Perebut Suamiku

Perebut Suamiku
PS chapter 23


__ADS_3

➡➡➡


Kepergian seringkali tanpa isyarat, sekalipun dengan pamit, tidak ada yang benar benar siap atasnya.


Selalu ada hampa bersamanya, selalu ada sedih yang mengiringi, selalu ada rindu setelahnya.


Kemudian.. hari hari berikutnya adalah perjalanan tentang merelakan dan melupakan. Beberapanya dapat berganti dan beberapanya lagi selamanya tidak bisa mati. #raiiiny


➡➡➡


Keesokan harinya aku pergi mengunjungi Kirani. Aku membeli susu juga kebutuhan Kirani seperti biasanya.


Kirani sedang bernyanyi bersama Ibuku saat aku tiba. Karena Helena harus pergi ke sekolah sampai siang hari, maka Kirani bersama Ibuku sampai Helena pulang.


"Sayang, ayo kemari!!!" Ucapku merentangkan tangan agar Kirani memelukku.


"Mama..." teriakan nyaring Kirani menggema keras, bahkan mungkin terdengar sampai ke halaman, di sertai dengan pelukan manja Kirani yang sangat aku rindukan.


"Apa Kirani sangat merindukan Mama?" Tanyaku yang di jawab oleh Kirani dengan anggukan.



..VISUAL KIRANIA BLINDA..


"Kamu terlihat sangat menggemaskan hari ini." Ucapku seraya merapikan rambut Kirani yang sedikit berantakan, "apa yang sedang kamu lakukan dengan nenek?"


"Kirani dan nenek sedang bernyanyi, Ma. Suara nenek sangat bagus." Jawab Kirani dengan mengacungkan ibu jarinya untuk memuji suara neneknya.


"Tentu saja suara Nenek sangat bagus, apa Kirani merindukan Paman Haris?"


Kirani mengangguk.


"Apa Kirani ingin mengunjungi Paman Haris di Rumah Sakit??"

__ADS_1


"Iya Ma, Kirani ingin bertemu Paman Haris."


"Baiklah, ayo kita bersiap siap. Kita akan naik sepeda motor, jadi.. pakai baju hangat dan pakai helmmu, hmm??"


"Siap Ma," ucap Kirani seraya berlari ke kamarnya untuk mencari baju hangat.


Aku hanya tersenyum melihat ini, kemudian aku mendekat dan duduk di samping Ibu yang dari tadi hanya menyimak obrolanku dan Kirani tanpa bersuara sedikitpun. "Apa Ayah belum pulang, Bu?" Tanyaku sambil bergelayut manja pada lengan Ibu.


"Ayahmu akan pulang terlambat hari ini," jawab Ibu sambil menepuk tanganku.


"Pasti itu sangat melelahkan," ucapku membayangkan betapa lelahnya Ayah saat harus mengajar anak anak jaman sekarang yang susah di atur. "Jika aku mempunyai banyak uang nantinya, mungkin aku akan meminta Ayah untuk berhenti dari pekerjaannya."


Ibu hanya tersenyum, "ini bukan tentang uang Sya, tapi ini tentang kepedulian. Apa kamu tahu alasan mengapa Ayahmu lebih memilih menjadi Dosen dari pada bekerja pada Perusahaan dengan gaji yang sangat tinggi?"


Aku menggelengkan kepala, karena aku memang tidak tahu. Seumur hidupku bahkan aku tidak pernah menanyakan ini pada Ayah, ataupun mencoba untuk mencari tahu. Aku hanya berpikir, jika Ayah menjadi Dosen karena memang tidak ada pilihan lain.


"Karena Ayahmu ingin mengajarkan orang lain tentang ilmu yang sudah Ayah dapatkan selama ini. Ayah tidak ingin ilmunya hanya di miliki oleh dirinya sendiri, minimal Ayah ingin membaginya dengan orang lain."


Oh.. begitu? Jadi itu alasan Ayah yang sebenarnya? Pantas saja Ayah selalu memasukanku, Haris dan Helena di sekolah terbaik, meskipun itu adalah sekolah swasta dengan biaya yang super mahal.


"Hap.." aku menangkap tubuh Kirani dan memeluknya erat, "Ayo.. pamit sama nenek dan kenakan helmmu!"


"Kirani berangkat dulu Nek." Ucap Kirani menjabat dan kemudian mencium punggung tangan Neneknya.


"Baiklah, hati hati!"


...


Aku dan Kirani tiba di Rumah sakit lima belas menit kemudian.


Kami berjalan melewati lorong rumah sakit dengan tangan yang terjalin satu sama lain. Aku dapat melihat raut gembira yang Kirani tunjukan karena dapat mengunjungi Haris.


Akhirnya kami tiba di depan ruang tempat Haris di rawat. Karena aku datang bersama Kirani, maka aku hanya bisa melihat Haris dari luar melalui kaca lebar, terlebih karena anak kecil tidak di izinkan untuk membesuk orang sakit di ICU.

__ADS_1


Sejauh ini, Haris masih sama, masih setia dengan tidur panjangnya seperti telah nyaman dalam mimpinya hingga lupa bahwa dia masih memiliki keluarga yang selalu menunggu di dunianya yang sebenarnya.


"Apa Paman Haris akan bangun?" Pertanyaan Kirani menahan air mataku agar tidak jatuh.


"Tentu saja sayang, Paman pasti akan segera bangun." Ucapku menghibur Kirani, meski sebenarnya aku sendiri juga tidak yakin, tapi aku tidak sampai hati untuk membuat Kirani sedih.


"Tapi kenapa Paman Haris tidak pernah membuka matanya sampai sekarang?" Pertanyaan Kirani seperti belati yang menusuk sampai aku mati rasa, hingga tanpa terasa bulir bening mulai mengalir dari kedua mataku tanpa bisa ku tahan lagi.


Aku bungkam, tidak bisa lagi untuk berkata kata, karena jawaban dari pertanyaan Kirani adalah.. aku juga tidak tahu.


Untuk kesekian kalinya, aku benar benar merasa bodoh. Aku ingin menjadi kuat untuk bisa melindungi keluargaku, agar semua orang yang ku sayang tidak pernah merasakan apa yang di sebut dengan perpisahan. Tapi nyatanya? Aku gagal melindungi mereka, aku bahkan tidak mampu dan tidak berkuasa.


"Kondisi Mas Haris masih sama Mbak." Suara Perawat Mitha cukup mengejutkanku. Aku menoleh dan mendapati Perawat Mitha sudah berada di sampingku, entah sejak kapan dia berdiri di sini, aku sama sekali tidak memperhatikan ini.


Meski sejujurnya aku menghela nafas lega dan bersyukur karena Perawat Mitha datang di waktu yang tepat dan telah menyelamatkanku dari pertanyaan Kirani yang tidak bisa ku jawab.


"Aku tahu." Jawabku singkat.


"Tapi setidaknya kondisi Mas Haris sangat baik, maksudku organnya. Berdasarkan pemeriksaan Dokter terakhir kali, mengatakan jika semua organ Mas Haris masih bekerja seperti biasanya dan tidak ada masalah sama sekali." Perawat Mitha menjelaskan tanpa aku harus bertanya.


Aku mengangguk. Aku tahu selama Organ Haris masih bekerja dengan normal dan tidak ada masalah, maka kemungkinan Haris untuk bangun adalah empat puluh persen. Setidaknya, selama organ Haris masih sehat dan tidak membusuk maka itu sudah cukup untuk saat ini.


"Jika Mbak Sasya ingin masuk, silahkan.. tinggalkan Kirani bersama saya di luar." Ucapan Perawat Mitha membuatku tersenyum.


"Terima kasih Suster," ucapku seraya membungkukan badan, kemudian aku menoleh ke arah Kirani, "Kirani.. jadilah anak yang baik dan tidak merepotkan Tante Mitha, okey?"


Kirani mengangguk.


Aku memakai pakaian protektif pembesuk agar bisa melihat Haris dari dekat, dan segera memasuki ruang ICU tanpa menunggu lagi. Suasana ICU sangat mencekam, hanya terdengar suara dari Ventilator yang memonitoring Haris selama dua puluh empat jam untuk memantau denyut nadi serta pernafasan Haris. Selang infus dan juga selang untuk mengeluarkan cairan dari tubuh Haris menambah suasana menjadi tidak biasa.


Aku mengamati wajah Haris lekat, semua luka luar Haris telah sembuh dan kembali seperti sedia kala. Tapi kenapa Haris masih tidak membuka matanya?


Aku takut Haris sudah merasa nyaman dalam mimpinya sampai tidak berniat untuk bangun kembali, aku takut tidak bisa melihat Haris lagi, dan aku takut Haris akan pergi jauh.

__ADS_1


Aku membungkam mulutku agar tidak menangis, namun air mata s*alan ini terus saja menetes tanpa bisa ku bendung lagi. Aku lelah..


"Haris.. aku ingin kamu kembali hidup, dan kita akan berdiri di puncak dengan kehidupan baru keluarga kita. Aku berjanji."


__ADS_2