Perebut Suamiku

Perebut Suamiku
PS chapter 15


__ADS_3

➡➡➡


Semakin ke sini semakin sadar, apapun yang kita jaga, siapapun yang kita sayang, tidak selamanya berada di sisi kita. Mereka bisa saja tiba tiba pergi sebelum kita siap untuk menerimanya. #unknown


➡➡➡


Tanpa terasa, satu minggu sudah terlewati sejak pertama kali aku bekerja di RI ONE. Kini aku sudah menjadi pegawai tetap setelah aku berhasil melewati masa uji coba selama satu minggu terakhir.


Aku menghela nafas lega saat pegawai lain di sini juga ramah dan baik hati. Meskipun aku hanya seorang penyanyi cafe, tapi mereka tetap menghormati serta tidak membullyku.


Masa kerjaku hanya tiga jam, dari jam delapan malam sampai jam sebelas malam. Namun, meski aku hanya bekerja selama tiga jam di setiap harinya, tapi aku masih mendapat gaji yang cukup tinggi.


Furi akan membayarku setiap satu minggu sekali dan akan memberikan bonus tambahan yang lumayan.


Aku bisa membeli gaun untukku pakai saat pentas dengan uang gajiku, sementara uang tabunganku akan tetap utuh yang akan ku gunakan untuk membeli rumah saat aku di usir nanti.



..VISUAL HIMALAYA GILSYA..


Aku melihat jam pada pergelangan tanganku, ini sudah jam sebelas malam, aku harus cepat pulang atau aku tidak akan berani pulang ke rumah saat sudah larut malam. Aku takut ada begal ataupun makhluk halus yang konon kabarnya sering kali muncul dari kegelapan malam.


Aku segera masuk ke toilet, melepas gaunku dan ku ganti menjadi hoodie dan denim panjang, menghapus riasan ku dan segera pergi meninggalkan RI ONE setelah pamit terlebih dahulu pada Furi.


Entah kenapa, pikiranku sedikit kacau hari ini. Aku kehilangan konsentrasi dan aku seperti memiliki firasat buruk tentang sesuatu.


Ya Tuhan, sejujurnya aku takut sesuatu yang buruk akan menimpaku, ini sudah malam di tambah aku hanya seorang wanita lemah yang masih ingin hidup, setidaknya sampai aku bisa membalas Adnan dan istri barunya.


Aku mengendarai sepeda motorku dengan kecepatan tinggi. Aku bahkan tidak memperdulikan lagi kendaraan yang berkendara di sekitarku. Aku hanya ingin cepat sampai di rumah, dan segera menghubungi Helena untuk menanyakan keadaan Kirani.

__ADS_1


Baru lima menit berkendara, hpku berdering. Jam sebelas malam, tentu ini adalah panggilan penting. Aku segera menepikan motorku, ku ambil hp yang berada di dalam saku celanaku. Tertulis nama Helena di dalam layar.


Tanpa menunggu lagi, aku segera mengangkat panggilannya.


"Hallo, kak Sasya.. sesuatu yang buruk terjadi." Suara Helena terdengar panik.


"Helena, bicara yang benar, katakan apa yang terjadi? Jangan membuatku takut." Ucapku yang mulai merasa panik setelah mendengar nada panik Helena dari balik panggilan.


"Haris..."


"Iya, ada apa dengan Haris??"


Bukannya mendengar jawaban, aku justru terdengar isakan tangis dari Helena. Aku semakin kalut. "Helena, jawab aku!! Haris kenapa? Jangan membuatku khawatir!!" Meski nyatanya aku sudah khawatir tingkat tinggi, tapi aku mencoba untuk menutupinya.


"Haris berada di Rumah Sakit, Kak." Ucap Helena terbata yang di selingi dengan tangisan.


Mendengar ini, aku sontak menutup mulutku rapat. Pikiranku kacau, tanpa terasa bulir bening mengalir begitu saja dari mataku. Aku takut.. takut Haris mengalami sesuatu yang sangat buruk.


"Haris kecelakaan."


Kini tangisanku sungguh sungguh pecah dan kata l*knat yang tidak ingin ku dengar, akhirnya terlontar dari bibir Helena dengan sangat mudah.


Aku menjadi lesu seketika, kakiku mendadak lemah dan hatiku hancur berkeping keping.


Haris kecelakaan??


Aku menggelengkan kepala, "ini tidak mungkin, ini pasti salah."


Aku pun menangis sejadinya, namun aku menggigit bibirku sendiri, berusaha agar tangisan itu tidak terdengar oleh Helena. Karena aku tahu jika Helena sedang menangis di sana sendirian.

__ADS_1


"Tunggu aku dan aku akan datang secepat yang aku bisa!!"


Tut tut tut.


Aku menutup sambungan telepon, dan tanpa menunggu lagi aku langsung menuju Rumah Sakit yang mungkin saja terdapat Haris di sana.


Kini aku memacu motorku dengan kecepatan maksimal. Jam sebelas malam membuat jalanan cukup lengang. Aku menyalip beberapa kendaraan dengan gila, bahkan menerobos lampu merah.


Tidak peduli apapun yang terjadi, bahkan aku merasa tidak takut lagi pada kematian. Aku hanya ingin tiba di rumah sakit dengan cepat dan berharap semoga aku tidak celaka, karena aku hanya ingin melihat Haris dalam kondisi hidup.


Setidaknya jika aku harus mati saat ini, ini semua tidak akan menjadi masalah, asal itu bisa di gantikan dengan kehidupan saudaraku. Aku rela, aku bahkan akan memberikan nyawaku jika itu memang harus.


Hanya perlu waktu sepuluh menit untukku tiba di Rumah Sakit, dan aku segera berlari menuju UGD, mencari keberadaan Haris yang ternyata tidak di UGD, tapi berada di ICU.


Aku melihat Ibu, Ayah, Helena juga Kirani sedang melihat Haris dari balik kaca.


Kirani segera memelukku erat dan menumpahkan semua air matanya di pekukanku begitu Kirani tahu bahwa aku sudah datang. Aku berusaha untuk menenangkan Kirani meski aku sendiri juga tidak yakin dengan perasaanku sendiri.


Tanpa ada yang menjelaskannya pun, aku sudah tahu jika Haris mengalami koma, dan ada titik dimana aku benar benar jatuh saat aku harus melihat bagian dari hidupku yang tergeletak tidak berdaya dengan banyak luka serta perban yang masih melingkar pada kepala Haris.


Meski tangis tidak bisa di bendung, setidaknya di sisi lain aku merasa sedikit lega. Haris hanya mengalami koma dan tidak mati. Koma hanyalah bagian dari tidur panjang, karena Haris jelas masih hidup di dunia lain, dia masih bisa mendengar suaraku meski dia tidak bisa menanggapi ataupun meresponnya, dan setidaknya dia masih bisa bangun suatu hari ini, entah kapan.


Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Haris, aku juga tidak ingin tahu. Aku hanya ingin dia bangun dan kembali. Meninggalkan tidur panjangnya, dan kembali mengisi salah satu bagian dari diriku yang sekarang hilang.


Aku kembali melihat sosok yang sekarang terbaring lemah di ranjang ICU, dengan banyak selang di tubuhnya. Hanya ada kesunyian dan hanya ada suara ventilator yang menemani Haris di dalam sana.


Haris sendirian.


Berjuang antara hidup dan mati seorang diri, dan aku harap pria itu tidak akan pernah mati, aku ingin dia hidup seribu tahun lagi.

__ADS_1


"Polisi akan mencari pelaku yang telah menabrak Haris dan akan menyerahkan hasil penyelidikan setelah dua puluh empat jam." Adalah suara Ayah yang hampir tidak terdengar.


Aku semakin syok mendengar ini, bahwa sebenarnya.. Haris tidak mengalami kecelakaan tunggal, melainkan di tabrak??


__ADS_2