
#Tidak Ada Yang Bisa Diperbaiki Lagi.
➡➡➡
Kita sama sama sedang berlari.
Aku berlari menujumu dan kamu berlari menujunya, terlihat percuma? Sepertinya iya, karena semakin ku kejar semakin kamu menghindar.
Saya ingin jatuh untuk kemudian kamu bangunkan. Tapi sayangnya, aku jatuh sendirian. Sedangkan tanganmu sudah dia genggam.
Kali ini aku benar benar jatuh saat memandangi kamu dan dia yang melangkah semakin jauh. #unknown.
➡➡➡
Aku gelisah menunggu Adnan, Kirani demam dan badannya sangat panas, tapi Adnan masih belum pulang. Aku sudah menghubunginya lebih dari sepuluh kali, juga mengirim pesan singkat lebih dari itu, namun Adnan tetap tidak menerima panggilanku ataupun membaca pesanku. Sebegitu bencikah dia terhadapku?
Aku melihat jam yang sudah menunjukan waktu sebelas malam. Aku sudah memberikan penurun panas namun masih tidak bisa menurunkan suhu tubuh Kirani. Sedangkan saat aku cek suhu tubuhnya, mencapai tiga puluh sembilan derajat
Aku hanya khawatir tubuh Kirani tidak bisa menerima suhu sepanas itu dan berakibat fatal, yaitu kejang.
Aku bingung, siapa yang harus ku mintai tolong saat ini? Mobil Adnan tidak di rumah, taksi juga sangat sulit untuk di dapat pada larut malam begini.
Aku memutuskan untuk menunggu Adnan setengah jam lagi, jika dalam waktu setengah jam Adnan belum juga datang maka aku akan menghubungi Miranda sebagai gantinya.
Aku menunggu dengan gelisah, untuk pertama kalinya waktu setengah jam terasa sangat lama. Apalagi dengan perasaan yang campur aduk di dalam hati. Antara yakin Adnan akan pulang atau tidak sama sekali.
Aku mondar mandir di dalam kamar Kirani, sambil terus melihat jam dan Kirani secara bergantian sampai waktu setengah jam habis.
Jujur aku kecewa.
Kecewa karena Adnan tidak memikirkan Kirani lagi. Adnan boleh membenciku tapi jangan Kirani. Kirani adalah darah dagingnya sendiri.
__ADS_1
Aku bersumpah demi langit dan bumi, jika sampai sesuatu yang buruk terjadi pada Kirani, aku akan membuat Adnan membayar seribu kali rasa sakitnya.
Setengah jam berlalu dan Adnan masih belum tiba, aku mengambil ponselku kembali dan segera menekan nomor Miranda.
Beberapa saat kemudian terdengar suara Miranda dari ujung panggilan.
"Hallo, ada apa Sya? Kenapa kamu menghubungi pada jam selarut ini? Apa sesuatu terjadi??" Suara Miranda terdengar panik.
"Kirani sakit, bisakah aku meminta tolong untuk mengantar Kirani ke rumah sakit?"
"Kemana Adnan? Apa dia tidak ada di rumah?"
Aku diam sebentar, "Nanti aku ceritakan, aku janji."
Sepuluh menit kemudian Miranda sudah tiba dan kami segera menuju ke rumah sakit terdekat. Aku memeluk Kirani erat, aku takut.. sangat takut..
Begitu tiba di rumah sakit, Dokter segera memeriksa keadaan Kirani dan mengatakan untuk tidak khawatir karena Kirani baik baik saja. Dokter hanya meminta untuk merawat Kirani sementara di Rumah Sakit sampai panasnya mereda.
Aku segera menyetujuinya tanpa berpikir lagi. Juga menghubungi orang tuaku detik itu juga.
Beberapa saat kemudian, orang tuaku datang. Juga Haris yang Helena yang juga terlihat sangat khawatir begitu mengetahui Kirani di rawat di rumah sakit.
Semua orang memandangku seakan meminta penjelasan tentang apa yang sebenarnya terjadi setelah Kirani di pindahkan dari UGD ke ruang rawat inap.
Aku masih diam, aku terus saja memandang Kirani yang tengah tertidur lelap dengan infus yang terpasang di punggung tangannya tanpa memperdulikan tatapan tanya semua orang.
"Sya??" Suara Ayah membuyarkan lamunanku, dan tanpa terasa setetes bening mengalir begitu saja dari mataku.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Dimana Adnan?" Tanya Ibuku yang mulai menginterogasiku.
"Sya?" Miranda juga turut meminta penjelasan.
__ADS_1
Aku memandang mereka sekilas, namun sedetik kemudian aku menghela nafas dan kembali memandang Kirani. "Adnan akan menceraikanku," ucap ku yang sontak membuat mereka semua terkejut.
Semua orang syok mendengar ini. Tentu saja, karena yang mereka tahu adalah kehidupan rumah tanggaku dengan Adnan sangat harmonis tanpa masalah sedikitpun, membuat mereka tidak percaya dengan apa yang mereka dengar tentang perceraian.
"Kenapa?" Miranda berjalan mendekat dan kemudian memelukku erat. Aku menumpahkan semua air mataku pada bahu Miranda, aku tidak tahu harus memulai cerita ini dari mana.
Helena mendekat dan kemudian turut memelukku, sedangkan Ayah tetap tenang seperti biasanya, hanya terdengar helaan nafas panjang dari Ayah yang merasa sedih karena pernikahan putri sulungnya gagal.
Semua orang di rundung pilu, tidak terkecuali Haris.
Haris segera mengambil hp yang sedang ku genggam secara paksa, melihat banyak pesan provokasi dari wanita j*lang yang memang belum sempat ku hapus. Haris segera meninju dinding di depannya dan kemudian meraung frustasi.
Melihat ini, Aku menangis semakin keras dan Ibu berusaha untuk menenangkan Haris. "Istighfar, nak? Nyebut!!"
Perlu beberapa waktu sampai Haris benar benar tenang, dan saat Haris sudah benar benar tenang, semua orang mulai duduk untuk mendengar keseluruhan ceritanya.
Aku menghirup nafas panjang sebelum memulainya, "semua itu nyata, Adnan bermain dengan J*lang itu di belakangku dan Adnan bahkan berniat menceraikan aku." ucapku dengan tersenyum masam, tanpa menangis sedikitpun, air mataku sudah habis dan aku tidak bisa menangis lagi.
Aku mulai menceritakan dari awal hingga akhir, dan semua orang masih mendengarnya dengan seksama.
"Kenapa kamu tidak mengatakan ini kepada Ibu, nak? Kenapa kamu tidak jujur?" Adalah pertanyaan ibuku setelah aku mengucapkan kalimat terakhir sebagai penutup ceritaku, suara ibu terdengar menyakitkan.
"Maafkan aku Bu, aku hanya tidak ingin membuat Ibu khawatir, sungguh." Aku memegang tangan ibuku mencoba untuk meyakinkan jika aku tidak bermaksud lain, karena aku hanya tidak ingin Ibu, Ayah, Haris dan Helena khawatir.
"Lalu apa rencanamu selanjutnya?"Haris bertanya pada akhirnya. Haris terlihat lebih kuat sekarang. Aku tahu jika Haris hanya kecewa dengan kelakuan Adnan. Bagaimanapun Haris adalah saudara laki laki satu satunya yang aku punya, jadi sangat wajar jika Haris marah dan benar marah.
Aku tersenyum dan mengangkat bahu tidak tahu. Karena aku memang belum memikirkan satu rencanapun. Aku masih memikirkan Kirani dan belum bisa memikirkan yang lain.
"Apapun keputusanmu, aku adalah orang pertama yang akan berdiri di sampingmu," ucap Haris memelukku.
Aku mengangguk, "terimakasih, kakak berjanji tidak akan membuat kalian sedih."
__ADS_1
Beruntung, baik Miranda atau Orang tuaku, juga Haris dan Helena mendukung apapun keputusanku. Mendukungku secara penuh meski itu harus mundur.
Aku mengerti, saat aku terpuruk, keluarga adalah penyemangat yang akan selalu berdiri di depan untuk memberiku dukungan, dan tanpa mereka.. aku bukan apa apa dan bukan siapa siapa.