
Hai hai.. aku di sini mau menyapa dan mau curhat dikit,.. yang gak suka, abaikan aja.
Aku jadi penulis itu kendalanya adalah bingung pemilihan kata sama merangkai kalimatnya, dan nulis juga perlu feel dan suasana hati yang pas. Jadi kalo ada yg complain tulisan aku gaje atau acak adut di chapter 11 sama 13, itu semata mata karena aku gak ada feel buat nulis tapi di paksain, alhasil tulisannya jadi amburadul.
Makasih banget buat yang udah luangin waktu kalian yg berharga buat baca novel aku, apa lagi yg udh vote, like, komen n' bintang lima, sumpah.. aku terharu banget.
Kalo ada EYD atau PUEBI yg gak pada tempatnya, aku sangat menghargai krisan. Aku orangnya santai, kalaupun marah paling cuma banting piring dan gak sampai bunuh diri.. ๐ ๐ ๐.. jadi ya... enjoy and happy reading..
โกโกโก
Bagian tersulit dari sebuah perpisahan adalah ketika hati masih berkiblat padanya, sementara indra tak lagi bisa menjangkaunya. #unknown
โกโกโก
Tiba tiba pintu ruang rawat inapku terbuka, sontak aku dan Miranda menoleh secara bersamaan ke arah pintu.
"Kenapa kalian menatapku seperti itu? Aku jadi takut," ucap Furi menunjukkan ekspresi merinding dengan memegang tengkuknya.
Aku dan Miranda tersenyum simpul mendengar ini.
"Hei.. ada apa dengan kalian?? Kalian justru membuatku semakin takut jika kalian tersenyum seperti itu!!!" Furi mendekat dan meletakan buah buahan yang dia bawa di atas meja.
"Bagaimana??" Tanya Furi yang kemudian duduk di atas ranjang.
Aku memamerkan kartu nama yang aku terima dari pria bernama Zidan Viki itu seraya menunjukan senyum lebar ala iklan pasta gigi.
"Hebat, sangat luar biasa. Lalu.. seperti apa dia?? Apa dia terlihat sangat tua dan jelek seperti ayah Miranda??" Sekarang gantian Furi yang kegirangan.
"Dasar b*jingan.. ayahku masih muda dan sangat tampan, tahu?? Buktinya ibuku masih sangat mencintai ayahku sampai sekarang." Ucap Miranda tidak terima dengan ucapan Furi.
__ADS_1
Aku dan Furi hanya bergidik ngeri, mungkin hanya Miranda dan ibunya yang beranggapan jika Tuan Farhat masih sangat tampan, selebihnya akan mengatakan no. Jika ada yang mengatakan iya, jelas mereka berbohong. Karena terkadang yang namanya kejujuran memang menyakitkan, jadi tidak ada pilihan lain selain berbohong.
Aku menghela nafas panjang, "masih untung aku tidak mati."
"Apa maksudmu?? Kamu punya sembilan nyawa, jadi kamu tidak akan mati hanya dengan tertabrak mobil, okey??" Miranda meyakinkanku.
"Tapi setidaknya.. ada hikmah di balik kecelakaan ini." Furi menambahkan.
Aku kembali memikirkan ucapan Furi. Hikmah??? Tentu saja.. hikmahnya adalah aku bisa bertemu dengan CEO HS yang kebetulan telah menabrakku. Jika itu orang lain, mungkin sekarang aku sudah berada di kamar mayat.
"Kebetulan yang indah," Miranda menunjukan wajah imut yang justru membuatku merasa ngeri.
"Kebetulan??" Aku tertawa, "lucu sekali, tidak ada kebetulan yang nyata di dunia ini, okey??" Bahkan kebetulan yang telah di rencana sejak awal saja tidak banyak membantu, apa lagi jika hanya mengandalkan takdir?? Mustahil.
"Setidaknya, kecelakaan ini di luar kendali kita, rencana kita sepuluh kali terakhir selalu berakhir gagal dan gagal total, dan kejadian yang di luar ekspetasi kita, namun justru berhasil. Aku sungguh bingung dengan situasi semacam ini??" Miranda tampak memikirkan ini dengan sungguh sungguh.
Aku mengangkat bahu, " entahlah, aku juga tidak tahu, tapi yang jelas.. setidaknya aku memiliki sedikit celah untuk melanjutkan perjuanganku."
Benar benar keajaiban yang nyata.
"Lalu bagaimana selanjutnya?"
Perkataan Furi membuatku terpaksa harus berpikir, "tentu saja menunggu, memangnya apa lagi??"
"Dasar id*ot, kamu tidak bisa hanya menunggu, setidaknya beri dia rasa nyaman agar dia tidak kabur. Ingat.. kita sudah menangkapnya dengan susah payah." Miranda mencoba menekanku.
"Miranda benar," Furi membenarkan ucapan Miranda, "perlu usaha serius jika ingin hasil yang memuaskan juga. Setidaknya usaha tidak akan pernah menghianati hasil."
"Meski terkadang, hasil yang menghianati usaha." Aku melanjutkan.
__ADS_1
"Tapi.. setidaknya, kita sudah berusaha, pada akhirnya.. hasil akhir tetap berada pada tangan Tuhan. Entah itu kegagalan atau keberhasilan yang akan di dapatkan."
Aku dan Miranda mengangguk, menyetujui perkataan Furi yang memang benar.
"Jadi... apa dia sudah sangat tua? Atau terlihat sama seperti pada foto yang kita lihat?" Nada suara Furi terdengar penuh tanya dengan rasa penasaran yang tinggi.
"Aku juga tidak yakin, Kamu tidak akan percaya ini, karena aku sendiri juga masih tidak percaya. Sejujurnya.. dia masih sangat tampan, dan kekar. Persis seperti pada gambar yang pernah kamu tunjukan saat meretas data internal HS World." Ucapku dengan satu tarikan nafas.
"Aku sudah menduga hal itu. Dia datang beberapa kali ke cafeku sebelum insiden kecelakaanmu terjadi." Furi mengatakan dengan yakin.
"Kenapa kamu tidak mengatakan ini sebelumnya??" Ucapku dan Miranda bersamaan dengan nada suara yang sudah naik lima oktaf.
"Memang apa gunanya memberitahukan itu pada kalian??" Suara Furi tidak kalah keras dari suaraku dan Miranda.
"Setidaknya.. aku akan berusaha lebih keras untuk mendapatkan simpatinya." Semua bahkan sudah tertulis dengan sangat jelas jika aku berhasil mendapatkan akarnya, maka aku bisa dengan mudah menggugurkan daunnya, jadi secara tidak langsung aku bisa menangkap dua ekor burung dengan satu batu.
"Omong kosong, percuma.. semua rencana yang sudah kita susun dengan matang saja tidak pernah terealisasi dengan baik." Ucap Miranda murung. "Tapi setidaknya, kali ini kamu berhasil, meskipun umur Tuan Zidan sudah sangat tua, tapi dia masih terlihat tampan dan kaya raya tentunya." Miranda menggodaku.
"Aku bahkan tidak lagi memikirkan tentang umur ataupun jumlah kekayaan, aku hanya ingin menunjukan pada seseorang yang telah menabur maka harus siap menuai hasil taburannya sendiri." Ucapku yakin, aku bahkan tidak pernah seyakin ini dalam hidupku. "Meski sejujurnya, dia terlalu jauh untuk ku capai, aku sendiri bahkan tidak cukup percaya diri untuk mendekatinya. Lihat saja penampilannya, semua serba wah, sementara aku?? Uang tabunganku sudah sangat tipis, belakangan Haris membutuhkan lebih banyak dana dari biasanya."
"Hei.. jangan patah semangat, aku bisa memodalimu lebih dahulu, kamu bisa mengajakku dan Furi berlibur ke Hawai jika kamu telah resmi menjadi Nyonya Zidan." Miranda mengedipkan sebelah matanya dengan centil.
"Miranda benar, kedua sahabatmu ini cukup kaya jika hanya untuk membuatmu tampil memukau. Aku bahkan bisa menyewa seorang designer ternama jika kamu mau??"
Aku terharu mendengar ini. Setidaknya mereka berdua adalah sahabat terbaikku di saat aku tengah terpuruk dan jatuh, mereka mengulurkan tangan dan tidak segan menarikku dari dalam jurang.
"Terima kasih, kalian adalah sahabat terbaikku," aku mengulurkan tangan untuk memeluk Miranda dan Furi.
__ADS_1
..VISUAL ZIDAN VIKI.. (CHUANDO TAN)