
Vina menatap heran ketika membuka pintu hotelnya menemukan Keisya dan Windi. Vina tersenyum canggung kepada Windi. Bukan, bukan karena Vina tidak menyukai Windi. Tapi, karena ia baru satu kali bertemu gadis itu.
"Kok gak bilang-bilang mau ke sini lo, Kei?" tanya Vina.
Keisya cemberut kecil. "Ini gue sama Windi gak di ajakin masuk?" tanya Keisya setengah kesal.
Vina menepuk pelan jidatnya. Lalu, menggeser sedikit tubuhnya agar Keisya dan Windi bisa masuk ke kamarnya. Vin kembali merebahkan dirinya di kasur, sementara Keisya dan Windi duduk di tepian ranjang.
"Lo baru bangun Vin?" tanya Keisya.
Vina menggeleng singkat. "Udah dari tadi banget gue bangun. Cuman mager aja ngapa-ngapain. Lo ngapa di sini sama Windi? Gak jagain cowok lo?" tanya Vina penasaran.
"Ada anak-anak organisasinya dia yang jagain."
Vina langsung duduk dan menatap Keisya intens. "Ada Sindi juga?" tanya Vina lagi.
"Hah?" beo Keisya bingung.
"Iya ada Vin," jawab Windi singkat.
Vina menggeplak pelan kening Keisya. "Ngapain lo tinggalin cowok lo sama tuh cewek? Lo mau kejadian kemarin ke ulang lagi?" tanya Vina galak.
Keisya melotot kecil ke arah Vina sambil melirik Windi sekilas. Keisya tidak enak jika Windi mendengar gerutu an Vina mengenai Sindi. Biar bagaimana pun juga kan Sindi adalah bagian dari organisasi dengan Windi.
"Santai, Kei. Gue gak bakal ngebelain Sindi kalau dia emang salah," ucap Windi santai. Menurutnya jika memang Sindi salah ya salah. Mana bisa mendapatkan pembenaran atas sikapnya yang memang salah, kan?
"Lagian di sana rame, Vin. Gak cuman ada Sindi," jawab Keisya menenangkan.
"Sorry ya Win. Gue kalau soal ngebilangin nih anak emang begini modelannya. Harus di omelin dulu baru ngerti," kata Vina di iringi kekehan kecilnya.
Windi terkekeh pelan. "Udah keliatan sih dari awal gue ketemu dia, Vin."
"Kenapa jadi ngeledekin gue," cicit Keisya setengah kesal.
Keisya kemudian menatap Vina yang kembali bergelung dengan selimut. "Ihh ayo nyari makan siang, gue laper banget."
"Pesen aja ya?"
__ADS_1
Keisya menggeleng cepat. Ia kan ingin makan di tempatnya. Karena menurut Keisya akan lebih menyenangkan jika makan di tempat di banding take away.
"Mager banget gue pergi."
"Windi gimana? Emang Windi bawa motor?" tanya Vina hati-hati.
"Taraa, gue bawa mobil. Kita naik mobil gue aja. Gue yang nyetir," jawab Windi dengan memperlihatkan kunci mobilnya.
"Nah kalau gitu gue setuju pake banget," gumam Vina yang langsung beranjak dari kasurnya untuk bersiap-siap. "Gue siap-siap bentar," ucap Vina lagi yang kemudian masuk ke dalam kamar mandi.
Keisya menggeleng heran melihat kelakuan Vina. "Dasar," cibir Keisya pelan.
Keisya bukan tipikal orang yang mudah dekat dengan orang asing. Apa lagi dengan orang yang baru di temuinua kemarin. Namun entah kenapa saat bertemu Windi, ia sudah merasa satu frekuensi dengan dengan patner Kevin yang satu ini.
"Kenapa ngeliatin gue kayak gitu banget, Kei?" tanya Windi khawatir ketika mendapati Keisya yang menatapnya dalam.
Keisya menggeleng pelan, lalu menampilkan senyum manisnya. "Jujur ya Win. Gue bukan orang yang gampang deket sama orang baru. Apa lagi baru sekali. But. Gue gak ngerti kenapa, pas ketemu sama lo gue udah langsung klik."
Windi tertawa kecil mendengar penuturan Keisya. "Gue seneng loh bisa akrab kayak gini sama lo. Gue bahkan berasa mau pindah fakultas aja deh, Kei."
"Lebay," cibir Keisya bercanda.
Keisya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal mendengar penuturan Windi. Ia merasa sedikit tidak percaya dengan ungkapan itu. Bagaimana bisa orang seperti Windi tidak memiliki jangkauan pertemanan yang lebih luas. Windi kan anak organisasi? Bukankah anak organisasi sedikit banyaknya memiliki relasi di luar organisasinya.
"Banyak yang bilang muka gue terlalu judes. Padahal gue emang gitu orangnya. Ya kali jalan di koridor sambil senyam-senyum, kan?" gerutu Windi kesal. Mereka menilai Windi hanya dari apa yang mereka lihat. Mereka tidak mencoba membangun interaksi yang sebagaimana semestinya. Maka dari itu Windi sudah keburu malas untuk membangun interaksi duluan.
Keisya tersenyum geli mendengar ucapan Windi. "Vina juga gak ada temen selain gue karena mukanya terlalu judes," kata Keisya jujur.
"Omongin aja soal gue. Gak denger kok gue," cibir Vina yang enah sejak kapan gadis itu keluar dari kamar mandi. Vina sudah sangat manis dengan sedikit polesan bedak dan lip cream yang teroles tipis di bibir ranumnya.
Windi dan Keisya kompak tertawa mendengar cibiran itu. "Oh lo gak ada temen karena muka lo judes, Vin?" tanya Windi mengejek.
"Ngaca sist. Lo juga kirang lebih kayak gue."
"Kalian operasi plastik aja. Request muka ramah sama dokternya," sahut Keisya santai.
***
__ADS_1
Kevin menatap jam dinding yang ada di ruangannya. Ini udah sore dan Keisyanya belum juga kembali ke ruang rawatnya.
"Noleh ke pintu mulu Bang," cibir Riyan yang sedari tadi melihat Kevin menatap ke arah pintu sesekali.
"Nungguin buncinnya lah," sahut Andre asal. Andre sedang rebahan santai di sofa ruang rawat Kevin.
Kevin sendiri menatap ke arah Sindi, Fera, dan Nindi, yang duduk lesehan di karpet bulu yang di sediakan di depan sofa. Fera dan Nindi baru tiba sekitar setengah jam yang lalu. Sedangkan Sindi datang bersama yang lain sejak tadi siang. "Kalian gak ada kerjaan lain emang?" tanya Kevin menatap satu per satu anak-anak organisasi yang masih betah ada di ruang rawatnya.
"Ketua kita aja rebahan, masa kita kerja rodi?" jawab Davin bercanda.
Riyan dan Davin sedang mabar salah satu game online yang tersedia di handphone mereka. Meskipun duduknya terpisah, namun mereka tetap terlihat asik. Riyan yang duduk di samping tempat tidur Kevin, dan Davin yang duduk lesehan bersama Sindi, Fera, dan Nindi.
Sementara pengurus yang lain sudah pulang sejak lima belas menit lalu. Yang tersisa hanya orang-orang yang merasa cukup dekat dengan Kevin.
"Sin, lo gak balik?" tanya Kevin pelan.
Fera dan Nindi kompak menoleh menatap Sindi.
"Sindi gak boleh lama-lama di sini ya Bang?" tanya Sindi kecewa karena mendengar pertanyaan Kevin. Di antara banyak orang yang berada di kamar rawat Kevin, mengapa pertanyaan itu justru terlontar untuknya.
Kevin menggeleng cepat, mendengar pertanyaan Sindi. "Sin, gua gak maksud kayak gitu," ucap Kevin yang merasa tidak enak karena membuat Sindi berpikir demikian. Kevin menghela napasnya pelan. "Lo kan gak boleh kecapean, Sin. Gue gak maksud ngusir lo, lebih baik lo balik buat istirahat. Lagian kan lo udah dari tadi si sini, gue gak enak ngambil waktu istirahat lo terlalu banyak," kata Kevin menjelaskan maksudnya.
"Tapi Sindi cuman duduk doang kok, Bang. Gak capek."
Andre melirik singkat ke arah Sindi. "Duduk juga bisa bikin capek kali Sin," celetuk Andre yang sibuk dengan handphone nya.
Sindi sontak menoleh ke belakang, di mana Andre sedang rebahan santai di sofa yang tersedia. "Sindi kan bukan remaja jompo, Bang. Hehe," katanya di selingi candaan.
Hanya Fera dan Nindi yang ikut tertawa pelan karena candaan Sindi. Sementara yang lain tersenyum masam.
"Btw, makasih loh Bang, kalian care banget sama Sindi." kata Sindi tulus, ia merasa banyak yang perhatian dengannya semenjak Sindi bergabung menjadi bagian dari ke pengurusan organisasi.
"Gak cuman ke lo, Sin. Kita care ke semuanya. Biar adil."
.
.
__ADS_1
.
...Bersambung......