Perebut Suamiku

Perebut Suamiku
PS chapter 40


__ADS_3

➡➡➡


Alur hidup kadang tak tertebak, pertemuan tanpa rencana, perpisahan tak terduga, dan pengulangan kisah hidup yang sebagian kita tau arahnya, dan sebagian lainnya tidak pernah paham bagaimana.


Entah bagaimana menjelaskan tentang hidup, mungkin bukan untuk di jelaskan setepat tepatnya, namun cukup di jalani dengan sebaik baiknya. #raiiinyy**


➡➡➡


Udara terasa tidak bersahabat, bukan karena udara terlalu dingin atau terlalu panas, tapi karena aura Ayah yang mendominasi ruang tamu hingga membuatku menggigil.


Aku melihat wajah tampan Zidan yang sudah di penuhi keringat. Bahkan setelan jas yang semula tertata rapi menjadi sedikit berantakan dengan dasi yang sudah di longgarkan.


Aku tersenyum melihat ini. Merasa jika ini bukan Zidan yang selama ini ku kenal, bukan Zidan yang selalu percaya diri untuk tampil di depan para petinggi dan orang orang penting, bukan Zidan yang selalu berkuasa, dan bukan Zidan yang selalu mengintimidasi orang lain.


Aku tidak habis pikir saat seorang CEO besar yang memiliki kuasa mutlak atas segala tindakan, bahkan seseorang dengan otoritas penuh tiba tiba berubah menjadi gurita kecil yang sangat menggemaskan hanya dalam hitungan detik.


Aku memegang tangan Zidan yang terasa dingin. Berusaha meyakinkan jika Ayahku tidak menggigit. Namun apalah daya jika kegugupan Zidan bukannya berkurang tapi justru semakin bertambah.


Apa Ayah begitu menyeramkan sampai Zidan bertingkah seperti ini? Atau mungkin saja di mata Zidan, Ayah seperti monster yang sangat menakutkan?


Aku menggenggam erat tangan Zidan, berusaha untuk membuat Zidan nyaman. Aku hanya tidak mau Zidan salah bicara atau berkata sembarangan yang bisa membuat Ayah memberikan poin buruk tentang pria itu nantinya. "Santai saja, Ayahku tidak mungkin membunuhmu," aku berbisik pelan di telinga Zidan.


"Tapi ini pertama kalinya untukku. Bohong jika aku berkata tidak gugup."

__ADS_1


Aku membulatkan mataku, "Oh ya?"


Zidan mengangguk.


Aku tau jika pernikahan Zidan dengan Silvia memang tidak berdasarkan cinta pada awalnya. Mungkin karena dulu orang tua Silvia yang melamar Zidan, jadi wajar saja jika ini yang pertama untuk Zidan.


"Ehm." Ayah berdehem, menatap tajam kearah ku yang tengah meremas tangan Zidan.


"Bisakah Ayah berhenti membuat Zidan takut? Ini bukan gaya Ayah sama sekali, jadi hentikan tatapan menyebalkan itu!!" Aku melayangkan protes karena aku benar benar tidak suka cara Ayah mengintimidasi Zidan, ini melanggar Hak Asasi Manusia.


"Berhenti membela pria ini," Ayah yang memang sudah duduk di hadapan kami membawa aura yang bisa di sebut dengan sindrom l*knat dan sok bossy, tidak heran jika Ayah mampu membuat Zidan tidak berkutik.


Aku memperhatikan Ayah lekat, Ayah memakai kemeja yang membuat ayah tidak kalah tampan dari Zidan. Meski usianya sudah setengah abad, tapi Ayah masih memiliki banyak tenaga untuk memarahi anak anaknya.


Ayah menoleh ke arah Zidan, "iya kah? Benar begitu?" Ayah yang tidak percaya padaku, berusaha mencari jawaban dari Zidan.


"Iya, Pak, bisa di katakan seperti itu." Jawab Zidan singkat setelah mendapat kedipan mata dariku, sebagai kode agar Zidan membenarkan ucapanku.


"Jangan panggil Pak, cukup panggil Ayah saja!" Ayah menghela nafas panjang, " apa kamu serius dengan Sasya?"


"Saya sangat serius dengan Sasya, Yah." Zidan menjawab cepat tanpa berpikir lagi, berbicara dengan tegas dan penuh keyakinan.


Ayah membuang pandangannya, melihat keluar jendela, melihat kegelapan malam, "Sasya baru saja bercerai, Ayah ragu menikahkan Sasya kembali bukan karena Ayah tidak menyukaimu, tapi karena Ayah takut Sasya akan mendapatkan jodoh yang salah seperti sebelumnya."

__ADS_1


Mendengar ini, aku diam, tidak tau harus menanggapi apa, sementara Zidan menoleh ke arahku, dan tersenyum hangat, seakan memberikan dorongan agar aku tetap pada komitmen awal kami, yaitu pernikahan.


"Hidup tidak selamanya bergenang dalam lautan coklat yang manis dan lezat, ada kalanya juga akan hidup dalam genangan kopi yang pahit dan hitam, tapi dengan itu semua, seseorang akan bisa menghargai, belajar serta menjadikan pemikiran seseorang menjadi lebih dewasa," Zidan menghela nafas panjang, "para br*ngsek di luar sana sangat bervariasi, tapi sayangnya aku bukan salah satu dari mereka." Zidan berucap dengan santai dan tenang, seakan kegugupan tadi hanyalah background, sementara sekarang adalah gambar nyatanya.


Ayah mengangguk puas setelah mendengar ucapan panjang lebar Zidan yang mungkin memang ini adalah jawaban yang ingin Ayah dengar.


"Apa kamu siap menerima Sasya apa adanya? Sasya juga Kirani, apakah kamu sanggup untuk menerima mereka tanpa melihat masa lalu mereka?" Ayah kembali mengajukan pertanyaan sarkas yang mungkin akan membuat seseorang kelimpungan untuk menjawabnya. Tapi, itu tidak berlaku untuk Zidan. Jangan panggil Zidan jika dia tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan untuk Ayah.


"Semua orang punya masa lalu, aku juga. Tapi aku tidak berdiri di sini untuk menghakimi siapapun, karena yang terlihat hari ini adalah hari ini, siapa yang peduli dengan hari sebelumnya." Jawaban Zidan membuatku dan Ayah tersentak. Aku tau jika Zidan pandai berbicara, tapi aku tidak menyangka jika ucapan Zidan akan sefasih itu.


"Tidak buruk, Ayah menyukai caramu mendevinisikan kehidupan." Ucapan Ayah dipenuhi rasa bangga, dan membuatku tersenyum lebar tentunya.


Ini pertanda baik. Pertanda jika Ayah sudah memberikan restu untuk hubunganku dengan Zidan ke depannya, dan aku menyukai itu.


"Jika kamu memang sudah serius dengan Sasya seperti ucapanmu, sebaiknya cepat nikahi Sasya sebelum Ayah berubah pikiran dan menarik restuku kembali." Ucap Ayah seraya beranjak dan meninggalkan ku dan Zidan yang masih bengong, masih mencerna ucapan Ayah.


Beberapa detik kemudian, "apa? Menikah." Ucapku dan Zidan serentak, kami saling berpandangan, seakan tidak percaya dengan apa yang kami dengar, namun setelah kami memastikan jika ini nyata, kami tersenyum bahagia.


➡➡➡


Hallo guys, yg masih setia sama Perebut Suamiku. Aku minta maap kalo typo bertebaran dimana mana kayak pelakor. Padahal udah aku cek sampai tiga kali bahkan kadang lebih, tapi tetep aja lewat dari pengawasan..


Udah.. gitu ajah.. tengkyu buat like, komen, vote dan bintang limanya, i loph u pul.. 😚😘😙

__ADS_1


__ADS_2