Percintaaan Seorang Ketua BEM

Percintaaan Seorang Ketua BEM
Merasa Kerdil


__ADS_3

Keisya memilih menatap ke luar jendela. "Kalau aku putus sama Kevin gimana Mah?" tanya nya asal tanpa melihat wajah Mamah.


Mamah tentu terkejut mendengar penuturan putri nya mengenai hubungan yang sedang ia jalani itu. Untuk pertama kali ucapan itu mengalun mulus dari mulut Keisya di hadapan Mamah selama hampir empat tahun berpacaran dengan Kevin.


"Kalian lagi ada masalah?" tanya Mamah hati hati.


Keisya diam mendengar pertanyaan Mamah. Ia dan Kevin memang sedang tidak ada dalam masalah apa pun. Entah kenapa cuitan mahasiswa yang duduk di sebelah meja nya tadi membuat hati nya berdenyut sakit. Ia merasa sangat tidak pantas untuk Kevin sekarang ini.


"Sayang, jangan menyimpul kan sesuatu hanya dari sudut pandang Keisya saja. Pikirin baik baik sebelum Keisya mengambil keputusan. Satu hal yang paling penting, jangan libatin emosi Keisya untuk keputusan yang Keisya ambil." tutur Mamah hati hati.


Tetesan bening mulai luruh dari mata cantik gadis itu. Ia menggigit bibir bawah nya kuat agar isak kan nya tidak keluar. Usapan lembut Keisya rasakan di tangan nya, ia tahu pasti Mamah nya yang melakukan itu.


"Nangis nya jangan di tahan gitu, nanti tambah sesak sayang. I'ts okay kalau kamu mau nangis. Toh cuman ada Mamah di sini." ucap Mamah tulus.


Mamah mengusap lembut rambut Keisya sembari mengendali kan stir mobil. Mamah mengerti ada banyak emosi yang di tahan oleh Keisya.


"Mereka bilang Keisya gak pantes buat Kevin, Mah. Hiks..." ucap Keisya di sela isak tangis nya.


Mamah memejam kan mata nya pelan mendengar aduan dari putri semata wayang nya itu. Sudah Mamah duga pasti ada yang membuat putri nya kali ini merasa kerdil. Mamah manaut kan tangan kiri nya dengan tangan kanan Keisya, sementara tangan kanan Mamah berusaha mengendali kan stir mobil dengan tenang.


"Kevin itu aktivis kampus, sedang kan Keisya cuman mahasiswi biasa yang bahkan sedikit pun gak ngerti soal organisasi. Mereka bilang, sayang kalau Kevin punya pacar yang kayak Keisya."


Keisya mengucap kan itu tanpa terbata namun air mata nya semakin menderas mengalir di pipi mulus nya itu.


"Apa Keisya harus jadi aktivis juga biar bisa setara sama Kevin?"


Jari Mamah mengusap lembut tangan Keisya yang ada di genggaman nya. Hati Mamah ikut berdenyut nyeri mendengar betapa memilu kan nya cerita yang di tutur kan Keisya.


"Mamah, hikss... Kenapa mereka nyakitin Keisya padahal Keisya gak pernah nyakitin mereka. Hikss..."

__ADS_1


Mamah mengusap air mata nya yang tanpa sadar ikut menetes karena mendengar keluhan putri nya itu. Hati Ibu mana yang kuat mendengar keluh kesah memilu kan seperti itu dari putri semata wayang nya.


Selama ini Keisya tidak pernah mendapat nyinyiran. Waktu masih sekolah menengah semua baik baik saja, tidak ada yang mempermasalah kan jika Kevin pacaran dengan Keisya. Mungkin karena lingkup sekolah menengah jauh lebih kecil di banding kan dunia perkampusan.


Tidak lama, Mamah memarkir kan mobil nya di pekarangan rumah. Mamah turun terlebih dahulu lalu mengitari mobil dan membuka kan pintu mobil untuk putri nya. "Kita bicarain ini di dalam kamar Mamah yuk," ucap Mamah sambil menarik lembut lengan Keisya.


Mamah mengajak Keisya untuk menaiki ranjang. Mamah duduk dengan menyandar kan diri ke sandaran ranjang sambil berselonjor santai. Sedang kan Keisya sudah memeluk Mamah dan menenggelam kan wajah nya ke mamah.


"Nangis sepuas yang Keisya mau." ucap Mamah lembut.


Mamah mengusap usap kepala Keisya dengan teratur. Mamah harap usapan nya ini bisa membuat Keisya jauh merasa lebih nyaman.


"Mamah." panggil Keisya serak.


"Iya, sayang nya Mamah?"


Membuat pertanyaan Keisya membuat Mamah terkekeh kecil. "Di mata Mamah, kamu tetap anak kecil nya Mamah, sayang. Mau sebesar apa pun kamu, mau sedewasa apa pun kamu, mau seberapa pun usia nya kamu, kamu tetap aja jadi gadis kecil nya Papah, Mamah,"


"Ish Mamah, Keisya serius."


"Mamah juga gak lagi bercanda loh, Kei. Mamah serius."


Mamah mengecup lama pucuk kepala Keisya dan balas memeluk putri nya itu. Mamah mengusap punggung Keisya lembut. "Mamah mau nanya boleh?" tanya Mamah pelan.


Keisya mengangguk kecil sebagai persetujuan.


"Apa Kevin pernah bilang kalau Keisya gak pantas buat jadi pacar nya dia?" tanya Mamah hati hati.


Keisya menggeleng pelan. Selama ini Kevin tidak pernah mengucap kan perihal itu secara langsung kepada Keisya. Tapi bisa saja kan Kevin sebenar nya merasa kan itu namun tidak mengata kan nya secara langsung kepada Keisya karena tidak mau membuat Keisya merasa sakit hati.

__ADS_1


"Apa Kevin pernah minta Keisya ikutan organisasi kayak apa yang dia lakuin?" tanya Mamah lagi.


"Enggak, Mah." cicit Keisya pelan.


"Nah, kenapa Keisya harus meras kerdil karena omongan orang lain yang bahkan mereka gak kenal sama Keisya. Sayang, setiap orang berhak bersepekulasi tentang apa pun. Kita gak bisa membatasi spekulasi mereka, yang bisa kita lakuin cuman mengendali kan pikiran kita sendiri. Mana yang harus kita benar kan, mana yang harus tidak kita perduli kan.


Keisya mendongak menatap wajah teduh Mamah nya. "Jadi, Keisya salah yah Mah?"


Mamah tersenyum lembut, Mamah menyatu kan kening nya dengan kening putri nya hingga ujung hidung mereka saling bersentuhan. "Gak akan ada pelajaran tanpa kesalahan, sayang."


***


Keisya mengeliat kecil. Gadis itu mengerjap kan mata nya pelan dan menatap sekeliling nya. Ia masih berada di kamar Mamah nya. Gadis itu menoleh ke arah jam dinding yang ada di kamar kedua orang tua nya. Sudah hampir senja dan ia baru bangun. Itu arti nya ia cukup lama tertidur.


"Capek juga nangis yah," keluh nya pelan.


Keisya menyingkap selimut yang membalut tubuh nya. Ia tersenyum tipis, pasti Mamah nya yang melakukan itu. Keisya menguap kecil dan menghela nafas nya.


Ceklek


Keisya menoleh ke arah pintu kamar yang di buka. Sosok pria yang ia sebut sebagai Papah berdiri di ambang pintu dengan pakaian santai nya. "Putri Papah sudah bangun ternyata."


Keisya tersenyum kecil dan bangkit dari posisi nya, ia tidam lupa mengambil tas dan handphone nya yang tergeletak di nakas samping tempat tidur.


"Keisya." panggil Papah pelan. Papah mendekati Keisya dan mengambil alih tas dan handphone putri nya itu, lalu meletak kan barang barang itu di atas tempat tidur.


Papah menatap lekat Keisya di hadapan nya. Detik berikut nya, Papah menarik lembut tubuh Keisya ke dalam dekapan nya. "Mati matian Papah menjaga hati kamu agar tidak patah, malah orang lain dengan santai nya mengerdil kan putri Papah ini?" ucap Papah tercekat.


...Bersambung... ...

__ADS_1


__ADS_2