
Keisya menatap gedung FISIP yang berdiri kokoh di hadapan nya. Ia ingin melangkah masuk ke dalam namum ia urungkan. "Gue gak mungkin nunggu Kevin di ruang rapat nya kan?" monolog Keisya.
Keisya memilih duduk di salah satu kursi trotoar yang berhadapan langsung dengan gedung FISIP. Mudah mudahan gedung itu tidak memiliki akses banyak arah. Semoga saja gedung nya sama seperti gedung fakultas nya yang hanya memiliki satu pintu keluar masuk.
Keisya mengarah kan kamera pada gedung itu lalu mengirim kan nya pada Kevin. Pesan yang ia kirim masih centang satu. Itu berarti Kevin masih belum aktif.
Keisya Calief : Aku nungguin kamu selesai rapat.
Keisya kembali mengirim kan pesan itu oada Kevin. Meski pun ia tau kalai itu hanya akan sia sia, mengingat Kevin masih belum mengaktif kan jaringan seluler nya mungkin.
"Kak?"
Keisya menoleh mendapati seseorang yang memanggil nya. Keisya sontak berdiri dan menghadap cowok itu. Keisya mengangkat sebelah alis nya heran, ia seperti pernah bertemu dengan cowok itu di hadapan nya saat ini. Tapi di mana?
"Kakak pacar nya Bang Kevin kan?"
Keisya tersenyum kikuk mendengar pertanyaan yang terlontar dari cowok itu. "I-iya." jawab Keisya kaku.
"Gue Riyan, Kak. Pengurus muda nya Bang Kevin." ucap cowok itu memperkenal kan diri.
"Keisya." sahut Keisya singkat.
"Sorry kak, lo ngapain duduk di depan gedung FISIP kalau boleh tau?" tanya Riyan sopan.
"Gue nungguin Kevin, kalau lo ketemu dia, bilangin kalau gue di sini ya."
Keisya bisa melihat kernyitan di kening Riyan. Ekspresi nya seperti bingung ketika Keisya menutur kan kalau dia sedang menunggu Kevin.
"Tapi, Bang Kevin gak ada di kampus, Kak." ucapan Riyan membuat Keisya terdiam.
"Atau lo udah janjian sama Bang Kevin ketemuan di sini ya Kak?"
Keisya mengatur deru nafas nya agar tetap stabil. "Heum, Kevin gak jadi rapat?" tanya Keisya ragu ragu.
"Oh soal rapat, seharus nya emang ada jam sekarang Kak. Tapi di batalin sama Bang Kevin. Kata Bang Kevin dia ada urusan yang gak bisa di tinggal kan. Rapat nya kita reschedule ke malam ini."
Penjelasan dari Riyan membuat Keisya melemas. Jadi, Kevin membohongi nya mengenai rapat." Makasih informasi nya, Yan. Gue balik ke fakultas gue aja kalau gitu."
"Kak, mau gue anterin ke fakultas lo?"
Keisya menggeleng pelan. "Gue bisa jalan kaki. Kaki gue masih berfungsi dengan baik, kok."
"Tapi jarak dari FISIP ke fakultas lo jauh, Kak."
"Santai. Sekalian olahraga gue. Gue duluan ya Yan. Sekali lagi makasih banyak informasi nya."
Keisya melambai pelan ke arah Riyan lalu berjalan kaki menuju gedung fakultas nya sendiri. Ia memang naik taxi ke kampus. Keisya tidak enak jika harus meminjam mobil Mamah lagi.
Keisya Calief : Kamu gak ada di kampus ternyata, hehe.
Keisya mengirim pesan itu pada Kevin. Gadis itu berjalan gontai menyusuri jalanan kampus. Hari memang sudah sore, bahkan sebentar lagi senja. Keisya menghela nafas nya pelan.
__ADS_1
"Kalau aja nih handphone gak pake ke tinggalan. Gak bakal kayak gini gue." monolog nua dengan kesal.
Keisya mencari kontak Papah ke muda menekan icon panggilan agar terhubung dengan Papah lewat sambungan telepon. Tidak berapa lama Papah menerima panggilan telepon dari nya.
Papah : Hallo.
Keisya : Hallo Pah. Papah di mana?
Papah : Di jalan mau pulang, sayang. Kenapa? Putri Papah yang cantik mau apa?
Keisya tersenyum tipis walaupun Papah tentu saja tidak melihat nya.
Keisya : Udah deket rumah ya Pah?
Papah : Belum. Kenapa sayang?
Keisya : Bisa jemput Keisya di kampus gak Pah?
Papah : Kamu masih di kampus?
Keisya : Iya, Pah. Tapi kalau Papah gak bisa, Keisya bisa pesen ojol atau naik taxi kok Pah.
Keisya mendengar Papah terkekeh pelan di seberang sana.
Papah : Jangan ke mana mana. Papah ke kampus buat jemput putri Papah yang paling cantik ini.
Keisya : Keisya tunggu di halte kampus ya, Pah. Terima kasih Papah. Keisya sayang Papah.
Setelah nya sambungan telepon mereka terputus. Keisya menghela nafas nya panjang. Ia sangat beruntung memiliki Papah seperti Papah nya.
"Papah definisi paling mutlak dari cinta pertama Keisya."
***
Kevin mengusap wajah nya yang basah ketika naik ke permukaan. Cowok itu kemudian duduk di tepian kolam renang dan menenggelam kan setengah kaki nya ke dalam air.
Jika sudah suntuk dan hampir meledak, Kevin memang akan berlama lama berada di dalam air dan berenang tanpa henti. Tak peduli meski pun badan nya sudah hampir menggigil sekarang. Emosi nya harus di dingin kan dengan air.
"Udah Kevin. Kamu berenang dari satu jam yang lalu."
Kevin menatap sosok wanita paruh baya yang melahir kan nya. "Nanti Ma. Kevin masih mau berenang."
"Jangan ngaco kamu. Bibir kamu udah pucet gitu. Kevin, Mama gak mau kamu sakit. Udah kamu nya jarang di rumah Mama gak mau sekali nya kamu lama di rumah eh malah sakit.
Kevin tidak menghirau kan ucapan Mama nya. Ia malah kembali menyebur kan diri ke dalam kolam hingga membuat Mama nya memekik.
"Perlu Mama telepon Keisya buat marahin kamu biar kamu nurut?"
Kevin menghela nafas pelan. "Janji tiga puluh menit lagi. Setelah itu Kevin ke kamar, Ma."
"Janji ya?"
__ADS_1
"Iya Mama."
Mama tersenyum kecil dan kembali masuk rumah, meninggal kan Kevin di kolam renang sendirian. Kevin berenang menyusuri kolam renang yang ada di rumah nya agar pikiran nya lebih tenang.
"Arrghhhh," geram nya tertahan ketika pikiran nya terus saja tertuju pada gadis nya.
Kevin menyerah, ia memilih menepi dari kolam renang dan naik ke permukaan. Kevin mengibas kan rambut nya yang basah. Cowok itu meraih bathrobe nya dan berjalan menuju kamar. Setelah mengena kan baju santai nya, Kevin menaiki tempat tidur tanpa mengambil handphone nya yang tergeletak di nakas dalam keadaan mati.
Sengaja ia mati kan lebih tepat nya.
"Apa ke khawatiran aku gak bernilai sama sekali di mata kamu, Kei?"
***
"Kevin, bangun. Kata nya kamu ada rapat jam 20:00?"
Mama yang tadi nya hendak mengusap lembut kepala Kevin di buat terkejut karena suhu badan anak nya itu hangat. Nyaris panas bahkan.
"Vin, heyy."
Mama menepuk nepuk pelan pipi Kevin agar Kevin bangun. Cowok itu hanya berdehem kecil dan mengeliat pelan. Mata nya terbuka dan menyungging kan senyum saat menyadari keberadaan Mama nya.
"Hai Mam." sapa nya dengan suara parau nya. Entah karena baru bangun tidur atau karena keadaan nya yang memang sedang tidak baik baik saja.
"Nak, badan kamu panas. Rapat nya di tunda aja ya? Kamu istirahat di rumah aja. Ya sayang ya?" bujuk Mama pelan.
Kevin tersenyum lembut. Ia bangkit dari posisi nya dan menyandar kan tubuh nya pelan ke sandaran ranjang. "Kevin oke, Mam."
"Oke dari mana? Badan kamu deman, Vin."
Kevin meraih tangan Mama nya dan ia kecup pelan punggung tangan itu. "Kevin baik baik aja, Mama. Kevin mandi bentar, panas nya bakal ilang setelah Kevin mandi."
Mama menatap Kevin yang berjalan hati hati menuju kamar mandi nya. Mama menghela nafas pelan.
"Ma," panggil Kevin tiba tiba. Ia menghenti kan langkah nya dan berbalik menatap Mama nya yang masih duduk di tepi ranjang.
"Kenapa Vin?"
"Jangan kabarin Keisya kalau Kevin sakit. Kevin gak mau bikin dia cemas, Ma."
Mama tersenyum canggung ketika putra nya itu mengetahui rencana nya. Kalau sudah lebih dulu di peringat kan begini, mana berani Mama mengabari Keisya mengenai kondisi Kevin. Bisa bisa anak nya itu marah dan tidak mau bertegur sapa dengan nya.
"Iya." jawab Mama pelan.
Kevin mengangguk kecil kemudian memasuki kamar mandi nya untuk mandi.
.
.
.
__ADS_1
...Bersambung.... ...