Perebut Suamiku

Perebut Suamiku
PS chapter 33


__ADS_3

➡➡➡


Karena semenjak kamu hadir dan membuatku nyaman, aku tidak pernah tertarik pada orang lain selain kamu. #unknown


➡➡➡


Aku tiba di rumah pukul sembilan malam.


Sebuah notifikasi tiba tiba muncul, pesan dari Caramel.


Astaga.. gadis ini.


Caramel :


"Jangan lupa dengan janjimu."


Aku :


"Asal kamu tahu, aku bukan orang yang akan ingkar janji."


Caramel :


"Sejujurnya aku masih penasaran, bagaimana caramu mendapatkan hoodie dengan tanda tangan tiga personil EXO?"


Aku :


"Kamu tidak perlu tahu, yang jelas itu tidak mudah."


Aku tersenyum, bagaimana caraku mendapatkan hoodie itu, hanya aku yang tahu.


Keesokan harinya di Apartemen Miranda.


"Apa kamu gila? Ini adalah benda pusakaku." Ucap Miranda sewot, masih kekeuh dengan pendiriannya.


"Justru karena ini benda pusakamu, makanya aku memintanya dengan cara baik baik, jika kamu tidak memberikannya, aku bersumpah akan mengambilnya selagi kamu tidak ada," ucapku tidak kalah ketus.

__ADS_1


Apapun yang terjadi, aku tetap harus mendapatkan benda pusaka Miranda. Aku sudah terlanjur berjanji pada Caramel, dan aku tidak ingin membuatnya kecewa.


"Asal kamu tahu, ini adalah jimat yang sangat berharga untukku, aku tidak mungkin melepas suamiku begitu saja. Ini lebih berharga dari apapun? Kamu bebas meminta barang apapun milikku, tapi tidak untuk yang satu ini." Miranda masih menolak dengan keras permintaanku.


"Kamu bisa mendapatkannya lain waktu?" Aku masih berusaha membujuk Miranda. Sekuat kuatnya seseorang, selalu ada sisi terlemahnya juga, plus Miranda tidak akan tega membiarkan hidupku hancur untuk kedua kalinya. Aku yakin itu.


"Apanya yang lain waktu? Tidak mudah menemui suami tampanku di Korea, mereka orang yang sibuk, okey?" Miranda masih belum berubah pikiran.


"Aku akan membantumu lain kali," aku akui, mendapatkan barang seperti ini memiliki tingkat kesulitan yang besar, tapi aku tidak mempunyai pilihan lain.


"Tidak ada lain kali, aku susah payah mendapatkan hoodie dengan tanda tangan DO, Kai dan Chanyeol, aku bahkan harus menemui promotornya secara langsung untuk mendapatkannya, dan itu sangat sulit." Miranda menekankan kalimatnya seakan mengingatkanku tentang perjuangan serta kerja keras Miranda untuk menemui tiga personil EXO di Korea. Miranda bahkan harus membujuk promotornya dengan susah payah.


"Ayolah, ku mohon, lagipula ini bukan untukku, tapi untuk Caramel," aku menggunakan nama Caramel untuk meyakinkan Miranda.


Lagi pula, ini memang untuk Caramel. Tidak mungkin untukku, meskipun aku adalah penggemar EXO tapi aku masih berada di taraf normal dan bukan penggemar fanatik.


Mendengar nama Caramel, Miranda mengangkat sebelah alisnya, "Siapa Caramel? Untukmu saja tidak akan pernah ku berikan, apalagi jika itu untuk orang asing."


"Orang asing apa? Caramel itu bukan orang asing," jawabku. Lagi pula, Caramel memang bukan orang asing, karena sebentar lagi dia akan menjadi anakku.


Aku tahu itu sulit untuk Miranda, tapi posisiku juga tidak kalah sulit, hidupku sedang di pertaruhkan di sini. Jika aku gagal kali ini, mungkin aku tidak hanya kehilangan kepercayaan Caramel, tapi juga akan kehilangan kepercayaan Zidan.


"Sebentar lagi kamu juga akan mengenalnya setelah aku menikahi Zidan." Menikahi Zidan? Aku tertawa dalam hati dengan ucapanku sendiri. Bagaimana aku bisa begitu yakin mengucapkan kata pernikahan di depan Miranda sementara aku sendiri bahkan masih ragu dengan itu.


Mendengar ini, Miranda tersentak, "apa artinya ini?"


"Memangnya masih perlu untuk di artikan? CARAMEL MEGAN, adalah putri Zidan, okey?" Aku menekankan nama Caramel Megan agar Miranda mengerti siapa pemilik nama belakang MEGAN selain Caramel.


"Hah?" Miranda semakin terkejut, "benarkah? Zidan memiliki Putri lain?"


Aku membelalakan mata, "apa maksudmu dengan putri lain?"


"Tidak, tidak.. lupakan saja. Tapi jika Caramel memang putri kandung Zidan, bukankah seharusnya tidak sulit untuk mendapatkan tanda tangan EXO?" Miranda sungguh meragukan ucapanku, dia masih tidak percaya jika Caramel adalah Putri kandung Zidan.


Aku mengangkat bahu, "entahlah, aku juga tidak yakin? Mungkin karena gadis itu seorang nerd?"

__ADS_1


Miranda mengernyitkan alisnya, "nerd? Yang benar saja? Apa kamu tidak lihat betapa modisnya Zidan dan wanita itu? Sangat mustahil jika Zidan memiliki putri seorang nerd? Aku tidak percaya."


"Aku juga tidak percaya sampai aku membuktikannya sendiri. Dia bahkan tidak pernah meninggalkan kamarnya, jadi dia seperti gadis cupu, tidak tahu perkembangan dunia luar, tidak tahu style, bahkan mungkin dia juga tidak tahu kanan dan kiri." Aku tidak sedang mengada ada, karena aku mengatakan yang sebenar benarnya.


"Maksudmu dia seorang kutu buku dengan kacamata bulat dan tebal, dengan rambut yang di kepang dua?" Ucap Miranda seakan tidak percaya, "itu konyol."


"Bukan begitu, maksudku adalah dia gadis yang cantik, hanya sedikit kampungan, kutu buku, belajar online, dan tidak pernah keluar dari kamarnya."


"Maksudmu introvert?"


"Bukan, dia bukan pendiam pada nyatanya, dia banyak bicara setelah aku dan dia saling mengenal. Mungkin dia hanya autophile(menyukai kesendirian)"


"Astaga, Sya, autophile juga ada sebabnya? Mungkin dia hanya kesepian? Astaga.. kenapa hidupmu bisa serumit ini?" Miranda menepuk bahuku, seakan prihatin dengan kehidupanku yang bisa di bilang amat sangat rumit.


Aku mengangguk, "jika kamu peduli padaku, kamu harus memberikan hoodie itu untukku, ya ya ya?"


Miranda tampak tengah berpikir, "bagaimana ya?"


"Ku mohon?? Aku tidak hanya akan menjadi istri Zidan, tapi aku juga akan menjadi Ibu untuk Caramel, jadi aku perlu mengambil hatinya dulu. Bukankah Abraham Lincoln pernah berkata jika dia di beri waktu enam jam untuk menebang sebatang pohon, maka dia akan menggunakan waktu empat jam untuk mempertajam kapaknya?"


Miranda mengangguk.


"Dan kamu tahu apa artinya itu? Itu artinya jika proses tidaknya penting, yang penting adalah hasilnya. Sekalipun aku harus menggunakan taktik licik dan cara kotor, itu tidak menjadi masalah asal aku bisa mencapai finish terlebih dahulu, plus ini adalah pertempuranku, hm?"


"Sebenarnya itu tidak sepenuhnya benar." Miranda menjawab lesu, "karena proses itu juga penting, dengan proses kamu bisa belajar untuk lebih dewasa, kamu hanya perlu melangkah secara perlahan, step by step."


"Iya, tapi asal kamu tahu, ini bukan suap dan ini juga bukan kejahatan. Aku tidak pernah menyuap siapapun. Ini adalah janji antara sesama wanita, dan aku hanya tidak ingin kehilangan kepercayaan dari Caramel."


Miranda mengangkat sebelah tangannya tanda menyerah, "okey, aku kalah, aku akan memberikannya, tapi kamu harus menggantinya lain waktu, aku tidak mau tahu."


Aku tersenyum mendengar ini, "siap boss. Aku tidak hanya akan memberikan tiga tanda tangan personil EXO, tapi semuanya, hm? Aku akan mengusahakannya."


Miranda memeluk hoodie kesayangannya terlebih dahulu sebelum memberikannya padaku. Aku tahu dia sangat sedih kehilangan hoodie itu, tapi.. siapa peduli? Aku bisa mengembalikannya lain waktu.


Aku menerimanya, dan memasukannya ke dalam tasku dengan cepat sebelum Miranda berubah pikiran.

__ADS_1


__ADS_2