
Kevin meletakkan Sindi hati-hati di atas tempat tidur yang ada di klinik kampus. "Dok, dia tadi jatoh terus gak bisa berdiri." Katanya panik. Bagaimana tidak panik? Sindi jatuh karena dirinya yang jalan tanpa hati-hati.
Dokter yang di sana memeriksa keadaan pergelangan kaki Sindi.
"Shh, sakit. Dok," rengeknya kecil saat Dokter itu menekan pelan pergelangan kaki Sindi.
Dokter itu menatap kasihan Sindi yang meringis seperti tadi. "Sepertinya pergelangan kakinya bermasalah, dugaan saya ada pergeseran engkel kakinya."
"Terus gimana Dok?" tanya Kevin yang khawatir.
"Bawa ke rumah sakit aja. Biar bisa di rontgen dulu baru di berikan tindak lanjut." Ucap Dokter itu memberi tahu.
"Makasih, Dok."
Sesuai saran Dokter tadi, kini Kevin mengantarkan Sindi ke rumah sakit agar mendapatkan penanganan yang sesuai dengan kondisinya. Dan seperti perkiraan, ada masalah yang cukup serius dengan pergelangan kaki gadis itu.
Pergelangan kaki cewek itu di berikan gip untuk mengembalikan susunan engkel kakinya seperti sedia kala. Sindi bahkan harus mengenakan kursi roda untuk kemana-mana selama tiga minggu karena anjuran dokter.
"Kegiatan besok gimana Bang kalau Sindi kayak gini?"
"Masih ada Riyan, Sin. Gue sama yang lain juga gak bakal lepas tangan."
"Tapi Sindi juga mau dateng ke acara besok, Bang."
Kevin menatap sendu ke arah Sindi yang duduk di kursi roda. Cewek itu menundukkan kepalanya menatap kaki kanannya yang di berikan gip. Kevin berjongkok guna menyamakan tingginya agar setara dengan Sindi. Cowok itu menumpukan kedua tangannya di pinggiran kursi roda yang di kenakan Sindi.
"Lo mau dateng ke kegiatan besok?" tanya Kevin.
Sindi mengangguk kecil namun bibir bawahnya ia gigit guna meredamkan detak jantungnya yang berpacu kuat karena melihat wajah Kevin yang sedekat ini dengannya.
"Gue jemput besok, ya?"
"B-bang Kevin, serius?"
"Iya. Besok gue yang jemput lo."
Senyum Sindi terbit dan jujur hal itu membuat hati Kevin lega. Sedikit banyaknya ia bisa mengembalikan senyum itu. Kevin hanya tidak tega dengan Sindi.
"Sin, maafin gue ya?" pinta Kevin tulus. Rasa bersalah itu sangat besar bersarang di perasaan Kevin.
Sindi mengusap pelan punggung tangan Kevin yang ada di kedua sisi kursi rodanya. "Bang, ini bukan salah Bang Kevin. Sindi yang salah karena jalan gak liat-liat."
"Tapi, gue juga salah Sin. Gue juga gak seharusnya jalan gak hati-hati kayak tadi. Gue buru-buru mau ke ruang rapat. Maaf ya?"
"Lagian Sindi kan udah gak kenapa-napa, Bang."
"Gak kenapa-napa gimana? Engkel kaki lo cedera, Sin."
__ADS_1
"Cuman tiga minggu, Bang."
"Tetep aja sakit kan, Sin?"
Sindi menahan senyumnya. Kevin pasti sangat khawatir dengan keadaannya saat ini. Cowok itu pasti merasa sangat bersalah.
"Selama kaki lo kayak gini, gue yang bakal anter jemput lo kemana-mana. Jangan sungkan buat minta tolong sama gue."
"Ngerepotin, Bang. Gak usah," tolak Sindi halus.
"Gue harus tanggung jawab karena kelakuan gue yang udah bikin lo kayak gini, Sin."
"Kalau sampai Kak Keisya tahu gimana?" tanya Sindi hati-hati.
Kevin jadi terdiam mendengar pertanyaan Sindi. Ia sendiri jadi bertanya-tanya apa yang harus ia lakukan agar perasaan gadis itu tidak tersakiti karena ulah Kevin yang lalai. Tapi, membiarkan Sindi dengan kondisi kakinya yang seperti ini juga bukan solusi yang baik.
"Soal Keisya, gue bisa jelasin nanti. Dia perempuan baik yang selalu ngertiin kondisi gue, Sin. Dia gak pernah egois sama kemauannya sendiri."
"Serius gak papa, Bang?"
Kevin mengangguk mantap, ia mengusak pelan pucuk kepala Sindi. "Udah gak usah di pikirin," kata Kevin lagi.
Tidak tahu kah Kevin jika saat ini hati Sindi jedag-jedug karena perlakuan manis cowok itu. Yang di usap kepalanya, yang ambyar hatinya. Itu yang di rasakan oleh Sindi saat menerima usapan lembut di kepalanya.
" Sorry ya Bang, lagi-lagi Sindi bikin Bang Kevin repot."
Kevin menggeleng pelan. Sindi ini adalah tanggung jawabnya di organisasi. Bukan hanya Sindi, semua yang menjadi bagian dari organisasinya adalah tanggung jawab Kevin juga.
"Tapi, Bang."
Kevin dengan cepat meletakkan telunjuknya ke mulut Sindi. "Biarin gue nebus ke salahan gue ke lo, Sin. Jangan bikin gue makin merasa bersalah dengan ngebiarin lo ngelewatin ini sendirian. Bisa, Sin?"
***
Windi menatap horor Kevin yang masuk ke ruangan rawat dengan mendorong kursi roda yang di duduki Sindi. Apa lagi yang di lakukan cowok itu dengan Sindi. Ya Tuhan, Windi sampai mengelus dadanya pelan.
"Sindiiii," panggil Fera dan Nindi heboh saat mendapati kondisi Sindi.
Fera langsung menghampiri Sindi dan berjongkok di depan sahabatnya itu. "Sin, lo gak papa?" tanya Fera khawatir.
"Gue gak kenapa-napa Fer," jawab Sindi lembut.
"Terus kenapa lo sampe duduk di kursi roda?" Kini giliran Nindi yang bertanya.
Sindi mendongak menatap Kevin yang masih berdiri di belakangnya.
"Gue gak sengaja nabrak dia di koridor," tutur Kevin jujur.
__ADS_1
Fera menatap tajam ke arah Kevin. "Bang, meskipun Bang Kevin senior kami. Tapi bukan berarti Bang Kevin bisa seenaknya ya Bang. Bang Kevin harus tanggung jawab sama kelakuan Bang Kevin ke Sindi," omel Fera galak.
"Fera Agnia Safira!"
Fera tersentak kaget saat mendengar suara lantang dari salah satu seniornya di belakang.
"Bang Andre," tegur Kevin pelan.
Andre yang mendengar itu. Cowok itu lantas mengambil langkah pelan menuju ambang pintu. Tangan Fera ia raih sampai membuat gadis itu bangkit dari posisi jongkoknya. "Sini ngadep gue," tegas Andre.
Fera meneguk salivanya sulit. Baru kali ini ia mendengar nada setegas itu yang di layangkan oleh seorang Andre. Senior yang berbeda dua tingkat di atasnya. Dengan ragu-ragu Fera menghadap Andre.
"Liat gue. Mata gue ada di lantai emang sampai lo nunduk?"
Glek.
Dengan perlahan Fera mendongak menatap Andre yang wajahnya terlihat sangat datar. Ekspresi yang du gunakan cowok itu ketika marah.
"Bang," tegur Kevin pelan. Kevin tahu kalau Andre sedang di kuasai emosinya.
Andre menoleh menatap Kevin. "Lo diem," kata Andre memberi peringatan agar Kevin tidak ikut campur.
"Lo Fer," kata Andre menatap datar Fera yang menatapnya dengan takut-takut. "Coba ulangi omongan lo ke Kevin di depan gue."
Fera terdiam mendengar permintaan dari Andre.
"Gak denger gue bilang apa?" tanya Andre sangar.
"D-denger, Bang Andre."
"Lakuin sekarang."
Fera terpaksa mengulang perkataannya terhadap Kevin tadi.
"Nada lo ngomong ke gue sama ngomong ke Kevin beda. Ulang."
Fera kembali mengurang ucapannya kepada Kevin dengan kata-kata dan nada yang sama. Gadis itu kemudian menggigit bibir bawahnya takut.
"Sopan lo ngomong kayak gitu ke senior lo? Bukan cuman senior lo, Fer. Dia ketua lo kalau lo lupa."
"Maafin Fera, Bang."
"Gue nanya apa, lo jawabnya apa. Gak nyambung."
.
.
__ADS_1
.
...BERSAMBUNG .... ...