Perebut Suamiku

Perebut Suamiku
PS chapter 31


__ADS_3

➡➡➡


Aku adalah wanita yang kondisional, kalo di ajak susah gak nyusahin, kalo di ajak mewah juga gak malu maluin. Karena yang glowing sudah terlalu pasaran.


➡➡➡


Waktu berlalu dengan cepat. Hari sudah hampir malam, dan aku juga melakukan banyak hal bersama Zidan sepanjang hari. Kami menghabiskan waktu dengan bercanda dan tertawa bersama layaknya remaja yang benar benar jatuh cinta. Waktu berjam jam bahkan terasa berjalan lebih cepat dari biasanya.


Namun sesuai perkataan Zidan jika putrinya tidak pernah meninggalkan kamarnya.


Aku tidak mempercayai ini sebelumnya sampai aku benar benar membuktikannya dengan mata kepalaku sendiri. Aku tidak melihatnya meski itu hanya sekilas. Apa yang sebenarnya putri Zidan lakukan di kamarnya hingga berjam jam? Entahlah.. namun kali ini aku bisa bernafas lega, setidaknya ini tidak lagi mengganggu pikiranku.


"Apa yang ingin kamu makan untuk makan malam?" Zidan bertanya padaku seraya memakai apron berwarna pink bergambar hello kitty. Sementara aku membantunya mengikat tali apron di pinggang belakangnya.


Aku tertawa melihat ini. Siapa yang menyangka jika seorang Zidan Viky, CEO HS World akan memasak dan mengenakan apron lucu seperti saat ini?


Bukankah ini akan menurunkan kredibilitasnya sebagai seorang pemimpin perusahaan?


Tapi siapa peduli? Zidan justru terlihat sangat imut dan menggemaskam sampai aku ingin menggigitnya sampai habis.


"Kenapa kamu terus tertawa? Apa yang lucu?" Ucap Zidan seraya berputar layaknya anak kecil yang tengah memamerkan baju barunya dengan riang gembira.


Aku bukannya menghentikan tawa, aku justru semakin terbahak. Melihat Zidan mengenakan apron lucu saja sudah sangat istimewa, apa lagi saat melihat tingkah Zidan yang seperti ini? Astaga.. dunia serasa milik kami berdua.


"Apa kamu yakin bisa memasak?" Ucapku seraya memegang perutku yang mulai terasa sakit karena terlalu banyak tertawa.


"Tentu saja, Nyonya. Apa kamu akan percaya jika aku mengatakan pernah belajar memasak dari chef terkenal?"


"Hah?" Aku tersentak, belajar memasak? Sepertinya itu sama sekali bukan gaya Zidan. Lalu aku menggelengkan kepala, "tidak."


"Sudah ku duga jika kamu tidak akan mempercayainya, tapi sudahlah.. kamu mau makan apa?"


"Memangnya apa yang bisa kamu masak?" Aku mendekat ke arah Zidan, berdiri di hadapannya hingga kami saling bertukar pandangan.


"Apa yang kamu suka?" Zidan maju satu langkah, melingkarkan tangannya di pinggangku, mengangkat tubuhku dan mendudukanku di atas meja dapur.

__ADS_1


Aku menggigit bibirku sendiri, dan aku mengaitkan tanganku pada leher Zidan tanpa rasa malu. Tidak tau kenapa, secara naluriah aku memiliki keberanian untuk melakukan hal ini. "sepertinya aku lebih suka..."


"Tuan, sepertinya ada sedikit masalah dengan HS hotel di...." seseorang yang tiba tiba masuk segera menghentikan kalimatnya begitu melihatku dan Zidan sedang berada dalam posisi int*m yang super duper canggung.


Bukan hanya assistant pribadi Zidan yang tertegun, aku dan Zidan juga demikian. Aku buru buru melepaskan tanganku dari leher Zidan, kemudian mendorong dada bidang Zidan hingga Zidan mundur satu langkah.


Aku turun dari meja dapur, dan menggaruk tengkukku sendiri karena malu.


"Ada apa? Bicara?" Zidan berkata pada assistantnya.


"Ada sedikit masalah dengan HS hotel di Bali, ini darurat." Ucapnya dengan wajah serius.


"Tunggu di ruang kerjaku!" Ucapan Zidan membuat Assistantnya meninggalkan kami berdua di dapur.


Kemudian Zidan menoleh ke arah ku, seakan meminta pendapatku.


Jika melihat ekspresi assistant Zidan, sepertinya sesuatu yang darurat memang telah terjadi, aku mengangguk, mempersilahkan Zidan untuk pergi ke ruang kerjanya, "tidak apa apa, aku akan baik baik saja."


Zidan menepuk kepalaku pelan, "tunggu aku, aku janji ini tidak lama." Adalah ucapan Zidan sebelum melepas apronnya dan kemudian menghilang dalam sekejap.


Aku tertegun, Zidan tidak pernah makan malam di rumah? Benarkah? Namun aku tidak mempermasalahkan ini lagi, aku segera mengambil sayur dan daging di kulkas dan kemudian mulai memasak.


Satu jam sudah berlalu, lebih tepatnya jam tujuh malam, Zidan masih belum keluar dari ruang kerjanya. Sepertinya sesuatu yang darurat memang telah terjadi. Aku tidak tahu masalah apa itu, tapi sepertinya itu sangat penting.


Aku menata piring dan beberapa menu masakanku di atas meja, sampai Bibi Lu menghampiriku.


"Maaf, Nyonya, Tuan meminta agar Nyonya memanggil Nona di kamarnya untuk makan malam," ucap Bibi Lu seraya membantuku menata piring.


"Kenapa tidak Bibi saja yang memanggilnya?" Sejujurnya aku malas berurusan dengan anak Zidan untuk saat ini.


"Tuan hanya berpesan seperti itu, Nyonya, mungkin Tuan hanya ingin agar Nyonya dan Nona menjadi lebih akrab satu sama lain."


Akrab? Lucu sekali.


"Seperti apa Nona? Maksudku anak Zidan?"

__ADS_1


Bibi Lu tersenyum, "dia seorang pendiam, dia tidak akan pernah keluar dari kamarnya. Dia akan belajar dan belajar sepanjang waktu. Dia seorang gadis introvert."


Gadis introvert? Oh ya?


Aku mengangguk, "baiklah, dimana kamarnya?"


"Di lantai dua, pintu pertama dari tangga, Nyonya."


Aku melangkahkan kakiku dengan malas. Aku benci situasi seperti ini. Aku belum siap untuk bertemu dengan anak Zidan. Bagaimana jika dia tidak menyukaiku? Bagaimana jika dia seperti anak tiri kebanyakan? Rewel dan susah di atur?


Aku meremas rambutku dengan frustasi. Lantai dua.. aku seperti akan menemui iblis di sana.


Aku tiba di lantai dua, berjalan ke pintu pertama sesuai arahan Bibi Lu dan berdiri di depan pintu cukup lama.


Aku ragu antara masuk atau tidak, tapi aku tidak mempunyai pilihan lain selain masuk. Aku mengepalkan tanganku, "ayo Sya, fighting!" Aku menyemangati diriku sendiri. Mencoba meyakinkan bahwa ini hanya masalah kecil.


Aku mengetuk pintu pada akhirnya.


Namun aku tidak menemukan jawaban atau tanggapan apapun. Aku kembali mengetuk pintu, namun jawabannya masih sama, hening dan sepi.


Aku sudah memaki dalam hati, bocah setan itu membuatku muak, seperti apa rupa anak Zidan yang sebenarnya? Belum kenal saja sudah membuatku kesal.


Aku mengetuk pintu untuk yang ketiga kalinya, jika anak itu tidak merespon lagi, aku akan masuk ke kamarnya dengan paksa entah dia menyukainya atau tidak.


Namun kamar itu masih hening, anak setan s*alan, aku memutar gagang pintu dan terkejut, "ini tidak di kunci?"


Tanpa menunggu lagi, aku segera masuk ke dalam. Melihat sekeliling, kondisi kamar cukup gelap, hanya lampu di samping nakas yang menyala, juga layar komputer yang menyala beserta seorang gadis berambut panjang yang duduk menghadapnya.


Aku berjalan merindik, aku mendekat.. semakin dekat.. dan..


Aku menelan ludah, gugup, cemas dan takut berbaur menjadi satu.


"Hallo, Ayahmu memintamu turun untuk makan malam," ucapku dengan suara bergetar.


Gadis itu menoleh..

__ADS_1


__ADS_2