malu dilihatin orang," tolak Alia dengan wajah bersemu.
"Nggak mau, Mas. Malu... Lebih baik kita jalan saja. Lagian kenapa kamu tidak pesan taksi online saja?" tutur Alia sembari meraih kedua lengan suaminya, dan membantunya untuk berdiri.
"Kamu beneran nggak mau aku gendong?" tanya Hanan menatap dalam.
"Malu, Mas," lirih Alia dengan wajah melas.
"Kalau aku gendong kamu di kamar, berarti boleh dong," goda Hanan yang semakin membuat wajah Alia bersemu.
"Mas!" cicit wanita itu sembari mencubit perut Hanan.
Pria itu terkekeh sembari mengusak rambut sang istri. "Yaudah, ayo sekarang kita duduk di sana. Aku pesan taksi dulu ya." Hanan membimbing tangan Alia untuk duduk di sebuah pelataran yang ada di pinggir jalanan kompleks itu.
Alia mengamati wajah tampan Pria itu yang sedang serius memesan taksi online. Ternyata tatapan Alia di sambut oleh sorotan lembut Hanan.
__ADS_1
"Kenapa menatapku begitu, Dek?" tanya Hanan sembari duduk di samping Alia.
"Mas, sabar ya," ucap Alia menatap sedih. Ia tahu bahwa sang suami sedang bersikap baik-baik saja dihadapannya.
Hanan tak menyahut, ia menghela nafas dalam. Kembali ingatannya pada kedua Dokter yang mengaku sebagai orangtuanya. Rasanya begitu berat menerima kenyataan bahwa dirinya hanyalah anak diluar nikah.
"Alia, kenapa rasanya begitu berat menerima kenyataan ini? Aku tidak tahu bagaimana dengan hatiku saat ini, Alia," lirih Hanan dengan netra mulai memerah.
"Mas, aku tahu ini sangat berat bagimu, tetapi cobalah untuk berdamai dengan keadaan. Aku yakin Ibu dan Papa juga tak menginginkan hal ini terjadi. Apakah kamu tidak melihat bagaimana wajah ibu yang begitu takut kehilangan kamu, Mas. Ibu sangat merindukanmu, mereka sudah mengakui segala kesalahannya. Jadi, tolong maafkan mereka. Tolong jangan siksa Ibu lagi dengan amarahmu. Jika ibu tidak menyayangimu, maka beliau tidak akan mungkin mencari keberadaanmu hingga saat ini," ujar Alia mencoba memberi pengertian kepada suaminya.
Hanan menghapus air matanya dengan kasar. Ia mencoba mencerna segala nasehat sang istri. Memang benar apa yang dikatakan Alia, jika Ibu tidak menyayanginya, mungkin saat ini ia tidak akan tahu siapa kedua orangtuanya.
"Semua manusia berhak marah dan kecewa, Mas, tapi jangan sampai amarah itu membuatmu menyesal nantinya. Kamu masih bersyukur di pertemukan dengan kedua orangtua yang menyayangimu. Lihatlah aku, aku sedari kecil telah ditinggal mati oleh ibuku, dan harapan satu-satunya, ialah ayah. Namun, Ayah juga pergi meninggalkan aku. Kini aku hanya punya kamu satu-satunya orang yang aku percaya dan yang selalu melindungi aku," ucap Alia yang tak mampu menahan air matanya luruh begitu saja.
Hanan meraih tubuh wanita itu, ia mendekap dengan erat. "Maafkan aku yang telah membuat hidupmu berantakan, Dek."
"Tidak, Mas. Kamu sudah membayarnya dengan tunai. Sudah cukup berkorban untuk diriku. Kamu adalah seorang suami yang bertanggung jawab. Selama menjadi istrimu, kamu tidak pernah menyakiti aku. Terimakasih telah menyayangi aku dengan tulus," ucap Alia menggengam tangan Hanan dengan lembut.
Hanan membalas genggaman tangan itu, baru kali ini ia rasakan tangan lembut sang istri menyentuhnya. Sungguh hatinya merasa lebih tenang. "Terimakasih, Sayang. Terimakasih sudah mengingatkan aku. Kamu adalah istriku yang terbaik dan tercantik," balas Hanan sembari mengecup tangan Alia.
Seketika Alia membatu saat merasakan sentuhan lembut bibir pria itu di tangannya. Kembali rasa takut mulai mencuat. Namun, sekuat hati ia menyingkirkannya, ia yakin bahwa Hanan adalah suami yang baik dan penuh kasih sayang.
Jika dulu Hanan pernah melakukan hal buruk padanya, itu dikarenakan oleh pengaruh obat, dan diluar kendalinya. Toh selama ini sikap pria itu begitu baik dan tulus menyayanginya.
Tak berselang lama sebuah taksi online telah berhenti dihadapan mereka. Hanan dan Alia segera masuk.
Hanan menyebutkan alamat pemakaman bayi mereka. Taksi itu segera meluncur ke alamat yang mereka tuju.
Bersambung....
Happy reading 🥰
__ADS_1
NB. Dua bab ya, biar cepat tamat. Habis itu author pengen Hiatus dulu 😔