Percintaaan Seorang Ketua BEM

Percintaaan Seorang Ketua BEM
UHUYYY


__ADS_3

Keisya terkekeh dan memakan santai apel yang ada di tangannya. Rasanya manis dan membuat Keisya merasa ingin lagi. "Aku habisin apelnya boleh gak?" tanya Keisya hati-hati. Apel yang ada di keranjang buah tinggal satu.


"Boleh. Tapi setelah kamu makan."


Keisya cemberut kecil. "Aku mau apel aja. Gak mau makan yang lain."


"Keisya Calief," tegur Kevin. "Sebelum aku pesenin makanan sesuka aku, mending request kamu mau makan apa? Cepet."


Tok tok tok.


Suara ketukan pintu kamar rawat membuat mereka menoleh. Tidak lama, pintu kamar rawat terbuka dan nampaklah beberapa anak-anak pengurus organisasi Kevin. Keisya hanya mengingat beberapa di antara mereka, hanya Windi, Sindi, Davin dan Riyan. Selebihnya Keisya melupakan nama orang-orang itu.


"Hey Bang kita gak ganggu nih?" tanya Davin cengengesan.


Kevin menggeleng pelan. Keisya juga tersenyum tipis untuk menyambut mereka. "Ganggu sih sebenarnya," jawab Kevin asal.


"Pulang nih kita."


"Pulang aja lo sendiri. Gue mau ngadem di kamar rawat Bang Kevin," sahut Riyan yang menimpali ucapan Davin.


"Hei, Keisya," sapa Windi antusias. Windi memeluk singkat Keisya dan Keisya membalas pelukan itu. "Hei, Win," balas Keisya halus. Kedua gadis itu saling tersenyum satu sama lain.


Kevin tanpa sadar menyunggingkan senyumnya ketika Keisya terlihat cukup akrab dengan Windi. Setidaknya ada seorang patnernya di organisasi yang dekat dengan pacarnya. Apa lagi jika orang itu adalah Windi, sekretarisnya sendiri.


"Hai, Kak Keisya," sapa Riyan yang tidak ingin ketinggalan.


Keisya tersenyum ke arah Riyan yang menyapanya.


"Yan!" tegur tajam Kevin ketika mendengar panggilan Riyan saat manyapa Keisya, pacarnya. Ingat pacar Kevin, bukan pacar Riyan.


"Hayolo ngamuk yang punya panggilan," celetuk Andre yang tergelak kecil.


"Iya, ish sorry-sorry. Jangan galak-galak kali Bang sama gue. Entar lo gak punya kurir bunga dadakan lagi. Iya kan, Kak Keisya?" kata Riyan. Meminta pembelaan Keisya. Sungguh gemar sekali anak itu mencari perkara.


"Iya," sahut Keisya pelan.


"By, kok di iyain?"

__ADS_1


"Kevin Narendra posesif Keisya," kata Devan yang gatal menimpali pembicaraan yang lain.


"Udah-udah kalian berisik," cibir Windi galak. Windi kemudian menatap Kevin. "Gimana keadaan lo, Vin?" tanya Windi khawatir. Jujur, ketika mendapat kabar kalau Kevin di rawat di rumah sakit membuat Windi pusing bukan main. Pusing karena memikirkan bagaimana caranya menghandle kegiatan karena tumbangnya Kevin. Bukan karena alasan yang lain.


"Aman."


"Aman lah ya, yang jagain bidadari soalnya," celetuk Riyan asal.


Keisya tersenyum kikuk mendengarnya. Astaga, bisa-bisanya ia jadi salah tingkah begitu hanya karena perkataan dari Riyan. Sepertinya Riyan itu tipikal cowkk yang sangat amat pintar memainkan perkataan. Terbukti saat tadi menggoda Kevin, eh malah Keisya yang jadi salting.


Keisya menoleh ke arah Kevin. Ia mendekatkan diri semakin rapat pada cowok itu. "Ren, aku tinggal gak papa kan?" kata Keisya yang membisikkan ucapannya pada Kevin.


Kevin memincing curiga. "Mau kemana?" tanya Kevin penasaran.


"Mau nyari makan siang sama Vina."


Keisya memberikan tatapan memohonnya pada Kevin. "Vina chek in di hotel depan," kata Keisya memberitahu. "Lagian aku gak enak sama temen-temen kamu. Gak papa ya aku tinggal dulu," ujar Keisya semakin pelan. Mungkin hanya bisa di dengar Kevin.


"Jangan lama ya?"


"UHUYYY," sorak Davin dan Riyan berbarengan. Celetukan Kevin terdengar hingga ke telinga mereka. Jadi, jangan salahkan mereka jika mereka menggoda Kevin sekarang ini.


Keisya meraih sling bagnya yang berada di atas nakas, kemudian berjalan mendekati Windi. "Gue tinggal ya Win," ucap Keisya pelan. Keisya kemudian baru menyadari satu hal. Ada Sindi di antara yang lain. Namun sebisa mungkin ia tidak lepas kendali. Masalah Kevin berpelukan sama Sindi pun belum ia ketahui bagaimana kejadiannya. Keisya meminta Kevin lebih fokus pada kesehatannya dulu di banding dengan masalah mereka.


Keisya akan menuntut semua penjelasan itu nanti. Setelah Kevin nya sembuh. Kesembuhan Kevin adalah prioritas utama Keisya.


"Loh, lo mau kemana?" tanya Windi penasaran.


"Gue mau makan siang sama Vina."


Windi yang mendengar itu membinarkan matanya. "Gue boleh ikutan gak?" tanya Windi hati-hati. Entah kenapa, di banding bersama anak-anak organisasinya, Windi lebih tertarik untuk ikut dengan Keisya makan siang. Windi itu paling suka makan. Jangan salahkan jika dirinya menjadi tertarik seperti sekarang.


Keisya sontak terkejut mendengar penuturan Windi, ia menoleh pelan ke arah Kevin seolah meminta pendapat cowok itu. Beberapa detik berikutnya ia mendapati anggukan kecil di sertai senyum tipis dari cowok itu.


Merasa tidak mendapat respon dari Keisya membuat Windi menghela napasnya pelan. "Kalau lo gak nyaman gue ikut, gak papa kok Kei. Santai," kata Windi mengerti. Mungkin Keisya memang perlu waktu untuk akrab dengannya.


Keisya terkekeh pelan. Ia meraih lengan Windi dengan lembut. "Ayo ikut sama gue," ajaknya tulus.

__ADS_1


Mendengar ajakan itu sontak membuat Windi memekik tertahan. "Serius lo?" tanya Windi lagi.


"Serius dong. Tapi lo gak papa kan gak ngumpul sama mereka?" tanya Keisya memastikan sambil melirik sekilas orang-orang yang ada di sekitarnya.


"Gue bosen sama mereka mulu. Sekali-kali gue mainnya sama Bu Ketu gak papa kan Vin?"


Kevin mengangkat jempolnya ke udara di iringi kedipan matanya. "Jagain pacar gue, Win."


"Siap laksanakan."


"Eh, bentar," ucap Keisya tiba-tiba.


Keisya kemudian melirik Sindi yang sedari tadi menunduk dalam seolah gadis itu enggan mengangkat kepalanya sedikitpun. "Kalau lo ikut sama gue, Sindi gak papa sendirian di sini?" tanya Keisya peduli. Hanya Sindi dan Windi yang perempuan, sisanya sudah pasti laki-laki. Maka dari itu Keisya sedikit khawatir jika meninggalkan Sindi sendirian bersama cowok-cowok itu. Bagaimana jika Sindi tidak nyaman menjadi satu-satunya perempuan di antara yang lain.


"Nanti ada temen Sindi yang bakal dateng ke sini kok, Kak," jawab Sindi sopan.


"Siapa?" tanya Windi kepo.


"Fera sama Nindi, Kak."


Windi mengangguk kecil. "Gak papa kan lo gue tinggal sama mereka?" tanya Windi memastikan. Hanya sekedar memastikan saja. Ia juga enggan merubah keputusannya untuk keluar dengan Keisya karena Sindi. Aih, jangan harap.


"Iya, Kak gak papa."


Keisya kemudian menatap Kevin yang ternyata masih menatap nya. Keisya memberikan tatapan peringatan ke Kevin, yang semoga saja di mengerti Kevin.


"Awas aja kalau ada yang bikin ulah." Peringatan Windi dengan tatapan datar nya menatap ke anak-anak organisasinya.


.


.


.


...Bersambung......


SORRY KALAU UPNYA GAK TENTU, SOALNYA SESENGGANYA AUTHOR JADI GAK NENTU😊

__ADS_1


__ADS_2