Percintaaan Seorang Ketua BEM

Percintaaan Seorang Ketua BEM
Buket Bunga dan Cokelat


__ADS_3

Kevin mengenyit heran mendengar penuturan Devan, ia menuju meja kebesaran nya dan ternganga melihat ada beberapa bucket bunga dan cokelat di meja nya. "Apaan ini?" tanya Kevin heran. Ia meletakkan paper bag pemberian Sindi di atas meja lalu menatap Devan, Riyan dan Windi untuk meminta penjelasan.


"Dari penggemar penggemar lo tuh." kata Windi memberi tahu.


"Hah?" beo Kevin seperti orang cengo.


"Hah hoh hah hoh." cibir Windi.


Devan dan Riyan hanya menyaksikan Ketua dan Sekretaris organisasi nya berdebat kecil. Itu sudah biasa terjadi antara kedua orang itu.


"Tau gak lo? Kemaren banyak banget cewek dateng ke sini nyariin lo." kata Windi memberi tahu. Semalem Kevin memang tidak berkunjung ke ruang sekretariatan setelah mendapat kabar kelas nya di liburkan. Pemuda itu langsung pergi dengan begitu semangat.


"Nyariin gue? Ngapain?" tanya Kevin yang masih belum paham kenapa banyak cewek mencari nya.


"Mau ketemu lo kata nya, terus karena lo nya gak ada jadi mereka pada nitipin bawaan mereka buat lo ke gue. Tuh barang barang lo di atas meja lo semua." jawab Windi.


Kevin menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal. Ia mengusap wajah nya pelan, menghela nafas panjang dan memilih duduk di kursi yang biasa ia tempati. "Kenapa lo terima sih, Win?" ucap Kevin memelas. Menerima hadiah dari Sindi aja sudah membuat nya pusing, ini lagi ada banyak gadis yang memberikan nya hadiah bunga dan cokelat.


"Ya terus gue harus gimana? Gue udah bilang ke mereka bawa balik aja lagi, nanti aja lo pada kasih kalo orang nya ada. Lah mereka malah maksa gue supaya gue terima in barang barang dan minta sampein ke lo. Ya kali kan gue buang buangin barang nya." adu Windi yang masih fokus dengan lembar lembaran proposal yang ia handle. Padahal seharus nya Sindi yang mengerjakan ini, namun berhubung anak itu perlu istirahat jadi lah Windi yang harus mengurus nya.


"Udah lah Bang, lo terima aja. Lumayan kan bunga nya bisa di jadiin pajangan. Nah, cokelat nya kalau lo gak mau kita menerima dengan ikhlas hibahan cokelat dari lo Bang." kata Devan di akhiri dengan kedipan mata nya.


Kevin mendengus kecil. "Lo pada ada liat Sindi gak?" tanya Kevin tiba tiba.


Windi spontan mengalihkan pandangan nya menuju Kevin ketika mendengar pertanyaan Kevin. Fokus nya pada proposal kegiatan lenyap seketika. "Siapa yang barusan lo tanyain?" tanya Windi memastikan.


"Sindi." ulang Kevin santai.


"Ngapain lo nanya nanya Sindi?" tanya Windi lagi.


Kevin mengenyit aneh mendengar nada sinis yang di layangkan Windi terhadap nya. "Pms lo Win?" kata Kevin tidak menyambung.

__ADS_1


"Hah." beo Windi.


"Ck, lo kenapa sekaget itu gue nanyain, Sindi?" tanya Kevin.


Windi tertawa canggung. "Biasa aja tuh gue." elak nya santai. Ia hanya heran kenapa Kevin tiba tiba mencari Sindi.


"Jadi ada yang bisa jawab pertanyaan gue apa enggak?" tanya Kevin lagi.


"Sindi belum datang lah kayak nya, Bang." jawab Riyan.


"Nanti kalau lo ketemu sama Sindi, bilangin ke dia kalau gue ada perlu sama dia ya." ucap Kevin.


Riyan mengangguk dan menunjukkan jari ke arah Kevin. "Siap Bang." ucap nya.


Kevin tersenyum tipis dan menyandarkan punggung nya ke sandaran kursi. Ia juga menutup mata nya dengan lengan.


"Ayo Ri kita ke kelas, 30 menit lagi kita kuliah. Ngadem di kelas dulu kan sabi." ajak Devan pada Riyan.


"Iya santai." jawab Windi.


"Seribu kak?" tanya Riyan memastikan.


Windi menatap tajam Riyan yang membuat nya kesal. "Gue lempar juga nih proposal ke tong sampah kalau lo nanyain itu sekali lagi." kata nya garang.


"Ehehe, bercanda Kak. Ya udah gue sama Devan ke kelas dulu. Bye Kak Windi, bye Bang Kevin." kata Riyan yang berpamitan pada kedua senior nya itu. Devan dan Riyan lantas pergi meninggalkan Windi dan Kevin di ruang ke sekretariatan.


"Aman Win?" tanya Kevin tanpa merubah posisi nya yang terlalu nyaman menurut nya. Ia menikmati semilir angin yang menerpa diri nya sambil memejamkan mata. Berusaha untuk rileks, mengistirahatkan tubuh dan pikiran nya selagi bisa.


"Aman." jawab Windi mantap.


Kevin mengangguk kecil. "Bilang ke gue kalau ada kendala." ucap nya.

__ADS_1


"Siap Pak Ketu." ucap Windi.


Windi sesekali menatap Kevin yang seperti nya enggan merubah posisi nya menjadi duduk tegak. "Vin." panggil Windi pelan.


Kevin hanya bergumam menanggapi panggilan Windi tadi. Ia sedang malas bersuara.


"Lo sengaja datang pagi begini cuman buat ketemu sama Sindi?" tanya Windi hati hati. Pasal nya ia dan Kevin kan satu jurusan dan satu kelas. Mereka tidak ada kelas sepagi ini. Windi datang karena mengurua proposal yang harus segera di rampungkan. Sementara Kevin? Windi rasa Kevin tidak memiliki kepentingan yang mengharuskan pemuda itu berangkat sepagi ini.


Kevin mengangguk sebagai atas jawaban pertanyaan Windi. "Gue ada perlu sama dia, Win." kata Kevin memberi tahu.


"Sepenting itu sampai bikin lo dateng sepagi ini?" tanya Windi lagi.


"Iya. Gue mau urusan gue cepet beres biar gak jadi pikiran." jawab Kevin.


Windi mengangguk kecil, ingin bertanya lebih detail tapi Windi mengerti posisi nya di sini, ia hanya sekedar sekretaris Kevin di organisasi. Sangat tidak etis jika Windi mencampuri urasan pribadi Kevin terlalu jauh, bukan?


Kedua nya sama sama diam dengan kesibukan masing masing. Windi kembali fokus mengurus proposal dan Kevin dengan pikiran nya yang berkelana. "Win lo inget gak waktu gue nolongin Sindi waktu itu?" celetuk Kevin tiba tiba setelah cukup lama ia diam tanpa bergeming.


"He'em gue inget. Kenapa emang?" tanya balik Windi.


"Dia kasih gue hadiah sebagai ungkapan terima kasih kata nya." jawab Kevin.


"Terus?" tanya Windi.


"Mau gue balikin lagi hadiah nya." ucap Kevin.


Windi mengernyit heran. Ia menatap Kevin aneh. "Kenapa lo terima kalau ujunv ujung nua lo balikin lagi, Vin? Ada ada aja lo." kata Windi heran dengan kelakuan Kevin.


"Keisya yang nerima." ucap Kevin.


...Bersambung... ...

__ADS_1


LANJUT BESOK LAGI YA GUYS, MOHON DUKUNGAN NYA BIAR AUTHOR MAKIN SEMANGAT BUAT UP😇


__ADS_2