Percintaaan Seorang Ketua BEM

Percintaaan Seorang Ketua BEM
Pembohong


__ADS_3

Kevin hanya diam dari tadi tanpa menjawab pertanyaan Keisya. Keisya sontak menoleh untuk menatap Kevin. "Ren?" panggil Keisya pelan.


"Hm?"


"Kamu gak dengerin aku ngomong dari tadi?" tanya Keisya lembut.


Kevin tersenyum kecil lalu merangkul Keisya erat. "Mau makan jagung bakar gak?" tawar Kevin.


Keisya hanya mengangguk. Lagi pula ia sudah lama tidak menikmati makanan yang satu itu. Ia dan Kevin kemudian menghampiri salah satu stand yang mengandal kan menu utama jatung bakar. Mereka duduk di salah satu tempat yang kosong.


"Ini ada takoyaki juga. Rendra, aku boleh pesen takoyaki juga?"


Kevin tersenyum tipis lalu ia mengangguk. "Pesen sendiri bisa kan?"


Keisya menatap Kevin aneh. Biasa nya Kevin akan dengan sigap memesan kan makanan yang di ingin kan Keisya. Namun, kali ini ia di minta untuk memesan sendiri oleh cowok itu. Keisya berpikir mungkin Kevin masih marah soal kemarin. Tapi kan ia juga harus nya marah dengan Kevin karena Kevin sudah membohongi nya.


"Ya udah aku ke stand sebelah dulu buat pesen. Kamu mau?" tanya Keisya halus.


Kevin menggeleng pelan. "Pesan secukup nya kamu aja, Kei."


"Oke."


Keisya bangkit dari duduk nya dan menghampiri stand sebelah. Ia memesan satu porsi takoyaki dengan isian cumi untuk ia nikmati sendiri. Setelah selesai dan memberi tahu letak ia duduk, Keisya kembali menghampiri Kevin.


"Ren, you okay?" tanya Keisya khawatir.


Kevin menumpuk kan kepala nya di tangan yang bertumpuan pada meja. Mendengar pertanyaan Keisya ia kembali duduk seperti biasa dan tersenyum tipis. "I'm okay." ucap Kevin menyakin kan.


Keisya yang duduk di hadapan Kevin memilih percaya dengan cowok itu. Mungkin Kevin sedang banyak masalah di organisasi nya.


"Jadi, semalem kamu kemana aja sampai gak bawa handphone?" tanya Kevin menyelidik.


"Aku ke rumah kanker harapan ibu." jawab Keisya seada nya. "Aku kasih bunga bunga sama cokelat cokelat yang waktu itu kamu bawa buat mereka. Aku ke asikan main sama mereka sampe lupa waktu."


Apa yang di katakan Keisya tidak sepenuh nya bohong. Ia memang ke asikan bermain dengan anak anak pengidap kanker hingga lupa waktu. Meski pun begitu, ada beberapa point cerita yang sengaja di hilang kan oleh Keisya.


Bukan karena Keisya tidak ingin jujur pada Kevin. Tapi, melihat Kevin yang seperti ini membuat nyali nya menciut. Ia takut membuat Kevin meledak. Mungkin akan ia cerita kan potongan cerita itu nanti, setelah Kevin dalam keadaan yang lebih baik.


"Kenapa bawa mobil sendiri? Kenapa gak ngajakin aku?"


"Karena kamu selalu sibuk sama urusan kamu di organisasi, Ren. Kamu aja waktu aku tanya kapan kamu free gak bisa jawab kapan nya, kan?"


Entah kenapa Keisya seberani itu mengata kan hal seperti tadi di hadapan Kevin. Kevin memijat kening nya yang terasa semakin berdenyut.


"Aku nanya baik baik perasaan. Kenapa jawab nya pake urat kayak tadi?" tanya Kevin dingin.


Keisya memaling kan wajah nya. Ia enggan menatap Kevin yang menatap nya dengan sorot wajah yang dingin.

__ADS_1


"Aku di sini kenapa ngeliat ke arah lain?"


"Ren," rengek Keisya tanya menatap cowok itu. Ia takut menatap Kevin. Sungguh.


"Sini liat aku."


Keisya menggeleng pelan. "Aku gak mau berantem, Ren. Aku lagi capek."


"Gak ada yang ngajak kamu berantem kalau kamu gak mulai duluan, Kei. Kamu pikir aku gak capek? Seharian aku menghadiri acara, terus lanjut rapat sampe malem. Aku mau seneng seneng sama kamu malam ini kenapa kamu malah nyolot kayak tadi?"


Kevin menghela nafas nya pelan. Cowok itu bangkit dari posisi duduk nya. " Aku pergi bentar. Jangan kemana mana." ucap nya tegas pada Keisya.


Keisya menatap ke pergian Kevin dengan tangan yang mengepal. "Nyebelin." gumam nya tertahan.


"Permisi, ini pesanan nya."


Dua piring jagung bakar yang sudah di serut di hidang kan di atas meja nya. Lalu dua gelas es kelapa juga sepiring takoyaki dari stand sebelah.


"Makan sendirian nih gue?" omel nya kesal.


Dengan terpaksa Keisya memakan jagung bakar milik nya sendiri. Hingga suapan terakhir dari jagung bakar di pring nya Kevin masih belum menampak kan batang hidung nya. Kemana cowok itu.


"Awas aja kalau sampe gue di tinggalin pulang. Gue aduin ke Papah."


Keisya menyeruput es kelapa nya. Rasa manis dari kelapa yang bercampur susu membuat nya sedikit lebih tenang.


Keisya menyender kan kepala nya ke atas meja sejenak. Suara orang duduk di hadapan nya membuat Keisya menegak kan badan. "Dari mana aja Ren?" tanya Keisya panik.


Tanpa menjawab Kevin menarik piring jagung bakar nya. Sebelum suapan jagung bakar itu sampai di mulut nya, Keisya menahan gerak kan tangan nya. Kevin mendongak menatap Keisya yang sudah memberi nya tatapan membunuh.


"Kamu habis nyebat?" tanya Keisya datar. Gadis itu mencium aroma rokok yang cukup kuat di tubuh Kevin. Mangka nya ia memberani kan diri bertanya demikian.


Kevin melepas kan cekalan tangan Keisya di pergelangan tangan nya. Ia menerus kan kegiatan nya menyuap kan jagung bakar itu.


"Aku nanya. Gak denger?"


"Kei, aku lagi pusing. Tolong jangan banyak tanya."


"Kei?" ulang Keisya memasti kan pendengaran nya tidak salah dengar.


"Kei. Please."


Keisya berdecih kecil. "Fine."


Keisya memilih menikmati takoyaki milik nya dengan perasaan yang campur aduk. Gara gara ke lepasan bicara ngegas ke Kevin, akhir nya jadi seperti ini.


"Sorry, udah bikin kamu pusing." gumam Keisya pelan. Namun, Kevin tetap bisa mendengar gumaman gadis nya itu.

__ADS_1


Keisya jadi mengingat cuitan cuitan penggemar Kevin di kantin waktu itu. Dengan kejadian ini kenapa seolah cuitan cuitan itu mendapat pembenaran. Keisya jadi amat merasa bersalah belum mampu menjadi pacar yang sebagai mana mesti nya.


"Kamu capek ya Vin?" ucap nya tanpa sadar hingga membuat Kevin juga ikut menatap nya.


Keisya meletak kan sumpit takoyaki nya dan mendorong piring nya sedikit menjauh dari hadapan nya. Keisya meraih tangan kiri Kevin yang ada di atas meja lalu menggenggam tangan itu. Sesekali jari jemari Keisya mengusap lembut.


"Aku bikin kamu makin capek ya?" tanya Keisya pelan.


"Maaf belum bisa jadi pacar yang baik buat kamu, Ren. Kalau kamu capek sama aku, gak papa bilang aja. Kamu berhak dapetin cew--"


Keisya tidak bisa melanjut kan perkataan nya karena mulut nya di bekap pelan dengan tangan kanan Kevin.


Cowok itu menatap nya tajam. Seolah menyirat kan ke marahan nya karena ucapan Keisya. "Bisa jangan ngomong gitu?" tanya Kevin datar.


Kevin menurun kan tangan nya kembali. Keisya menunduk takut.


"Aku memang marah sama kamu, Kei. Tapi, gak berarti aku mau ninggalin kamu. Bisa jangan selalu berspekulasi yang aneh aneh tentang aku?"


"Maaf," cicit Keisya pelan.


"Mungkin gak seharus nya aku maksain ketemu kamu. Kita lagi sama sama emosional sekarang. Kei, mungkin ada baik nya kita masing masing dulu. Saling introspeksi dulu yuk. Biar kedepan nya hubungan kita gak kayak gini lagi."


Keisya mendongak mendengar ucapan Kevin. "M-maksud kamu?" tanya Keisya takut.


"Kita break."


Air mata Keisya menetes tanpa bisa di cegah. Hanya karena ke lepasan menyentak Kevin hubungan nya menjadi semakin karam begini. "As your wish, Vin."


"Kei, kita gak putus. Aku cuman mau kita sendiri sendiri dulu buat saling introspeksi diri."


"Sampai kita sama sama terbiasa, kan? Gue terbiasa tanpa lo. Dan lo yang akan terbiasa tanpa gue."


"Keisya." desis Kevin pelan.


Keisya menatap Kevin datar. Entah lah ke takutan nya hilang seketika saat Kevin dengan mudah nya mengucap kan bahwa mereka harus masing masing. "Lo ingkar janji ke Mamah. Lo bilang bakal bikin gue bahagia malam ini. Lo pembohong, Kevin. Lo pembohong."


Kevin meremas kepala nya melihat Keisya pergi begitu saja setelah meluap kan emosi nya. Kepala nya sangat sakit sekarang ini.


"Sialan."


.


.


.


...Bersambung... ...

__ADS_1


__ADS_2