
"Lo gak papa kan nunggu Fera sendiri di sini?" tanya Kevin ketika mereka sudah berada di ruang ke sekretariatan.
Sindi mengangguk sebagai jawaban.
"Gue tinggal ya. Gue mau ke ruang dosen dulu, ada urusan."
Kevin kemudian keluar ruangan ke sekretariatan dan menuju ruang dosen, ia tidak berbohong pada Sindi. Cowok itu memang ada kepentingan di ruang dosen. Ia di minta menemui Kaprodi untuk membicarakan suatu hal.
Kevin mengetuk pelan pintu masuk ruang dosen, kemudian masuk ketika di persilahkan.
"Oh ada Kenan?"
Kevin tersenyum manis ketika salah satu dosennya menyapanya. Di lingkup Dosen Prodi dan Dekanat, ia memang lebih sering di sapa dengan Kenan (Kevin Narendra).
"Mau ketemu Pak Yudis ya Nan?" tanya Dosen itu.
"Iya, Bu. Ada keperluan sama Beliau," kata Kevin sopan.
Dosen itu mengangguk. "Beliau ada di ruangannya, Nan. Jangan lupa ketuk pintu sebelum masuk," kata Dosen itu mengingatkan.
Kevin mengetuk pelan pintu ruangan Pak Yudistira yang menjawab sebagai Kaprodi jurusannya. Kevin kemudian masuk setelah mendapat izin dari dalam untuk masuk.
"Kenan silahkan duduk," kata Pak Yudis dengan ramah.
Kevin mengambil tempat duduk di depan Pak Yudis. Entah kenapa ia jadi gugup sekarang ini. Seperti ada hal penting yang hendak di bicarakan oleh Pak Yudis.
"Jadi begini, Kenan. Tahun depan kan bakal ada pemilihan Presiden Mahasiswa periode selanjutnya. Kami team dosen sepakat merekomendasikan kamu mencalonkan diri untuk menjadi Presiden Mahasiswa. Bagaimana pandangan kamu soal ini?"
Kevin meneguk salivanya mendengar ucapan yang di layangkan oleh Pak Yudis. Di rekomendasikan mencalonkan diri untuk menjadi Presiden Mahasiswa. Benarkah demikian?
Jujur saja, Kevin tidak pernah berpikir untuk naik ke organisasi lingkup universitas. Apa lagi sekelas BEM Univ. Tanggung jawabnya bukan hal mudah untuk di pikul.
"Kenan?" panggil Pak Yudis saat melihat mahasiswanya terdiam di hadapannya.
"I-iya Pak?"
"Gimana menurut kamu soal ini? Kamu siap kan naik ke lingkup Universitas?"
Kevin mengambil napas panjang sebelum memberikan jawaban.
__ADS_1
"Jujur Pak, saya belum memikirkan soal ini sebelumnya. Saya berterima kasih banyak karena Bapak dan para dosen mempercayai saya untuk naik ke lingkup Universitas. Namun, untuk satu dan lain hal, saya masih belum bisa memberikan jawaban yang pasti mengenai ini. Saya masih harus fokus mengurus BEM tingkat fakultas agar semakin berkembang dan mampu bersaing dengan BEM fakultas lain. Saya perlu waktu yang cukup untuk memikirkan hal ini secara matang," jawab Kevin penuh ke hati-hatian di setiap kata yang ia lontarkan.
Pak Yudis tersenyum bangga atas jawaban yang di berikan Kevin. Sebuah jawaban yang runtut dengan kelugasan yang kentara sekali di setiap kalimatnya. Kevin dan pemikirannya selalu membuat Pak Yudis bangga akan mahasiswanya itu.
"Berapa lama kamu menginginkan waktu untuk hal itu, Kenan?" tanya Pak Yudis santai.
"Satu semester sebelum pemilihan Presiden Mahasiswa, saya akan memberikan jawabannya."
"Oke. Saya harap, tidak ada jawaban yang membuat kami kecewa atas keputusanmu, Kenan."
***
Vina merebut handphone Keisya yang melihat akun gosip kampus di mana ada upload-an rekaman tentang Kevin dan Sindi yang berangkat semobil.
"Netizen lebau amat, berangkat bareng aja di kirain pacaran. Aneh," omel Vina.
Keisya tertawa kecil, entahlah kenapa bisa ia hal itu malah lucu. "Lucu gak sih mereka berspekulasi hal-hal yang gak jelas, padahal nyatanya Kevin sama gue. Freak banget, hahaha."
Vina tidak menangkap tawa palsu dari Keisya. Sahabatnya itu memang benar-benar tertawa tulus seperti tidak ada perasaan sedih yang terselip di mata itu. "Tumben lo," cibie Vina.
Keisya tiba-tiba menghentikan tawanya. "Tumben kenapa?" tanya Keisya bingung.
"Biasanya kalau ngeliat yang kayak gini biasanya lo auto sedih. Auto berasa jadi perempuan paling menyediakan di dunia."
Keisya mengangkat bahunya. "Gak tau, Vin. Gue kayaknya pelan-pelan udah bisa berdamai sama keadaan Kevin yang sekarang udah pasti di kelilingi cewek-cewek. Cekit-cekit di hati sih masih ada. Cuman gak mau gue bawa pusing ah, santuyin aja."
Vina tersenyum bangga dengan perubahan Keisya yang sedikit melegakan. Setidaknya Keisya mencoba berdamai dengan dirinya sendiri, hubungannya, dan keadaan Kevin. "Bangga banget gue sama sahabat gua yang satu ini," kata Vina bangga.
"Capek gue jadi budak perasaan tanpa mengambil pemikiran gue yang cerdas ini."
Keisya kembali merebut handphonenya dari Vina, ia menekan kolom komentar dan membaca satu per satu komentar netizen yang membuatnya geli.
@Cynthiaxx: Oh ini pacarnya Bang Kevin? Cantik banget anjirr, kalah saing gue.
@Jeannvx: Pantes di pacarin, ceweknya spek bidadari.
"Huueeekk." Vina sangat muak membaca komentar di postingan itu. "Spek bidadari apa yang begituan?" cibie Vina menjulid.
Keisya tergelak kecil dan kembali membaca komentar-komentar netizen yang sedikit banyaknya membuatnya terhibur.
__ADS_1
@Sylvanacal: Bukannya katanya beda fakultas ya?
@Rocweriska: Definisi pacar yang tulus banget sih Bang Kevin. Walaupun kondisi ceweknya lagi kayak gitu dia tetep milih stay sama ceweknya donggg. Publish hubungan lagi, gila sih nemu dimana cowok yang kayak Bang Kevin.
"Netizen tuh lucu-lucu ya?" kata Keisya tiba-tiba.
Keisya mendapati salah satu akun yang ia kenal turut berkomentar di postingan itu.
@Fer_Fera: Doain langgeng ya temen-temen.
"Coba lo liat deh, Vin."
Keisya memberikan handphonenya pada Vina.
Vina membaca komenan sahabat karibnya Sindi di postingan tersebut. Komentar yang seolah-olah mengiring opini publik semakin membenarkan hubungan Kevin dan Sindi. "Ngajak ribut nih cewek," cibir Vina geram.
"Biarin aja. Dia kayaknya ngedukung banget sahabatnya ngegatel. Dia gak malu ya komen kayak gitu padahal kan dia tau kalau pacarnya Kevin gue?"
"Cewek modelannya kayak gitu mana punya urat malu sih Kei?"
"Girl support girl kayaknya udah gak ada."
Vina mendengus kecil. "Supportnya berlaku kalau kenal deket satu sama lain. Kalau gak kenal deket juga gak akan mungkin di support. Di julidin yang ada."
"Ngeri banget."
"Ya itu lah. Siapa yang paling deket, itu yang di dukung. Sekarang kebanyakannya kayak gitu. Mau salah kek, mau bener kek, yang paling deket sama dia pasti bakal ngedukung."
Keisya menatap intens Vina. "Gue bersyukur deh, lo gak kayak gitu, Vin. Lo support gue dalam keadaan apapun. Tapi kalau gue lagi salah, ya lo ngomong salah ke gue. Lo bilang salah tanpa ninggalin gue karena kesalahan gue itu. Lo support gue sampai gue ngerti kesalahan gue dan perbaiki kesalahan itu. Gue beruntung punya sahabat yang kayak lo, Vin."
"Gue juga bersyukur punya lo, Kei."
Keisya memberi sun jauh untuk Vina. "Sayang lo banget deh bestie."
Vina mencibir geli. "Jiji banget gueee," rengek Vina.
.
.
__ADS_1
.
...BERSAMBUNG .... ...