Perebut Suamiku

Perebut Suamiku
PS chapter 10


__ADS_3

#Mama Mertua


➡➡➡


Lebih baik kita bertengkar hebat namun bisa kembali bersama dari pada kita terdiam lalu berpisah. #unknown.


➡➡➡


Keesokkan harinya


.


.


Pagi pagi sekali bel rumah kami berbunyi.


"Ini masih jam tujuh, lalu siapa yang bertamu pada jam sepagi ini?" Aku bertanya pada diriku sendiri, mencoba menebak tentang siapa yang berada di depan pintu rumah.


Adnan? Tidak mungkin, dia tidak akan pernah menginjakkan kakinya di sini lagi.


Haris? Tidak.. tidak, dia pasti akan mengabariku dulu sebelum datang.


Lalu siapa?


Aku cukup terkejut dengan apa yang aku lihat, aku mendapati Ayah dan ibu mertuaku di sini sepagi ini?


Aku tidak mungkin salah lihat. Aku kembali mengawasi mereka dari atas ke bawah dan kemudian ke atas lagi sampai beberapa kali, namun tetap saja tidak berubah.


Aku menelan ludah, sejujurnya aku sedikit takut. Ibu mertuaku, Mama Rita adalah sosok yang paling aku takuti kedua setelah hantu.


Mama Rita adalah orang pertama yang menolak dengan tegas dengan pernikahanku dan Adnan. Karena aku tidak berasal dari keluarga kaya dan terpandang. Sedangkan Mama Rita adalah orang yang memegang prinsip bebet bibit bobot, jadi ya tahu sendirilah apa yang terjadi selanjutnya.


Pernikahan si kaya dan si miskin tidak seperti kisah Cinderella. Keluarga si kaya tidak akan mengizinkan anak anak mereka untuk menikahi seseorang dari keluarga miskin. Katanya, si miskin hanya akan membuat malu.


Semua kembali kepada diri kita masing masing, jika ingin mendapatkan sosok kaya raya sebagai pendamping, setidaknya harus mensejajarkan diri dulu, agar tidak lagi mendapat hinaan. Setidaknya itulah pelajaran yang aku ambil dari kegagalan pernikahanku dan Adnan.

__ADS_1


Namun, Mama Rita juga bukan tipe mertua kejam seperti yang sering di gambarkan pada kebanyakan orang. Mama Rita hanya judes dan menunjukkan ketidak sukaannya secara langsung dengan lisan, tidak dengan tindakan.


Mama Rita juga tidak pernah menjadikan aku seperti pembantu, Mama Rita bahkan tidak pernah memaksaku untuk melakukan pekerjaan rumah. Jadi menurutku kekejaman Mama Rita masih berada di taraf normal, meskipun kadang ucapannya membuatku down.


Mungkin Mama Rita tengah bersorak kegirangan sekarang karena kami telah berpisah. Tentu saja, bahkan Mama Rita pasti akan menjadi orang pertama yang mengucapkan kata 'SELAMAT' untuk status kami yang telah berubah.


Aku tidak hanya menganalisa, tapi aku juga sedang mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuknya.


"Mama, kenapa Mama pagi pagi buta sudah di si..."


Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, Mama Rita sudah memelukku erat. Jujur, aku bingung dan bertanya tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi?


Aku mencoba untuk bertanya pada Papa Hendra, namun Papa hanya mengangkat bahu tidak tahu.


Aku menjadi semakin bingung saat Mama Rita menangis sesenggukkan. Aku mencoba melonggarkan pelukan Mama Rita untuk mencari tahu, "Ma? Mama kenapa?"


Namun bukannya menjawab, Mama justru semakin menjadi dengan tangisannya.


Aku memutuskan untuk mengajak Mama dan Papa masuk terlebih dahulu untuk membicarakan ini di dalam. Aku membuatkan dua cangkir teh herbal yang biasa Mama dan Papa minum.


Aku pun menurut.


"Sya.." Mama Rita memegang tanganku. Sontak aku menoleh ke arah Mama Rita yang juga tengah menatapku lekat.


"Apa ini tidak berlebihan? Wajar ada pertengkaran di dalam rumah tangga, tapi tidak baik sampai ada perpisahan," ucap Mama Rita tanpa menoleh sedikitpun dariku.


Aku sedikit terkejut, tidak mungkin jika Mama Rita datang sepagi ini hanya untuk melarang perceraianku dengan Adnan kan? Ini tidak mungkin..


Aku merasa bersalah karena sudah berprasangka buruk kepada Mama Rita, lagi pula mana aku tahu jika Mama Rita tidak mendukung keputusan Adnan tentang perpisahan ini?


Aku berdehem, "Ehm, Ma. Ini sudah menjadi keputusan kami. Lagi pula, aku juga sudah memikirkan ini ribuan kali. Adnan juga demikian."


"Omong kosong, apa kamu pikir ibu mertuamu ini tidak tahu jika Adnan akan menikahi wanita lain yang tengah hamil?" Ucap Mama Rita seraya meneteskan beberapa air mata.


Mendengar ini, aku segera menutup mulutku sendiri. Bibirku mendadak kelu, dan entah kenapa aku menjadi cengeng dan menangis.

__ADS_1


Aku lemah dan rapuh..


Mama Rita memelukku seraya menepuk punggungku, seperti seorang ibu yang tengah menenangkan anaknya yang menangis karena meminta permen.


Untuk pertama kalinya, aku benar benar merasakan kasih sayang yang nyata dari ibu mertuaku. Aku sendiri tidak menyangka jika di balik semua sifat bawelnya, masih terselip kasih sayang seorang ibu yang khas.


Bagaimanapun, Mama Rita tetaplah seorang perempuan yang sama sepertiku, yang sangat membenci penghianatan sekalipun itu adalah putranya sendiri.


"Kamu tidak perlu menutupi semua kelakuan b*adab Andan? Anak itu sudah menyia nyiakan istri sebaik kamu, entah istri seperti apa lagi yang dia cari." Mama Rita terlihat kesal saat menceritakan kelakuan Adnan.


Mendengar ini, aku semakin menangis. Ucapan Mama Rita seperti pisau yang mampu mencabikku hanya dengan satu goresan.


Aku tidak mengira jika Mama Rita bisa sekesal itu dengan Adnan. Ku pikir Mama Rita akan memberi toleransi kepada putra kesayangannya meskipun itu salah. Namun siapa sangka??


"Sudah Sya, kamu tidak perlu menangisi pria b*engsek seperti Adnan, kamu dan Kirani harus tetap hidup bahagia meski tanpa Adnan." Ucap Mama menghiburku.


Aku mengangkat wajahku, melihat wajah Mama Rita yang memancarkan aura kekecewaan yang dalam, "terimakasih, Ma."


Aku kembali memeluk Mama Rita erat.


"Sudahlah Sya, kamu masih punya Papa dan Mama yang akan mendukungmu. Kita lihat saja apa yang akan anak nakal itu lakukan selanjutnya? Kita akan melihatnya bersama." Papa turut menambahkan.


Aku sangat bersyukur karena Mama dan Papa mertuaku ternyata berada di sampingku dan mendukungku. Aku merasa jika aku tidak lagi sendiri sekarang. Setidaknya orang tua Adnan tidak membela Adnan sama sekali.


Itu sudah lebih dari cukup untukku.


Mama Rita menghela nafas panjang, "sejujurnya, aku tidak ingin melihat anak dan mantuku bercerai. Aku sudah sangat tua, aku hanya ingin melihat rumah tangga kalian selalu harmonis dan bahagia, namun siapa sangka jika Adnan telah bermain di belakangmu, menghianatimu dan kemudian meninggalkanmu."


"Darimana Mama tahu tentang ini?" Tanyaku pada akhirnya, aku juga penasaran tentang ini, tidak mungkin jika Adnan yang memberitahunya sendiri. Lebih tidak mungkin lagi jika Adnan tinggal di rumah Papa dan Mamanya selama ini sehingga telah membuat Papa dan Mama curiga?


Aku menggelengkan kepala, ini tidak masuk akal. Adnan adalah orang yang tidak mungkin kabur ke rumah orang tuanya jika ada masalah. Kecuali jika......


Mama segera mengambil Hp yang berada di dalam tasnya, menggulir sebentar dan kemudian menunjukkannya kepadaku.


Melihat ini, aku hanya mengangkat sebelah alisku.. sudah ku duga, Rubah betina itu pelakunya.

__ADS_1


...


__ADS_2