
Aku masuk ke dalam kamar mandi berdesign classic. Lebih tepatnya adalah mantan kamar mandiku. Terdengar gemericik air mengalir yang mungkin berasal dari bathub. Dengan tirai yang terbuka aku dapat melihat tubuh seorang wanita yang menggigil dengan baju yang sudah basah kuyup. Juga warna kemerahan yang terbawa aliran air yang berasal dari seseorang yang tengah duduk di lantai dengan menangis sesenggukan.
"Oh my God, Carla, what really happened? (Astaga, Carla, apa yang sebenarnya terjadi??)" Aku berlari menghampiri Carla yang tengah memegang pinggang dengan satu tangan, dan tangan yang lain mengusap perutnya. Aku tau jika ini adalah pendarahan, salah satu tanda bahaya untuk Ibu hamil.
"Sasya, bayiku tidak bergerak!!" Carla menangis sejadi jadinya, perasaan takut kehilangan bayinya adalah perasaan sakit yang teramat sakit yang Carla rasakan.
Aku melihat wajah Carla yang pucat dengan bibir yang membiru. Menggigil dengan badan yang terasa dingin, namun dahinya terasa sangat panas. Aku takut Carla akan collapse jika tidak secepatnya di bawa ke Rumah Sakit.
Aku mengusap pelan perut Carla, namun tidak ada gerakan apapun di sana. Aku syok, tapi aku berusaha untuk bersikap biasa saja, agar tidak membuat Carla semakin cemas, "kenapa kamu duduk di lantai, ini sangat dingin!!" Aku beranjak, mengambil sebuah handuk yang tersampir pada gantungan handuk di belakang pintu, dan membungkus tubuh Carla dengan handuk itu.
"Kakiku kram, aku terpeleset dan berakhir dengan kaki yang terkilir. Kakiku sakit, dan perutku juga," ucap Carla yang masih menangis dan mengeluh sakit pada kaki dan perutnya.
Aku berusaha menarik tangan Carla agar bangun, "Apa kamu bisa berdiri??"
Carla menggeleng, "tidak, aku sudah mencobanya sejak satu jam yang lalu, tapi aku tidak bisa."
Aku masih berusaha untuk membantu Carla bangun, namun, aku juga tidak bisa. Carla terlalu berat dengan bayi di perutnya, "kenapa kamu tidak menghubungi orang lain?"
"Aku tidak membawa hp bersamaku," Carla juga berusaha sekuat tenaga untuk berdiri, namun gagal karena kakinya tidak bisa menopang tubuhnya. Membuatnya tidak seimbang, dan menyebabkan Carla terjatuh kembali, "aahh," Carla menjerit, "aku tidak bisa melakukannya."
__ADS_1
Aku menoleh ke arah Furi, "Furi! Cepat angkat Carla!!" Perintahku pada Furi, namun Furi sama sekali tidak tertarik untuk menanggapi. Juga Miranda yang tetap berdiri di samping Furi tanpa berniat untuk membantu.
"Tapi.. Sya.." Furi mengeluh. Enggan saat harus bersentuhan dengan makhluk sejenis Rubah yang bisa membuatnya alergi.
"Aahhh..." Carla kembali mengerang, memegangi perutnya.
Aku tidak sanggup jika harus berada pada situasi seperti ini lebih lama lagi, aku harus membujuk Furi agar bersedia mengangkat Carla. "Jangan ingat kesalahannya. Kamu marah, aku juga. Kamu benci, aku juga, namun anggap saja kamu menggendong putriku, bukan musuhku, please!!" Aku memohon dengan puppy eyes yang pasti akan membuat Furi tidak bisa menolaknya. Lagi pula aku tidak ingin menjadi egois dengan membiarkan Carla seperti ini. Minimal aku harus membawa Carla ke rumah sakit dan tidak membuat Zidan kecewa.
Furi menoleh ke arah Miranda, seakan meminta pendapatnya, dan Miranda menganggukan kepalanya. "Baiklah," Furi mengangkat tubuh Carla pada akhirnya setelah mendapat kode OK dari Miranda. Menggendong dan membawa Carla ke mobil dengan baju basah yang tidak sempat di ganti.
Miranda yang sudah siap di balik kemudi, langsung melajukan mobilnya begitu Carla sudah masuk dan duduk di belakang bersamaku.
Satu hal yang aku lupakan adalah keberadaan Adnan, "dimana Adnan?" Setelah berdebat cukup panjang dengan hati nuraniku, akhirnya aku memberanikan diri untuk menanyakan keberadaan pria itu.
"Aku tidak tau," jawab Carla di sela sela tangisannya.
Hah? Aku tersentak, apa maksudnya dengan kata TIDAK TAU?? Bagaimana mungkin seorang istri tidak mengetahui keberadaan suaminya sendiri? Sungguh tidak normal. Adnan juga sangat keterlaluan! Seharusnya dia menjadi suami siaga yang siap dua puluh empat jam berada di sisi Carla. Pria itu.. ck ck ck, sangat menyebalkan.
Sepuluh menit adalah waktu yang sangat singkat namun terasa sangat lama saat harus mendengar ratapan seorang wanita yang ku benci di sebelahku. Ingin ku cekik sampai mati saat mengingat betapa sombongnya dia beberapa waktu yang lalu, saat dia menyakitiku, saat dia menyakiti Haris, rasanya aku tidak ingin melihat wanita ini hidup di dunia barang sedetik.
__ADS_1
Muak dan ingin muntah adalah reaksi yang sangat wajar saat mantan istri bertemu dengan istri baru. Aku mulai menyesal karena telah datang dan menolongnya, seharusnya ku biarkan saja dia mati bersama kesombongannya. Agar dia tau rasa dan menerima KARMAnya.
Masih tersisa sepuluh menit lagi untuk tiba di Rumah Sakit. Aku memutuskan untuk menghubungi Zidan. Namun, Zidan tidak mengangkat panggilannya. Jelas jika Zidan tengah melangsungkan rapat penting bersama petinggi XA Company di Kuala Kumpur. Aku meninggalkan pesan suara untuknya, dan meminta Zidan untuk segera pulang ke Indonesia, kalau bisa detik itu juga begitu Zidan membuka pesan suaraku.
Erangan Carla mulai terdengar pelan dan lemah, Carla tidak hanya kehilangan banyak darah, namun juga suhu tubuh yang semakin tinggi, mungkin dia mulai lelah. Aku membaringkan kepala Carla di pangkuanku, mengusap puncak kepala Carla pelan, "apa itu masih sakit?"
Carla mengangguk, namun tidak membuka matanya, "apa kamu juga merasakan hal yang sama?" Suara samar Carla, bahkan nyaris tidak terdengar.
"Tentu saja, semua wanita akan merasakan rasa sakit yang sama saat melahirkan," ucapku mencoba untuk menenangkan Carla, "aku akan bertanya untuk terakhir kalinya, dimana Adnan?"
Carla menggelengkan kepalanya, "sudah ku katakan jika aku tidak tau dimana Adnan sekarang, jangan bertanya soal Adnan lagi padaku," jawab Carla dengan nada tenang dan santai, dengan keringat dingin yang membasahi dahinya.
Aku bungkam, tau jika Carla tengah menahan rasa sakit yang luar biasa.
"Kenapa kamu menolongku??" Tanya Carla pelan dengan suara terbata. Seakan tidak memiliki tenaga meski hanya untuk mengucapkan tiga patah kata.
"Aku menolongmu atas nama Zidan, karena Zidan sangat menyayangimu, dia selalu menceritakan tentangmu setiap malam sebelum kami tidur," ucapku tanpa berhenti mengusap dahi panas Carla yang di penuhi banyak keringat. Mungkin suhu tubuhnya saat ini mencapai tiga puluh sembilan derajat Celcius.
Carla tersenyum, sebelum akhirnya Carla tidak lagi bersuara. Aku menepuk pipinya untuk menyadarkannya, namun dia tidak lagi menanggapi, aku mulai panik, "Miranda, mengemudilah lebih cepat!!"
__ADS_1