Perebut Suamiku

Perebut Suamiku
PS chapter 51


__ADS_3

Mf ya gaes, lama gk up karena otak lagi mampet gak bisa mikir. Insyaalloh, tamat dalam beberapa chapter lagi kalo si Adnan sudah muncul.


Udah, gitu aja.. happy reading..


➡➡➡


Aku menghela nafas panjang, lelah karena melihat wanita ini terus saja menangis, tanpa berniat untuk menghentikannya. Tidak tau seluas apa sumber air matanya hingga tidak surut meski hampir satu jam dia menangis.


Aku melihat jam tanganku, "apa kamu tidak lelah? Kamu membuatku pusing?" Aku menekankan suaraku, berharap dia tidak hanya mendengar namun juga menerapkannya. Jengah hanya ku simpan di dalam hati, dan mulai merasa jika Carla tidak kooperatif dalam proses interogasi kali ini bahkan terkesan mengulur ulur waktu.


"Tapi, jika aku bicara, kamu pasti akan mengatakannya pada Adnan," ucap Carla terbata di sela sela tangisannya.


"Kamu mau menjelaskan atau tidak, aku tetap akan memberi tahu Adnan yang sebenarnya. Tidak ada kebohongan yang abadi, dan Adnan juga akan tau meski aku tidak memberitahunya." Aku memijit ringan dahiku, pening adalah saat ucapan tidak lagi mempan, mungkin tindakan baru bisa menyadarkan Carla dari halusinasinya, "jangan membuang waktuku lagi!!" Aku menaikan nada suaraku, "aku tidak memiliki waktu untuk berurusan dengan wanita sepertimu!!"


"Sasya.. tolong jangan lakukan ini!! Aku akan memberi tau Adnan yang sebenarnya, tapi tidak sekarang!!" Carla memegang tanganku.


"Lalu kapan? Apa kamu pikir Adnan akan memaafkanmu jika kamu yang menjelaskannya secara pribadi? Adnan tidak sebaik itu, Carla! Kamu juga harus sadar jika hubungan kalian tidak lebih dari sekedar permainan! Jadi berhenti menyakiti Adnan!" Aku telah marah sekarang, semua juga karena wanita itu yang telah memancing amarahku.


"Sasya, kumohon!! Tidak saat ini, aku sudah sangat hancur," Carla menangis dengan menggenggam tanganku, "aku tidak ingin semakin hancur."


Aku menepis pegangan tangan Carla hingga terlepas. Aku tersenyum simpul, mencengkeram rahang Carla, dan memaksanya agar mau menatap mataku, "lalu.. dari mana kamu mendapatkan foto foto itu? JAWAB!!"


Carla seperti enggan untuk menatap mataku, tapi aku terus memaksanya sampai dia mau menatap mataku secara langsung, "Sasya... itu... ah..." Carla menjerit saat aku mengencangkan cengkramanku.

__ADS_1


"Aku.. itu.. aku mengeditnya, itu bukan foto Adnan, tapi foto pria lain." Carla berusaha bernafas kembali setelah aku melepaskan cengkeramanku, dengan setitik darah yang mengalir dari pipinya akibat kuku panjangku yang menancap di sana.


Aku mulai memikirkan ini, mencerna satu persatu kata yang Carla ucapkan, "Agh..." aku meraung dan meremas rambutku dengan frustasi. Jadi, semua itu hanyalah kebohongan yang Carla lakukan untuk menutupi kehamilannya? Kini aku depresi, merasa semakin lelah saat memikirkan ini. Antara aku, Adnan, Carla dan Zidan, ada semacam sekat tipis yang tidak bisa ku hancurkan. Hubungan yang sudah rumit, ternyata semakin rumit saat kebenaran sudah di depan mata.


Aku bungkam, kehabisan kata kata.


Aku bahkan tidak bertanya lebih jauh tentang Ayah dari bayi itu, karena semua hanya percuma. Tidak ada hubungannya denganku. Aku hanya merasa kasihan dengan Adnan di satu sisi, merasa iba saat aku menyadari jika korban yang sebenarnya bukanlah aku atau Kirani, melainkan Adnan.


"Sya.. aku minta maaf, tapi tolong.. aku sangat mencintai Adnan," Carla berusaha menggapai tanganku, namun sebelum tangannya bahkan menyentuhku, aku sudah menepisnya. Marah, kecewa dan sedih adalah perasaan yang tumpang tindih dalam benakku. Bahkan, aku tidak bisa lagi menahan air mataku, hingga titik itu jatuh begitu saja dari kedua mataku.


Aku mengangkat sebelah alisku, "apa?? Maaf? Apa kamu pikir dengan kata maaf kamu bisa mengembalikan kehidupan yang sudah kamu hancurkan? Rumah tanggaku bahkan hancur hanya karena menuruti keegoisan kamu!! Lalu aku? Aku dan Kirani bahkan sudah sangat membenci Adnan! Apa menurutmu itu bisa di kembalikan dengan kata maaf??" Aku menggelengkan kepalaku, "tidak, Carla. Semua yang telah menjadi abu, tidak bisa di kembalikan seperti semula."


"Sya.. aku tau jika aku salah, tapi kamu harus mendengar penjelasanku. Aku tidak sengaja bertemu Adnan di kota itu, di hari itu. Aku depresi karena b*jingan itu kabur saat tau aku hamil. Aku bertemu Adnan secara tidak sengaja, dia pria yang baik, aku terpesona hingga aku memberinya segelas minuman yang sudah ku beri obat tidur. Aku ingin dia menjadi suamiku. Jangan salahkan cinta, Sya, karena cinta itu datang begitu saja tanpa aku minta!"


Aku menoleh ke arah Carla, "Dengan menjebak dan mengancamnya jika dia tidak mau bertanggung jawab??"


"Lalu.. kamu tetap mencintainya saat tau jika Adnan sudah memiliki Istri? Apa kamu yakin jika itu adalah cinta? Apa kamu yakin jika kamu tidak menjadikan Adnan tidak lebih dari sekedar kambing hitam? Kamu egois, sangat egois. Kamu bahkan sudah sangat keterlaluan dengan menghancurkan orang lain hanya untuk keselamatanmu sendiri. Sangat hebat." Aku bertepuk tangan, mengagumi akal licik Carla, dan bodohnya adalah... aku terperdaya sampai mempercayai semua ucapannya.


Aku berdiri, membungkuk, dan berbisik di telinga Carla, "ini sudah salah sejak awal, dan semua yang menyimpang harus di kembalikan ke jalan yang semestinya."


Plaak.. aku menampar Carla pada pipi kanannya, "ini untukku."


Plaak.. tamparan yang ke dua kalinya, "ini untuk Caramel."

__ADS_1


Plaak.. tamparan yang ke tiga kalinya, " ini untuk Adnan."


Carla memegang pipinya, "Sya.. ku mohon!! Kamu boleh memukulku sampai kamu puas, tapi kamu tidak boleh mengatakan ini kepada Adnan," suara Carla terdengar lemah bahkan nyaris tidak terdengar.


"Kamu tidak memiliki hak untuk melarangku," aku melangkahkan kakiku, keluar dari ruang rawat inap Carla dengan perasaan rumit yang bergejolak di dalam hati. Aku menghubungi Furi untuk mencari tau keberadaan Adnan begitu aku masuk ke dalam mobil. Melajukan mobilku ke Rumah Orang Tua Adnan.


Menyetir dengan ugal ugalan, melanggar rambu lalu lintas bahkan beberapa kali hampir menabrak mobil lain. Namun, aku yang sudah terlanjur marah, tidak lagi memperdulikan keselamatan.


Beberapa saat kemudian, aku tiba di halaman sebuah Rumah mewah keluarga Pradipta. Aku turun dari mobil dan segera masuk ke dalam Rumah setelah Mama membukakan pintunya.


Aku memeluk Mama erat, "Ma, apa kabar?"


Mama membalas pelukanku, "seperti yang kamu lihat, Mama sangat baik." Mama tersenyum lembut, menyeretku untuk duduk di sofa.


"Ma.. apa Adnan di sini?"


Mama menggeleng, "tidak sayang, Adnan tidak pernah kembali setelah bercerai denganmu. Syukurlah, setidaknya dia masih memiliki hati dengan merasa bersalah," Mama menggenggam tanganku.


"Ma..." aku memeluk Mama dan menangis sesenggukan, "sebenarnya.. Adnan.. sangat menderita, Ma! Adnan memilih untuk menanggung semuanya sendiri saat mendapat ancaman dari Carla." Aku kembali terisak, merasa bersalah karena tidak menyadari ini sejak awal.


Aku mulai menceritakan semuanya kepada Mama, berharap agar Mama tidak lagi membenci dan tidak lagi menyalahkan Adnan atas semua yang telah terjadi.


"Sudahlah, semua sudah berlalu," Mama menepuk pelan punggungku, "Mama berharap kamu bisa memaafkan Adnan, dan kembali seperti dulu! Melihat kalian menjadi keluarga yang harmonis membuat Mama sangat bahagia. Namun, semua pilihan berada di tanganmu, Mama tidak akan memaksa dan akan menghargai keputusan kamu."

__ADS_1


Aku tersenyum mendengar ini. Meski merasa kasihan melihat Mama, namun.. keputusan tetap berada di tanganku.


Aku mengambil Hpku yang berbunyi, sebuah notifikasi pesan whatsapp dari Furi. Aku membulatkan mata saat melihat pesannya, tidak ada kata apapun, hanya sebuah lokasi yang mungkin ada Adnan di sana.


__ADS_2