Perebut Suamiku

Perebut Suamiku
PS chapter 50


__ADS_3

➡➡➡


Jangan merebut kebahagiaan orang lain demi menjadikan diri lebih bahagia, sebab akhirnya kamu tidak akan bahagia. #unknown


➡➡➡


Keesokan harinya.


Aku turun dari mobil dengan lesu setelah tiba di rumah sakit. Berjalan dengan gontai dan menghela nafas panjang begitu tiba di depan pintu tempat Carla di rawat. Ragu, apakah aku bisa menahan amarahku saat melihat wajah Carla? Aku takut akan menjadi gila dan membunuh wanita itu detik itu juga.


Aku membuka pintu, mengawasi sekeliling. Paviliun kelas pertama dengan fasilitas unggulan adalah kamar yang Zidan pilih untuk pemulihan Carla. Ruangan berdesign modern yang luas dan berAC ini sangat cocok di gunakan oleh orang seperti Zidan yang tidak menyukai kebisingan.


Ada sebuah kulkas, satu set sofa, televisi, bahkan ranjang tambahan untuk penunggu pasien. Juga beberapa vas dengan bunga mawar yang sepertinya masih baru. Mungkin perawat di bangsal ini rajin mengganti bunganya setiap hari. Bahkan ruangan ini sangat bersih dan tidak ada bau obat obatan yang tercium, melainkan wangi semerbak sebagai gantinya.


Tampak Zidan tengah sibuk berkutat dengan laptop di hadapan. Duduk dengan tenang di atas sofa bersama buah buahan yang tersaji di atas meja. Mungkin ada beberapa sanak saudara atau kolega yang datang untuk menjenguk Carla dengan membawa buah buahan, karena tidak mungkin Zidan yang membelinya. Juga seseorang yang terbaring di atas ranjang Rumah Sakit, seorang wanita yang masih betah memejamkan matanya.


Zidan menoleh ke arahku begitu aku memasuki ruangan, "Apa sesuatu terjadi??" Zidan bangun dari duduknya dan menghampiriku. Aku hanya menggelengkan kepala, merasa tidak perlu untuk menceritakan sesuatu yang telah aku temukan sebelum aku tiba di sini. Zidan menggenggam tanganku dan mengajakku untuk duduk di sofa, "apa kamu baik baik saja?" Zidan mengulurkan segelas air dingin kepadaku.


Aku menerima gelas itu, namun tidak meminumnya, "tidak.. aku hanya merasa sedikit lelah."


"Ada apa dengan dahimu?" Zidan memegang dahiku dengan hati hati.


"Oh ini..." Aku turut memegang dahiku sendiri, "aku menabrak pembatas jalan, dan dahiku membentur stir, tapi.. sungguh ini tidak apa apa," aku memegang tangan Zidan untuk menghentikan rasa khawatirnya.


"Tapi itu bengkak dan biru," Zidan menuip dahiku, "apa ini masih sakit??"

__ADS_1


Aku tersenyum, "ini sungguh tidak sakit, sayang!! Perawat Mitha sudah membatuku merawat lukanya kemarin, jadi berhentilah mengkhawatirkan aku, okey?"


Zidan mengangguk pada akhirnya, "aku sudah menghubungi Caramel, dan Caramel mengatakan jika Kirani baik baik saja bersamanya di rumah. Pengasuh menjaga Kirani dengan sangat baik, jadi kamu tidak perlu khawatir."


"Sepertinya kamu sudah salah paham," aku menggelengkan kepala, "sebenarnya aku sama sekali tidak mengkhawatirkan Kirani, karena aku tau jika dia akan baik baik saja bersama Caramel dan juga pengasuhnya. Yang aku khawatirkan justru kamu, sayang! Aku tau jika kamu sangat lelah, aku juga tau jika semalam kamu tidak tidur kan? Jangan berani membohongiku!!" Aku memegang wajah Zidan dengan satu tangan, mengusap lembut wajah lelah Zidan dengan lembut, "kamu pulanglah, beristirahat di rumah!! Aku akan menjaga Carla hari ini."


Zidan diam, tidak menanggapi.


"Aku mohon, kamu sudah sangat lelah, tubuhmu tidak akan bisa menopang rasa lelahmu lebih lama lagi. Kamu manusia, bukan robot. Bahkan sebuah robotpun ada kalanya kehabisan daya." Ucapku panjang lebar dalam satu tarikan nafas.


Zidan tersenyum, "meskipun aku tidak ingin kamu lelah, tapi karena kamu sudah bersikeras, maka aku tidak bisa membantahnya. Bagaimanapun kamu adalah bosnya di sini!" Zidan menutup laptopnya, mengambil kunci mobil, "jaga dirimu baik baik, jangan memaksakan diri!! Em?" Zidan mencium dahiku sekilas dan melangkah pergi.


"Zidan..." aku menahan Zidan dengan memegang tangannya.


Zidan menghentikan langkahnya, dan berbalik lagi ke arahku, "ada sesuatu yang ingin kamu katakan?"


"Tidak perlu di pikirkan," Zidan memelukku, dan menepuk punggungku pelan.


〰〰〰


Dua jam kemudian.


Carla membuka matanya, mengawasi sekeliling, "Sasya??" Tersentak saat mendapatiku duduk pada sebuah kursi di samping ranjang.


"Kamu sudah bangun?"

__ADS_1


Carla mencoba untuk duduk dengan susah payah, memaksakan diri meski Dokter sudah memintanya untuk terus berbaring sepanjang hari. Aku menghela nafas panjang melihat ini, dan membantu Carla pada akhirnya, menyandarkan tubuhnya pada sandaran ranjang.


Carla duduk dengan diam, pandangan sayu dan entah menatap apa. Tatapan matanya tampak kosong saat melihat keluar jendela. Tidak tau apa yang dia pikirkan. Sedangkan aku juga sama, diam dengan pikiran kalut. Saat hati tidak singkron dengan otak, maka hasilnya hanyalah bimbang. Ingin menangis tapi tidak kuasa, ingin tertawa tapi tidak mampu, ingin berteriak tapi ada orang lain di sini.


Aku tidak tau harus memulai dari mana, pembicaraan serius pada situasi seperti ini, rasa rasanya tidak pantas, apa lagi jika Carla sedang dalam proses pemulihan pasca operasi, juga psikis Carla yang mungkin tidak stabil telah membuatku semakin ragu. Tidak yakin jika ini adalah waktu yang tepat, namun aku juga tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Semakin lama, maka semakin banyak pula hati yang akan tersakiti.


"Terima kasih," adalah suara Carla yang memecah kesunyian di kamar ini, suara yang sangat pelan bahkan nyaris tidak terdengar.


Aku tersentak, tidak yakin dengan apa yang ku dengar, dan lebih tidak yakin lagi adalah saat seorang Carla Megan berterima kasih pada orang lain, "untuk?" Namun aku tetap menanggapinya meski itu terkesan sedikit aneh.


Carla menoleh ke arahku, "karena sudah menolongku, aku pikir.. aku akan mati saat itu."


"Tidak perlu berterima kasih, dan satu hal yang harus kamu ketahui, jika aku tidak melakukan ini untukmu, tapi untuk Zidan, jadi.. jangan besar kepala." Jawabku ketus, meski aku marah pada wanita ini, namun aku berusaha untuk menahannya, berusaha menghormati perasaannya setelah serangkaian musibah menimpanya belakangan ini. "Namun, jika kamu berniat berterima kasih padaku, aku ingin kamu mengatakan sebuah kejujuran padaku!"


Carla mengerjapkan matanya beberapa kali, "jujur?? Tentang apa?"


"Siapa dia??"


"Siapa maksudmu?? Aku tidak mengerti apa maksud ucapanmu?" Carla tampak bingung, masih belum memahami arah pembicaraanku.


"Tidak perlu bersandiwara lagi! Kamu bisa menipu semua orang, tapi kamu tidak bisa menipuku. Siapa Ayah bayi itu yang sebenarnya??" Ucapku penuh penekanan, aku tidak ingin lagi bersikap lunak kepada wanita ini.


Carla tersentak, "Sasya.. aku mohon, aku tidak bisa mengatakannya, kamu tidak akan mengerti!!"


"Baiklah, semua pilihan berada di tanganmu, namun kamu tidak berada pada tempat untuk bernegosiasi denganku, kamu harus sadar dengan posisimu sekarang!! Namun, karena kamu adalah anak dari suamiku, maka aku akan berbaik hati untuk memberimu dua pilihan, jelaskan atau hancur!! Pikirkan baik baik!!"

__ADS_1


〰〰〰


Hiuft.. 1025 kata untuk chapter ini.


__ADS_2