Percintaaan Seorang Ketua BEM

Percintaaan Seorang Ketua BEM
Gatel-Gatelnya Makin Parah?


__ADS_3

Keisya hari ini mengurus kepulangan Kevin dari rumah sakit, sudah empat hari cowok itu di rawat dan hari ini di perolehan pulang. Beberapa anggota kepengurusan organisasinya bahkan ikut menjemput. Ada Windi, Riyan, Davin dan Devan.


"Gue ke apotek dulu buat tebus obat rawat jalannya dia," kata Keisya pada Vina.


Ah iya, Vina memang sigap menemani Keisya untuk berurusan di rumah sakit. Maklum, Vina tidak pernah tenang membiarkan Keisya melakukan itu sendiri. Padahal Keisya sudah berkali-kali mengungkapkan kalau ia bisa sendiri.


"Ya udah, ayo sama gue."


Keisya mendengus pelan. "Lo balik aja ke ruang rawat Kevin, temenin Windi. Gue kan cuman ke apotek."


"Gue males berurusan sama anak-anak organisasi itu. Apa lagi ada Riyan. Mau muntah gue dengerin semua omong kosongnya." Gerutu Vina kesal.


Keisya terkekeh pelan. Saat bertemu dengan Vina, Riyan memang kerap kali menggoda gadis itu, meskipun sudah mendapat pelototan tajam hasil dari kekesalan Vina.


"Jangan gitu, Vin. Awas, dari benci-bencian entar jadi cinta-cintaan," goda Keisya


Vina bergidik cepat. "Amit-amit deh, Kei."


"Amit-amit apa amin-amin?"


"Mulai budeg lo?" damprat Vina kesal. Ia kesal karena Keisya menggodanya. Belum lagi Windi yang juga ikut-ikutan menjodohkan dirinya dengan Riyan. Hei, cowok seperti Riyan sangat jauh dari tipe idealnya.


Keisya tertawa geli. Ia menoleh menatap Vina yang sudah menampakkan wajah kesalnya. "Riyan kan ganteng, masa iya lo gak kepincut?"


"Gak."


"Gak salah lagi?"


"Keisyaaaa," rengek Vina yang membuat tawa Keisya semakin menguar indah.


"Oke, oke. Gue diem," kata Keisya yang berusaha mengatupkan bibirnya agar tidak semakin gencar menggoda Vina. "Eh tapi, kalau lo beneran sama Riyan, kita bisa double datte Vin. Asikkk banget kalau sampai kejadian," kata Keisya random.


"Halu lo ketinggian."


"Kayaknya Riyan baik sih, Vin."


"Semua orang juga punya sisi baik, Kei."


"Dia ganteng."


"Namanya cowok ya ganteng lah."


"Dia asik."


"Ya terus?"

__ADS_1


"Pas jadi cowok lo?"


Vina menghentikan langkahnya dan menyentil pelan kening Keisya yang membuat si korban memgadu kecil. "Kok gue di sentil?" tanya Keisya polos.


"Gak usah kemana-mana pikiran lo. Gue sama Riyan juga baru kenal."


Ucapan Vina justru membuat Keisya tersenyum penuh arti. "Heum? Jadi, lo maunya kenal lama sama dia?" goda Keisya lagi.


"Serah lo."


Setelah selesai dengan segala urusan administrasi dan obat-obatan Kevin, mereka kembali ke ruang rawat. "Loh, infusnya belum di lepasin sama perawatnya?" tanya Keisya yang langsung mendekati Kevin.


Cowok itu masih mengenakan baju pasien karena masih ada infus yang menancap di tangan kirinya. Kevin menggeleng sekilas.


"Bakal di lepasin kalau cairan infusnya udah habis, Kei," kata Windi memberi tahu.


Keisya mengangguk mengerti kemudian memeriksa satu per satu barang-barang yang sudah di rapikan untuk di bawa pulang. Memastikan bahwa tidak ada satu pun barang yang tertinggal.


"Kiw, cewek."


Keisya menoleh menatap Riyan yang mulai melancarkan aksinya. Keisya tersenyum geli melihat tingkah Riyan yang membuat Vina mendelik kesal.


"Jangan di godain tuh cewek galaknya kebangetan," ujar Kevin memperingati.


Vina mencibir pelan mendengar ucapan Kevin. Keisya menatap horor Kevin yang mengatakan demi kian.


"Jangan gitu sama Vina."


"Emang sahabat kamu galaknya overdosis," gerutu pelan Kevin. Menurutnya, Vina itu terlalu galak. Bahkan lebih galak dari Windi.


"Mau gue galakin lagi?" tanya Vina menggebu-gebu.


"Galakin gue aja sini."


Vina menatap jengah Riyan yang mengerling jahil ke arahnya. Hais, anak itu memang menyebalkan bagi Vina.


"Riyan, dia lebih tua dari lo. Yang sopan sama senior," tegur Windi tajam. Walaupun Windi sangat gemas ketika Riyan menjahili Vina, ia tetap harus bisa memposisikan tempat.


"Tuh dengerin," kata Vina senang saat mendapat pembelaan dari Windi.


Keisya menggeleng-geleng pelan melihat keributan kecil itu. Setidaknya ruangan rawat Kevin tidak sepi dan menakutkan. Adanya Windi, Riyan, Devan dan Vina sangat berguna membuat ruangan ramai.


Tok tok tok.


Pintu kamar di ketuk pelan tidak lama pintu itu terbuka dengan menampilkan dua orang gadis yang melempar senyum kepada orang-orang yang ada di dalam kamar. Keisya memutar bola matanya malas melihat siapa yang datang. Hanya satu gadis yang ia kenal, satu gadis lainnya entahlah.

__ADS_1


"Sindi? Fera?" beo Devan yang melihat kedatangan dua adik tingkatnya itu.


Oh, Fera, batin Keisya mengingat nama yang di cetuskan Devan. Keisya menatap dua gadis itu masuk dan tersenyum kepada Kevin.


"Hai, Bang. Gimana keadaan Abang hari ini?" tanya Sindi ramah. Gadis itu meletakkan sekeranjang buah di samping nakas tempat tidur.


"Abang tukang bakso kali ah," cibir Vina pelan.


Keisya melirik ke arah Kevin sekilas. Cowok itu tersenyum lembut guna menjawab pertanyaan Sindi. Hih, Keisya kesal.


"Baik, Sin. Lo ngapain ke sini? Padahal gue udah mau keluar dari rumah sakit."


"Periksa ke dokter kulit kan ya? Gatel-gatelnya makin parah?" tanya Vina asal. Ia menimpali pembicaraan Sindi dan Kevin.


Windi mati-matian menahan tawanya agar tidak meledak. Benar apa yang di katakan Kevin, kalau Vina itu galak. Sangat galak malah. Apa lagi jika menyangkut tentang Keisya, sahabatnya, maka Vina tidak akan segan-segan bertindak.


"Kita mau jengukin Bang Kevin aja kok Kak," kata Sindi menjawab.


"Jenguk mulu tiap hari, gak ada kerjaan lain?"


"Kakak kenapa sih? Ada masalahnya sama sahabat aku?" tanya Fera yang berusaha berada di pihak Sindi. Jelas, siapa yang akan diam saja jika sahabatnya di senggol begitu? Tentu Fera juga akan ikut turun tangan.


"Udah-udah, ini rumah sakit kalau kalian lupa."


Suara tegas dan mengintimidasi milik Kevin membuat mereka semua lantas diam. Aura Kevin menguar dominan di ruang itu. Keisya mengelus pelan pundak Kevin guna menenangkan.


"Gerah gue di sini," kata Vina yang memilih keluar. Pintu ruangan di tutup cukup kasar oleh gadis itu.


Keisya hendak mengejar Vina namun lengannya keburu di tahan oleh Kevin. "Di sini aja. Jangan kemana-mana," lirih Kevin meminta. Ia tidak ingin di tinggalkan Keisya. Ia ingin Keisya tetap di sisinya sekarang ini, agar tidak ada kesalah pahaman lagi yang terjadi antara mereka karena Sindi.


"Tapi Vina?"


"Biar gue aja Kak yang nyusulin."


Keisya menoleh menatap Riyan yang tersenyum menenangkan. Windi sendiri mengangguk kecil, memberi kode pada Keisya agar mengizinkan Riyan menyusul Vina.


"Tolong ya Yan," kata Keisya memohon.


Riyan menampilkan jempolnya ke arah Keisya di ikuti senyumannya yang antusias.


"Awas lo gangguin dia! Gue yang bakal nendang lo sampe tumbang kalo sampe Vina makin kesel karena lo," acam Windi tidak main-main.


.


.

__ADS_1


.


...Bersambung... ...


__ADS_2