Percintaaan Seorang Ketua BEM

Percintaaan Seorang Ketua BEM
Pacarnya Bang Kevin Itu Sindi?


__ADS_3

"WHATTT! Jadiii Si Sindi kayak gitu karena ke tabrak karena Kevin di koridor?"


Keisya mengangguk kecil, ia menceritakan kepada Vina mengenai penyebab kondisi Sindi yang seperti itu. Seperti biasa, reaksi Vina selalu saja heboh.


"Jatoh model gimana tuh sih cewek sampai kakinya begitu."


"Mana gue tau."


Keisya menyeruput jus jeruknya yang ada di hadapannya.


"Karma deh kayaknya karena udah bikin lo sakit hati. Iya kan, Kei?" tuduh Vina.


Keisya mengangkat bahunya acuh. "Bisa aja kan ini takdir mereka supaya bisa lebih deket," kata Keisya tidak menyambung.


Vina mendengus kecil. Pemikiran Keisya yang selalu out of the box membuatnya hanya bisa geleng-geleng kepala.


"Sindi cantik. Sindi baik. Sindi bisa ngisi ke kosongan peran yang gak bisa gue isi buat ke hidupan Kevin."


Vina mengangguk-anggukkan kepalanya saja mendengar celotehan dari Keisya. Celotehan yang berulang kali di dengar oleh Vina.


"Menurut lo gimana, Vin?"


"Menurut gue gimana, apa?" tanya Vina bingung.


Vina lebih memilih menikmati siomay yang tersaji di hadapannya dari pada terlalu fokus menanggapi ucapan Keisya yang ke mana-mana.


"Soal Sindi sama Kevin."


Vina mengangkat bahunya acuh. "Sindi cantik sih, tapi kelakuannya yang kurang cantik. Dia tau Kevin udah berpawang, masih aja berusaha ngedeketin Kevin. Sindi itu perempuan, harusnya dia ngerti gimana perasaan lo sebagai pacarnya Kevin."


"Dia kayaknya berjuang banget buat perasaannya deh, Vin."


Vina di buat tergelak dengan ucapan Keisya. "Berjuang buat apaan anjiirr?" tanya Vina geli.


"Perasaannya buat Kevin."


"Biar perasaannya merdeka gitu?" tanya Vina lagi.


Keisya mengangkat bahunya acuh. "Selama kakinya begitu, Kevin bakal nganter jemput dia Vin," ucap Keisya memberitahu.


"Emang jam kuliahnya gak bentrokan apa?"


"Gue gak tau. Tapi Kevin bilang dia bakal anter jemput Sindi sampai Sindi bisa jalan normal lagi."

__ADS_1


Vina mendengus kecil. "Kayaknya dia gak sedih-sedih amat deh kakinya begitu," tutur Vina tiba-tiba.


"Gimana mau sedih, dengan kayak gitu kan dia leluasa deket sama Kevin."


Vina tertawa geli melihat ekspresi Keisya yang demikian. "Cemburu ya loooo?" kata Vina menggoda Keisya.


"Gue ceweknya Kevin, Vin. Ya kali gue gak cemburu."


Vina menepuk pelan punggung tangan Keisya yang ada di atas meja.


"Udah tenang aja. Saingan Sindi itu berat," kata Vina mencoba menenangkan Keisya. "Sindi gak akan bisa bersaing sama lo yang udah nemenin Kevin dari masa putih biru sampe sekarang dia udah jadi Ketua BEM Fakultas."


Keisya tersenyum tipis. Vina selalu punya bahan untuk mengembalikan rasa percaya diri Keisya. Anak-anak psikologi sepertinya memang piawai memainkan kata-kata untuk membuat tenang.


"Ngomong-ngomong masalah cemburu. Jadi, gimana rasanya cemburu Vin?" tanya Keisya jahil. Keisya bertopang dagu dan memberikan tatapan jahilnya pada Vina.


Vina mengernyit keningnya mendengar pertanyaan Keisya. "Hah?" beo Vina bingung. Ia masih belum mengerti kemana arah pembicaraan Keisya.


"Gimana rasanya cemburu?" tanya Keisya lagi.


"Cemburu?" tanya Vina balik.


Keisya mengangguk antusias dengan senyum jahilnya. Percaya atau tidak, Vina sampai enek melihat ekspresi yang di tunjukkan Keisya.


"Maksud lo?" tanya Vina yang masih tidak mengerti arah pembicaraan Keisya.


"Hah?" beo Vina yang semakin bingung. "Apaan sih Kei? Gue gak mudeng sumpah."


"Ck, lo kemarin perlakuin gue sekasar itu karena cemburu liat Riyan tolongin Sindi kan?" tanya Keisya to the point.


"Anjirrr."


Vina langsung menggeleng cepat mendengar pertanyaan yang di lontaran Keisya. "Enggak, anjirr. Gue gak cemburu sama Riyan," katanya membuat pembelaan.


"So? Ngapain lo narik gue pake urat kemarin? Lo gak pernah memperlakukan gue seganas itu loh, Vina."


Vina gelagapan harus menjawab seperti apa. "G-gue, marah sama Kevin karena gendong Sindi tanpa mikirin perasaan lo," jawab Vina lagi.


Keisya tergelak mendengar jawaban yang di berikan Vina. "Kita sama-sama anak psikologi loh, Vin. Gue gak bego-bego amat sampe gak ngerti arti dari gesture atau mimik lo ya," ujar Keisya lagi.


"Udah ah, ngapain bahas gue? Kan kita dari tadi bahas Kevin sama Sindi," omel Vina.


"Jadi, gimana? Lo udah baper sama anak FISIP, kan?" tuduh Keisya lagi sambil menunjuk jahil wajah Vina.

__ADS_1


Vina menepis pelan tunjukkan tangan yang di layangkan Keisya untuknya. "Enak aja. Apa itu baper? Gak ada dalam kamus hidup gue."


"Halahhh, kalo sampe lo beneran jadian sama Riyan. Gue yang paling pertama ngetawain lo."


***


Kevin memarkirkan mobilnya di prakiran fakultas. Cowok itu melepas seatbeltnya. "Bentar ya Sin," ucap Kevin yang kemudian turun dari mobil. Ia membuka bagasi mobil dan menurunkan kursi roda Sindi.


"Sin, lo bisa pindah sendiri kan kursi roda kan?" tanya Kevin yang sudah membuka pintu mobil di jok yang di duduki Sindi. Sesuai dengan ke putusannya untuk mengantar jemput gadis itu selama pergelangan kakinya bermasalah.


Sindi mengangguk kecil. Ia mencoba menurunkan pelan salah satu kakinya yang baik-baik saja, kemudian menjadikan itu pijakan utama, lalu dengan hati-hati mendudukkan dirinya ke kursi roda. Kevin kemudian menutup pintu mobil dan mengunci mobil itu.


Kevin menghela napasnya pelan ketika tidak ada masalah saat gadis itu berpindah duduk dari jok mobil ke kursi roda. "Langsung ke kelas lo apa gimana?" tanya Kevin yang berdiri di samping Sindi.


"Kita ke sekretariatan aja deh Bang, gue nungguin Fera aja. Nanti gue bakal ke kelas bareng dia."


Kevin mengangguk kecil dan mulai mendorong kursi roda Sindi.


"Ya ampun, jangan-jangan sebenarnya pacarnya Bang Kevin itu Sindi lagi?"


"Bukannya katanya ceweknya Bang Kevin bukan aktivis kampus ya? Sindi kan aktivis kampus."


"Ya elah, kayak gak tau aja perdramaan organisasi. Mungkin Bang Kevin mau nglindungin ceweknya biar gak di kepoin."


"Gilaa, so sweet banget Bang Kevin."


Bisik-bisik segelintir mahasiswa yang melihat dirinya ke kampus dengan Sindi membuat spekulasi yang berbeda di mata mereka. Sindi mendongak menatap ke arah Kevin yang ternyata juga sedang menatap Sindi.


"Bang Kevin denger gak mereka ngomong apa?" tanya Sindi pelan.


Kevin hanya mengangguk kecil. "Telinga gue masih berfungsi, Sin."


"Mereka nganggep kita pacaran, Bang."


Kevin tersenyum masam. "Biarin aja, mereka kan gak tau yang sebenernya gimana. Lagian kita gak mungkin pacaran."


Sindi hanya tersenyum kecil mendengar penuturan tegas yang di sampaikan oleh Kevin. Cowok itu seperti mempertegas posisi Sindi di kehidupan Kevin. Ia tidak akan pernah bisa menggeser posisi Keisya di hidup cowok itu.


.


.


.

__ADS_1


...BERSAMBUNG .......


KERENA KEMARIN GAK UP, AKU USAHAIN HARI INI UP DOUBLE.🤗


__ADS_2