Percintaaan Seorang Ketua BEM

Percintaaan Seorang Ketua BEM
Minta Apa By?


__ADS_3

"Aku cuman gak mau bikin kamu sakit hati, By. Aku mau jaga perasaan kamu."


"Ya ampun, so sweet banget sih pacar aku," kata Keisya mencubit pipi Kevin pelan. Itu sebenarnya hanya sarkasme yang di layangkan oleh Keisya untuk Kevin.


"Kei, maaf."


Keisya tertawa geli mendengar permintaan maaf dari Kevin. "Maaf yang ke berapa kali nih kamu omongin ke aku?" tanya Keisya lagi dengan wajah tengil yang ia nampakkan.


"Aku tau, aku udah sering bilang maaf, tapi berkali-kali juga aku bikin kamu sakit lagi."


"Alhamdulillah sadar ya kamu?"


"By, aku janji cuman buat tiga minggu ke depan aku bantuin Sindi. Setelah itu, aku bakal jauhin dia."


Keisya membuang muka dari Kevin. Ia menatap keluar jendela dengan mata yang sudah berembun. Gadis itu menggigit bibir bawahnya kuat agar isak tangisnya tidak keluar.


"Tadi, kamu jemput dia?" tanya Keisya dengan suara yang bergetar.


"I-iya dia mau banget dateng ke acaranya yang dia rangkai dari awal. Aku gak tega, By. Biar gimana pun juga, kegiatan hari ini rancangan Sindi."


"Kamu sarapan sama dia tadi pagi?" tanya Keisya lagi masih dengan wajah yang menghadap ke jendela luar.


"Iya, By."


Keisya tersenyum miring mendengar itu. "Ada jaminan apa kalau selama tiga minggu ke depan kamu sama dia, kamu gak bakal baper?"


Keterdiaman Kevin membuat Keisya merasa semakin kerdil.


"Gak bisa jawab ya? Gak percaya diri, hm?" tanya Keisya lagi. Air mata Keisya mulai luruh. Kenapa selalu aja ada masalah di antara mereka. Selalu saja ada hal yang membuat mereka bertengkar.


Kevin menarik Keisya kedalam pelukannya meskipun Keisya berusaha memberontak. Cowok itu mengusap-ngusap lembut punggung pacarnya yang semakin bergetar karena tangisannya.


"Sorry, By."


Hanya kata itu yang dapat Kevin sampaikan untuk Keisya. Hanya kata maaf yang sepertinya mampu ia ucapkan sekarang ini.


Keisya melepaskan pelukannya dengan Kevin. Gadis itu mengusap kedua pipinya yang basah dengan air mata menggunakan tissu yang ada di mobil Kevin. Keisya menyapu ujung hidungnya yang sedikit berair. "Aku punya opsi lain buat masalah Sindi," ucap Keisya tiba-tiba.

__ADS_1


"Apa?" tanya Kevin penasaran.


"Kita cari perawat home care aja. Kita ambil yang 24 jam biar bisa jagain Sindi. Gimana?"


Kevin menatap Keisya yang menatapnya dengan sorot mata memohon. Jujur, ia juga sempat berniat demikian. Namun akan menyinggung perasaan Sindi jika sampai Kevin melakukan itu.


"Rendra?"


"Ada alternatif lain?" tanya Kevin selembut mungkin agar tidak menimbulkan kesan yang berbeda di mata Keisya.


"Kamu gak setuju sama opsi itu?"


"Bukan gak setuju By, menurut aku terlalu too much kalau sampai kita ngelibatin perawat home care 24 jam buat keadaan Sindi yang kayak gitu."


"Aku yang biayain Ren," rengek Keisya berusaha membujuk Kevin agar menyetujui opsinya. Tidak masalah Keisya mengeluarkan sejumlah uang untuk menyewa jasa perawat home care 24 jam yang tentu saja tidak murah. Dari pada hubungannya menjadi taruhan, lebih baik uangnya yang melayang kan?


Kevin menepuk pelan pucuk kepala Keisya. "Bukan masalah biayanya, Bbyy. Ini lebih dari itu. Penyedia layanan home care pasti punya kriteria tertentu yang sesuai. Gak sebarangan, By. Kondisi Sindi termasuk ke dalam kondisi yang masih bisa di handle sama dirinya sendiri. Cuma engkel kakinya yang sedikit cidera. Bukan patah tulang permanen, By. Gak perlu pake perawat home care," kata Kevin menjelaskan.


"Tapi aku gak mau kamu terlalu deket sama dia, Rendra," lirih Keisya sendu.


Keisya rasa tidak akan ada perempuan yang dengan suka rela mengizinkan pacarnya merawat gadis lain meskipun itu hanya bentuk tanggung jawab dari kesalahan yang di lakukan si pacar. Keisya itu punya perasaan, mana bisa ia biasa-biasa saja saat Kevin memberikan penuturan seperti tadi. Munafik namanya jika sampai begitu.


"Bener cuman gitu?" tanya Keisya menyelidik.


"Iya, Byy."


"Tapi nanti dia pasti nyuri-nyuri kesempatan buat modusin kamu."


Kevin menatap Keisya yang menyandarkan tubuhnya ke sudut jok mobil dengan posisi menyerong. Mereka berhadapan, tapi Keisya mengalihkan wajahnya agar tidak menatap wajah Kevin.


"Aku bakal ngajak Riyan atau Davin buat nemenin aku jemput atau anter Sindi. Jadi, aku sama dia gak bakal berduaan doang di mobil. Gimana?" tanya Kevin membuat penawaran yang menurutnya sudah paling sesuai.


"Boleh gak aku minta satu hal lagi?" tanya Keisya ragu-ragu. Itu terlihat karena gadis itu menggigit bibir bawahnya pelan.


"Minta apa By? Selagi bisa aku turutin, kenapa enggak?"


Keisya menatap Kevin dengan sorot mata yang dalam. Gadis itu menarik napasnya panjang sebelum mengatakan hal lain yang dia inginkan.

__ADS_1


"Kok diem?" tanya Kevin tidak sabar mendengar pertanyaan Keisya.


"Jangan gendong-gendong Sindi kayak tadi, bisa?" cicit Keisya pelan namun masih terdengar di telinga Kevin.


Hal itu membuat senyum Kevin terbit. Ia mangacak pelan surai rambut Keisya yang selalu terawat. "Maaf ya, tadi aku spontan gendong dia waktu dia jatoh dari kursi roda," kata Kevin tulus.


"Kalau aku juga kayak Sindi, kamu juga bakal ngelakuin hal yang sama?"


Deg.


Kevin memasang wajah datarnya saat mendengar pertanyaan Keisya. Kevin tidak suka jika Keisya menanyakan hal seperti itu.


"Bahkan, kalau pun itu terjadi sama Riyan atau Devan, aku juga bakal ngelakuin hal yang sama. Ngerti?"


Keisya menangkap ada nada ke tidak sukaan dari jawaban Kevin. Apakah pertanyaan Keisya itu salah? Keisya rasa tidak.


"Aku salah nanya kayak tadi?" tanya Keisya memastikan dugaannya ketika mendapati respon Kevin yang demikian.


Kevin mengangkat bahunya acuh. "By, kamu tau aku gimana kan?" tanya balik Kevin. Cowok itu menatap Keisya dengan sorot mata yang dingin. "Aku paling gak suka ke setiaan aku di pertanyaankan kayak tadi."


"Aku kan cuman nanya, Rendra."


"Kamu nanya seakan-akan kamu mau ada di posisi Sindi yang sekarang." Ucap Kevin semakin dingin membuat Keisya menciut takut. Cowok itu pasti sedang menahan agar emosinya tidak meluap.


"Denger kamu pergi sendiri tanpa bawa handphone aja aku paniknya bukan main. Apa lagi kamu ada di kondisi yang sama kayak Sindi sekarang? Kamu harusnya ngertiin itu, Kei. Aku gak akan mengistimewakan perempuan lain selain kamu sama Mama."


"Sindi?" tanya Keisya lagi dengan suara yang hampir tenggelam.


"Aku salah mau bertanggung jawab sama kesalahan yang aku buat sampe bikin Sindi kayak sekarang?"


Keisya menggeleng pelan. "Niat kamu buat tanggung jawab emang gak salah. Tapi, cara kamu yang salah. Kamu melakukan itu seakan-akan kamu gak mementingkan perasaan aku sebagai pacar kamu, Rendra."


Keisya menatap Kevin dengan sendu. "Kamu mikirin perasaan aku gak sebelum kamu ngelakuin itu?"


.


.

__ADS_1


.


...BERSAMBUNG .... ...


__ADS_2