Percintaaan Seorang Ketua BEM

Percintaaan Seorang Ketua BEM
Kejebak Macet, Kali?


__ADS_3

Kevin menarik pelan Andre agar mundur. "Bang udah," pinta Kevin.


"Gak bisa, Vin. Nih cewek harus di kasih tunjuk gimana caranya menghargai orang yang jauh lebih tua di banding dia."


"Dia cuman khawatir sama kondisi sahabatnya, Bang."


"Gue tau. Gue pun sama khawatirnya sama dia karena ngeliat Sindi duduk di kursi itu. Tapi, gak seharusnya dia ngomong senyolot itu sama lo, Vin."


"Bang Kevin, Fera minta maaf," tutur Fera menyesal.


Kevin mengangguk kecil. "Jangan di ulangi Fer. Lo bisa ngomong itu baik-baik sama gue tanpa harus naikin nada bicara lo, bisa kan?" kata Kevin bijaksana.


"Iya, Bang. Maafin Fera sekali lagi. Fera cuman khawatir sama kondisi Sindi."


Kevin kembali mengangguk lalu menatap satu per satu pengurus yang ada di ruang rapat. "Ini peringatan juga buat yang lain supaya gak bertindak semaunya."


Kevin kembali ke belakang Sindi dan mendorong kursi roda Sindi menuju meja panjang tapat. Kevin menempatkan Sindi di samping Riyan, lalu ia mengambil tempat duduk di samping Windi.


"Sin, lo oke?" tanya Riyan khawatir.


Sindi mengangguk dengan menampilkan senyum manisnya. "Maaf gue gak becus jadi sekretaris lo, Yan."


Riyan justru tersenyum lalu menepuk pelan pucuk kepala Sindi. "Jangan ngomong gitu. Lo selalu berguna buat kegiatan kita, Sin. Terima kasih udah mau jadi sekretaris gue," tutur Riyan tulus.


Sementara itu, Kevin menatap Windi yang sudah menatapnya galak. "Win, gue cuman ngelakuin apa yang harusnya gue lakuin."


"Tapi lo gak mikirin perasaan cewek lo, Vin." Cibir Windi dengan bisiknya.


"Kita bahas nanti," kata Kevin di iringi usapan di pucuk kepala Windi.


Windi menepis kasar usapan itu dan menatap Kevin galak. "Gak usah ngelus-ngelus gue."


***


Keisya dan Vina duduk di sebuah cafe yang bernuansa kelasik sembari menikmati alunan lagu-lagu galau yang di bawakan oleh penyanyi cafe.


"Lagunya ngajak-ngajal gue galau. Padahal gue gak lagi galau," tutur Keisya sedikit kesal.


"Alhamdulillah kalau lo gak lagi galau, Kei."


"Tapi lagunya jadi bikin gue galau, hueee."


Vina mendengus kecil. Keisya itu kadang-kadang memang sedikit berlebihan. Dengee lagu galau, jadi galau. Nonton drama sedih, nangis. Liat orang sedih, ikutan sedih. Perasaan gadis itu terlalu halus sampai mudah sekali terbuai oleh perasaannya sendiri.


"Lo sama Kevin kan lagi baik-baik aja, jadi nikmatin ke baik-baik suasana itu."


"Tapi, gue ngerasa kalau Kevin lagi berulah di belakang gue, Vin."

__ADS_1


Mendengar itu membuat Vina menghela napasnya panjang. "Mau sampe kapan jadi budak atas prasangka lo itu, Kei?"


"Semua prasangka gue rata-rata kejadian, Vina."


"Karena lo terlalu menyakini itu, sampe semuanya jadi kenyataan."


Keisya cemberut kecil. "Windi mana sih? Kok gak nyampe-nyampe," keluh Keisya semakin kesal. Mereka memang janjian untuk nongkrong malam ini. Tapi gadis itu belum juga datang sampe sekarang.


"Kejebak macet kali?"


"Mungkin sih."


Keisya mengetuk-ngetuk pelan jarinya ke atas meja. "Ih laper kita pesen duluan aja yuk," ajak Keisya.


Vina kasihan sampai akhirnya mengiyakan ajakan Keisya. Mereka hendak bangkit dari duduknya.


"Sorry, sorry gue telat."


"Lo kemana aja bege?" omel Vina galak. "Keisya sampe kelaparan nungguin lo."


Windi tersenyum kecil. Gadis itu mengusap kepala Keisya yang menampilkan cemberutnya. "Maaf ya Keisya, gue tadi banyak urusan. Baru kelar nih langsung ke sini," adu Windi sendu.


Keisya menatap Windi intens. "Urusan organisasi?" tanya Keisya penasaran.


"Ya elah pake lo tanya, Kei. Kaum yang modelannya kek Windi sama Kevin sibuk apaan lagi kalau bukan soal organisasinya," sahut Vina.


Windi terkekeh pelan mendengar ucapan Vina. "Yuk pesen dulu," ajak Windi yang kemudian menarik pelan Keisya dan Vina. Setelah selesai memesan makanan dan minuman yang mereka mau, mereka lantas kembali ke tempat duduk.


"Soal kegiatan besok. Acara baksos yang ketuanya gebetan lo, Vin."


Vina menabok pelan lengan Windi.


"Siapa yang lo maksud?" tanya Vina garang.


"Halah, sok-sokan gak tau."


Keisya tergelak melihat perdebatan itu. Mungkin jika orang lain yang melihat ke tidak akuran Vina dan Windi akan menganggap jika mereka benar-benar bertengkar. Padahal kan enggak.


"Jadi, Riyan kenapa?"


Keisya dan Windi sontak tergelak geli mendengar pertanyaan spontan yang di layangkan Vina. "Hayooo, baper kan lo sama gombalannya si Riyan?" goda Windi.


"Enggak!"


"Gengsi amat ngakuin."


"Back to the topic," ucap Keisya lagi. "Jadi, urusan apa sampe baru selesai, Win?" tanya Keisya lagi.

__ADS_1


"Soal kegiatan besok. Ada beberapa perubahan yang harus bikin gue, Kevin, Riyan, dan yang lainnya muter otak."


"H-1 ada perubahan lagi?" tanya Vina memastikan.


Windi mengangguk malas dan menyadarkan kepalanya di sandaran kursi. "Bahkan hitungan jam sebelum kegiatan juga bisa ada perubahan, guys."


"Gila. Dapet apa sih lo ngurusin begituan? Rajin amat," cibir Vina heran.


"Dapet pengalaman, keluarga, dan banyak pelajaran yang gue dapet di sana, Vin, Kei."


"Berarti, Kevin juga baru pulang dong," keluh Keisya.


Windi menggapai tangan Keisya yang ada di atas meja. "Cowok lo balik dari tadi sore, Kei. Lo jangan khawatir ya," kata Windi menenangkan.


"Serius dia balik sore?" tanya Keisya lagi.


Windi mengangguk pasti. Kevin memang pulang dari sore, karena kondisi cowok itu yang masih belum stabil. Serta ada hal lain yang harus di urus Kevin.


"Syukur deh kalau dia jaga kondisi. Seneng gue denger dia pulang duluan. Pasti karena dia sadar kondisinya masih riskar buat di porsir."


Windi tersenyum sedih mendengar ke percayaan Keisya terhadap pacarnya itu. Hati Windi berdenyut nyeri mengingat bagaimana Keisya begitu percaya diri atas spekulasinya.


"Len, lo kenapa?" tanya Vina yang menangkap raut berbeda dari Windi. Seperti ada yang di sembunyikan oleh Windi.


"Gue? Kenapa?" tanya balik Windi dengan raut wajah bingung mendengar pertanyaan Vina.


"Lo gak nyembunyiin apa-apa kan Win?" tanya Vina lagi.


Windi terkekeh pelan. "Lagian apa yang harus gue sembunyiin Vin?" tanya Windi berusaha santai. Jujur, Windi sangat ingin menyampaikan perihal Kevin dan Sindi, tapikan itu bukan haknya memberi tahu Keisya.


"Dia minum obatnya teratur kan, Win?" tanya Keisya hati-hati.


Windi mendesah lega mendengar pertanyaan Keisya. Gadis itu tanpa sadar mengalihkan topik. Windi kemudian mengangguk guna menjawab pertanyaan Keisya.


"Dia nurut kok Kei, makan teratur, dan minum obatnya juga teratur. Sesuai permintaan Ibu Negara, katanya."


Keisya tersenyum senang mendengar apa yang di utarakan Windi.


"Bohong gak tuh lo?" tanya Vina sengit.


Windi mencebikkan bibirnya kesal. "Ya kali gue bohongin Keisya."


Vina terkekeh pelan. "Tuh cowok tengil becus jadi ketua pelaksana kegiatan gak sih?" tanya Vina hati-hati.


.


.

__ADS_1


.


...BERSAMBUNG .... ...


__ADS_2