Percintaaan Seorang Ketua BEM

Percintaaan Seorang Ketua BEM
Si Eskrim?


__ADS_3

"Kak Win."


Windi menoleh menatap Davin yang menghampirinya. Saat ini mereka sedang ada di panti untuk mengadakan baksi sosial. Di halaman panti yang luas terdapat berbagai stand untuk membuat ramai keadaan sekitar.


"Apa?" tanya Windi yang masih memeriksa berkas-berkas yang di butuhkan untuk di jadikan arsip kegiatan. Berhubung Sindi kembali bermasalah, lagi-lagi Windi yang harus mengurus berkas itu.


"Tadi gue udah jemput Sindi ke kosnya dia. Tapi dia udah gak ada, Kak."


Tangan Windi yang tadinya memilah-milah berkas jadi terhenti mendadak karena aduan dari Davin. Windi memang meminta Davin untuk menjemput Sindi ke sini agar gadis itu tidak datang bersama Kevin.


"Lo yakin?" tanya Windi.


Davin mengangguk mantap.


Windi meletakkan berkas-berkas itu di atas meja dan mengusap wajahnya pelan. "Kevin emang bener-bener ya," gerutunya sangat pelan. Mungkin hanya dirinya sendiri yang bisa mendengar itu. "Ya udah. Thanks Davin," kata Windi yang berterima kasih pada Davin karena bersedia membantunya.


"Yoi, Kak."


Setelah selesai menyampaikan pesannya dengan Windi, Davin kemudian pergi untuk melanjutkan apa yang harus ia kerjakan. Sedangkan Windi berusaha menghubungi Kevin namun handphone cowok itu sepertinya tidak aktif.


"Keisya, cowok lo emang bikin naik darah," omel Windi.


Windi mengedarkan pandangan ke seluruh stand-stand yang ada di sekitarnya. Netranya terfokus pada si ketua pelaksana yang sedang berkeliling stand. Sontak Windi menghampiri Riyan yang hari itu mengenakan kaos hitam lengan pendek dengan kalungan id card di lehernya. Cowok itu terlihat berkali-kali lipat mempesona dari biasanya.


"Riyan."


Riyan yang tadinya asik mengobrol dengan salah satu pengisi bazaar lantas menoleh ketika mendengar suara Windi yang menyapanya.


"Kenapa Kak?" sahut Riyan.


Windi menggigit bibir bawahnya, ia ragu menyampaikan hal ini pada Riyan. Tapi, ia juga tidak tenang seperti ini.


"Kak Win?"


Windi menatap Riyan ragu-ragu. "Riyan," panggil Windi ragu.


"Mau ngobrol di tempat lain?"


Seakan paham oleh ke gusaran yang begitu nampak dari kakak tingkatnya membuat Riyan menanyakan hal itu. Mungkin kakak tingkatnya itu perlu ruang untuk membicarakan sesuatu hal dengannya.


"Bisa ikut gue bentar?" tanya Windi tidak enak.

__ADS_1


Riyan mengangguk. "Bray, gue tinggal bentar. Kalau ada sesuatu langsung kabar-kabaran aja, gue stay di talkie walkie," kata Riyan memberitahu. Kemudian ia menggandeng Windi menuju taman samping yang ada di panti itu.


"Kenapa Kak?" tanya Riyan lagi.


Mereka duduk di sebuah kursi yang sedia. Windi menghela napasnya panjanh. "Yan, lo bisa hubungin Sindi gak?"


"Sindi?" tanya Riyan memastikan.


"Iya. Sindi."


Riyan mengernyit heran. "Ada yang gak beres sama kerjaannya dia Kak?" tanya Riyan hati-hati.


"Eh, enggak. Bukan soal kerjaannya dia?"


"Terus?"


Walaupun Riyan merasa ini bukan urusannya tapi rasa penasarannya jauh lebih tinggi saat ini. Kenapa kakak tingkatnya itu tidak menghubungi langsung ke Sindi. Padahal nomornya Sindi tersedia du grup.


"Gue udah ngehubungin dia, tapi gak di angkat-angkat. Siapa tahu kalau lo yang ngehubungin bakal di waro sama dia, Riyan. Tolong tanyain, dia udah sampe mana?"


"Hah?" beo Riyan. "KAK! LO GILA?!"


"DIA LAGI SAKIT KAK. SAMPAI HATI LO NYURUH DIA DATENG DENGAN KONDISI KAKINYA YANG KAYAK GITU?"


Windi bangkit dari duduknya dan menatap Riyan tajam. "Lo mau di hajar Bang Andre karena udah bentak-bentak gue kayak gitu?"


Riyan menggeram, cowok itu mengusap wajahnya kasar. Emosinya memang tidak stabil dari awal. Kemudian Windi memancingnya seperti tadi, hingga membuat gadis itu menjadi sasaran empuk luapan emosinya.


"Jaga nada bicara lo sama gue ya Riyan."


"Sorry Kak. Gue kelepasan."


Riyan meraih tangan Windi bermaksud mengajak gadis itu kembali duduk. Namun yang ia dapat justru sentakan kuat dari Windi yang menghempaskan tangannya.


"Sindi sendiri yang mau dateng kesini. Ketua lo yang jemput."


Riyan berdecak kecil mendengar apa yang di sampaikan oleh Windi. Sindi dan di sertai keras kepalanya yang di sertai modus itu membuat kepalanya berdenyut nyeri. Siapa yang tidak mengetahui kalau Sindi memiliki perasaan tersendiri untuk Kevin? Bahkan anak-anak seangkatannya pun mengetahui itu.


"Gue tau lo respect sama teman seangkatan lo, Riyan. Tapi, gak dengan mengesampingkan attitude lo ke senior lo sendiri. Paham?"


"Paham Kak. Sekali lagi sorry."

__ADS_1


"Gue kecewa sama lo, Yan."


Windi mengambil langkah menjauhi Riyan dan kembali ke kegiatannya. Sedangkan Riyan mengambil napasnya panjang. "Sin, hobi banget sih lo bikin masalah," gerutu Riyan kesal.


Riyan mengeluarkan handphonenya dan mencari nomor sekretaris kegiatannya itu. Cowok itu berusaha menghubungi Sindi, namun sayangnya Sindi juga tidak mengangkat panggilan darinya.


"Bisa mampus gue kalau Si Eskrim tau gue ngebentak Kak Windi," gumamnya pelan. Eskrim itu adalah Vina, panggilan gemas dari Riyan untuk gadis itu.


***


Kevin menatap jam tangan yang melingkar rapi di tangannya. Sekarang hampir jam sembilan pagi. "Sin hampir dua jam kita ngaret," ucap Kevin.


"Maafin Sindi ya Bang."


Kevin menghela napasnya pelan. "Sans." Hanya itu yang dapat Kevin ucapan saat ini. Mana handphonenya mati, jadi tidak bisa menghubungi anak-anak kepanitian mengenai keberadaan mereka.


"Handphone lo beneran mati juga Sin?" tanya Kevin yang sedikit menoleh pada Sindi yang duduk di sampingnya. Cowok itu terpaksa mengendarai mobil untuk menghadiri acara baksos karena ia harus menjemput Sindi terlebih dulu. Dan kalian tau kan kalau engkel kaki gadis itu bermasalah. Jadi, mau tidak mau Kevin harus mengenakan mobil.


"Lupa di charger Bang, jadinya mati. Kehabisan daya."


Kevin memukul setirnya pelan. "Astaga."


Semua ini berawal dari menjemput Sindi pukul setengah tujuh pagi, kemudian mengajak gadis itu sarapan bersama karena Sindi belum sempat sarapan. Hingga Sindi mengusulkan melewati jalan pintas yang mereka tuju, namun ternyata gadis itu melupakan rutenya. Mereka berputar-putar menelusuri jalan itu hingga menemukan jalan besar. Dan ternyata jarak dari jalan itu malah semakin jauh dari area panti. Belum lagi macet yang luar biasa di jalanan Ibu Kota membuat Kevin mendesah frustasi.


"Sindi ngerepotin ya Bang?"


Kevin memilih diam dari pada menjawab pertanyaan Sindi dengan emosinya. Ingatkan Kevin kalau orang yang di sampingnya sekarang adalah seorang perempuan. Kevin tentu tidak boleh mengasari gadis itu, bukan?


"Bang, maafin Sindi sekali lagi."


Kevin tetap diam dengan sorot mata yang menatap ke depan. Cowok itu menyandarkan tubuhnya dengan nyaman agar emosinya sedikit tersamarkan.


"Bang Kevin?" panggil Sindi yang memiringkan duduknya agar bisa menatap Kevin.


.


.


.


...BERSAMBUNG .... ...

__ADS_1


__ADS_2