
"Bi," sapa Keisya pelan saat melihat wanita paruh baya dengan daster yang melekat di tubuhnya.
"Eh, Non Keisya."
"Bi Siti, Keisya boleh minta tolong gak?"
"Minta tolong apa Non?"
"Di depan kan masih ada teman-temannya Kevin. Bi Siti bisa tolong buatin minuman gak buat mereka? Maaf ya Bi, aku ngerepotin."
Bi Siti tersenyum ramah mendengar penuturan pacar dari Den Bagus di rumah tempatnya bekerja saat ini. "Bisa dong, Non. Nanti Bi Siti anter ke ruang tamu, ya."
"Makasih ya Bi. Sayang Bibi deh."
Keisya kemudian kembali Ke ruang tamu dan mengambil duduk di samping Vina yang kebetulan kosong. Mungkin sengaja di kosongkan agar Keisya bisa duduk di sana.
"Gimana? Kevin udah istirahat?" tanya Vina.
"Udah."
Keisya menatap Sindi yang mengobrol santai dengan Devan. Entah apa topik yang di bicarakan gadis itu dengan lawan bicaranya, yang pasti binar matanya tidak seperti binar kata ketika ia bicara dengan Kevin.
"Mau delivery order makan gak? Gue laper nih," kata Windi tiba-tiba.
Vina yang mendengar itu mengangguk dan semangat. "Gue juga laper," ucap Vina lesu.
"Mau makan apa sayang?"
Vina hampir melemparkan tasnya pada Riyan jika saja tidak ada Keisya yang menahannya. "Jangan galak-galak Vin," bisik Keisya pelan.
"Lo juga, Riyan, jangan di godain mulu, di pastiin kagak." Celetuk Devan.
Riyan meringis kecil, kemudian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Bercanda Bang," ucapnya sambil di iringi cengiran khasnya.
"Sampai sahabat gue baper sama lo, lo harus tanggung jawab Riyan." Tutur Keisya memperingati.
Riyan manampakkan jari jempolnya ke arah Keisya. "Siap Kak! Gue dengan senang hati bertanggung jawab atas itu."
"Nyenyenyenye," cibir Vina meledek.
***
Setelah pembicaraan mengenai ke tidak sukaan Keisya pada Sindi membuat Kevin sedikit banyaknya menjaga jarak dengan Sindi. Ia tidak mau membuat Keisya semakin meragukannya. Hubungannya dan Keisya itu sudah cukup lama. Sayang jika runtuh begitu saja bukan? Apa lagi karena adanya orang ketiga. Jangan sampai itu terjadi.
"Bang, ayo ke ruang rapat. Kita briefing buat kegiatan besok."
__ADS_1
Kevin yang tadinya duduk diam di balik meja yang ada di ruang ke sekretariatan lantas menatap ke arah pintu, di mana ada Riyan yang sedang berdiri di sana.
"Duluan aja. Gue nyusul."
"Jangan lama, Bang. Briefingnya gak bakal mulai kalau lo gak dateng."
Kevin mengangguk singkat, sepeninggalnya Riyan ia kembali terdiam. Fokusnya beralih ke jam tangan yang melingkar rapih di tangan kirinya. Jam tangan yang di berikan oleh Sindi.
"Sin, sorry gue gak bisa nerima pemberian lo ini. Too much menurut gue, Sin."
Sindi menggeleng pelan, ia kembali mendorong paper bag itu ke arah Kevin. "Bang, gue udah susah-susah nyari itu buat lo. Masa gak lo terima sih?"
"Gue ganti aja ya Sin? Serius ini mahal banget, Sin."
Sindi malah terkekeh pelan mendengar itu. "Santai, Bang. Gak ada apa-apanya sama kebaikan Bang Kevin ke Sindi."
"Tapi, Sin, gue gak enak. Ada hati yang harus gue jaga, Sin. Lo ngerti gak maksud gue apa?"
Sindi mendadak menunduk mendengar ucapan Kevin. Tanpa di jelaskan lebih lanjut pun, Sindi mengerti maksudnya.
"Bang Kevin gak mau nerima itu karena ngehargain perasaannya Bang Kevin kan?"
Kevin mengangguk mantap.
"Secara gak langsung Bang Kevin malah gak ngehargain usaha Sindi ngasih itu ke Bang Kevin."
"Bang, please. Terima ya? Sindi janji itu terakhir kalinya Sindi ngasih Bang Kevin barang branded kayak gitu."
"Bener," tanya Kevin memastikan.
"Iya, Bang. Tapi, Bang Kevin harus terima itu ya?"
"Oke."
Kilas balik moment ketika Kevin berusaha mengembalikan hadiah Sindi berputar di ingatan Kevin. Saat itu, ia sudah berusaha mengembalikan pemberian Sindi, namun kemelasan yang di tampilkan Sindi membuat Kevin jadi tidak tega dan menerima itu dengan syarat yang telah di tentukan Sindi sendiri.
"Vin, lo gak ke ruang rapat?"
Pertanyaan Windi membuatnya kembali dari lamunannya. Cowok itu mengerjap pelan.
"Vin, sakit lo?" tanya Windi khawatir. Windi langsung masuk ke dalam ruang ke sekretariatan dan berdiri di depan meja Kevin. "Obat lo udah lo minum kan?" tanya Windi lagi.
"Khawatir sama gue ya?"
"Anjirr. Gue takut lo tumbang lagi, bego. Siapa yang ngurusin nih organisasi kalau lo sakit-sakitan?"
__ADS_1
Kevin berdecih pelan dan bangkit dari posisinya. "Ayo ke ruang rapat," ajak Kevin santai.
Windi menatap aneh Kevin yang mendahuluinya keluar dari ruang ke sekretariatan. Windi mengernyit heran. "Makin sakit gue rasa," cibirnya pelan lalu menyusul Kevin.
Kevin berjalan tergesa sampai tidak memperhatikan jalannya sendiri.
Bruk.
"Awsh," ringis seseorang yang terduduk di lantai karena tertabrak Kevin.
Kevin sendiri langsung berjongkok untuk melihat kondisinya. "Sin?" panggil Kevin hati-hati. Orang yang di tabrak Kevin adalah Sindi. Seseorang yang hendak di hindari dengan sangat oleh Kevin.
Sindi sendiri langsung mendongak menatap cowok itu karena merasa familiar dengan suara cowok itu. "Bang Kevin?"
"Lo gak papa Sin?" tanya Kevin khawatir. Karena bagaimana pun juga, dirinya yang menabrak gadis itu.
Sindi meringis pelan saat membuka heelsnya dan menemukan kakinya yang membiru di bagian engkel. "Shh," ringis Sindi menahan sakit. Rasanya seperti pergelangan kakinya sangat nyeri di gerakkan.
"Loh-loh, Sindi, lo kenapa nemplok di lantai?" tanya Windi saat menemukan Sindi yang terduduk di lantai dengan Kevin yang berjongkok di hadapannya.
"Gue gak sengaja nabrak Sindi," jawab Kevin panik.
Mendengar jawaban panik Kevin membuat Windi ikut berjongkok. "Sin, lo gak papa?" tanya Windi yang juga ikutan khawatir.
"Kaki Sindi sakit Kak," adunya pelan.
Windi meringis ngilu melihat pergelangan kaki Sindi yang membiru. Warna itu sangat terlihat di kulit bersih gadis itu. "Gue bantuin bangun yuk," ajak Windi lembut. Windi berusaha membantu Sindi berdiri namun sepertinya Sindi memang tidak bisa berdiri tegak dengan kakinya sendiri.
"Sakit Kak," ringisnya pelan.
Kevin mengusak rambutnya kasar. "Gue gendong Sin. Kita ke klinik kampus sekarang ya?"
"Vin?"
Kevin menulikan telinganya atas teguran Windi. Ia meletakkan satu tangannya di belakang lutut Sindi dan satu tangan yang lainnya di bawah leher Sindi. "Bilang ke Riyan, pending briefing satu jam ke depan. Gue harus bawa Sindi dulu."
"Kevin," tegur Windi meskipun Kevin tetap melajukan langkahnya semakin jauh.
Windi mengusap wajahnya kasar. Bagaimana kalau sampai kejadian ini sampai ke telinga Keisya. Alamat bakal berantem lagi mereka. "Aish," gerutu Windi kesal.
"Tuhan, jangan sampai Keisya tahu kelakuan Kevin yang satu ini." Memohonnya tulus.
.
.
__ADS_1
.
...BERSAMBUNG... ...