
"Lo lebih cocok sama Sindi, Vin."
Perkataan Keisya sontak membuat Kevin melepaskan pelukannya dan menatap lekat gadis itu. "Coba ulangin."
Keisya merinding mendengar perkataan Kevin dengan nada yang begitu dingin dan datar. Keisya menggigit bibir bawahnya guna menahan kegugupan yang tiba-tiba meronta dirinya. Apa lagi sekarang Kevin berdiri dari duduknya membuat Keisya harus menahan napas.
"Coba ulangin," kata Kevin lagi.
"Lo lebih cocok sama Sindi, Vin." cicit Keisya takut-takut.
"Lo udah gak sayang gue, Kei?"
Perkataan itu membuat Keisya langsung mendongak dan menatap Kevin. Maklum tingginya dengan Kevin memang cukup mencolok jaraknya.
"Jawab gue, Kei."
Keisya tidak menjawab apa pun. Gadis itu hanya menatap kedua netra mata Kevin dalam. Apakah pertanyaan itu pantas di pertanyakan setelah sekian lama mereka menjalin hubungan?
"Lo mau jawaban yang kayak gimana?" tanya Keisya memberanikan diri.
Keisya menyeringai tipis. "Enam tahun gue sama lo, Vin. Masih sampai hati lo nanyain itu ke gue?" lanjut gadis itu lagi.
"Kalau lo sayang sama gue. Lo gak akan ngecocok-cocokin gue sama cewek lain, Kei. Apa lagi sama Sindi yang cuman sebatas pengurus muda di organisasi gue."
Keisya terkekeh sinis lalu menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar ucapan Kevin. "Cuman sebatas pengurus muda?" tanya Keisya meremehkan.
Kevin mengangguk mantap. Ia dan Sindi memang hanya sekedar patner di organisasi.
"Cuman sebatas pengurus muda tapi sampai pelukan? Are you okay, Vin? Atau jangan-jangan kamu kayak gitu sama semua anak-anak organisasi kamu?"
Hilang sudah rasa kegugupan Keisya yang ia rasakan tadi.
"Apa yang gak gue ngertiin dari lo Vin?" tanya Keisya lagi.
Gadis itu menarik napasnya dalam, matanya sudah berembun dengan hidung yang mulai memerah. "Lo selalu sibuk sama dunia organisasi lo, gue coba ngertiin. Lo ingkar janji karena lebih mentingin ngurusin Sindi yang sakit, gue ngertiin, karena gue rasa itu bagian dari tanggung jawab lo sebagai ketua. Lo bilang mau balikin hadiah dari Sindi, tapi apa? Lo malah pake jam tangannya, bahkan lo ikutan ngerayain ulang tahun dia. Lo bahkan gak tau saat itu gue lagi krisis kepercayaan diri karena omongan-omongan penggemar lo yang nyakitin, Vin. Mereka gak tau gue tapi mereka ngomongin gue seakan-akan mereka kenal sama gue, hikss. Mereka nakal. Mereka bilang gue gak pantes buat lo."
__ADS_1
Pecah sudah tangisan Keisya, gadis itu meluapkan segala kekesalannya pada Kevin yang ada di hadapannya saat ini. "Gue capek," lirihnya lagi dengan isakan yang sungguh membuat hati Kevin tercubit.
Kevin menarik gadis itu ke dalam pelukannya dan mengusap lembut punggung Keisya. Ia sengaja memancing emosi gadis itu agar meluapkan segala hal yang ia tahan selama ini. Kevin hanya ingin Keisya menceritakan semua perasaannya.
Dan pancingan Kevin berhasil. Ia memejamkan mata mendengar tangisan Keisya yang semakin pilu.
"Sakit banget ya?" tanya Kevin lembut. Usapannya pada punggung Keisya tidak berhenti.
"Rendra, aku gak pantes buat kamu." racaunya lagi.
Kevin mengecup lama pucuk kepada Keisya. Krisis kepercayaan diri Keisya lah yang paling di khawatirkan Kevin mempengaruhi hubungan mereka.
"Jangan dengerin mereka."
"Gak bisa. Aku punya telinga dengan fungsi yang masih sangat baik, Vin. Semua perkataan mereka masuk ke otak aku.
Kevin melepaskan pelukannya dengan Keisya. Cowok itu kemudian menangkup wajah Keisya, dengan telaten Kevin mengusap pipi Keisya yang basah karena air mata. "Kei, kamu gak perlu ngejelasin apapun tentang kamu ke mereka. Karena yang suka sama kamu gak perlu itu, dan yang gak suka sama kamu gak percaya itu.
"Kei, jangan bikin diri kamu kerdil karena mikirin pendapat orang lain. Kamu gak akan berkembang kalau kamu selalu dengerin apa kata mereka. Cukup dengerin diri kamu sendiri By."
"Sejak kapan aku peduli sama omongan orang lain soal hubungan kita?"
Keisya terdiam mendengar pertanyaan Kevin. Sedari dulu, cowok itu memang tidak pernah memikirkan pendapat orang lain mengenai hubungan mereka.
"Merasa gak berkontribusi apa-apa soal hubungan kita, By. Jadi aku mohon, jangan bebani pikiran kamu dengan omongan mereka yang sok tau."
Keisya cemberut kecil mendengar itu. Bagaimana bisa ia tidak memikirkan omongan-omongan itu. Segala hal yang terlontar dari mereka terdengar di Indera pendengaran Keisya meskipun samar-samar. Tapi apa yang mereka bicarakan sangat Keisya pahami bagaimana maksud dan tujuannya.
"Wajar gak sih penggemar kamu mau yang terbaik buat idolanya?" tanya Keisya lagi.
Kevin tersenyum tipis. "Wajar, By. Tapi balik lagi, persepsi setiap orang itu beda. Yang terbaik dari sudut pandang mereka, belum tentu juga jadi yang lebih terbaik dari sudut pandang sisi idola. Biar bagaimana pun, yang ngejalanin kan idolanya."
***
Keisya dengan telaten menyuapkan Kevin makan siang. Cowok itu sedari tadi mengomel karena mendapatkan menu makan siang bubur. Kenapa bubur? Supaya mudah di cerna oleh lambungnya lang mengalami maagh
__ADS_1
"Udah Kei, mau muntah aku."
Keisya menghela napas pelan mendengar itu. Ia kemudian mengambilkan segelas air putih untuk Kevin dan menyodorkan nya pada cowok itu. "Nih minum," ucap Keisya pelan.
Kevin menerima gelas itu dan meminum air putih beberapa tegukan saja. Sungguh perutnya sangat tidak nyaman sekarang ini. Seperti habis menaiki wahana ekstrim yang mengocok perutnya.
"Mangkanya kalau di bilangin jangan ngeyel. Magh kan akhirnya?" omel Keisya.
Keisya memang sering kali mendapati Kevin yang melewatkan jam makannya. Entah itu makan siang, ataupun sarapan yang sengaja ia lewatkan karena mengejar waktu. Padahal jika Kevin menemui Keisya yang melewatkan jam makannya, cowok itu pasti akan mengomel panjang lebar. Namun tidak ia terapkan pada diri sendiri. Menyebalkan bukan?
"Iya By, maaf."
"Minta maaf sama diri kamu sendiri."
Ah iya, mereka memang sudah berbaikan setelah Keisya meluapkan hal yang ia pendam. Kevin sendiri berusaha sebisa mungkin agar lebih baik mengatur waktunya agar semuanya lebih seimbang.
"Kamu gak ada kelas hari ini?" tanya Kevin.
Keisya menggeleng pelan, lalu mengambil sebuah apel di nakas. Keisya menggigit apel itu karena ia merasa lapar. Lumayan lah buat ganjel.
"Aku delivery in makanan sini, kamu mau makan apa?" tanya Kevin yang sudah meraih handphone nya.
Keisya menggeleng pelan. "Nanti aja," jawab Keisya singkat.
"Kenapa nanti?"
"Gak apa."
"Kei," tegur Kevin pelan. "Jangan sampai aku sembuh terus malah kamu yang sakit."
.
.
.
__ADS_1
...Bersambung......