
Tengkyu gaes yang udah luangin waktu buat baca novel ini, happy reading.. ๐๐๐๐
โกโกโก
Setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua untuk hidup agar bisa memperbaiki kesalahannya.
โกโกโก
Aku tersenyum saat melihat wajah ceria Caramel yang tengah memperhatikanku lekat dari kursi tempatnya duduk.
"Kenapa kamu terus saja melihatku? Apa ada yang salah dengan penampilanku?" Aku meraba wajahku, penasaran karena Caramel terus saja mengawasi kemanapun aku melangkah, seakan ada sesuatu yang menempel di wajahku.
Caramel menggeleng, "tidak, hanya saja ini pertama kalinya aku melihat Papa sarapan di rumah dan juga pertama kalinya aku di masakan oleh seseorang yang spesial," Caramel tersenyum lebar.
Aku yang tengah menuang segelas susu lantas menghentikan aktifitasku, ini pertama kalinya Zidan sarapan di rumah? Jadi selama ini Caramel selalu sarapan sendirian? Astaga.. Zidan..
Aku segera melirik Zidan untuk meminta penjelasan tentang apa arti ucapan Caramel.
Zidan yang mengerti arti dari tatapanku hanya menggaruk tengkuknya, dan membuang pandangannya ke arah lain untuk menghindari tatapan penuh ancaman yang ku layangnya padanya.
"Ayahmu hanya terlalu sibuk untuk mencari uang sampai lupa kalau dia mempunyai putri secantik ini di rumah," aku menyerahkan sepiring nasi yang sudah ku beri lauk untuk Caramel. Berusaha untuk mencairkan suasana canggung yang hampir saja tercipta.
Caramel menerimanya, "terimakasih, Kak," ucap Caramel seraya menunjukan senyum manisnya.
"Makan yang banyak, agar kamu bisa tumbuh dewasa lebih cepat!" Ucapku mengedipkan sebelah mataku, dan di balas dengan acungan jempol dari Caramel.
Zidan dan Caramel benar benar satu paket. Mungkin jika aku tidak berada di sini, mereka berdua akan diam sepanjang waktu seperti dua onggok batu yang keras dan dingin.
Tiba tiba ponselku berdering, aku segera mengangkatnya tanpa ragu dan mendengarkan seseorang yang tengah berbicara dengan serius dari balik panggilan. Beberapa saat kemudian, "aku mengerti, aku akan kesana sekarang." Ucapku mematikan sambungan panggilan dan segera menoleh ke arah Zidan dengan setumpuk perasaan rumit dengan pandangan suram.
....
__ADS_1
...
..
.
Aku menunggu dengan cemas di luar ruang ICU. Aku tidak tau dengan diriku dan tidak tau dengan hidupku. Sejak Perawat Mitha menghubungiku dan mengatakan jika kondisi Haris memburuk, aku tidak lagi memiliki kepercayaan diri.
Hanya satu yang aku pikirkan, aku tidak rela jika Haris pergi sekarang, meninggalkan dunia saat dunia bahkan belum menganggap kehadirannya adalah sesuatu hal yang sangat buruk. Namun tidak tau kenapa, bayangan kematian Haris terus saja menghantuiku.
Aku takut..
Zidan memelukku erat, menepuk punggungku dan mencoba untuk menenangkanku, tapi aku bisa apa?
Aku tidak percaya pada siapapun dalam kondisi seperti ini, aku hanya percaya jika Tuhan akan memberikan kesempatan kedua untuk Haris hidup agar bisa memperbaiki dan menata hidupnya kembali.
"Siapa yang berada di dalam?" Adalah suara Zidan yang membuatku tersentak. Berbisik pelan di telingaku.
Aku menoleh ke arah Zidan yang juga tengah menatapku lekat, "Haris.. dia kritis.." aku terbata, aku tidak tau harus menjelaskan dari mana dulu. Aku merasa tidak punya kata kata yang bisa di ucapkan saat ini.
"Siapa Haris?? Apa dia mantan suamimu?" Zidan menatapku tajam, seakan ingin memakanku karena tidak sabar menunggu penjelasanku tentang siapa yang berada di dalam ruang ICU.
Wajar Zidan berpikir jika Haris adalah Mantan suamiku, dengan melihat tampang khawatirku, Zidan jelas mengira jika Haris memang seseorang yang mengisi hatiku. Meski nyatanya, Haris memang salah satu pengisi di sana, namun berstatus sebagai adik kesayanganku.
"Apa aku tidak pernah mengatakan, jika aku mempunyai seorang adik laki laki yang sedang koma?"
"Koma??" Zidan menggelengkan kepala mendengar ucapanku. Mungkin Zidan tidak habis pikir kenapa aku bisa menyembunyikan hal sepenting ini. Tapi, aku tidak pernah berniat untuk menyembunyikan apapun, aku hanya belum punya waktu untuk menceritakannya.
"Haris kecelakaan. Dokter mengatakan jika benturan di kepala Haris sangat parah hingga membuat Haris belum sadar sampai sekarang," aku terisak, aku sudah kehabisan kata kata, aku hanya berharap Zidan akan mengerti jika aku sedang tidak ingin membicarakan hal ini.
Zidan menepuk punggungku pelan, "semua akan baik baik saja, Haris akan hidup." Zidan berusaha untuk meyakinkanku, meski Zidan sendiri mungkin tidak yakin untuk kesembuhan Haris.
__ADS_1
"Tapi bagaimana jika..."
"Stt! Percayalah.. tidak akan ada yang terjadi, Haris akan segera bangun"
Lima belas menit sudah berlalu, tapi Dokter yang memeriksa Haris belum juga keluar. Aku meremas rambutku, aku mulai depresi. Tapi, aku yakin Dokter akan memberikan yang terbaik untuk Haris.
Pintu ruang ICU terbuka, aku langsung menghampiri Dokter Neurologi begitu dia keluar dari sana, "Dokter, bagaimana kondisi Haris?"
"Tenang saja, Haris sudah kembali stabil, jangan khawatir." Ucap Dokter sebelum berlalu meninggalkan ku yang masih diam mematung.
Entah perasaan lega atau takut yang kini menyelimutiku. Meski Haris sudah melewati masa kritis sekarang, tapi tidak tau untuk nanti, esok atau lusa. Bagaimana jika besok Haris tidak bisa melewati masa kritisnya? Bagaimana jika Haris mati? Tidak ada yang bisa menjamin ini, bahkan meski itu Dokter sekalipun.
"Jika kamu mau, aku bisa membawanya ke luar negri, aku akan memilih Rumah Sakit dan Dokter terbaik untuk memulihkan Haris." Zidan berucap dengan sungguh sungguh.
Aku mendongak, melihat Zidan yang tidak mungkin bermain dengan kata katanya. Aku tau Zidan sangat serius, dan aku juga tahu Zidan berniat baik, tapi aku tidak bisa jauh dari Haris, setidaknya aku masih bisa mengunjungi Haris seminggu dua kali jika Haris di sini, tapi jika Zidan sampai memindahkan Haris ke luar negri, meskipun sistim pengobatan di sana jauh lebih canggih, tapi aku tidak akan bisa menjenguk Haris lagi.
"Pikirkan ini baik baik! Peralatan kesehatan di luar negri sudah sangat canggih dan mutakhir, aku yakin jika proses penyembuhan Haris akan bisa maksimal jika menggunakan prosedur yang mumpuni."
Aku masih diam. Mencoba mencerna kata kata Zidan. Meski di satu sisi, aku memang ingin Haris sembuh, tapi di sisi lain aku tidak ingin Haris kemana mana dan tetap di sini.
"Atau... jika kamu mau, aku bisa saja mendatangkan Dokter beserta alat kesehatan dari luar negri agar Haris tetap berada di sini." Adalah penawaran Zidan setelah melihatku yang tidak bereaksi.
Mendatangkan Dokter dari luar negri?
Sepertinya Zidan bisa membaca pikiranku dengan mudah, dan penawaran Zidan sepertinya bukan ide yang buruk, bukankah dengan begitu kemungkinan Haris untuk sembuh tidak lagi sekedar mimpi, namun itu bisa menjadi kenyataan?
Aku tersenyum dalam hati, memeluk Zidan erat, "terimakasih Zidan, aku tau jika kamu satu satunya orang yang bisa mengerti aku. Aku....,"
"SASYA..."
Ah? Aku tersentak, siapa manusia kurang ajar yang berani berteriak kencang dan berani mengangguku dengan Zidan? Aku menoleh ke arah sumber suara, dan melebarkan mata saat melihat seseorang dengan tampang emosi berdiri di sana dengan berkacak pinggang, "A.. ayah.. sejak kapan Ayah berdiri di sana??"
__ADS_1