
Keisya memasuki rumah dengan Vina yang turut serta ia paksa agar menginap di rumahnya malam ini.
"Loh ada Vina?"
Mamah memeluk singkat Vina ketika melihat gadis itu. Keisya mencebikkan bibir nya pelan. "Anaknya sendiri gak di peluk," gumam nya pelan.
"Mamah denger loh."
Vina terkekeh pelan. "Mamah apa kabar?" tanya Vina sopan.
"Mamah baik, sayang. Kamu nginep di sini aja yah malam ini."
"Emang mau nginep, Mah," sahut Keisya.
Bunda tersenyum ramah. "Bagus kalau gitu. Sering-sering aja nginep di sini, Vin."
"Udah ah Mah. Keisya sama Vina mau ke kamar dulu. Dahh Mamah," ucap Keisya antusias lalu menarik Vina menuju kamarnya. Mereka berdua masuk dan Keisya langsung menghempaskan dirinya ke atas ranjang.
Vina mendengus kecil. Ia mendekati Keisya dan melepaskan kaca mata hitam yang masih bertengker manis di hidungnya. "Kalau lo nangis lagi malem ini, tuh mata gak bakal bisa ke buka besok pagi. Ngerti?" tutur Vina galak.
"Galak banget sih lo, Vin."
"Gue galak begini buat siapa kalau gak buat kebaikan lo sendiri."
Keisya terkekeh kecil, ia kemudian tengkuran dengan memeluk salah satu boneka sebagai tumpuannya. "Sindi itu kayaknya definisi perempuan ideal ya, Vin," ucap Keisya tiba-tiba.
"Kenapa gitu?"
"Sindi cantik, aktivis kampus, cara dia ngomong lembut, royal lagi. Cocok ya sama Kevin?"
Vina menarik kursi belajar Keisya agar lebih dekat dengan tempat tidur Keisya. Gadis itu menatap sahabatnya dengan tatapan datar. Krisis kepercayaan diri Keisya kumat.
"Setiap perempuan punya definisi ideal nya sendiri sebagai perempuan, Kei."
"Menurut lo, apa gue cocok jadi pacarnya Kevin?"
"Menurut lo sendiri gimana?" tanya balik Vina. Jujur, Vina paling tidak suka jika Keisya sedang mengalami krisis kepercayaan diri seperti sekarang ini.
"Enggak," jawab Keisya lirih.
Vina menghela napasnya pelan. "Lo udah bisa jawab sendiri, terus buat apa gue harus jawab lagi?" tanya Vina lembut.
"Jadi, gue bener-bener gak cocok sama Kevin?" lirih nya sendu.
"Lo sendiri kan yang punya spekulasi kayak gitu?"
Vina memejamkan matanya lalu berpindah posisi dari duduk di kursi kemudian menaiki tempat tidur. Vina mengusap-ngusap kepala Keisya dengan sayang. "Mau seribu orang pun yang bilang lo cocok sama Kevin, tapi kalo lo sendiri ngerasa gak cocok, ya percuma Keisya."
"Lo sama dia udah berapa tahun ngejalanin hubungan, gue tanya?"
Keisya tidak menjawab pertanyaan Vina, ia memejamkan matanya rapat.
__ADS_1
Meski begitu Vina tau Keisya tidak tidur. Gadis itu hanya memejamkan matanya saja.
"Kalian udah bareng hampir enam tahun, Kei. Masa cuman karena masalah sepele lo kalah?"
"Dia yang minta break."
Vina menepuk pundak Keisya pelan. "Dia mau kalian masing-masing buat saling introspeksi diri kan?" tanya Vina hati-hati.
Pertanyaan itu hanya di angguki oleh Keisya dengan mata yang masih betah ia pejamkan.
"Mungkin ini awal yang baik buat hubungan kalian ke depannya, Kei. Anggap aja kalian ldr'an, kan?"
"Kalau break nya keterusan gimana, Vin?" tanya Keisya menyedihkan.
"Takdir. Itu artinya semesta nyiapin pasangan yang jauh lebih baik buat lo."
Itu yang sejak semalam di tangisi oleh Keisya. Ia takut ini adalah jalan yang di tempuh Kevin untuk membiasakan diri tanpa Keisya. Ia takut Kevin memilih menemukan tambatan hati yang baru, yang cowok itu rasa lebih mampu mengimbangi dalam segala hal.
"Tapi, gue maunya tetep dia, Vin."
***
Keisya bergerak gelisah mencari posisi tidur yang sekiranya nyaman. Namun ia tetap tidak menemukan posisi ternyaman nya karena hatinya yang tidak tenang.
"Lo gak bisa tidur Kei?" tanya Vina yang masih asik berselancar di dunia maya nya menggunakan handphone. Gadis itu duduk berselonjor di atas tempat tidur dengan punggung yang ia sandaran ke sandaran ranjang.
Keisya sendiri terlentang di posisi samping Vina dengan boneka koala yang sedang ia peluk erat. Matanya menerawang menatap atap kamarnya yang berwarna abu-abu polos. "Gue kepikiran Kevin." lirihnya sendu.
"Jengukin aja lagi besok, Kei."
Keisya menggeleng pelan. "Gue sama dia kan lagi break. Gue gak enak nyamperin dia ke sana malu."
"Terus lo maunya gimana? Mikirin dia gitu aja sampai otak lo ngebul?"
Keisya memberengut kesal. Ia sendiri juga bingung harus melakukan apa. Jujur, Keisya sangat ingin menemukan Kevin dan menemani cowok itu di rumah sakit. Tapi mengingat hubungan mereka yang sedang berantakan membuat Keisya harus berpikir berkali-kali.
"Tanya sama hati lo sendiri. Antara rasa khawatir sama rasa gengsi lo, mana yang lebih dominan?" ucap Vina membuat Keisya diam. Jika di timbang-timbang perasaan khawatirnya tentu saja lebih dominan.
Tok tok tok.
Ketukan pintu kamar membuat mereka semakin hening. Keisya bangkit dari rebahannya lalu membuka pintu. "Kenapa Mamah?" tanya Keisya.
"Mamah boleh masuk?" tanya Mamah yang masih berada di ambang pintu.
Keisya bergeser sedikit tubuhnya lalu membiarkan Mamah masuk ke dalam kamar. Vina memperbaiki posisi duduknya ketika melihat Mamah masuk.
"Santai aja, Vin," kata Mamah.
Vina terkekeh canggung. Mamah sudah duduk di kursi belajar Keisya yang beliau tarik agar dekat dengan tempat tidur. Keisya sendiri duduk di sisi ranjang dekat Vina. "Jadi, ada apaan Mah?" tanya Keisya heran.
Tumben-tumbenan Mamah nya masuk ke dalam kamar ketika Vina menginap di rumahnya.
__ADS_1
"Kevin sakit, Kei?"
Pertanyaan Mamah membuat Keisya dan Vina kompak saling menoleh. "Mamah tau dari mana?" tanya Keisya heran.
"Mama Elliya yang ngasih tau Mamah."
Keisya mengangguk kecil. "Iya, dia sakit. Sampe di rawat di rumah sakit, Mah.
"Mama Elliya minta tolong supaya kamu jagain Kevin. Mama Elliya bilang dia ada urusan yang gak bisa di tunda-tunda di Malang. Beliau harus pulang sekarang karena beliau ambil penerbangan subuh. Kamu bisa kan Kei?"
Keisya membelalakkan matanya mendengar penuturan Mamah. "Tapi kan Mah---" katanya terpotong.
"Mamah percaya sama kalian," kata Mamah mantap. "Vina bisa jagain Keisya temenin Kevin kan, sayang?" tanya Mamah pada Vina.
Vina tersenyum lembut. "Vina pasti jagain Keisya, Mah."
"Anak baik," ujar Mamah bangga setelah mengelus pelan pipi Vina.
"Ya udah, Mamah balik ke kamar. Kalian perginya jangan terlalu malam ya," pesan Mamah sebelum meninggalkan Vina dan Keisya.
Keisya mengusap wajahnya pelan. "Lagian si Mama udah tau anaknya sakit malah mau flight ke Malang," gerutu nya pelan.
Vina terkekeh pelan, ia menepuk pundak Keisya singkat. "Itu namanya takdir, Kei. Lo di kasih kesempatan nemenin dia tanpa lo harus cari-cari alasan yang gak masuk akan."
Vina mendengus sebal. Melihat keindahan yang malah masih duduk santai tanpa pergerakan apa-apa. Dengan santai Vina menyengol pelan Keisya hingga membuat gadis itu menoleh ke arahnya.
"Apa Vin?" tanyanya polos.
"Kenapa lo kek jadi orang kesambet anjir?"
Keisya menghela napasnya pelan. "Harus banget gue yang nemenin dia, Vin?"
"Iya nyokapnya kan minta tolong lo buat nemenin tuh cowok. Emang lo sampai hati nolak permintaan tolong dari Mamanya Kevin?" tanya Vina.
Keisya menggeleng pelan. Jika Mama sudah meminta tolong lewat Mamah, mana bisa Keisya menolak permintaan tolong itu.
"Ya udah, ayo siap-siap."
"Beneran ke rumah sakit kita?" tanya Keisya lagi.
"Terus kalau gak ke rumah sakit, emang mau kemana lo?"
"Gue harus ngomong apa ke Kevin, Vin?" tanya Keisya. Itu yang ia pikiran kan. Apa yang harus Keisya bicarakan dengan Kevin.
Vina menatap Keisya datar. "Ya kayak gimana lo biasanya ketemu dia aja."
.
.
.
__ADS_1
...Bersambung... ...