Percintaaan Seorang Ketua BEM

Percintaaan Seorang Ketua BEM
Wah Kacau Tuh Cewek


__ADS_3

"Bang," panggil Sindi lagi dengan meraih tangan Kevin yang berada di stir mobil.


Kevin sontak menoleh dengan perbuatan Sindi yang demikian. "Sin tangan lo," tegur Kevin dingin.


"Sindi, minta maaf Bang."


"Tangan lo, Sindi Fadilah."


Sindi kembali menarik tangannya dari tangan Kevin dan menunduk dalam. "Sindi cuman mau minta maaf Bang," cicit gadis itu lembut.


"Gue lagi pusing Sin. Mending lo diem."


Akhirnya setelah sekian lamanya perjalanan, mereka akhirnya sampai di panti tempat kegiatan baksos di laksanakan. Kevin membuka bagasi mobil kemudian mengeluarkan kursi roda milik Sindi.


"Bangggg gue aja yang nurinin Sindi."


Kevin yang hendak menggendong Sindi untuk memindahkan gadis itu ke kursi roda sontak berhenti karena ucapan dari Riyan. Si Ketua pelaksana kegiatan.


"Bang, lo masuk aja. Kak Windi udah bete banget dari tadi nungguin lo," kata Riyan memberitahu.


"Oke. Gue tinggal ya."


Kevin berlari kecil memasuki halaman panti yang di penuhi dengan jejeran stand. Apa lagi sudah mulai banyak pengunjung yang berdatangan untuk meramaikan bazaar mereka. Kevin mendapati Windi duduk di stand khusus panitia dengan banyak berkas yang ada di hadapannya.


"Windi."


Kevin menarik salah satu kursi dan duduk di samping Windi yang masih sibuk memperhatikan kertas-kertas itu. "Win, gue tadi kejebak macet."


Mendengar perkataan Kevin membuat Windi menatap berang cowok itu. "Otw dari Bandung lo jam segini baru nyampe?"


"Gue minta maaf."


Windi menatap di sekeliling mereka masih banyak anak-anak panitia yang berkumpul. Windi menghela napasnya pelan. Tidak mungkin ia meluapkan kekesalannya sekarang ini. Itu akan sangat melukai harga diri Kevin sebagai seorang Ketua BEM Fakultas.


"Ikut gue, Vin."


Windi meninggalkan berkas-berkas itu di meja dan melangkah pasti menuju taman samping panti. Tempat yang ia gunakan saat berbicara dengan Riyan tadi. "Duduk lo," cetus Windi hingga membuat Kevin patuh begitu saja.


Kevin duduk di kursi sementara Windi berdiri dengan tangan yang bertumpu di pinggang. "Jabatan lo di sini apa?" tanya Windi mengintimidasi.


"Ketua BEM."


"Gimana seharusnya seorang ketua, Vin."

__ADS_1


Kevin terdiam mendapati pertanyaan dari Windi. Ia paham apa kesalahannya hari ini.


"Kenapa diem? Udah tau dimana letak kesalahan lo?"


Kevin mengangguk lemah. "Sorry Win. Gue gak bermaksud."


"Bermaksud atau enggak. Lo tetep aja melalaikan kewajiban lo sebagai seorang Ketua BEM, Kevin Narendra!"


"Gue jelasin. Lo harus dengerin ini Win, biar gak marah-marah."


Windi meletakkan telunjuknya di depan mulut, memberi isyarat agar Kevin tidak menjelaskan apa pun. "Dari pada lo ngejelasin hal yang gak penting ke gue. Mending balik ke stand sana, urusin urusan lo yang harusnya lo urus dari tadi pagi."


"Win."


"Gue gak mau dengerin itu sekarang."


Saat Windi hendak melangkah meninggalkan Kevin, cowok itu malah menahan lengan Windi hingga membuat langkahnya terhenti. "Lima menit, dengerin penjelasan gue." Kevin menjelaskan kejadian dengan Sindi tadi hingga membuatnya telat dateng ke kegiatan.


Windi membolakan matanya mendengar itu. "Sakit ke mental-mental tuh cewek," omel Windi kesal.


Windi menghempaskan tangan Kevin yang masih bertengker manis di lengannya. "Kemarin kan gue udah bilang kalau jangan pergi jemput Sindi. Biar Davin aja yang jemput. Davin udah ke sana, eh Sindinya malah udah gak ada. Lo bener-bener aneh Vin. Gue kayak gini karena mau nolongin lo biar gak ribut mulu sama Keisya."


"Davin jemput jam berapa?"


Kevin menggeleng polos. "Gue jemput dia jam setelah tujuh."


"Wah kacau tuh cewek."


Kevin menghela napasnya panjang mendengar itu. "Gue udah niat mau jauhin dia, Win. Tapi, entah kenapa selalu aja ada cara semesta buat bikin dia deket sama gue."


"Kevin, Kevin, percaya diri banget ya lo ngomong kayak gitu."


Windi menepuk pelan pundak Kevin. "Setiap kejadian punya tujuannya sendiri, dan setiap orang punya pilihannya sendiri. Bisa aja ini adalah bentuk cara semesta nguji lo, Kevin. Lo teguh sama kemauan lo jauhin dia buat jaga perasaan cewek lo. Atau lo kembali kalah sama rasa ketidak berdayaan lo."


Windi mengambil napas untuk memberi jeda. "Lo itu Ketua BEM Fakultas. Lo udah biasa menimbang-nimbang segala keputusan yang lo ambil, dari segi dampak dan keuntungan. Jadi gue rasa, gue gak perlu ngomong panjang lebar untuk ngasih tau lo sesuatu yang bahkan lo udah pinter ngelakuin itu."


Kevin merasakan tepukan beberapa kali di pundaknya. Cowok itu melihat Windi tersenyum tipis sebelum meninggalkannya.


"Win, terima kasih udah jadi sekretaris yang luar biasa buat gue."


Kevin kemudian menyusul Windi kembali ke lingkungan bazaar dan melakukan tugasnya sebagai seorang Ketua BEM. Cowok itu menghampiri Riyan yang sedang bersama Sindi di stand panitia.


"Aman Yan?" tanya Kevin.

__ADS_1


"Aman, Bang."


"Rendra."


Kevin menoleh mendengar suara yang paling di kenalinya, seorang gadis menghampirinya dengan senyum manis yang selalu membuat Kevin kecanduan.


"By, kok ke sini?"


Kevin menarik lengan Keisya agar jarak mereka kian menipis. Cowok itu menjawil pelan hidung mancung kekasihnya. "Ngapain heum?" tanya Kevin lembut.


"Udah sarapan?" tanya balik Keisya tanpa menjawab pertanyaan dari Kevin.


"Udah, By."


Kevin menoleh pelan ke arah Sindi yang juga mendongak menatapnya.


"Oh udah? Aku bawain makanan buat kamu. Buat makan siang nanti kalau gitu."


"Sorry Kak, tapi di ke panitiaan udah di sediain makan siang."


Kevin menatap Fera yang mengatakan itu, "Fer," tegur Kevin pelan.


Keisya mau tidak mau menoleh menatap Fera, lalu fokusnya teralih ke Sindi yang duduk di kursi roda. "Sindi, lo kenapa?" tanya Keisya penasaran.


"Jatuh, Kak."


Kei menatap Sindi prihatin. "Get well soon Sin," ucap Keisya tulus. Walaupun ia sedikit tidak menyukai Sindi, namun bukan berarti ia menghilangkan rasa simpatiknya pada gadis itu.


"Untung aja yang bikin jatuh tanggung jawab, iya kan Sin?"


Kevin memejamkan matanya mendengar pertanyaan Fera untuk Sindi. Mulut adik tingkatnya yang satu ini memang sepertinya membutuhkan rem, agar tidak selalu kelepasan. Fera seperti tidak jera dengan peringatan yang di layangan Andre tempo hari.


" Lo jatoh apa di tabrak Sin?" tanya Keisya lagi.


"Eh, Kak lo dateng sendirian?" tanya Riyan tiba-tiba.


Keisya yang tadinya fokus menatap Sindi yang duduk di kursi roda kemudian menatap Riyan yang menyodorkan pertanyaan untuknya. "Gue dateng sama Vina. Dia lagi sama Windi kayaknya," kata Keisya menjawab.


.


.


.

__ADS_1


...BERSAMBUNG .... ...


__ADS_2