
Windi tersenyum tipis. "Kita masuk dulu ke sekretariatan yuk," ajak Windi sekali lagi.
"Kiga gak enak sama yang lain, Win." jawab Keisya sungkan.
"Santai aja. Ayo sama gue."
Windi menarik antusias tangan Keisya dan Vina. Sedangkan yang di tarik saling bertatapan seolah saling berkomunikasi hanya lewat tatapan itu.
"Haii guyss, liat gue bawa siapa?"
Keisya memejam kan matanya sejenak melihat begitu banyak orang di ruangan itu.
"Hai pacarnya Bang Kevin."
Keisya tersenyum kaku ketika ada yang mengenalinya, padahal Keisya tidak mengenalnya.
"Davin, lo mau di pites Abang lo karena godain ceweknya?" tegur Windi galak. Windi kemudian menatap Keisya. "Sorry ya, adek tingkat gue emang gak bisa liat yang bening dikit." kata Windi tidak enak.
"Guyss kalian bisa tinggalin ruangan ini dua puluh menit? Kecuali Davin, Devan, sama Bang Andre. Bisa?" tanya Windi lagi.
Mereka yang tidak masuk pengecualian mengangguk dan langsung mengikuti perintah sekretaris organisasi itu. Kini di ruangan itu hanya tinggal Keisya, Vina, Windi, Davin, Devan dan Andre.
" Sorry ya gue ganggu." ucap Keisya tidak enak. Karena kedatangannya dan Vina, ada yang harus pergi dari ruangan ini.
"Santai. Jadi, ada keperluan apa sampai lo datang ke sini?" tanya Andre penasaran. "Um, kaca mata lo gak mau di lepas aja?" lanjut Andre hati hati.
"Sorry banget sebelumnya. Temen gue matanya lagi sakit. Jadi harus pake kaca maya. Sorry ya." Bukan Keisya yang menjawab melainkan Vina yang dengan santainya menuturkan hal itu.
"Oh oke, santai aja." tutur Devan.
"sebenarnya gue kesini mau nyariin Kevin." cicit Keisya pelan.
Windi, Davin, Devan, dan Andre menatap Keisya dengan tatapan sendu mereka. "Kei, Kevin gak ada di kampus. Mungkin beberapa hari ke depan juga gak bakal ke sini." tutur Windi hati-hati.
"Hah? Kenapa?" tanya Vina heran.
"Kevin masuk rumah sakit."
***
Keisya menyusuri koridor rumah sakit dengan begitu terburu-buru, Vina saja hampir tidak bisa menyamai langkah sahabatnya itu. "Kei, hati-hati lo bisa nabrak orang kalai grasak-grusuk kayak gini." omel Vina yang berhasil mencekal tangan Keisya.
"Gue khawatir sama dia."
"Gue tau. Tapi gak dengan mengabaikan keselamatan diri lo sendiri."
Keisya menghela napas pelan lalu mengangguk kecil. Saat ia ingin berbalik kembali berjalan Keisya tidak sengaja menabrak bahu orang.
__ADS_1
"Mama?"
"Keisya?"
"Mamah," rengek Keisya yang telah memeluk wanita paruh baya yang ia panggil sebagai Mama itu. Wanita itu Mamanya Kevin. "Ma, Kevin sakit?" tanya Keisya pelan.
Mama mengusap punggung Keisya dengan lembut. "Mama kangen banget sama kamu Keisya." ucap Mama begitu tulus.
"Keisya juga kangen Mama."
Mama mengurai pelukannya dengan Keisya. Mama menangkup wajah Keisya kemudian spontan melepas kaca mata hitam yang bertengker manis di hidung gadis itu.
"Keisya, kenapa?" pekik Mama heboh ketika melihat mata Keisya yang bengkak. Gadis itu seperti habis menangis semaleman. "Nak, Kevin yang bikin kamu kayak gini?" tanya Mama menyelidik.
Keisya menggeleng pelan. "Bukan karena Kevin, Ma. Semua salah Keisya sendiri." ucap gadis itu. Ia kembali menangis ketika menatap Mama.
"Hei, jangan nangis lagi." hibur Mama dengan mengusap pipi Keisya yang di basahi air mata.
Mama kembali memeluk Keisya dan mengecup sayang pucuk kepala gadis itu. "Udah, jangan nyakitin diri kamu sendiri kayak gini. Kamu kesini mau jenguk Kevin, kan?" tanya Mama lembut.
Keisya mengangguk dalam pelukan Mama.
"Ya udah sana ke kamar rawatnya. Keisya udah tau kamar rawat Kevin?" tanya Mama halus.
"Udah Ma."
Mama menatap Vina yang ada di samping Keisya dengan tatapan hangat khas beliau. "Sampai lupa nyapa temen kamu, Kei." kata Mama terkekeh.
"Ini Vina, Ma. Temennya Keisya di kampus." ucap Keisya memperkenalkan Vina ke Mama.
Vina tersenyum sopan. "Vina, Tante." katanya memperkenalkan diri sambil menyalami tangan Mama.
"Saya Elliya. Mamanya Kevin. pacarnya Keisya."
"Oh bukan pacar Tante, mereka break." ralat Vina begitu polos.
Keisya membolakan matanya mendengar penuturan Vina yang kelewat jujur. Ia menyikut Vina pelan yang di sampingnya.
Mama menghela napas pelan, kemudian mengusap pipi Keisya dengan sangat lembut. "Jadi karena itu, anak cantik ini nangis semaleman?" tanya Mama khawatir.
Tanpa bertanya lebih lanjut pun Mama sepertinya tau siapa yang memutuskan breaknya hubungan mereka. Pasti Kevin. Karena tidak mungkin Keisya akan menangis hebat sampai keadaan matanya seperti sekarang jika ia yang membuat keputusan itu.
"Kevin akan menyesal kalau sampe kamu benar-benar pergi dari dia, Kei."
"Tapi Keisya gak akan pergi ninggalin dia, Ma. Kecuali itu permintaan nya sendiri." jawab Keisya begitu mantap.
Vina mencibir pelan jawaban Keisya yang demikian. Harusnya sahabatnya itu menunjukkan valuenya sebagai seorang perempuan. Haduh, ingatkan Vina untuk mengajari Keisya tutorial menjaga harga diri nanti.
__ADS_1
"Ya udah, sana temui Kevin." tutur Mama lembut.
Keisya menahan lengan Mama ketika wanita paruh baya itu ingin pergi dari hadapannya. "Mama sendiri mau kemana?" tanya Keisya sopan.
"Mama harus pulang dulu, Kei. Mau ambil beberapa barangnya Kevin."
"Mau Keisya bantu?"
Mama tersenyum lalu menjawil pelan hidung Keisya. "Terima kasih atas tawarannya cantik. Mama pulang sendiri aja. Lagian kamu kan mau ketemu Kevin, masa malah ikut Mama pulang sih?"
"Its okay kalau Mama mau aku temenin."
"Kali ini Mama sendiri aja. Lain kali penawaran menggiurkan dari anak cantik ini tidak akan Mama sia-siakan."
Mama mengecup pelan pucuk kepada Keisya. "Mama pulang dulu. Mama titip Kevin ya anak cantik."
"Hati-hati, Ma."
"Hati-hati, Tante."
Setelah Mama benar-benar pergi. Keisya kembali mengenakan kaca mata hitamnya.
"Gila camer lo mengkane juga ternyata, Kei."
Vina takjub dengan keramahan Mamanya Kevin. "Lo harus bersyukur sih punya camer yang kayak beliau."
"Bersyukur sih bersyukur. Tapi lo juga jangan kelewatan jujur kayak tadi kali, Vin. Malu banget gue ketauan lagi gak baik-baik sama Mama."
"Biar nyokapnya Kevin tau kelakuan anaknya ke lo."
Keisya mencibir pelan mendengar itu. "Udah ah ayo." ajaknya pelan.
Vina merangkul pundak Keisya dan mereka berjalan pelan menuju ruangan Kevin. Keisya dan Vina saling menatap heran ketika mendapati pintu ruangan Kevin yang terbuka sedikit.
Keisya dan Vina mendekat perlahan untuk melihat apa yang terjadi di dalam. Vina menutup mulutnya melihat Kevin tengah memeluk seorang perempuan yang kalau tidak salah ingat namanya adalah Sindi. Keisya bahkan sampai melepas kaca mata hitamnya untuk memastikan apa yang ia lihat tidak salah.
"Keisya?"
Keisya tersenyum getir mendengar Kevin memanggilnya dan sontak cowok itu melepaskan pelukannya dengan Sindi.
.
.
.
...Bersambung......
__ADS_1