
"Cowok gue sibuk."
"Kasian. Lo gak di jadiin prioritas ya?"
Keisya melotot kesal ke arah Ariel. "Sembarangan! Cowok gue itu Ketua BEM. Dia punya tanggung jawab di organisasi nya." kata Keisya menjelas kan. Kemudian ia merutuki mulut nya yang terlalu lancar mengata kan hal seperti tadi pada Ariel. Keisya tidak seharus nya mengungkap kan privasi nya pada orang asing yang baru ia temui hari ini.
"Jadi lo pacaran sama anak kuliahan?"
"Gue juga udah kuliah kali."
"Hah?" beo Ariel dengan wajah yang benar benar terkejut. "Serius lo udah kuliah, Kei?" tanya Ariel lagi.
"Iya."
"Wah gue masih kelas 3 SMA anyway."
"Hah?" kini Keisya yang di buat terkejut oleh penuturan Ariel. Bisa bisa nya cowok di hadapan nya ini lebih muda dari nya. Astaga.
"Kaget ya? Gue terlalu maskulin buat seukuran anak SMA kan, Kak?"
Keisya menahan tawa nya mendengar Ariel memanggil nya dengan embel embel Kak. "Kenapa manggil gue Kak? Santai aja." ucap Keisya. Ia tidak akan masalah jika Ariel lebih nyaman memanggil nya nama saja.
"Gue harus tetep sopan sama yang lebih tua."
"Gue gak setua itu."
"Lo tetep lebih tua dari gue."
Keisya memutar bola mata nya malas. "Terserah lo deh." ucap nye kemudian. "Lo sendiri kenapa gak bawa cewek lo?" tanya Keisya kepo.
"Cewek gue udah jadi bidadari surga. Gimana cara nya gue ngajakin dia ke sini."
"Hah?" beo Keisya kurang mengerti dengan arah pembicaraan Ariel.
"She's died lima bulan yang lalu. Dia pejuang kanker. Mangka nya gue selalu ke sini tiap bulan buat berkegiatan sama anak anak itu. Gue respect sama mereka, survivor cancer."
Keisya menggigit bibir bawah nya pelan. "Eh, sorry, gue gak bermaksud."
"Santai Kak."
Ariel menoleh kan wajah nya ke arah lain agar tidak bersitatap dengan Keisya. Sorot mata Keisya yang teduh membuat nya kembali mengingat mendiang pacar nya.
"Tau gue ngehalangin lo ngelepas kalung lo tadi, Kak?" tanya Ariel tiba tiba.
Keisya menggeleng pelan.
"Kalung lo cuman satu, sementara di sana ada banyak anak perempuan seperti Dilla. Sampai sini lo bisa nangkep maksud gue, Kak?"
Keisya mengangguk mengerti. Ia tidak menyangka cowok seusia Ariel punya pemikiran yang sangat menabjuk kan seperti ini.
__ADS_1
"Lo cantik Kak, lo baik, tatapan lo tulus ke semua orang."
Keisya menatap Ariel yang mengata kan itu. "Kenapa lo ngomong gitu ke gua?" tanya Keisya heran. Untuk orang yang baru saling berkenalan, rasa nya mereka terlalu akrab.
"Ke banyak kan dari mereka yang mengunjungi tempat ini merasa hidup nya lagi gak baik baik aja. Banyak dari mereka yang kembali mencari arti. Gue gak tau lo salah satu nya atau bukan. Tapi gue harap, lo gak ngerasa ke hilangan arti, Kak Keisya."
***
Keisya menutup pintu mobil nya dan bergegas masuk ke rumah nya. Bunda menyambut nya dengan tatapan yang tidak terbaca. "Kei, kok lama banget pergi nya?" kata Bunda cemas.
Keisya menatap jam tangan nya, jika di kira kira ia ke luar selama tiga jam. Lama juga. Pantas Bunda sampai cemas begini.
"Mana gak bawa handphone lagi." omel Bunda.
Keisya menggigit bibir bawah nya pelan. "Buru buru, Mah, sampai lupa bawa handphone. Maaf ya Mamah, sayang." ucap Keisya merasa bersalah.
"Jangan cuman minta maaf ke Bunda, Kei. Tadi Kevin ke sini nyariin kamu. Dia nungguin kamu hampir satu jam."
"Apa?"
"Sana ke kamar, check handphone kamu. Kevin muka nya sampe pucet tau kamu pergi sendirian."
"Astaga." gumam Keisya pelan. "Bunda, aku ke kamar dulu. Sekali lagi maafin Keisya, Bunda." ucap nya sekali lagi.
"I'ts okay. Jangan di ulangi."
Keisya meraih handphone nya dan menyala kan benda itu. Ada puluhan panggilan tak terjawab dari Kevin dan puluhan pesan masuk.
Rendra : By
Rendra : Byy
Rendra : Kei
Panggilan suara tak terjawab.
Rendra : By angakt telepon aku bentar.
Panggilan suara tak terjawab.
Rendra : Ya ampun By, aku perlu ngomong sama kamu.
Panggil suara tak terjawab.
Panggil suara tak terjawab.
Rendra : Kamu di mana sih Kei? Notif chat aku gak ke dengeran?
Panggilan suara tak terjawab.
__ADS_1
Panggilan suara tak terjawab.
Panggilan suara tak terjawab.
Panggilan suara tak terjawab.
Panggilan suara tak terjawab.
Rendra : Aku ke rumah kamu sekarang! Jangan ke mana mana!
Rendra : Kamu di mana? Aku di rumah kamu, Bunda bilang kamu pergi dari tadi. Kamu ke mana, By?
Panggilan suara tak terjawab.
Panggilan suara tak terjawab.
Rendra : Bisa bisa nya kamu pergi tanpa bawa handphone? Sengaja mau ngehindarin aku heum? Atau gimana? Mungkin kamu emang perlu waktu sendiri. Take your time sebanyak yang kamu mau kalau gitu. Aku gak akan gangguin kamu lagi, jangan lupa jaga kesehatan Keisya.
Keisya menahan nafas nya membaca chat terakhir dari Kevin. Bagai mana bisa cowok itu mengambil ke simpulan sendiri? Keisya langsung menekan icon panggilan agar terhubung dengan cowok itu melalui saluran telepon.
Tuut.
Panggilan di tolak oleh Kevin. Keisya berdecak kecil. Keisya mencoba kembali menghubungi Kevin, namun hasil nya tetap sama. Panggilan nya di tolak oleh cowok itu.
Keisya Calief : Aku gak bermaksud buat ngehindarin kamu, Ren. Handphone aku emang gak sengaja ke tinggalan. Aku minta maaf udah buat kamu khawatir, sayang. Aku bakal jelasin, tapi angkat telepon aku dulu ya?
Setelah mendapat dua centang biru dari pesan yang di kirim nya untuk Kevin, Keisya kembali bergegas menelpon cowok itu. Namun panggilan nya lagi lagi di tolak. Tidak berapa lama ada pesan masuk dari Kevin.
Rendra : Aku lagi rapat. Bisa gak usah nelpon?
Keisya memejam kan mata nya pelan.
Keisya Calief : Telepon aku setelah kamu selesai rapat ya?
Pesan terakhir nya hanya di baca saja oleh Kevin. Menunggu hingga beberapa menit pesan nya itu tidak kunjung mendapat balasa. Kevin nya benar benar marah. Ia sungguh tidak bermaksud membuat Kevin cemas. Handphone nya sungguh ke tinggalan tanpa sengaja. Kenapa Kevin justru berpikir kalau Keisya sengaja menghindari nya.
Keisya Calief : Rendra maafin aku:(
Hanya centang satu ketika Keisya mengirim kan pesan itu untuk Kevin. Cowok itu tiba tiba tidak aktif. Entah karena handphone nya yang ke habisan daya, atau memang cowok itu sengaja memati kan jaringan seluler nya.
"Jangan sampai aku ke sana nyamperin kamu, Kevin Narendra."
.
.
.
...Bersambung... ...
__ADS_1