Percintaaan Seorang Ketua BEM

Percintaaan Seorang Ketua BEM
Kembali Kekampus


__ADS_3

"Terus gue harus gimana, Vin?" tanya Keisya.


"Kita pantau lewat sosial media aja." putus Vina tiba tiba. Dari pada harus membiarkan Keisya menyusul Kevin ke lokasi aksi, lebih baik menemani gadis itu mencari info lewat sosial media.


***


Seorang pemuda tampan bertubuh tinggi tegap berdiri sombong di depan sebuah gedung petinggi Negara. Ia menggunakan kacamata hitam. Scraft yang di kalungkan di leher, juga sebuah toa yang ia pegang di hadapan mulut nya. Ia melontarkan berbagai kalimat suara aspirasi mahasiswa yang ia dengungkan dengan lantang.


Dia Kevin Narendra.


Si Ketua BEM FISIP yang hari ini memegang kendali atas seruan aksi kali ini.


"Gila ganteng banget."


"Nikmat tuhan mana lagi yang engkau dustakan."


"Kalau gue jadi pacar nya sih bangga banget bisa pacaran sama dia."


Ciutan ciutan itu menguar sebagai bentuk kekaguman kaum hawa yang mengikuti aksi tersebut pada seorang Kevin Narendra. Siapa yang tidak mabuk dengan pesona nya. Tampan, Kharismatik, memiliki jabatan pula. Nyaris sempurna di mata kaum hawa.


"GIDUP MAHASISWA." sorak lantang Kevin.


"HIDUP." sorak nya bersambut ketika ratusan mahasiswa yang berhadir di jalan itu meneriakkan hal yang serupa.


"HIDUP RAKYAT INDONESIA."


"HIDUP."


"HIDUP PEREMPUAN PEREMPUAN BANGSA."


"HIDUP."


Sorak sorakan ramai itu menambah semangat juang para mahasiswa untuk memperjuangkan hak hak rakyat. Mereka bersatu paduh untuk sebuah tuju.


Buruh tani mahasiswa rakyat miskin kota.


Bersatu padu rebut demokrasi.


Gegap gembita dalam satu suara.


Demi tugas suci yang mulia.


Lagu kebangsaan mahasiswa ketika aksi demonstrasi mulai di lantungkan dengan lantang dan penuh emosional.


Hari hari esok adalah milik kita.


Terciptanya masyarakat sejahtera.


Terbentuknya tatanan masyarakat.


Indonesia baru tanpa orba.


Suara suara mereka membentuk satu kesatuan harmoni yang begitu di sayangkan untuk di lewatkan.

__ADS_1


Marilah kawan mari kita kabarkan.


Di tangan kita tergenggam arah bangsa.


Marilah kawan mari kita nyanyikan.


Sebuah lagu lantang pembebasan.


Kevin menjadi ujung tombak atas suara suara itu. Ia bernyanyi lantang dengan sebuah pengeras suara yang biasa di gunakan untuk orasi.


Di bawah kuasa tirani.


Kususuri garis jalan ini.


Berjuta kali turun aksi.


Bagiku satu langkah pasti.


Paduan suara dadakan yang sangat lumrah terjadi ketika penyeruarakan aspirasi masyarakat dengan mahasiswa mahasiswa lain. Mereka berjuang bersama untuk mengembalikan hak hak rakyat yang terancam di rampas oleh orang orang berdasi yang tidak tau diri.


"KEMBALIKAN HAK HAK KAMI SEBAGAI RAKYAT."


Sorakan lantang penuh emosi itu terdengar di mana mana. Kevin meneriakkan hal yang serupa dengan toa di hadapan nya.


"Lo keren, Kevin." ucap Bang Andre bangga. Andre merupakan ketua BEM FISIP di periode sebelum nya. Ketika Kevin masih sebatas pengurus muda nya. "Panjang umur perjuangan." lanjut Bang Andre penuh harapan.


Tak


Di tengah gumuruh amukan suara dari Mahasiswi mereka di gempur dengan serangan gas air mati.


Bang Andre meraih lengan Kevin agar turun dari podium dadakan yang mereka buat. "Ayo pergi, dari sini." ucap Bang Andre berusaha mengajak Kevin pergi dari sana.


"Lo pergi aja, Bang. Gue harus mastiin anak anak aman dulu." tolak Kevin.


Kevin kemudian mengambil langkah menuju lokasi pengurus pengurus organisasi nya tadi berkumpul.


Uhukk Uhukk


Suara batuk seorang gadis membuat Kevin menghentikan langkah nya, ia kemudian menghampiri gadis itu. "Lo gak apa apa?" tanya Kevin.


Uhukk Uhukk


Pertanyaan Kevin tidak di respon perempuan manis itu. Kevin melepas Almameter kebanggaan nya kemudian ia melungkupkan ke kepala gadis itu. Scraft hitam yang tadi di leher nya ia tarik kuat kemudian memasangkan itu untuk menutupi hidung sampai mulut gadis itu. "Ikut sama gue, ayo." ajak nya kepada gadis itu.


Kevin merangkul gadis itu dan membawa nya pergi.


"G-gue g-ak ku-at la-ri." ucap gadis itu susah payah.


Anggukan lirih itu membuat Kevin dengan berani membawa perempuan itu ke dalam gendongan ala bridal style.


Kevin berlari menuju tempat yang lebih aman untuk gadis itu.


Bugh

__ADS_1


Kevin tersungkur ke aspal jalanan dengan gadis yang berada di dalam gendongan nya menindih tubuh Kevin. "Bangs*t." desis Kevin mengusap ujung bibir nya yang mengeluarkan darah. Kevin membantu gadis itu bangun dari posisi nya.


"Ngapain lo gendong pacar gue anj*g?" ucap pacar gadis itu yang tiba tiba datang.


"Kalau gak kuat tolongin, pacar lo bakal sekarat!" ucap Kevin.


***


Vina mengantar Keisya kembali ke kampus karena gadis itu bersikeras meminta di antar ke sana lagi. "Lo yakin mau sendiri? Gak mau gue temenin ke dalem sekalian?" tanya Vina khawatir.


Keisya turun dari boncengan motor Vina. Gadis itu mengangguk mantap. "Makasih udah nganterin gue kesini yah, Vin." ucao Keisya.


"Gue gak tenang ninggalin lo." kata Vina.


Keisya tersenyum lembut, ia mengusap pundak Vina untuk memberi tahu sahabat nya itu kalau ia baik baik saja. "Gue aman kok." ucapnya.


"Na, lo yakin?" tanya Vina ragu untuk meninggalkan sahabat nya sendirian.


"Iya Vin, gue bisa sendiri. Nanti kalau gue perlu lo, gue bisa nelpon lo kok." ucap Keisya.


"Bener yah kalo perlu gue, lo harus telpon gue secepat nya." kata Vina.


Keisya mengangguk cepat.


"Yaudah, gue pergi yah?" tanya Vina pamit.


"Hati hati, makasih udah nganterin gue ke sini." jawab Keisya.


"It's okay. Lo harus seimbangin pikiran sama hati lo yah, Kei. Jangan sampai lo jadi budak salah satu nya?" ucao Vina memberi peringatan, agar Keisya tidak mudah luluh oleh ucapan Kevin karena telah ingkar janji yang kedua kalinya.


Keisya terkekeh pelan." Iya Vina." ucap nya.


Setelah menatap keyakinan yang di pertahankan Keisya, akhir nya Vina pergi dari kawasan itu. Sedangkan Keisya, menatap gedung di hadapan nya dengan perasaan yang takut. Kevin nya kembali membuat hati nya takut.


Keisya menghela nafas sebelum memutuskan untuk masuk. Gadis itu melewati lobby gedung yang sepi, karena hari sudah menjelang senja. Ia menyusuri koridor untuk mencari keberadaan suatu tempat yang ingin ia tuju.


Samar samar, Keisya mendengar suara beberapa orang yang bercengkrama dengan asik.


"Permisi kak." sapa Keisya sopan, saat ia berada di hadapan beberapa anak laki laki yang duduk santai di depan sebuah ruangan.


Mereka kompak menoleh saat mendengar suara lembut Keisya.


Keisya tersenyum canggung. Ia jadi ragu ragu mengutarakan pertanyaan nya.


"Kak, ada yang bisa kita bantu?" tanya salah seorang pemuda yang membuang rokok nya lalu menginjak benda itu agar mati, dan menghampiri Keisya.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


SELAMAT PAGI🤗 SELAMAT MEMBACA DAN JANGAN LUPA UNTUK SARAPAN.


__ADS_2