
➡➡➡
Kita hanya bisa menduga duga sampai akhirnya waktu yang benar benar menjawabnya.
Bagaimanapun juga, waktu tidak akan pernah salah, meski kita sering terburu buru atau bahkan hampir menyerah. #unknown
➡➡➡
Kami tiba di suatu tempat dimana Ibu Caramel tinggal.
Caramel berjalan di depanku menuntun jalan. Dengan seikat bunga mawar berwarna putih yang Caramel genggam erat. Seakan Caramel sangat merindukan Ibunya.
Aku tidak tau kapan terakhir kali mereka bertemu. Aku juga tidak tau kenapa Caramel lebih memilih membawa bunga dari pada yang lainnya. Caramel hanya mengatakan jika Ibunya sangat menyukai bunga mawar.
Jika Caramel sudah berkata seperti itu, maka aku tidak berhak untuk menanyakan yang lebih jauh lagi. Aku hanya mengangguk, mengiyakan meski sejujurnya aku tidak mengerti.
Aku mengikuti Caramel dengan pelan, suasana sepi dan sunyi menjadi pengiring perjalanan kami. Tidak ada yang berbicara, tidak ada yang bersuara, kami sama sama diam.
Langit hampir gelap, bahkan cahaya matahari hampir menghilang sepenuhnya. Membuatku tidak memperhatikan sekeliling, fokusku hanya Caramel dan Caramel.
Aku tersenyum saat melihat Caramel sangat menyayangi Ibunya, terlihat dari antusiasme Caramel untuk menemuinya. Aku tidak terkejut, Ibunya pantas mendapatkan kehormatan ini dari seorang putri bernama Caramel, anak yang baik dan juga sangat hebat.
Aku mengawasi sekeliling saat Caramel tiba tiba menghentikan langkahnya, aku bahkan tidak menyadari jika kita sudah sampai, karena tidak apapun di sini, kecuali...
Aku mulai mengumpulkan kesadaranku saat melihat Caramel sudah berjongkok di depan sebuah gundukan tanah.
__ADS_1
Aku menutup mulutku rapat, dan terpukul hebat saat membaca nama yang tertera pada batu nisan adalah SILVIA MEGAN.
Silvia Megan?
Tanpa terasa, bulir bening menetes begitu saja dari mataku. Tidak perlu di tebak, nama Megan yang tertera pada batu nisan, sudah cukup untuk menjawab siapa pemilik makam ini.
Duniaku serasa jatuh. Seakan kegelapan datang secara tiba tiba dan tidak menyisakan sedikit cahaya. Bahkan tanah tempatku berpijak seakan runtuh hingga menjatuhkanku pada sudut terdalamnya.
Tidak tau perasaan apa yang tengah aku rasakan saat ini, aku bahkan tidak mengerti dengan hatiku sendiri. Setumpuk perasaan rumit yang sudah berserakan ternyata semakin berserakan saat aku mengetahui kebenaran ini.
Kebenaran yang sangat menyakitkan.
Entah rasa sakit ini untuk Caramel atau untuk Zidan? Atau justru rasa sakit itu untuk diriku sendiri? Entahlah.. aku tidak mengerti dengan dunia dan segala kerumitannya.
Astaga..
Caramel meletakan seikat bunga mawar putih di atas pusara Silvia. Bunga mawar putih terbaik yang Caramel pilih saat kami melewati sebuah toko bunga pada perjalanan menuju tempat ini.
Pantas saja Caramel bersikeras untuk membeli bunga mawar putih dan juga sebotol air mineral. Ternyata ini alasan yang sebenarnya.
Aku mengawasi makam Silvia, makam yang bersih. Mungkin seseorang sering berkunjung kesini untuk mencabut rumput dan membersihkannya. Selain Caramel, tentu saja orang itu adalah Zidan.
Caramel mengusap nisan Silvia, "Ma, Caramel datang, sekarang Caramel punya sahabat, punya saudara. Mama tidak perlu khawatir karena sekarang Caramel tidak sendirian lagi, " terselip tangis di antara suara Caramel, namun Caramel dapat menutupinya dengan baik.
Meski aku tau jika Caramel hanya berpura pura kuat agar tidak menangis di depan pusara Silvia, tapi aku tau, di dalam relung hati yang terdalam, Caramel sudah menumpahkan air matanya di sana. Mungkin, rasa sakitnya belum terasa untuk sekarang, tapi perihnya akan terasa nanti, saat rasa sakit sudah menjalar ke setiap inci aliran darah tanpa bisa di hentikan.
__ADS_1
Aku tidak bisa untuk tidak menangis, air mata bod*h ini terus mengalir tanpa bisa untuk di hentikan. Aku hanya ingin memeluk Caramel untuk saat ini, kemudian menghapus air matanya, serta meyakinkan jika Caramel adalah gadis yang kuat dan hebat.
Aku berjongkok di samping Caramel, menuang satu botol air mineral yang ku bawa di atas pusara Silvia.
Aku melihat tanggal saat Silvia menghembuskan nafasnya. Lima belas tahun yang lalu. Hari, tanggal, bulan serta tahun yang sama dimana Caramel di lahirkan.
Mungkin hari kelahiran Caramel juga menjadi hari dimana Silvia di makamkan. Tidak perlu di tanyakan lagi, jelas jika Silvia meninggal saat melahirkan Caramel.
Sudah lima belas menit berlalu, namun Caramel Sama sekali tidak bergerak.
Sementara aku juga masih tetap diam dengan pemikiran ku sendiri. Meski sejujurnya, aku juga tidak tau dengan apa yang tengah Caramel pikirkan saat ini, entah itu perasaan kehilangan, perasaan kecewa, perasaan sedih, atau apapun itu aku sama tidak bisa menebaknya.
Aku hanya tidak bisa mengeluarkan suara. Meski hanya sekedar untuk menghibur Caramelpun aku bahkan tidak mampu. Aku hanya tidak bisa untuk merangkai kata menjadi sebuah kalimat. Mungkin Caramelpun juga merasakan hal yang sama denganku, seakan enggan untuk melakukan apapun atau membicarakan sesuatu.
Aku mengusap nisan Silvia, 'Mbak tenang aja, aku akan menjaga Caramel mulai dari sekarang, dan aku akan berusaha semaksimal mungkin,' ucapku dalam hati seraya menoleh ke arah Caramel, "apa kamu tau alasan kenapa Mama meninggalkan kamu setelah kamu di lahirkan?"
Caramel tersentak, kemudian menggelengkan kepala.
"Karena Mama ingin agar kamu tumbuh menjadi anak yang kuat dan hebat meski tanpa seorang Mama di samping kamu. Kuat dan hebat tidak selalu harus berkuasa dan menindas orang lain, tapi dengan berpikir positif dan menemukan jalan keluar untuk suatu permasalahan juga bisa di kategorikan sebagai kekuatan. Tidak bersembunyi dan lari dari masalah, tapi justru maju dan berdiri di barisan paling depan untuk menyelesaikannya. Kamu harus bisa menunjukan pada dunia, pada orang orang yang selalu meremehkan kamu, pada Mama if you can."
Caramel mengerjapkan matanya beberapa kali, mungkin gadis ini tengah mencerna kata kataku dan mulai memikirkannya.
Aku mengusap punggung Caramel dan menepuknya pelan, "kita bahas ini nanti ya? Hari sudah gelap, kita kirim doa dulu buat Mama, biar Mama bisa bahagia di sana sebelum kakak antar kamu pulang."
Caramel mengangguk.
__ADS_1