Percintaaan Seorang Ketua BEM

Percintaaan Seorang Ketua BEM
Kevin dan Windi


__ADS_3

Keisya mencebikkan bibir nya mendengar omelan Vina. Sahabat nya itu kalau sudah mengomeli nya tidak akan mau repot repot menyaring ucapan nya. Keisya menghela nafas pelan. "Keburu basi gak sih?" tanya Keisya.


"Apa nya yang basi?" tanya balik Vina.


"Masalah nya. Kalau pun gue denger dari orang lain kayak nya gak bakal bikin gue gimana gimana lagi, soal nya masalah nya udah basi duluan." ucap Keisya.


Vina menatap Keisya penuh ancaman. "Awas aja ntar lo nangisin itu ya, Kei. Gue toyor lo sampe pingsan." ucap Vina mengancam. Kalaupun itu terjadi Vina tidak mungkin menonyor kepala Keisya sampe pingsan. "Denger denger, sore ini ada aksi lanjutan, Kei. Berarti Kevin turun lagi dong ke jalanan buat jihad?" tanya Vina lagi.


Vina mengetahui hal itu dari sebaran poster yang di unggah teman teman nya di fakultas lain soal aksi hari ini. Keisya tiba tiba berhenti mengetik di atas papan keyboard setelah mendengar ucapan Vina.


" L-lo gak tau, Kei?" tanya Vina hati hati ketika melihat gelagat Keisya yang demikian. Spontanitas Keisya tadi sangat jelas menunjukkan keterkejutan nya karena penuturan Vina.


Vina menyentuh pelan pundak Keisya. "Kei, lo okey?" tanya Vina lagi karena Keisya tak kunjung memberi nya respon. Perempuan itu terdian dengan tatapan nya yang menyendu.


"Gue gak tau, Vin. Kevin gak ada bilang apa apa sama gue semalem." jawab Keisya sendu.


Vina menggigit bibir bawah nya pelan. Ia merasa sangat bersalah karena memberikan informasi tadi ke Keisya yang ternyata belum mengetahui apa apa. "Semalem kalian gak bahas sama sekali soal aksi itu, Kei?" tanya nya.


"Bahas dikit sih. Cuman, buat aksi yang sore ini di adain gue sama sekali gak tau dari Kevin. Dia gak bilang kalau ada aksi lanjutan sore ini." jawab Keisya.


Keisya kemudian menoleh menatap Vina dengan tatapan yang sulit di artian. "Apa lo ngeliatain gue begitu?" selidik Vina curiga.


"Ayo kita ikut aksi. Nanti sore, Vin." jawab Keisya.


***


Kevin menatap jengah tumpukan sertifikat kegiatan yang harus ia bubuhi tanda tangan nya. Rasa nya malas juga menandatangani kertas kertas itu.


"Lo liatin aja gak bakal beres tuh kerjaan, Kevin Narendra." kata Windi sekretaris Kevin.


Kevin menghela nafas mendengar ocehan Windi, sekretaris Kevin di organisasi. Dari tadi memang Kevin hanya menatap malas kertas kertas itu. Sama sekali tidak berminat melakukan tugas nya sebagai seorang ketua BEM.


"Cepatan, Kevin. Biar cepet kelar." keluh Windi lagi. Ia muak melihat Kevin hanya menatap tumpukan sertifikat itu tanpa bergerak untuk menandatangani kertas itu satu per satu.

__ADS_1


"Vin, yah Tuhan. Cepetan anjirrr." ucap Windi kesal.


Kevin malah dengan santai nya bertopang dagu tanpa menghiraukan kegusaran Windi sejak tadi.


"Vin, nanti sore kita seruan aksi lanjutan, bego. Kalo gak di selesai sekarang, mau kapan lagi? Gue gak mau ya lembur dadakan karena lo." ucap Windi lagi.


Kevin menatap Windi datar. "Lo gak usah ikut aksi. Diem aja di sini, atau enggak langsung pulang aja." kata Kevin melarang Windi yang berniat mengikuti aksi.


"Dih, gak mau. Gue udah siap perang juga. Nih, gue sampe beli scraft warna item buat di jadikan masker biar keren. Gue juga bawa topi sama kacamata photocromic gue. Udah siap lahir batin nih gue. Enak aja di suruh nunggu di sini atau pulang. Enggak. Gue gak mau." ucap Windi.


Kevin menyentil pelan kening Windi. "Gue gak mau lo kenapa napa, Win. Gak usah ikut, ya?" bujuk Kevin lembut.


Windi menggeleng cepat. "Kan ada lo sama yang lain. Kalian gak mungkin gak jagain gue, kan?" ucapnya.


"Windi Agustin." ucap Kevin mengintimidasi.


Windi mengerucutkan bibir nua kesal. "Please, kali ini aja deh gue ikut kalian." pinta nya.


"Pengurus cewek yang lain nya juga gak gue kasih izin turun jalan, Win. Masa iya gue ngizinin lo sih?" ucap Kevin.


Kalau sudah begini, Kevin tidak bisa menjawab apa apa lagi selain membiarkan gadis itu melakukan keinginan nya. "Lo aja deh yang tanda tangan." ucap Kevin tiba tiba.


Bruk


Windi melempar bekas gulungan tissue ke arah Kevin. Untung nya melesat. Jika sampai tepat sasaran, Windi juga takut Kevin akan memarahi nya. "Kalo aja nama gue yang tertara disana, ngapain lo yang harus tanda tangan?" tanya nya kesal oleh tingkah ketua BEM nya itu.


Kevin akhir nya mengambil pulpen untuk membubuhkan tanda tangan nya di setiap kertas sertifikat itu. "Gue yang tanda tangan lo yang stempel ya?" pinta Kevin santai.


Windi hanya berdehem, kemudian merubah posisi menjadi ke samping Kevin. Windi mengambil stempel untuk ia bubuhkan setelah Kevin tanda tangan.


"Gimana soal Sindi waktu itu, Vin?" tanya Windi penasaran. Mereka saat ini hanya berdua di ruang sekretariatan BEM di fakultas nya. Para pengurus cowok yang lain sibuk mempersiapkan aksi yang di adakan sore ini.


"Ya gitu," jawab Kevin singkat.

__ADS_1


Windi menabok pelan pundak Kevin saat pemuda itu memberi jawaban yang begitu singkat. Windi rasa jawaban Kevin sama sekali tidak menjawab pertanyaan nya. "Gue serius bego." ucap nya kesal.


"Dia gak boleh kecapean. Kata dokter sih gitu." jawab Kevin serius.


"Lo nemenin dia sampe pulang?" tanya Windi kemudian.


Kevin mengangguk kecil. "Gue anter balik, sekalian." jawabnya.


"Cewek lo gak marah?" tanya Windi lagi.


"Dia gak tau, Win." ucap Kevin.


Windi membelalakkan mata nya mendengar penuturan Kevin. "Serius lo?" tanya Windi memastikan.


"Iya. Dia belum tau soal itu." jawab Kevin.


"Anjirr lo belum cerita sama pacar lo?" tanya Windi lagi.


"Belum sempet cerita, Win." ucap Kevin.


Windi meringis kecil. Sebagai seorang perempuan, Windi sedikit banyak nya paham bagaimana perasaan pacar nya Kevin. Jadi pacar seorang aktivis kampus sangat lah tidak mudah.


"Napa lo diem?" tanya Kevin tiba tiba ketika mendapati Windi yang terdiam.


Windi tersenyum sendu. "Gue saranin sebelum cewek lo tau dari orang lain, mending lo cerita duluan deh, Vin." ucapnya.


"Gue juga mau nya gitu." tutur Kevin jujur. "Tapi gue belum ada waktu senggang buat bahas soal itu." ucap Kevin terang apa ada nya.


"Waktu senggang itu di bikin Vin, bukan di cari. Kalau lo cuman nyari waktu kapan lo senggang, jelas lo gak akan ketemu waktu nya. Tapi kalo lo bikin waktu senggang buat itu, gue yakin lo bisa kok." ucap Windi memberi saran.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung....


__ADS_2