Percintaaan Seorang Ketua BEM

Percintaaan Seorang Ketua BEM
You're Enough For Me, Kei


__ADS_3

"Lo yakin berani masuk sendiri?" tanya Vina.


Mereka saat ini berada di depan lobby rumah sakit dengan Vina yang masih duduk di atas motornya sedangkan Keisya sudah turun.


"Aman. Gue bisa kok."


"Gue chek in di hotel depan. Jangan macem-macem ya lo sama Kevin. Gue pites sampe mampus kalau sampai lo sama dia aneh-aneh," kata Vina galak.


Vina sengaja membiarkan Keisya saja yang menemani Kevin di kamar rawat cowok itu. Sedangkan Vina memilih menginap di sebuah hotel yang kebetulan berada di seberang rumah sakit.


"Maaf gue ngerepotin lo, Vin."


"Ngomong apa sih lo. Gak denger gue."


Keisya terkekeh pelan mendengar jawaban ketus Vina.


"Gue tinggal ya?"


Keisya mengangguk kecil. "Makasih Vin," ucapnya tulus.


"Sans. Gue pergi dulu, bye."


Setelahnya Vina manarik gas motornya dan meninggalkan kawasan rumah sakit. Keisya menarik napas panjang kemudian mulai masuk ke dalam rumah sakit. Gadis itu melewati lorong demi lorong rumah sakit yang cukup sepi.


"Hufft, kenapa jadi gugup banget gini sih," keluh Keisya saat sudah sampai di depan kamar rawat Kevin.


Keisya menarik napas dalam, lalu membuka pintu kamar rawat itu hingga membuat seorang wanita paruh baya menoleh ke arah pintu.


"Maa," sapa Keisya sangat pelan karena tidak ingin membuat Kevin terbangun. Cowok itu begitu lelap dalam pejaman matanya dengan wajah pucat yang membuat hati Keisya berdenyut sedih.


Mama menghampiri Keisya dengan tas brended yang beliau tenteng di tangan kiri. "Kita ngomong di luar bentar yuk," ajak Mama halus.


Keisya dan Mama akhirnya keluar dan duduk di kursi tunggu yang berada di lorong. "Makasih banget Kei karena udah mau nolongin Mama," ucap Mama lembut.


"Ma, jangan ngomong gitu."


Mama tersenyum tipis. "Eyang Putri nya Kevin drop di Malang, Kei. Mama," ucapan Mama terhenti karena beliau seolah tidak bisa melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


Keisya merangkul lembut Mama, hingga Mama memeluk erat Keisya. "Mama bingung harus apa Kei," tutur Mama sendu. "Di sini anak Mama di rawat, tapi di sana Mamanya Mama juga drop. Mama mau nemenin dua-duanya Kei. Tapi Mama gak bisa," lanjut Mama sedih.


Keisya tidak menjawab rancauan Mama, ia hanya mengusap-ngusap lembut punggung Mama yang bergetar karena nangis.


"Maaf ya Kei, Mama jadi merepotkan Keisya."


Keisya menggeleng pelan. "Jangan ngomong gitu, Ma. Mama fokus aja sama Eyang Putri, soal Kevin jangan khawatir. Ada Keisya yang bisa jagain dia."


Mama tersenyum lembut lalu melepaskan pelukannya dengan Keisya. Mama menangkup wajah Keisya lalu mencium kedua pipi halus itu. "Mama percaya sama Keisya, Mama pergi ya? Mama titip Kevin," tutur Mama penuh harap.


"Kabarin aku kalau Mama udah landing ya?


"Pasti, Keisya."


Setelahnya Mama meninggalkan kawasan rumah sakit dengan buru-buru. Keisya sendiri memilih menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi sambil menatap hampa dinding yang ada di hadapannya.


"Huft. Kenapa seolah-olah semesta mempersilakan gue sama Kevin buat memperbaiki hubungan?" gumam Keisya.


Entahlah, ia merasa seperti semua sedang bekerja sama untuk memberinya waktu dengan Kevin. Keisya bangkit dari duduknya dan kembali masuk ke kamar Kevin. Cowok itu terlihat masih memejamkan matanya dengan tenang.


Keisya berani mengusapnya karena gadis itu tahu kebiasaan Kevin. Cowok itu tidak akan terbangun hanya karena usap-usapan seperti itu.


'Cepat sembuh Rendra,' batin Keisya memandang Kevin dengan raut wajah yang sangat khawatir.


***


Sinar matahari membuat Kevin mengerjap pelan, menyesuaikan cahaya yang masuk. Matanya menelisik ke ruangan kamar, cowok itu lantas tersadar ketika tangan kanannya terasa kebas. Kevin menoleh dan mengerjap lama untuk memastikan ia tidak sedang bermimpi.


"Keisya," lirihnya pelan.


Kevin mendapati Keisya tertidur dengan menjadikan tangannya sebagai bantal. Kevin mengusap pelan kepala gadis itu dengan tangan kirinya yang tertancap infus. Kenapa Keisya bisa ada di sini? Itu yang ada dalam pikiran Kevin.


"Kei," bisik Kevin pelan.


Kevin mengusap-ngusap pipi Keisya dengan lembut. Hingga erangan gadis itu membuatnya tersenyum tipis.


Keisya mengerjapkan mata, ia menyadari satu hal dan langsung membuat kesadarannya pulih seratus persen. Keisya bangkit dari posisinya dan mengusap wajahnya pelan. Ia melirik jam tangannya, untung hari ini ia tidak ada kelas. Jadi tidak perlu mengkhawatirkan apapun.

__ADS_1


"Morning," sapa Kevin di iringi senyumnya yang begitu manis.


Dalam hati, Keisya mencibir pelan sapaan Kevin. Keisya memilih bangkit dari posisinya menuju kamar mandi yang ada di kamar rawat Kevin dengan membawa perlengkapan sendiri. Keisya mencuci muka, gosok gigi, hingga mengenakan rangkaian skincare nya di kamar mandi. Decitan roda tiang infus


"Bisa-bisanya dia ngomong morning ke gue setelah kemarin dia pelukan sama Sindi," cibir Keisya pelan di sela-sela kegiatannya.


Keisya keluar setelah menyelesaikan kegiatannya di kamar mandi. Ia memilih duduk di sofa sambil berselancar di dunia maya membuat Keisya menoleh ke arah tempat tidur dan melotot garang melihat Kevin hendak berdiri. "Mau kemana lo?" tanya Keisya panik dan langsung menghampiri Kevin.


Grep.


Tubuh Keisya di tarik pelan oleh Kevin hingga jarak mereka cukup tipis. Kevin melingkarkan tangannya di pinggang Keisya dan mendongak melihat gadis itu. Karena posisinya Kevin masih duduk di tepi tempat tidur dan Keisya yang berdiri membuat tinggi Keisya melebihi dirinya.


"Vin, lepasin," ucap Keisya pelan namun sarat akan ketegasannya.


"Maaf, Bby."


Keisya tersenyum sendu mendengar ucapan Kevin. "Kita break, Vin. Gue mohon lo jangan kayak gini," tutur Keisya.


"Kei, gak mau. Aku gak mau kita break."


"Lo sendiri yang bilang kalau kita perlu jeda, Vin."


"Aku cuman lagi capek banget waktu itu. Badan aku gak enak. Semua orang bikin aku pusing. Aku sampe gak sadar ngucapin kata-kata itu ke kamu, Kei. Aku minta maaf karena terlalu gampang ngucapin itu."


Kevin menggelamkan kepalanya ke perut Keisya. Sedangkan Keisya sendiri masih terdiam tanpa membalas balik pelukan Kevin. "Gue pernah bilang kan Vin. Apapun kesalahan lo akan selalu coba gue ngertiin. Tapi kalau lo yang minta gue pergi, gue bakalan pergi, Vin."


Pelan-pelan Keisya mengarahkan tangannya untuk mengusap rambut Kevin dengan lembut. "Lo berhak dapetin cewek yang lebih baik dari gue, Vin. Yang bisa ngimbangin lo dalam segala hal. Sedangkan gue? Gue cuman cewek manja yang maunya selalu lo ngertiin."


Kevin menggeleng pelan. "You're enough for me, Kei."


.


.


.


...Bersambung... ...

__ADS_1


__ADS_2