
"Hari ini di liburin sama dosen mengampunya." jawab Kevin.
Kevin menyerahkan helm untuk Keisya.
"Bang Kevin."
Keisya dan Kevin sontak menoleh ke sumber suara. Keisya menatap perempuan yang tidak asing menurut nya. Memori otak nya lantas menjawab ketidak asingan itu. Ia memang pernah bertemu dengan perempuan itu di taman kampus. Kevin pernah membawa perempuan itu turut serta menemui nya di sana.
"Sindi?" tanya Kevin heran dengan ke datangan Sindi tiba tiba.
Kevin heran mendapati Sindi berada di daerah fakultas psikologi. "Kenapa lo bisa ada di sini, Sin?" tanya Kevin heran. Jarak antara fakultas sosial dan fakultas psikologi cukup jauh padahal.
"Gue sengaja nyusulin Bang Kevin." kata gadis itu santai.
Kevin mengernyit. "Ada perlu sama gue?" tanya nya.
"Iya Bang." jawab Sindi.
Kevin menghela nafas nya pelan. "Telepon kan bisa, Sin? Ngapain lo jauh jauh nyamperin gue kesini lo udah sehat?" tanya Kevin terhadap kondisi Sindi yang sempat drop.
Keisya menoleh menatap Kevin ketika menangkap ada hal yang tidak ia sukai. Walaupun begitu sebisa mungkin Keisya tetap menutupi nya.
" Udah Bang. Oh yah, Sindi mau ngasih ini ke Bang Kevin?" jawab Sindi.
Sindi menyodorkan paper bag berukuran sedang ke arah Kevin.
Kevin menatap paper bag itu dengan heran. "Gue lagi gak ulang tahun, Sin." kata Kevin pelan.
"Ini ucapan terima kasih dari Sindi karena waktu itu Bang Kevin ngurusin Sindi di rumah sakit sampai nganterin Sindi balik ke kos lagi. Makasih yah Bang." ucap Sindi tulus.
Keisya menahan nafas nya mendengar penuturan Sindi yang begitu lancar mengatakan itu. Tidakkah perempuan itu menyadari keberadaan nya di sini. Kevin menatap Keisya singkat kemudian kembali menatap paper bag yang di sodorkan oleh Sindi.
"Eum, Sin. Gue nolongin lo ikhlas, lo adik gue di kampus, apa pun yang terjadi sama lo di organisasi mutlak tanggung jawab gue. Jadi lo gak perlu kasih gue apa pun untuk iti." ucap Kevin halus.
__ADS_1
"Tapi, Bang - - - -."
Keisya mengambil paper bag yang di sodorkan Sindi dengan pelan. "Pemberian lo gue pastiin di terima kali ini. Tapi lain kali, lo gak perlu repot repot kayak gini. Kevin itu ketua BEM dan lo pengurus muda nya kan? Wajar kalo Kevin nolongin lo, karena pacar gue merasa bertanggung jawab atas lo karena lo bagian dari ke pengurusan organisasi yang dia pimpin." tutur Keisya dengan lembut namun rasa nya sangat menusuk bagi Sindi.
"Maaf ya Kak kalo bikin lo cemburu." cicit Sindi pelan.
Keisya terkekeh pelan. "Gue gak cemburu, Sindi. Gue cuman bantuin Kevin menjelaskan apa yang harus nya lo pahami. Kita sesama perempuan, jadi gue ngerasa akan jauh lebih muda lo pahamin kalo gue yang ngomong. Iya, kan?" ucap Keisya tegas.
Sindi tersenyum terpaksa. "Kalau gitu, Sindi pamit dulu ya Kak, Bang. Maaf udah ganggu waktu kalian." ucap nya sopan lalu pergi dari sana.
Setelah Sindi mulai menghilang dari pandangan nya, Keisya menoleh menatap Kevin dengan sorot mata dingin nya. "Nih pegang," kata nya ketus sembari menyodorkan paper bag yang ia terima dari Sindi tadi.
"Kenapa di terima kalau kamu sebenar nya gak mau aku terima itu, hem?" tanya Kevin lembut.
Keisya mencebikkan bibir nya mendengar penuturan Kevin. "Kasian dia jauh jauh ke sini bawa hadiah itu buat kamu." ucap nya ketus.
Kevin mengambil alih paper bag itu dan meletakkan nya di atas motor. Sementara ia meraih bahu Keisya untuk mengarahkan gadis itu agar berdiri menghadap nya. "Soal Sindi, nanti aku jelasin di tempat kita makan ya?" tawar Kevin halus.
"Kenapa gitu? Tadi kata nya mau makan ayam geprek?" tanya Kevin.
"BM nya udah ganti sekarang mau mie ayam yang sering di makan Vina." ucap Keisya.
"By," lirih Kevin pelan. Ia mengusap pundak Keisya, "Bete nya hilangin dulu yuk. Aku mau makan siang sama kamu di luar kampus. Setelah makan kita keliling kota, mau?" tawar Kevin. Ia harap Keisya tergiur dengan penawaran nya.
"Tapi aku udah gak mau ayam geprek lagi. Mau nya mie ayam yang sering di makan Vina." ucap Keisya.
Keisya dan keras kepala nya yang kadang membuat Kevin harus menahan ke geraman nya. "Gimana kalau kita explore mie ayam yang di luar kampus? Pasti ada yang gak kalah enak sama yang di sini." kalau Keisya keras kepala, Kevin juga harus bersikeras membujuk perempuan itu agar melunak.
"Ren." rengek Keisya pelan. Ia sudah kehilangan mood untuk keluar, rasa nya ia ingin bersama Vina saja agar ia bisa menumpahkan segala kesal nya yang hampir meledak.
"Please, By. Kapan lagi kita bisa makan siang di luar tanpa kejar kejaran sama waktu perkuliahan? Aku juga lagi free sama urusan organisasi aku." tutur Kevin hampir putus asa.
Melihat Keisya dengan segala diam nya membuat Kevin menghela nafas panjang. "Ya udah kalau kamu mau nya makan di sini aja, ayo kita makan di sini." lanjut Kevin yang lebih memilih mengalah.
__ADS_1
Kevin mengulurkan tangan nya untuk mengambil alih helm yang di pegang Keisya namun bukan nya memberikan benda itu, Keisya semakin memegang nya erat. "Kei?" panggil Kevin pelan.
Keisya menatap Kevin sendu lalu kembali memakai helm yang di bawakan Kevin.
"Kei?" tanya Kevin heran karena Keisya kembali memakai helm nya.
Keisya menepuk pundak Kevin pelan. "Ayo kita makan di luar, terus keliling kota kayak yang kamu bilang tadi." kata Keisya mantap.
Kevin terdiam sejenak. "Gak jadi makan mie ayam yang sering di makan Vina?" tanya Kevin memastikan.
"Tadi ngajakin explore mie ayam yang di luar kampus. Aku udah mau begini kamu nya malah gitu." ucap Keisya setengah kesal.
Kevin tersenyum lembut. "Gini donh dari tadi." ucap nya.
Keisya mengambil paper bag yang tadi di letakkan Kevin di atas motor nya. "Biar aku aja yang pegangin." tawar Keisya.
"Terima kasih kesayangan nya, Renda." ucap Kevin dengan manis.
***
Setelah berkenala beberapa menit menyusuri jalanan, akhir nya dua sejoli itu memutuskan makan di salah satu kedai mie ayam yang cukup ramai di pinggir jalan. Kedua nya duduk di tempat lesehan setelah memesan.
Keisya menyodorkan paper bag pemberian Sindi tadi ke hadapan Kevin. "Nih punya kamu." ucap nya pelan.
.
.
.
...Bersambung.. ...
SELAMAT MEMBACA 🤗 INGET JANGAN LUPA TINGGALKAN LIKE DAN KOMEN KALO BISA SEKALIAN FAVORITKAN🙏😇
__ADS_1