Percintaaan Seorang Ketua BEM

Percintaaan Seorang Ketua BEM
Ini Pouch Make Up Mama?


__ADS_3

"Rendra," panggil Keisya yang melihat Kevin beranjank dari duduknya kemudian pergi setelah mengusap pelan pucuk kepala Keisya. "Ish, kenapa sih susah banget ya pertanyaan gue sampe dia gak bisa jawab?" gerutu Keisya kesal.


Keisya merampas minuman yang ada di atas meja dan meminumnya rakus. "Nyebelin," omel Keisya lagi. Setelah selesai menghabiskan minumannya, Keisya beranjak dari duduknya dan menghampiri Vina dan Windi yang asik mengunyak di stand panitia. "Vina, ayo pulang," ajak Keisya bete.


"Ih gak mau. Gue masih seneng di sini. Makanannya banyak.


"Ya udah, gue pulang sendiri."


Windi dan Vina lantas saling menoleh. Windi dengan gesit meraih tangan Keisya sebelum gadis itu melangkah pergi. "Lo kenapa?" tanya Windi pelan.


"Dav, tolong kursi dong."


Davin mengambil sebuah kursi dan menempatkan di samping kursi Windi. "Ini Kak, buat Ibu Negara ya pasti?" tanya Davin sok tau.


"Buat sape lagi Dav?" jawab Windi terkekeh. Windi menepuk pelan kursi itu, "Sini duduk," kata Windi baik-baik.


"Gak mau. Gue mau pulang."


"Di sini rame Kak, ngapain lo mau pulang?" celetuk Riyan yang juga menikmati makanan di samping Vina.


"Ck, duduk."


Windi menarik pelan lengan Keisya dan membuat gadis itu duduk di kursi yang ada di sebelahnya. "Kenapa lo tiba-tiba mau balik?" tanya Vina sambil menikmati makanan di hadapannya.


Keisya menggeleng pelan, kemudian bertopang dagu melihat ke sekeliling. Ia malas membahas alasannya ingin pulang.


"Kevin mana?" tanya Windi yang tidak mendapati Kevin bersama Keisya.


"Au deh. Pulang kali," celetuk Keisya asal.


"Gak mungkin. Dia gak bakal pulang kalau jam kegiatan belum beres."


Keisya mengangkat bahunya acuh. Ia malas membahas Kevin. Entah kemana perginya cowok itu hingga membuat Keisya duduk sendirian tadi.


Bruk.


Bunyi sesuatu terjatuh membuat atensi mereka teralihkan.


"SINDIII," pekik Riyan yang langsung berlari menghampiri Sindi yang terjatuh dengan kursi rodanya di antara pengunjung stand. Davin juga langsung menyusul Riyan menghampiri Sindi.


Keisya, Windi, Vina, dan beberapa panitia yang stay di stand khusus panitia langsung refleks berdiri. Keisya tergugu ketika melihat dengan jelas Kevin lebih duli meraih tubuh Sindi lalu Riyan mengangkat kursi roda Sindi dan membenarkan benda itu.

__ADS_1


Vina diam-diam mengepalkan tangannya kuat melihat Riyan yang seperhatian itu pada Sindi. Tanpa permisi Vina menarik Keisya pergi dari sana. "Kita pulang," ucap Vina tanpa bantahan.


"Vina, Keisya," panggil Windi yang berusaha mengejar kedua gadis itu keluar dari stand.


Keisya tersenyum pedih, ia hanya menatap tangannya yang di tarik kuat oleh Vina. Jarang sekali Vina memperlakukannya sekasar ini. Windi yang paham dengan keadaan langsung melepas kuat tarikan Vina dan Keisya. "Keisya kesakitan Vina," tegur Windi berusaha tenang. Meskipun mereka baru akrab, tapi Windi menyayangi kedua gadis itu dengan sangat.


Vina mengatur napasnya pelan. Gadis itu mengusap wajahnya kasar. Kenapa ia jadi lepas kendali kayak gini?


"Sorry Kei, gue gak sengaja. Sakit banget ya?" tanya Vina yang kemudian meraih tangan Keisya untuk ia perhatikan.


Tangan Keisya memerah. Warnanya sangat mencolok di kulit bersih yang di miliki Keisya.


"Kita kompres ya?" kata Vina lagi. "Wind, di dalem bisa buat ngompres gak kira-kira?"


"Bisa. Nanti gue yang siapin."


Keisya menahan Vina yang hendak membawanya masuk ke area bazaar. "Gue gak kenapa-napa, Vin."


"Gak kenapa-napa gimana? Tangan lo sampe merah begini karena gue."


Keisya tersenyum menenangkan. Gadis itu mengusap pundak Vina dengan pelan. "Gak ada apa-apanya di banding sama apa yang hati gue lagi rasain."


"Kei," sendu Vina dan Windi berbarengan.


"Gue nyesel ke sini," tutur Keisya pelan.


Tepukan pelan di punggung Windi dan Vina membuat keduanya melepaskan pelukannya pada Keisya.


"Bisa tinggalin gue sama cewek gue?"


Windi dan Vina saling berpandangan kemudian mengangguk singkat. Keduanya kembali masuk ke area bazaar. Mereka membiarkan Kevin yang mengurus perihal Keisya. Lagi pula memang seharusnya begitu bukan?


Kevin meraih tangan Keisya yang hendak pergi dari hadapannya. "Kei," panggil Kevin lembut.


"Lepasin Ren, aku mau pulang."


"Aku anterin."


"Aku bisa naik taxi."


"Ada aku kenapa harus naik taxi?"

__ADS_1


Kevin menarik lembut Keisya menuju mobilnya. Cowok itu membukakan pintu mobil dan mendorong pelan Keisya untuk masuk. Keisya duduk di jok samping kemudi dan kemudian pintu itu di tutup oleh Kevin.


Keisya mengernyit heran mencium ada wangi yang begitu soft di bangku yang ia duduki. "Parfum cewek tapi bukan parfum gue," monolog Keisya pelan.


Belum selesai dengan itu Keisya terdiam menatap pouch make up yang ada di atas dashboard mobil Kevin. Itu bukan pouch make up milik Keisya. Tak lama Kevin masuk dan menyalakan mesin mobil agar ac yang ada nyala.


"Tumben kamu bawa mobil?" tanya Keisya memancing. Ia tak ingin langsung membahas perihal kecurigaannya terhadap Kevin.


Kevin menoleh ke arah Keisya yang justru menatap ke luar jendela. "Males bawa motor," kata Kevin santai.


Keisya memejamkan matanya mendengar jawaban Kevin.


"Kamu ganti pewangi mobil ya?" tanya Keisya lagi.


"Enggak, pewangi mobilnya masih sama By. Kenapa?"


Keisya terkekeh pelan. "Beda aja wanginya. Gak kayak biasa," kata Keisya berkomentar.


Kevin menghela napasnya pelan. Cowok itu berusaha tenang menghadapi Keisya. "Perasaan kamu aja By," sahut Kevin pelan.


"Ini pouch make up Mama?" tanya Keisya sambil mengambil pouch make up yang ada di atas dashboard. Matanya membaca ukiran nama yang ternyata ada di tengah-tengah pouch itu.


"Sindi Fadilah," eja Keisya membaca ukiran nama itu.


Kevin duduk menyerong menghadap Keisya yang menunduk mengamati pouch make up itu. Tangan Kevin meraih lengan Keisya namun di tepis kuat.


"Aku lagi gak mau di pegang-pegang. Bisa tangannya diem aja?" tanya Keisya menatap Kevin datar.


"Keadaan Sindi kayak gitu karena aku By," kata Kevin tiba-tiba.


"Kemarin, aku gak sengaja nabrak dia di koridor sampe dia jatoh. Engkel kakinya bermasalah dan harus di gip. Dia gak bisa jalan selama tiga minggu ke depan."


"Dan selama itu, kamu yang bakal jadi kakinya?" tanya Keisya tepat sasaran.


Kevin menatap intens Keisya yang menatapnya balik. Pouch make up milik Sindi ia kembalikan ke tempat asal.


"Kalau aku gak gegep pouch itu, kamu mungkin gak bakal jujur sama aku, kan Vin?"


.


.

__ADS_1


.


...BERSAMBUNG .......


__ADS_2