
Tanpa menyebutkan nama pun, Windi tau siapa yang di maksud oleh Vina. "Kepo juga kan, lo?" kata Windi menelisik.
"Penasaran aja sih. Dia kan tengilnya naudzubilla banget. Kaget aja cowok modelan begitu bisa di jadiin ketua pelaksana, kan?"
Windi tertawa geli mendengar ucapan Vina.
"Permisi, ini pesanannya Kak."
Saat hendak menjawab pertanyaan dari Vina, seorang pramusaji meletakkan makanan dan minuman yang telah mereka pesan sebelumnya. Keisya menatap antusias makanan dan minuman miliknya. "Terima kasih Kak," ucap Keisya tulus sebelum pramusaji itu pergi dari hadapan mereka.
"Pas banget. Cerita-cerita sambil makan. Ye, kan?" ucap Vina heboh.
Mereka mengambil makanan dan minuman yang sesuai dengan apa yang mereka pesan.
"Percaya gak kalau Riyan itu beda banget kalau lagi mimpin rapat atau lagi kegiatan?" tanya Windi membuka obrolan. Lagian ini akan menjawab pertanyaan Vina tadi.
"Beda gimana?" tanya Keisya belum konek.
"Ya beda. Riyan itu bisa menyesuaikan diri. Kalau di luaran tuh anak emang slengekannya bukan main. Tapi kalau lagi rapat atau pun ngurusin kegiatan, beuh damagenya gak main-main. Gak ada yang gak terpesona sama tuh anak."
Apa yang di katakan Windi bukan hal yang di ada-adain oleh gadis itu. Semua yang ia tuturkan memang benar. Riyan itu memang sangat pandai menyesuaikan diri. Cowok itu tau kapan ia harus serius, dan kapan ia harus slengekan seperti biasa.
"Dia kan adek lo, mana mungkin lo jatohin tuh anak," sahut Vina yang tak yakin dengan penuturan Windi.
Windi melemparkan asal satu kentang gorengnya ke arah Vina. "Mana bisa gue muji-muji kalau gak dari kenyataannya sih?"
Windi tiba-tiba saja menatap intens Vina yang ada di hadapannya. "Mungkin gitu, lo jangan sampai jatuh hati sama tuh cowok satu ya Vin. Gue gak mau lo salah naruh perasaan."
Uhuk uhuk.
Vina sampai tersedak makanannya mendengar apa yang di ucapkan Windi.
"Minum, minum," kata Keisya panik. Cewek itu menyodorkan minuman milik Vina ke arah Vina.
Vina menyedot dengan rakus minumannya.
"Sampe ke selek gitu," cibie Windi geli. "Salting ya?" tanya Windi menggoda.
"Enak aja."
Di tengah keributan Windi dan Vina, handphone Keisya berdering intens di atas meja. Gadis itu menatap sumringah ketika membaca siapa yang menelponnya.
"Eum, di telepon pacar nih," kata Vina mengejek.
Keisya mengedipkan sebelah matanya kemudian langsung mengangkat telpon dari Kevin.
Keisya : Halo.
Kevin : Hallo, By. Kamu lagi di mana? Kok rame.
Keisya terkekeh pelan mendengar pertanyaan Kevin.
Keisya : Aku lagi ngafe sama Vina dan Windi.
Kevin : Ada Windi juga?
Keisya : Iya, ada Windi. Kamu sendiri lagi di mana?
Kevin : Di rumah, By.
Keisya : Tadi pulang jam berapa sayang?
__ADS_1
Keisya tidak mendengar apa pun, sambungan telepon mereka masih terhubung namun di lingkupi ke heningan. Ada secuil ke curigaan di hati kepada.
Keisya : Sayang?
Kevin : Hm?
Keisya : Tadi pulang jam berapa?
Kevin : Pulang sore, By. Kenapa? Windi ngomong yang macem-macem ke kamu?
Keisya menghela napasnya lega. Jadi Windi tidak membohonginya kelau Kevin pulang sore. Syukurlah.
Keisya : Windi gak ngomong apa-apa, Ren.
Kevin : Aku pikir dia ngomong yang enggak-enggak ke kamu. Tuh anak kan jahil.
Keisya tertawa kecil mendengar ucapan Kevin.
Kevin : By?
Keisya : Hm?
Kevin : Boleh kasih handphone kamu ke Windi sebentar? Aku mau nanya soal masalah kegiatan tadi.
Keisya : Oh, boleh dong. Bentar.
Keisya menyodorkan handphonenya ke arah Windi.
"Apaan?" tanya Windi.
"Kevin mau ngomong sama lo."
Dengan malas Windi mengambil handphone Keisya dan mengarahkan beda pipih itu ke telinganya.
Kevin : Win.
Windi : Hm? Lo kenapa gak nelpon ke gua aja kalau mau ngomongin kegiatan?
Kevin : Makasih ya Win.
Windi : Iya, iya santai.
Kevin : Gue makasih karena lo gak kasih tau soal Sindi ke Keisya, Win.
Windi : Gue tau, udah ah gue males bahas itu. Capek banget nih gue ngurusin kegiatan, baru kelas tau Vin.
Kevin : Ya udah, lo bisa balikin handphonenya ke Keisya, Windi. Sekali lagi makasih banget. Gue tau lo selalu bisa gue andelin.
Windi : Yoi. Bye Vin.
Windi kemudian menyerahkan kembali handphonenya pada Keisya. "Nih cowok lo," ucap Windi lagi.
"Udah?" tanya Keisya halus.
Windi mengangguk dengan menampilkan jempolnya. "Aman," katanya lagi.
Keisya kembali meletakkan handphonenya ke telinganya.
Keisya : Gimana? Udah tenang sekarang?
Keisya mendengar Kevin tertawa di seberang sana.
__ADS_1
Kevin : Tau aja aku gak tenang mikirin kegiatan besok.
Keisya : I know you dude.
Kevin : By, jangan pulang ke maleman.
Keisya tidak bisa menyembunyikannya senyumnya mendengar apa yang di sampaikan Kevin. Perhatian dari cowok itu selalu saja terdengar begitu manis di telinga Keisya.
Keisya : Iya.
Kevin : Aku jemput aja ya?
Keisya : Ih gak perlu. Aku bisa pulang sama Vina kali.
Kevin : Aku gak tenang kalau gak liat keadaan kamu.
Keisya : Nanti, aku kabarin pas sampe rumah.
Kevin : Janji?
Keisya : Janji sayang.
Kevin : Ya udah, have fun sama teman-teman kamu ya.
Keisya : Kamu istirahat ya, Ren.
Kevin : Iya.
Keisya : Good Night.
Kevin : Byyyy.
Keisya terkejut mendengar panggilan Kevin yang tiba-tiba saat ia hendak menutup sambungan telepon itu.
Keisya : Apaan sih, bikin kaget.
Kevin : Tau kan By kalau aku sayang banget sama kamu. Jangan tinggalin aku ya kalau aku bikin kesalahan lagi dan lagi. I love you By. Good Night.
Keisya tiba-tiba terdiam kemudian menatap handphonenya yang sudah menampilkan menu. Itu artinya sambungan panggilan mereka sudah terputus.
"Kenapa lo?" tanya Windi aneh ketika melihat raut wajah bingung Keisya.
Vina sontak menoleh. "Kenapa Kei?" tanya Vina panik.
"Kevin aneh."
Windi meneguk salivanya susah payah, kemudian meraih minumannya dan meminum beberapa teguk. "Aneh gimana maksud lo Kei?" tanya Windi khawatir. Ia sangat takut Kevin melakukan hal yang membuat Keisya curiga.
"Dia bilang gini ' Tau kan By kalau aku sayang banget sama kamu. Jangan tinggalin aku ya kalau aku bikin kesalahan lagi dan lagi. I love you By. Good Night.' Dia selalu bilang kayak gitu setiap kali dia bikin kesalahan," kata Keisya jujur.
Setiap Kevin mengatakan itu selalu saja bertepatan dengan Kevin yang melakukan kesalahan. Jadi, jangan salahkan Keisya jika kali ini pun menganggap Kevin demikian.
"Tapi, gue gak tau kesalahan apa lagi yang dia buat kali ini."
"Mungkin cuman perasaan lo doang, Kei." ucap Vina menenangkan.
Keisya menggeleng pelan. Entah kenapa ia begitu yakin kalau saat ini Kevin sedang menutupi sesuatu dari Keisya. Tapi entah apa itu. Keisya kemudian menatap Windi dalam. "Ada sesuatu yang lo sembunyiin dari gue, Win?"
.
.
__ADS_1
.
...BERSAMBUNG .... ...