Percintaaan Seorang Ketua BEM

Percintaaan Seorang Ketua BEM
Kue Matcha


__ADS_3

Keisya turun dari taxi dan menyodor kan uang ke arah supir taxi itu. Keisya memasuki rumah dan langsung masuk ke kamar nya. Keisya meraih sebuah pigura yang berisi fotonya dengan Kevin. Kemudian,


Prang.


Keisya melempar kan foto itu hingga pigura itu membentur lantai dan pecah. Isakan nya ia tahan sebisa mungkin agar tidak mengganggu Papah atau pun Mamah.


"Kenapa lo jahat, Rendra."


Keisya menggigit bibir bawah nya pelan. "Lo jahat, hikss."


Keisya menghempas kan tubuh nya ke atas ranjang dan menangis dengan wajah yang ia tenggelam kan ke bantal.


"Bahagia seperti apa yang lo janjiin ke Mamah, Ren?"


***


Mamah mengetuk pintu kamar Keisya pelan. Putrinya itu tidak keluar kamar sejak tadi pagi, bahkan ini sudah pukul 14.00 siang dan Keisya belum juga keluar.


"Kei, buka pintunya," bujuk Mamah pelan.


Mamah sejak tadi mengetuk pintu kamar Keisya namun tidak kunjung di buka. Tidak lama kemudian suara knop pintu yang di putar membuat Mamah bernapas lega. Putrinya berdiri di hadapannya dengan kaca mata hitam yang bertengker manis di hidung mancung gadis itu.


"Ya ampun, cantinya anak Mamah."


Keisya tersenyum tipis mendengar pujian Mamah. Hais, Mamah tidak tahu saja kalau kaca mata nya ini ia gunakan untuk menutupi matanya yang membengkak. Bisa heboh Mamah jika sampai menemukan mata Keisya bengkak.


"Mah, aku ke kampus dulu ya."


Keisya langsung menyalami Mamah lalu langsung meninggalkan rumah dengan menaiki ojek online yang sudah ia pesan sebelumnya. Keisya meminta ojek online itu mampir ke salah satu toko kue. Ia akan membelikan Kevin sekotak kue dengan rasa matcha kesukaannya.


Keisya sudah bertekad akan meminta maaf pada cowok itu. Biar bagaimanapun juga Keisya yang memulai keributan mereka semalam.


Setelah mendapatkan kue yang ia mau, Keisya kembali menaiki ojek online nya hingga sampai di kampus. "Nih uangnya Bang, makasih banyak ya Bang." ucapnya begitu ramah lalu berjalan santai memasuki gedung fakultasnya.


"Widih kece banget sohib gue pake kaca mata segala." ucap Vina antusias melihat penampilan Keisya yang tidak biasa. "Kesambet apaan lo pake kaca mata item ke kampus?" tanya Vina lagi.


Echa mendengus kecil, ia meletakkan kue yang tadi ia beli keatas mejanya. "Setelah kelas, temenin gue ke FISIP ya?" ucap Keisya dengan suaranya yang serak.


"Ngapain ke FISIP?" tanya Vina heran.


"Gue ada urusan di sana. Tapi kalau lo gak bisa nemenin gue, gue bisa pergi sendiri kok, Vin."


"Urusan sama cowok lo ya?" tebak Vina menggoda.

__ADS_1


Keisya mengangguk kecil. Ia melepaskan tasnya dan menaruhnya di bawah kursi.


"Copot kali tuh kaca mata. Lo pikir ni kelas outdoor apa?" cibir Vina pelan.


Keisya menoleh ke arah Vina, ia kemudian menurunkan sedikit kaca matanya. Sontak hal itu membuat Vina memekik heboh. "KENAPA LO ANJIRR?" tanyanya panik.


Vina melihat mata Keisya yang memerah bengkak. "Lo kenapa, Keisya?" tanya Vina sendu.


Keisya tersenyum menenangkan. "Gue gak kenapa-napa, Vin." ucapnya santai seolah memang tidak terjadi apa-apa padanya.


"Gak mungkin. Mata lo sampe begitu pasti karena lo nangis semaleman kan?" selidik Vina khawatir. "Apa sih yang lo tangisin sampe begitu, Kei?" lanjut Vina sedih.


"Gue break sama Kevin."


"APA?"


***


Keisya dan Vina kini sudah berada di depan gedung anak-anak FISIP. "Lo yakin mantan lo ada di kampus, Kei?"


"Kok mantan sih?" gerutu Keisya sebal ketika Vina menyebutkan Kevin sebagai mantannya.


"Lah, lo kan break sama dia?"


"Break bukan berarti putus kok kata Kevin."


Keisya mengangguk. Ia menggandeng tangan Vina memasuki gedung itu dan melangkah kan kakinya menuju ruang kesekretariatan waktu itu.


"Eh, stop, stop." ucap Keisya pelan dan menahan langkah Vina.


Keisya dan Vina berhenti dan merapatkan diri ke dinding. Di belokin kiri koridor itulah ruangan kesekretariatan Kevin itu berada. "Kenapa berhenti di sini, Kei?" tanya Vina heran.


"Rame banget, Vin." rengek Keisya pelan.


Vina mendengus mendengar rengekan itu. "Terus kita mau di sini aja sampe mampus gitu?"


"Gak jadi deh, Vin. Ayo balik aja." ucap Keisya yang nyalinya sudah merosot karena mendapati ruang kesekretariatan yang sepertinya sangat ramai itu. "Kita balik ke fakultas aja yuk."


"Enak aja! Kita udah jauh-jauh ke sini, nyampe sini masa balik lagi sih?"


Vina berusaha membuat Keisya maju, namun Keisya sangat kuat menahan dirinya sendiri. "Keisya ayo lah, masa lo ciut cuman karena mereka banyakan sih? Kan lo juga sama gue. Ada gue, Kei. Tenang aja."


Keisya menggeleng pelan di sertai wajahnya yang ia buat memelas. "Kita balik ke fakultas aja ya?"

__ADS_1


"Ngaco. Enggak! Lagian kalau si Kevin maki-maki lo. Gue maki-maki balik tuh anak."


"Gue gak enak sama temen-temennya. Kita balik aja yuk."


"Kalian ngapain di sini?"


Suara seorang perempuan membuat Vina dan Keisya menatap orang itu. Keisya tersenyum canggung kepada perempuan cantik itu.


"Kita mau nyari Kevin. Kevin ada di sini atau enggak?"


Keisya menoleh menatap Vina yang begitu lancar melontarkan pertanyaan itu. Perempuan yang menyapa mereka terkekeh pelan.


"Kalian ada perlu sama Kevin?"


"Iya kita ada perlu. Kevinnya ada?" tanya Vina lagi.


"Ada perlu apa kalau boleh tau? Kalian ada urusan tentang organisasi atau mau ketemu Kevin karena kalian fans nya Kevin?"


Vina mencibir pelan, ia memutar bola matanya malas. Ya kali dia termasuk dari salah satu penggemar cowok itu. Masih banyak cowok lain yang masuk kriteria nya untuk di jadikan idola. Yang penting bukan Kevin orangnya.


"Keisya, ngomong anjirr." bisik Vina gemas karena Keisya hanya planga plongo dari tadi.


Sedangkan perempuan yang bersama mereka membulatkan mulutnya ketika mendengar bisikan dari Vina. "Lu Keisya?" tanya perempuan itu menunjuk ke arah Keisya.


Keisya tersenyum kikuk. Bagaimana perempuan di hadapannya ini bisa tau?


"Hai kenalin, gue Windi Agustin. Sekretaris nya Kevin di organisasi. Lo bisa manggil gue Windi. Seneng bisa ketemu secara langsung sama lo."


Windi menghulurkan tangannya pada Keisya. Pendapat keramahan itu tentu saja Keisya menyambutnya dengan hangat. "Gue Keisya Calief, lo bisa manggil gue Keisya." ucap Keisya memperkenalkan dirinya.


Windi kemudian menatap Vina dengan senyuman yang serupa. "Windi Agustin." katanya lagi sambil menghulurkan tangan ke arah Vina.


Vina menyambut uluran tangan itu. "Vina Sabrina."


Windi tersenyum hangat pada kedua gadis yang berada di hadapannya. "Ayo masuk ke ruangan kami," ajak Windi antusias.


Keisya menggeleng. "Lo bisa panggilin Kevinnya aja gak, Win?"


.


.


.

__ADS_1


...Bersambung... ...


SORRY PER BAB CUMAN BISA UP 1000 KATA😊


__ADS_2