
Keisya menghela napasnya pelan. "Naik kursi roda kan gak serta merta mengartikan kamu sebagai penyandang di sabilitas, Sayang. Kamu masih fase pemulihan, wajar kalau masih lemes sama pusing. Gak papa ya pakai kursi roda bentar? Cuman sampe lobby aja," kata Keisya yang masih mencoba membujuk Kevin. Sampai akhirnya cowok itu mengangguk pasrah.
"Oke, gue ambil bentar," kata Devan lagi. Ia memang menunggu keputusan dari Kevin baru keluar dari ruangan. Soalnya kan, kalau sampai Kevin tetep keukeuh tidak mau menggunakan benda itu, akan sia-sia ia mengambilnya.
"Bang Kevin yakin mau pulang dengan keadaan yang masih kayak gini?" tanya Sindi lagi. Ia khawatir dengan keadaan Kevin yang menurutnya masih memerlukan perawatan lebih lama di rumah sakit ini.
"Aman, Sin."
"Bang, serius?"
"Iya, Sin. Gue serius."
Keisya menatap malas ke arah Sindi yang sangat menampilkan raut khawatirnya. Gurat ke khawatiran sangat di nampakkan oleh gadis itu. Sayangnya yang ia khawatirkan saat ini adalah Kevin. Pacarnya Keisya. Mana mungkin Keisya rela ada gadis lain yang mengkhawatirkan pacarnya secara berlebih seperti yang di nampakkan oleh Sindi.
"Sin, kalau Kevin udah bilang aman. Artinya ya aman. Jangan lo tanyain mulu. Kasian Kevin. Nanti yang ada dia makin pusing karena lo nanya mulu," kata Windi menasihati.
"I-ya Kak, maaf," ucap Sindi takut-takut.
Tidak lama kemudian, Devan kembali masuk dengan membawa sebuah kursi roda yang di peruntukkan untuk Kevin. "Nih Vin, ayo gue bantu." Kata Devan yang langsung membantu Kevin menaiki kursi rodanya.
"Berasa anak kecil gue di giniin," keluh Kevin.
Keisya menyentil pelan kening Kevin, kemudian menarik hidung mancung cowok itu dengan halus. "Mangkanya jangan terlalu bucin sama organisasi. Gini kan akibatnya?" cibir Keisya pelan namun sangat ketara kalau gadis itu serius mengucapkan nya.
"Maaf pacaran Rendra. Maaf bikin Keisya khawatir, ya?"
Keisya tersenyum mendengar permintaan maaf cowok itu. Ia duduk di sofa sementara Kevin duduk di kursi roda di depannya dengan menghadap gadis itu. Keisya mendorong pelan kursi roda Kevin agar sedikit lebih mundur.
Keisya turun dari sofa lalu berdiri menggunakan tumpuan lutut sehingga tingginya sejajar dengan tinggi Kevin yang sedang duduk di kursi roda. "Rasanya hampir mati waktu aku dengar dari Windi kalau kamu do rawat di rumah sakit, Kevin Narendra."
***
Keisya memapah Kevin sampai di depan rumah di ikuti oleh yang lain. "Kalian duduk di sini dulu aja. Gue anterin Kevin istirahat ke kamar bentar," ucap Keisya lembut.
__ADS_1
"Kenapa gak Riyan atau Bang Devan aja yang nganterin?"
Pertanyaan Sindi membuat langkah Kevin dan Keisya berhenti. Keisya menatap Sindi heran. "Masalah kalau gue yang nganterin Kevin ke dalam kamarnya?" tanya Keisya berusaha santai. Sementara Kevin mengelus pelan pundak Keisya untuk menenangkan gadis itu.
"T-tapi Kak Keisya kan cewek?"
"Iya, Kak. Gak sopan kalau Kak Keisya yang nganterin Bang Kevin masuk ke kamarnya," timpal Fera.
"Gue maunya di anterin cewek gue, Fer. Lagian, Keisya juga gak akan masuk ke kamar gue tanpa kepentingan."
"Udah sih, timbang nganter Kevin ke kamarnya doang di jadiin bahan julid. Heran," gumam Vina kesal. Jika tidak melihat tatapam memohon dari Keisya, Vina juga tidak akan mau masuk ke dalam rumah Kevin ini.
"Kei, lo bawa Kevin masuk aja. Kita bakal stay di sini," kata Windi.
Mereka lantas duduk di sofa. Keisya menghela napasnya pelan lalu kembali menuntun Kevin menuju kamarnya yang ada di lantai atas. Kevin di dudukkan pelan di sisi tempat tidur lalu berbaring dengan susunan bantal yang sudah di sesuaikan Keisya.
Keisya menyampirkan selimut sebatas dada cowok itu.
Keisya menatap Kevin dengan alis yang ia naikan tanpa ia menjawab dengan lisannya panggilan dari Kevin.
"Kenapa, hm?"
Keisya menggeleng pelan mendengar pertanyaan Kevin. Ia mendudukkan dirinya di samping Kevin dengan posisi yang berhadapan. "Aku gak suka Sindi, Ren." Tutur gadis itu jujur. Ia memang tidak menyukai Sindi sejak pertama kali mereka bertemu. Ia merasa kalau Sindi akan menjadi duri dalam hubungannya dengan Kevin.
Mendengar jawaban dari Keisya membuat Kevin diam sejenak.
"Aku tau dia adik tingkat kamu. Aku tau dia salah satu pengurus muda di organisasi kamu. Aku tau dia termasuk tanggung jawab kamu di organisasi kamu itu. Tapi, aku juga tau kalau dia ada hati buat kamu, Ren."
Kevin terkekeh mendengar penuturan gadis cantik itu. Sementara Keisya memicing pelan mendengar kekehan Kevin yang menguar. Keisya menepuk pelan pundak Kevin. "Kenapa ketawa gitu? Ada yang lucu?" tanya Keisya galak.
Kevin menghentikan tawanya dan mengulum bibirnya menggemaskan ketika mendapatkan teguran langsung dari Keisya. "Kamu tau dari mana kalau Sindi suka sama aku, hm?"
Ham hem ham hemnya itu loh yang membuat Keisya bingung harus baper atau semakin kesal.
__ADS_1
"Ren, aku perempuan."
"Terus?"
"Ck lupain," kesal Keisya ketika mendengar respon Kevin yang mengesalkan.
Kevin bangun dari posisi rebahannya dengan bantuan Keisya, kemudian cowok itu bersandar di kepala tempat tidur dengan sanggaan bantal di belakangnya. "Listen to me, By. Mau sebanyak apa pun perempuan yang suka sama aku, kalau hati aku maunya tetep sama kamu, mereka bisa apa?"
"Ren, perempuan bisa ngelakuin apa aja buat dapetin cowok yang dia suka."
Keisya meraih tangan Kevin lalu ia genggam hati-hati. "Posisinya sekarang, kalian satu lingkungan. Intensitas kalian berinteraksi lebih dari intensitas interaksi kita berdua. Ren, mau segimana pun kamu ngeyakinin aku kalau kamu tetep sayang sama aku, aku tetep gak bisa sepenuhnya menyakini itu. Cepat atau lambat, sedikit banyaknya kamu akan ngerasain kalau Sindi bisa mengisi kekosongan peran yang gak bisa aku perani di hidup kamu," ucap Keisya hati-hati.
"By," tegur Kevin pelan.
Keisya tersenyum penuh arti kemudian mengusap pelan puncuk kepala Kevin. "Istirahat gih. Aku udah kelamaan di sini. Nanti mereka mikir yang enggak-enggak soal kita," kata Keisya yang hendak membantu Kevin berbaring lagi. Namun, di tahan oleh cowok itu.
"Kita belum selesai bahas masalah tadi, By."
"Bahas soal itu gak akan ketemu ujungnya, Ren."
"Ketemu kalau kita bicarainnya baik-baik yanpa emosi."
Keisya mengusap pelan pipi Kevin. "Kita lanjutin lagi nanti. Kesehatan kamu yang paling utama sekarang."
Setelah berhasil membujuk Kevin, Keisya akhirnya kembali turun ke lantai dasar untuk menemui yang lain. Sebelum ke ruang tamu gadis itu ke dapur untuk menemui salah satu asisten rumah tangga yang bekerja di rumah Kevin.
.
.
.
...BERSAMBUNG... ...
__ADS_1