Percintaaan Seorang Ketua BEM

Percintaaan Seorang Ketua BEM
Hati Yang Kretek-Kretek


__ADS_3

Keisya kembali mengenakan kaca mata hitamnya dan memasuki ruangan Kevin dengan Vina yang ada di belakangnya.


"Hai," sapa Keisya ramah. Keisya meletakkan kue yang ia bawa di atas nakas yang berada tidak jauh dari tempat tidur Kevin.


Vina melirik sinis Sindi yang menundukkan kepalanya. "Dasar gatel," cibir pelan Vina namun masih bisa di dengar oleh Sindi. Gadis itu sampai mendongak menatap Vina yang di balas Vina dengan salah satu alisnya yang terangkat.


"Sorry gue ganggu," ucap Keisya tenang dengan menatap Kevin dan Sindi bergantian.


"Kei," tegur Kevin pelan.


Kevin menarik pelan lengan Keisya hingga membuat gadis itu lebih dekat dengannya. "Kok tau aku di sini?" tanya Kevin lembut.


"Gue tau dari Windi. Maaf ke sini tanpa ngabarin lo, Vin."


Tangan Kevin bergerak ingin mengambil kaca mata Keisya, namun gerakannya terhenti ketika Keisya menjauh darinya.


Dering telepon yang berasal dari handphone Keisya membuat Keisya langsung menjauh beberapa langkah dari Kevin. Keisya menerima panggilan itu kemudian terhubung dengan Mamah nya lewat sambungan telepon.


Keisya : Iya Mamah?


Mamah : Kok jam segini belum pulang, Kei?


Keisya menatap sejenak jam tangannya yang ada di tangan kiri. Ini sudah sangat sore, pantas saja Mamah nya menelpon.


Keisya : Maaf Mah, Keisya pulang sekarang ya.


Mamah : Hati-hati sayang.


Keisya : Iya Mah.


Setelahnya ia menutup sambungan teleponnya dengan Mamah. Keisya mengambil napas nya dalam.


"Vina, ayo balik. Mamah udah ngomel karena gue belum pulanh," tutur Keisya.


Keisya menoleh menatap Kevin dan Sindi bergantian. "Cepet sembuh, Vin. Gue sama Vina balik dulu."


"Kamu baru nyampe masa udah mau pulang?" tanya Kevin lembut. Ia ingin sekali membuat gadis itu dekat dengannya, namun jaraknya dengan Keisya cukup jauh.


"Mamah gue udah nyariin. Lagian di sini udah ada yang nemenin lo, Vin."


"Eum, Sindi juga udah mau pulang kok, Kak." kata Sindi menimpali.


"Bby."


"Keisya." koreksi Keisya ketika mendengar Kevin memanggilnya 'Bby'.

__ADS_1


Vina menarik Keisya agar gadis itu lebih dekat dengannya. Vina kemudian merangkul erat Keisya dan menatap tajam Kevin. "Lo gak punya hak manggil di 'Bby'. Cuman pacarnya yang boleh manggil itu," tutur Vina galak.


"Gue pacarnya," ucap Kevin telak.


"Pacar?" ulang Vina lagi. Vina menatap Keisya kemudian, "Dia pacar lo Kei?" tanya Vina memastikan. Vina menatap tajam Keisya yang tak kunjung menjawab pertanyaannya.


"See? Sahabat gue gak mengiyakan pertanyaan gue. Lo tau kan artinya Ketua BEM FISIP yang terhormat?"


Vin menarik pelan Keisya keluar dari ruangan Kevin. Vina membanting kasar pintu itu hingga membuat suara dentuman yang cukup keras.


"Vin lo gila?" tutur Keisya yang ikut kaget mendengar suara dentuman pintu itu.


"Iya. Gue gila karena kelakuan cowok lo yang berengsek nya melintasi angkasa raya."


Keisya terkekeh pelan mendengar penuturan Vina. Ia mengusap-ngusap pelan pundak Vina dengan lembut. "Gue yang harusnya marah, Vin. Kenapa jadi lo yang mencak-mencak?" kekeh Keisya pelan.


Vina menatap Keisya sendu. "Jangan sok kuat depan gue. Hati lo kretek-kretek kan liat Kevin pelukan sama cowok lagi?" selidik Vina mantap.


Keisya menghela napas nya dalam. "Mungkin Sindi yang dia mau. We never know, Vin," tutur Keisya santai sembari berjalan mendahului Vina.


"Lagian tuh cewek kayaknya minta di garuk deh, Kei. Gatel banget sama cowok lo."


***


Kevin mengusap wajahnya kasar ketika Keisya dan Vina keluar dari ruang rawatnya. Kevin menghela napas nya pelan. "Sin lo pulang aja gak papa," tutur Kevin pelan.


"Gak papa. Gue bisa sendiri. Lagian ada banyak perawat di luar. Gue bisa minta tolong mereka kalau gue perlu sesuatu."


"Bang Kevin yakin?" tanya Sindi memastikan.


Kevin mengangguk pelan. "Makasih udah jengukin gue," ucap Kevin tulus.


"Makasih juga buat yang tadi, Bang. Ceweknya Bang Kevin sampai salah paham gitu," tutur Sindi tidak enak. Walaupun di dalam hatinya terselip kesenangan tersendiri karena berpelukan dengan Kevin.


"Santai. Gue bisa handle soal cewek gue nanti."


Sindi tersenyum tipis lalu meraih tas nya yang ada di atas nakas. "Kalau begitu, Sindi pamit pulang ya Bang. Cepet sembuh," ucap Sindi tulus.


"Makasih, Sin."


Sindi keluar dari ruangan Kevin meninggalkan cowok itu sendirian di ruang rawatnya. Kevin menghela napas nya pelan lalu mengusap wajahnya kasar. Matanya kemudian tidak sengaja menatap barang bawaan Keisya yang gadis itu letakkan di atas nakas.


Pelan-pelan Kevin beranjak dari tempat tidurnya untuk mengambil barang itu. Kevin tersenyum tipis melihat brand kue favoritnya. "Pasti rasa Matcha," gumam Kevin pelan.


Kevin memotong kue itu dengan ukuran yang tidak terlalu besar, kemudian mengambilnya sepotong. Kevin kembali menuju tempat tidurnya dan menikmati potongan kue itu hingga habis. "Kei, you enough for me."

__ADS_1


Kevin mengingat kejadian semalam, di mana ia begitu mudah mengutarakan agar mereka masing-masing. Sungguh, Kevin tidak benar-benar serius mengatakan itu. Ia hanya tersulut rasa emosi sesaat.


Ceklek.


Pintu kamar kembali terbuka dan memperlihatkan Mamanya yang menatap ke sekeliling ruangan. "Keisya mana?" tanya Mama heran ketika tidak menukan Keisya di kamar rawat Kevin.


Kevin mengernyit bingung mendengar pertanyaan Mamanya ini. Mungkin tadi berpapasan dengan Keisya saat gadis itu hendak ke ruang rawatnya. Kevin menghela napasnya pelan sebelum menjawab pertanyaan Mamanya. "Pulang Ma," jawab Kevin.


Mama membolakan matanya dan menutup pintu kamar. "Kenapa pulang?" tanya Mama merasa aneh.


"Di cariin Mamah. Mama kenapa cepet banget?" tanya Kevin berusaha mengalihkan topik.


Mama meringis kecil. "Kunci mobil Mama ketinggalan di laci nakas," ucap Mama polos. Bukannya langsung mengambil kunci yang katanya ketinggalan, Mama malah langsung duduk di kursi samping tempat tidur Kevin.


"Kamu sama Keisya beneran break?"


Uhuk uhuk.


Kevin sampai terbatuk mendengarkan pertanyaan yang di lontarkan Mamanya. Dari mana Mamanya tau soal itu. "Keisya cerita ke Mama?" tanya Kevin halus.


"Bukan Keisya. Tadi temannya itu yang kelepasan ngomong depan Mama."


Kevin ber-oh ria mendengar penuturan Mamanya. Maksud Mamanya itu pasti Vina. Siapa lagi kalau bukan Vina.


"Kamu beneran break sama Keisya?" tanya Mama lagi.


Kevin hanya diam. Cowok itu asik memainkan handphone nya dengan berselancar di dunia maya.


"Vin, Mama nanya loh ini.


"Aku gak serius waktu ngomongin itu Mam."


"Kamu gak serius, tapi Keisya?"


Mama merebut handphone Kevin pelan. Cowok itu dengan terpaksa menatap ke arah Mamanya. "Ma, please, bisa kita bahas ini nanti? Aku pusing, Ma." tuturnya memohon.


"Oke, kita bahas nanti. Mama pulang dulu buat ambil beberapa perlengkapan kamu."


.


.


.


...Bersambung......

__ADS_1


SORRY YAH GUYS BARU UP🤧


__ADS_2