
➡➡➡
Percaya itu boleh, tapi tetap harus hati hati. Bahkan gigimu saja terkadang menggigit lidahmu sendiri. #unknown
➡➡➡
Makan malam di rumah Zidan terasa istimewa, dengan Kirani dan Caramel yang sudah akrab satu sama lain memberikan kesan hangat dan juga nyaman.
Tiba tiba..
"Papa," adalah teriakan nyaring yang berasal dari halaman, dengan suara khas sepatu hak tinggi yang semakin lama semakin mendekat.
Kami lantas menoleh arah pintu, mencari sumber suara, ingin melihat seseorang yang sekiranya datang berkunjung pada jam makan malam keluarga kami. Menganggu adalah kata yang lebih tepat.
"Pa.. apa maksudnya ini?" Carla menggebrak meja makan begitu masuk ke dalam rumah.
Pemandangan miris yang membuatku menggelengkan kepala, apa Caramel memiliki sifat dan sikap seperti ini meski besar tanpa seorang Ibu? Jawabannya adalah tidak. Sementara Carla yang sudah di besarkan selama empat tahun oleh Ibunya, justru berakhir dengan tidak memiliki adab dan sopan santun.
Aku masih mengawasi pintu masuk, namun tidak ada yang datang lagi, sepertinya Carla hanya sendirian, tidak datang bersama Adnan. Itu cukup bagus.
"Kirani, masuk ke kamar kamu, sekarang!!" Perintahku pada Kirani begitu aku tau siapa yang datang. Aku hanya tidak ingin Kirani melihat ataupun mendengar kejadian ini. Kirani segera berlari ke kamarnya di lantai dua tanpa bertanya lagi, seakan tau jika situasi saat ini tidak kondusif.
Mendengar pertanyaan Carla, Zidan menghentikan makannya, meletakan sendok dan garpu yang sedari tadi di pegangnya, kehilangan selera makan adalah suatu hal yang berasal dari teriakan Carla, "Memangnya ada apa lagi?"
__ADS_1
"Apa Papa sungguh memilih wanita ini?" Carla menunjuk wajahku dengan jari telunjuknya.
"Carla, berhentilah berbuat ulah!! Jadilah sedikit dewasa!!" Zidan masih bersuara tenang, seakan ini hanyalah hal kecil yang tidak pantas di besar besarkan.
"Aku ingin penjelasan yang sejelas jelasnya, Pa!!" Ucap Carla penuh penekanan.
"Memangnya apa lagi yang harus di jelaskan? Bukankah semua sudah sangat jelas di depan mata jika aku sudah menikahi Sasya dua hari yang lalu, lalu kamu ingin mendengar penjelasan apa lagi?" Nada suara Zidan masih tenang, sangat pandai menutupi emosinya. Namun jika melihat kedalaman matanya, tersirat emosi rumit yang tidak bisa di jabarkan.
"Menikah? Dua hari yang lalu? Apa apaan ini? Apa hanya aku yang tidak tau?"
"Kamu sendiri juga menikah diam diam dengan pria itu, apa kamu pernah memberitahuku tentang pernikahanmu? Tidak.. Carla.. aku bahkan tidak tau tentang kehamilan kamu sampai sebesar ini." Zidan menunjuk perut buncit Carla, merasa kecewa karena putri sulungnya tidak pernah jujur tentang semuanya.
Hamil delapan bulan tanpa Zidan tau adalah kebohongan besar yang sangat hebat. Harus ku akui, jika Carla terlalu pandai memutar balikan kata. Pepatah lama memang benar adanya, jika diam memang justru menghanyutkan.
"Jangan katakan kata l*knat itu!!" Adalah suara Caramel yang dari tadi hanya diam. Aku dan Zidan sontak menoleh ke arah Caramel yang sekarang sudah bangun dari duduknya.
"Tidak usah ikut campur, dasar anak pembawa s*al!!" Adalah umpatan kasar yang Carla ucapkan kepada Caramel secara frontal.
"Carla, cukup!!" Aku berusaha untuk menghentikan umpatan kasar Carla, "bagaimanapun Camarel adalah adikmu, kamu bisa menghinaku, tapi jangan pernah menghina Caramel!!" Aku membentak Carla dengan nada tinggi. Aku benar benar tidak habis pikir, kenapa Zidan bisa memiliki putri seperti ini.
"Jadi kalian sudah membentuk aliansi untuk menyudutkanku?" Carla menunjuk Caramel, "dan kamu lebih membela orang luar daripada kakakmu sendiri? Hah.. jawab!!!" Suara Carla semakin terdengar kacau.
Caramel menghela nafas panjang, "Kakak? Memangnya kamu pernah menganggap aku sebagai adikmu? Apa pernah kamu berlaku seperti seorang kakak? Dan apa kamu pernah memperlakukan aku seperti adikmu??" Caramel tersenyum getir, seakan kesedihannya selama bertahun tahun telah di tumpahkannya di sini, detik ini, "berhenti berbicara omong kosong, berhenti menyalahkan orang lain atas segala sesuatu, dan jangan pernah menganggap orang lain kotor, karena belum tentu kamu lebih bersih dari orang yang kamu hina." Caramel beranjak, memelukku.
__ADS_1
Aku tersenyum tipis saat mendapat pelukan hangat dari Caramel. Ternyata gadis ini sudah tumbuh dewasa sekarang. Aku bahkan tidak pernah menyangka jika Caramel akan membelaku di saat seperti ini.
Aku menepuk punggung Caramel pelan, mencoba menenangkannya, aku tau jika Caramel sedang menangis sekarang, tapi itu adalah proses untuknya tumbuh semakin kuat.
"Carla, berhenti menyakiti semua orang!! Kamu tidak hanya menyakitiku, tapi juga semua orang, Sasya dan juga Caramel. Suka ataupun tidak suka sekarang Sasya adalah Ibumu, dan Caramel tetaplah adikmu. Tidak bisakah kamu belajar banyak dari Caramel?" Zidan berdiri dari duduknya, mengacungkan jari telunjuknya tepat di depan wajah Carla, "aku akan memberimu dua pilihan, pertama.. minta maaf kepada semua orang, jika tidak aku akan membekukan kartu kredit dan sahammu, atau kedua jika kamu tidak melakukan hal pertama, maka aku akan menarik semua fasilitas yang selama ini aku berikan, hanya sementara sampai kamu menyadari kesalahanmu."
"Lalu apa bedanya kedua pilihan itu, jika pada nyatanya kedua pilihan itu memiliki arti yang sama?? Papa tidak bisa melakukan itu!! Aku adalah putrimu, jadi Papa tidak bisa memojokanku hanya karena masalah ini!" Carla melayangkan protes, merasa jika ini tidaklah adil untuknya.
"Ini bukan waktu yang tepat untuk bernegosiasi. Aku bahkan sudah memberimu waktu selama bertahun tahun agar kamu berubah, untuk membuka presepsi dan pandangan kamu tentang orang lain di sekitar kamu. Untuk tidak menilai orang lain kotor, dan tidak menyalahkan orang lain atas segala sesuatu yang tidak berjalan sesuai dengan keinginan kamu," Zidan kembali duduk.
Sedangkan Carla hanya diam.
"Pilihan berada di tanganmu, minta maaf atau semua fasilitas kamu akan ku cabut, selain Apartemen.."
Carla masih diam, namun beberapa saat kemudian, Carla membuka dompetnya, mengeluarkan kartu kredit dan kunci mobil kesayangannya, dan meletakannya di atas meja, "aku lebih baik tidak mendapat fasilitas dari pada harus minta maaf kepada orang yang ku benci," Ucap Carla sebelum meninggalkan rumah Zidan dengan langkah cepat.
"Baiklah, itu adalah pilihanmu. Ku harap, kamu tidak akan pernah menyesalinya," ucap Zidan dengan nada sendu.
〰〰〰
Tengkyu gaes yang udah baca PS. Jangan lupa baca BUKAN WANITA MALAM juga ya?? Salam sayang dari aku.. 😘😙😚
__ADS_1