
"Iye, Kak. Iye."
"Good boy."
"Salah, Win. Play boy dia mah," sahut Devan mengoreksi.
Riyan berdecih kecil mendengar koreksian dari Devan. "Gue keluar dulu Bang, Kak." Kata Riyan sopan lalu meninggalkan ruangan rawat Kevin. Setelah kepergian Riyan, ruang rawat Kevin di landa keheningan.
"Bang Kevin udah boleh pulang?"
"Udah, Sin." Jawab Kevin seadanya.
Kevin duduk di atas tempat tidur dengan Keisya yang juga turut duduk di sampingnya. Cowok itu menggenggam tangan Keisya dengan sangat erat.
"Sindi boleh ikut nganterin Bang Kevin pulang?"
Pertanyaan Sindi membuat Keisya harus menahan kesal luar biasa. Jika di sini ada Vina, sudah pasti sahabatnya itu akan mengoceh dengan kata-katanya yang jauh dari kata manis.
"Kak Windi sama Bang Devan juga ikut nganterin Bang Kevin?" tanya Fera.
"Iya kita nganterin."
"Berarti aku sama Sindi juga boleh ikutan kan Bang?"
Kevin dan Devan saling melempar tatapan hanya mereka yang mengerti maksudnya. Kevin berdehem singkat. "Makasih loh Sindi udah jengukin gue. Gue gak enak kalau lo ikut nganterin gue balik, gue gak mau ngerepotin lo Sin."
"Santai, Bang. Sindi gak ngerasa repot sama sekali kok," jawab Sindi dengan begitu manis.
Keisya pelan-pelan melepaskan genggaman tangan Kevin namun kalah tenaga. Kevin justru semakin mengeratkan genggamannya pada gadis itu.
"Kayaknya gue, Devan, Riyan, Vina sama Keisya udah cukup deh Sin buat nganterin Kevin pulang. Bukan apa-apa gue ngomong kayak gini, gue cuman takut ganggu kenyamanannya dia kalau terlalu banyak orang yang keep dia balik." Kata Windi berusaha menengahi.
"Tapi, Sindi cuman mau bales kebaikan Bang Kevin yang waktu itu juga nganterin Sindi balik dari rumah sakit." Cicit Sindi samar.
Keisya menghela napasnya pelan. "Sin soalnya kebaikan Kevin yang waktu itu kan udah lo bales dengan ngasih dia jam tangan. Jam tangannya juga dia pake pas lo ulang tahun kan? Gue rasa juga itu udah lebih dari cukup Sin. Jangan membalas kebaikan yang sama berulang-ulang," kata Keisya santai tapi menusuk.
Keisya kemudian menoleh ke Kevin dengan sedikit khawatir. Ia khawatir Kevin malah bereaksi untuk membela adik tingkatnya itu. Namun, Keisya ternyata salah. Kevin justru tersenyum menatapnya di iringi usapan lembut di pucuk kepalanya.
"Posesifnya lucu," bisik Kevin di telinga Keisya.
Keisya jadi bingung mendominasikan perasaannya. Di satu sisi kesal karena Sindi, tapi di sisi lain ia senang mendengar bisikan Kevin yang menggodanya.
__ADS_1
"Kita cuman mau ikut nganterin doang kok, Kak."
Keisya menatap Fera yang tiba-tiba berceletuk demikian. Sepertinya dua gadis itu gencar sekali melakukan apapun yang sekiranya membuat kemauan mereka di turuti.
"Mobil Devan gak akan muat kalau lo juga pada ikutan," kata Windi.
Fera tersenyum hangat. "Kita berdua bawa mobil sendiri kok, Kak." Jawab Fera.
"Ya udahlah semau lo aja," celetuk Keisya kemudian. Ia sudah sangat jengah menghadapi tingkah dua gadis adik tingkatnya Kevin.
Cairan infus yang di kenakan Kevin mulai menipis. "Aku ke depan bentar buat ngasih tau perawat kalau cairan infus kamu hampir habis."
"Gue aja Kei," kata Devan mencegah Keisya pergi dari ruangan rawat Kevin.
"Jangan. Gue aja, Van."
Devan tersenyum kecil. "Udah, lo di sini aja temenin Kevin. Soal ngasih tau perawat gue yang ke depan," kata Devan santai.
"Gak papa Van?" tanya Keisya memastikan. Walaupun sudah cukup akrab dengan Devan, Keisya tetap sungkan menerima bantuan dari cowok itu.
"Santai. Gue ke depan dulu."
"Oke, selesai. Nanti baju pasiennya taruh di sini aja ya, Kak." Katanya lagi.
"Makasih banyak Kak," sahut Keisya sopan di iringi senyum simpulnya.
Perawat itu mengangguk kecil dengan membalas senyuman Keisya lalu keluar dari ruangan. "Nih baju ganti kamu," kata Keisya menyodorkan baju ganti untuk Kevin.
"Thanks, By."
"Mau aku bantu ke kamar mandi?"
Kevin terkekeh pelan mendengar tawaran dari Keisya. "Aku bisa kok," kata Kevin menenangkan.
"Serius?"
"Seriburius By."
Kevin turun dari tempat tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi guna ganti setelan pasien dengan setelan miliknya. Setelah selesai, Kevin mencuci wajahnya dengan air lalu keluar.
"Bang Kevin," pekik Sindi yang menangkap Kevin saat cowok itu hampir saja limbung karena kehilangan keseimbangannya. Kevin bertumpu pada lengan Sindi sambil mengerjap pelan, entah kenapa ia tiba-tiba pusing dan kunang-kunang.
__ADS_1
Keisya sendiri terdiam di samping tempat tidur ketika melihat kejadian itu. Ia menghela napasnya pelan kemudian mendekati Sindi yang masih merangkul Kevin dengan erat.
"Ren? Pusing?" tanya Keisya sembari berusaha mengambil Kevin dari rangkulan Sindi.
Saat sudah bersama Keisya, Kevin menumpukan kepalanya ke pundak gadis itu. "Hemm," jawabnya pelan.
"Bang, yakin mau pulang? Rawat beberapa hari lagi aja Bang?"
Itu adalah suara dari Sindi. Gadis itu terlihat sangat khawatir mendapati kondisi Kevin yang seperti tadi.
"Gue cuman perlu istirahat bentar Sin," kata Kevin menenangkan.
"Kita duduk dulu yuk."
Keisya memapah Kevin duduk di sofa. Cowok itu menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa dan menenggelamkan wajahnya ke ceruk leher Keisya.
"Kasih minum dulu Kei," ucap Windi yang sudah menyodorkan botol minuman lengkap dengan sedotannya. Sengaja, untuk mempermudah Kevin meminum air itu.
Keisya mengusap pipi Kevin lembut. "Minum dulu, nih." Keisya dengan pelan mengarahkan ujung depan sedotan ke arah mulut Kevin. Cowok itu meminum air beberapa tegukan kemudian menjauhkan paksa botol mineral itu darinya.
"Gue ambil kursi roda bentar." Windi mengangguki ucapan Devan. Sepertinya Kevin memang memerlukan kursi roda untuk membawanya sampai parkiran. Dari pada oleng lagi dan membuat suasana hati Keisya memburuk. Iya kan?
"Gak perlu, Van. Gue bisa jalan kok."
Windi berdecih kecil mendengar ucapan Kevin. "Lo jalan dari kamar mandi aja oleng. Gak usah sok-sokan mau jalan nyampe parkiran."
"Gue gak mau pake kursi roda," kata Kevin lagi.
"Pakenya sampe lobby depan aja, Sayang. Nanti minta tolong Riyan buat jemput di depan lobby. Okey?" bujuk Keisya pelan. Kevin memang harus di bujuk secara baik-baik. Takut nya kalau terlalu di kerasi, akan berdampak pada emosional cowok itu.
"Kei, aku bisa jalan sendiri. Aku gak lumpuh," ucap Kevin.
"Siapa yang bilang kamu lumpuh, Ren?" tanya Keisya lembut.
.
.
.
...Bersambung... ...
__ADS_1