
➡➡➡
Kebahagiaan selalu butuh pengorbanan, entah kamu atau orang lain yang harus berkorban. #unknown
➡➡➡
Sudah cukup lama Zidan berada di ruang kerjanya, memikirkan tentang banyak hal. Peristiwa tidak menyenangkan yang terjadi belakangan ini membuat kepala Zidan pening. Zidan memijit ruang di antara alisnya. Membolak balik kartu kredit Carla dan mengawasinya lekat lekat.
Tidak tau apa yang Carla pikirkan sampai rela melepaskan aset berharganya, mungkin hati Carla sungguh sungguh sudah membeku dan mati, dan semuanya tentu karena Zidan yang tidak mampu mendidiknya dengan baik.
Menyakiti Sasya, Caramel dan Haris adalah bentuk kejahatan secara halus dan tak kasat mata, bertahap namun mematikan.
Zidan mencoba untuk mengerti saat Carla meminta apartemen dan ingin tinggal sendiri, Zidan tentu mengetahui alasannya, yaitu karena hubungan Caramel dan Carla tidak baik. Namun, Zidan masih bisa memaklumi ini, tapi jika Carla berani mengumpat Caramel di depannya secara langsung adalah suatu hal yang tidak bisa di toleransi.
Zidan akui, jika dia memang terlalu sibuk sampai tidak bisa memantau tumbuh kembang anak anaknya sendiri. Katakanlah jika dia egois, namun semua sudah terjadi, sangat sulit untuk memperbaiki dan menatanya ulang. Dia bahkan tidak tau apa yang harus dia ubah terlebih dahulu. Hal paling sederhana tentu dirinya sendiri. Mungkin dia perlu meluangkan waktu untuk sekedar menyapa dan bercengkrama dengan anak anaknya.
Zidan memutuskan untuk naik ke lantai atas, ingin melihat kondisi Caramel. Namun dia mengurungkan niatnya saat pintu kamar Caramel ternyata tidak tertutup rapat, menyisakan celah untuknya melihat apa yang kira kira para wanita ini lakukan di dalam kamar Caramel. Zidan mengintip, melihat Sasya yang tengah memotivasi Caramel, memberikan beberapa petuah dan dukungan penuh khas seorang Ibu.
Zidan tersenyum tanpa sadar, ternyata seorang Ibu memang berperan aktif dalam pembentukan mental seorang anak, dan yang membuat Zidan terharu adalah saat Caramel memeluk Sasya, dan mengatakan "thank you, Mam, im very happy to have you as my mother".
Ini adalah kata kata terindah yang pernah Zidan dengar dari bibir Caramel selama lima belas tahun terakhir. Ada semacam perasaan bahagia dan bangga yang terbungkus menjadi satu.
Terlihat Sasya menyelimuti Caramel, mematikan lampu dan melangkah pergi. Tidak ingin keberadaannya di ketahui, Zidan segera pergi dan menutup pintunya.
〰〰〰
__ADS_1
Aku menyelimuti tubuh Caramel hingga batas leher, mencium dahinya sekilas, "good night, honey, always sweet dreams."
Caramel mengangguk.
Aku meninggalkannya, menutup pintunya, dan berjalan ke kamar Kirani, melihat Kirani yang sudah tertidur lelap dengan mom dan bayi siput di pelukannya. Sangat mengerti jika Kirani sangat merindukan Adnan, tapi dimana Adnan sekarang?? Mungkin aku perlu mencari tau tentang pria s*alan itu melalui Furi besok. Bagaimanapun dia tetap Ayah biologis Kirani, jadi ikatan batin tidak akan pernah meleset.
Aku keluar dari kamar Kirani, melangkah dengan perlahan dan segera menutup pintunya kembali.
Baru beberapa langkah berjalan, tiba tiba ada yang menarik tanganku, aku berjengit kaget. Belum juga pulih dari keterkejutanku, seseorang sudah menghimpit badanku ke dinding, dengan satu tangan melingkar pada pinggangku, dan tangan lain memegang tengkukku, "Zidan, ada apa?" Aku bisa mencium parfum maskulin yang menguar dari tubuh Zidan, juga wajah yang hanya berjarak beberapa inci dari wajahku. Tampan, adalah satu kata yang membuatku berdebar tidak karuan.
Bukannya menjawab, Zidan justru mengeratkan pelukannya dan mengecup bibirku lembut, "Zidan, hentikan!! Anak anak bisa melihatnya!!" Aku merengek. Seakan tidak mau melakukan ini, namun di sisi lain aku tidak bisa menolaknya. Secara naluri aku bahkan memeluk erat pinggang Zidan.
"Mereka sudah tidur, jangan khawatir," Zidan berbisik pelan di telingaku, "sayang, terima kasih."
Aku mendongak, menatap mata gelap Zidan, "untuk apa?"
"Tidak perlu berterima kasih! Bukankah ini yang kita butuhkan? Saling mendukung dan saling melengkapi adalah sesuatu yang pernah hilang dalam hidup kita dalam problematika berbeda yang telah kita alami, namun.. semua itu mengajarkan kita untuk menghargai, memperbaiki suatu masalah dengan menyelesaikannya, bukan dengan melarikan diri atau menimpanya dengan masalah baru." Jawabku panjang lebar, tidak ingin kehilangan seseorang yang ku cintai untuk ke dua kalinya adalah inti dari ucapanku.
Zidan tersenyum manis, memilin milin rambutku. Mungkin Zidan cukup puas dengan ucapanku, lagi pula aku memang harus membuat Zidan membuka mata dan melihat suatu kebenaran tanpa lari ataupun sembunyi. Selalu ada konsekuensi dalam sebuah tindakan, tergantung apa yang kita tanam dan kembali pada hati nurani kita.
"Aku ingin menunjukan sesuatu untukmu, ayo ikut aku!!" Zidan mengangkat tubuhku, menggendongku naik ke lantai tiga.
"Zidan, lepaskan aku!! Kamu akan lelah!" Berharap Zidan akan menurunkanku dari gendongannya. Tidak ingin Zidan lelah, karena dia sudah cukup lelah menghadapi kenyataan pahit keluarga ini.
"Jadilah baik!! Aku bahkan tetap akan menggendongmu meski aku lelah!" Zidan meyakinkanku dengan mencium puncak kepalaku.
__ADS_1
Aku tersipu, membenamkan wajahku pada dada bidang Zidan. Aku menyukai saat saat seperti ini, saat dimana tidak ada jarak di antara kami berdua. Rasanya tidak ingin moment manis ini berakhir.
Zidan membuka pintu ke sebuah ruang di lantai tiga, dan segera membawaku masuk tanpa ragu. Suasana gelap membuatku semakin mengeratkan pelukanku, kemudian Zidan menekan saklar, dan.. astaga..
"Sayang?" Aku menatap wajah Zidan, meminta penjelasan tentang semua ini.
Zidan menurunkanku, "ini hadiah pernikahanku untukmu. Aku membuat ini karena kamu adalah seorang astrophile (pecinta benda benda langit), jadi aku yakin kamu akan menyukainya." Jawab Zidan melingkarkan tangannya dan memelukku dari belakang.
"Ini sangat indah," mataku berbinar saat menyaksikan sistem tata surya yang Zidan letakan di ruangan ini, terlihat nyata dengan taburan bintang, dan juga planet yang berjejar sesuai garis edarnya, "apa ini sungguhan?" Tanyaku pada akhirnya, penasaran dengan cara Zidan menciptakan ini.
Zidan meletakan dagunya di bahuku, dan berbisik pelan di telingaku, "ini tipuan cahaya, hanya tiga dimensi, tidak benar benar nyata, namun aku membuat ini sepenuh hati, ini bisa menjadi ruang pribadi kita, akan menjadi kamar kita mulai sekarang."
Aku berbalik, menatap mata indah Zidan. Mengaguminya adalah hal terindah yang tidak mungkin ku sesali di sepanjang hidupku. Pria ini selalu tau dengan apa yang aku inginkan tanpa aku harus mengatakannya, selalu mengerti tanpa aku harus menjelaskan, dan selalu hadir tanpa aku minta. "Terima kasih, sayang. I will always love you, now, latter, tomorrow, day after tomorrow, and forever (aku akan selalu mencintaimu, sekarang, nanti, esok, lusa dan selamanya)."
〰〰〰
Curhat dong.
Sebenarnya, aku ingin selesein novel ini di chapter 50, tapi gak tau dengan 5 bab yang tersisa bakal cukup untuk membahas konflik hati antara Adnan, Rubah sama Sasya atau gak. Jadi ya udah.. jalani aja dulu. Soalnya aku ingin lanjut ke judul baru, yaitu..
Caramel ⏩ Perjodohan, dan..
Kirani ⏩ Perjanjian Terlarang.
Masih satu novel tapi dengan kisah yang baru, itu aja sih. Semoga kalian tetap favoritkan ya??
__ADS_1
Tengkyu.. 😉😘😘