
➡➡➡
Aku tidak di tinggal sendiri, tapi aku di latih kuat untuk melakukan apapun sendiri. #unknown
➡➡➡
Sore ini aku berada di tempat Furi dengan Miranda, aku kembali ke rutinitasku setelah seminggu beristirahat sejak kecelakaan Haris. Aku kembali menggeluti pekerjaanku di cafe untuk mengumpulkan pundi pundi rupiah.
Sudah ku katakan jika aku tidak bisa hanya menunggu, uang tabunganku tidak bisa bertahan lama jika tidak di imbangi dengan mencari. Plus, Haris membutuhkan banyak uang untuk biayanya selama di Rumah Sakit.
Sebagai putri sulung, aku tidak bisa membiarkan orang tuaku menanggung ini sendirian. Setidaknya, aku akan membantu meski tidak seberapa, dan kami juga harus membayar lebih mahal agar Haris mendapatkan pengobatan terbaik dari pihak Rumah Sakir.
Kami sudah sepakat untuk memberikan semua yang terbaik untuk Haris, dan hanya satu yang kami inginkan, yaitu kehidupan Haris kembali.
Meski pihak Rumah Sakit tidak berani menjamin untuk kesadaran Haris hingga lima puluh persen, tapi kami percaya Tuhan akan menyembuhkan Haris secepatnya.
Anak nakal itu harus bangun dan sembuh, aku tidak bisa untuk kehilangan seseorang lagi. Sudah cukup Adnan, dan tidak ada yang lain lagi.
"Menurutmu kenapa pria lebih menyukai wanita cantik dan sering kali merasa bosan dengan pasangannya sendiri?" Pertanyaan Miranda kepada Furi membuyarkan lamunanku seketika hingga aku mengerjapkan mata beberapa kali.
Furi hanya mengangkat bahu, "aku tidak tahu karena aku bukan tipe pria seperti itu, okey?? Aku tipe pria yang setia sampai mati dengan pasanganku meskipun dia tidak lagi cantik dan seksi."
"Cuih.. pembohong. Hampir semua pria seperti itu, pandai membual."
"Hampir berarti tidak semua, dan aku tidak termasuk." Furi masih bersikeras untuk membela dirinya sendiri.
Yang ku tahu, nasib rumah tangga Miranda tidak jauh dari ku, di khianati, di campakan dan tidak di inginkan, tapi untungnya.. Miranda tidak pernah mencintai suaminya, menjadikan Miranda tidak merasakan rasa sakit berkepanjangan seperti yang aku alami.
Namun perdebatan konyol itu selalu bisa membuat kami tertawa, bergembira dan membuat kami melupakan sejenak rasa jenuh yang terkadang hadir di saat sepi, dan entah sejak kapan kami menjadi akrab satu sama lain.
Mungkin karena kami bertiga memiliki pandangan yang sama untuk arti sebuah kehidupan, plus kami memiliki sisi kegilaan yang sama.
Sebuah notifikasi pesan di hpku membuatku sedikit terkejut. Pesan l*knat itu lagi, namun aku tetap membuka pesan itu meski enggan dan segera membaca pesan singkatnya.
Rubah :
__ADS_1
"Apa kamu tidak penasaran tentang sesuatu??"
Deg..
Sesuatu tiba tiba menancap tepat di jantungku. Jauh di dalam hatiku, aku merasakan rasa sakit itu lagi, yaitu perasaan sakit karena kehilangan.
Aku tidak tahu kenapa.. satu hal yang aku pikirkan adalah Haris. Apa ini ada hubungannya dengan kecelakaan yang menimpa Haris?? Sejujurnya aku tidak ingin berprasangka buruk, tapi entahlah..
Firasat memang tidak selalu benar, tapi kalau perasaan susah untuk di bohongi.
Aku kembali ke akal sehatku, dan segera menunjukan pesan itu kepada Miranda.
Miranda mengangkat sebelah alisnya? kemudian tersenyum setelah membaca isinya, dan segera menoleh ke arahku, "apa kamu memikirkan hal yang sama denganku?"
Aku mengangguk, "sujujurnya aku sudah mencurigai Rubah ini sejak awal, tapi aku tidak mempunyai bukti, jadi aku tidak berani menyimpulkan."
"Kalau begitu, temui saja dia!! Kamu tidak akan rugi." Furi angkat bicara.
"Tapi.. apa menurutmu Adnan akan datang juga." Sebenarnya aku ingin bertemu dengan Rubah itu, ingin tahu sosok seperti apa yang telah membuat Adnan berpaling? Tapi aku enggan jika harus berurusan dengan Adnan lagi.
Miranda menggelengkan kepala, "apa itu yang selalu kamu takutkan? Bertemu Adnan? Dasar pecundang!!" Miranda mengejekku dengan penuh semangat.
"Jangan mengumpatku!! Aku hanya malas jika harus bertemu dengan b*jingan itu." Jawabku menolak keras ejekan Miranda, aku menghindari Adnan bukan karena aku takut, tapi karena aku sekarang telah merasa aman dengan zona nyamanku, jadi aku tidak berencana untuk kembali memasuki konflik hati lagi.
Aku memutuskan untuk membalas pesan rubah itu, dan segera memencet layar hpku secara cepat.
Aku :
"Itu tidak ada hubungannya denganku. Aku dan pria itu sudah berakhir, jadi berhentilah menguntit hidupku!!!"
Rubah :
"Apa tidak sebaiknya kita minum teh bersama dan membicarakan tentang banyak hal??"
Aku menoleh ke arah Miranda dan Furi yang juga tengah memandangku, "bagaimana?" Tanyaku kemudian.
__ADS_1
Miranda dan Furi mengangguk secara bersamaan.
"Tentu saja ini bisa menjadi kesempatan bagus, bukankah kamu juga penasaran dengan Rubah betina itu? Ayo.. cepat ajak dia bertemu!! Lebih cepat maka akan lebih baik." Ucap Furi yang ternyata sudah sangat tidak sabar.
Aku menoleh ke arah Miranda yang juga menyetujui perkataan Furi.
Aku :
"Baiklah jika kamu memaksa. Lagi pula, sudah lama aku tidak keluar dari rumahku, plus.. aku juga ingin menghirup udara yang sama dengan seekor Rubah. Tentukan tempatnya dan aku akan datang."
Rubah :
"Hebat, SURVIVE CAPITAL jam tujuh malam ini, jangan terlambat."
Braakkk...
Suara gebrakan meja yang di lakukan Miranda membuatku dan Furi melonjak kaget.
"Bagus.. ini bisa menjadi awal yang baik untukmu, setidaknya kamu bisa menunjukan siapa Himalaya Sasya yang sebenarnya.." ucap Miranda penuh arogansi.
"Menurutmu.. seperti apa Rubah itu? Maksudku sikapnya??" Tanyaku sedikit lesu, sejujurnya aku tidak cukup percaya diri untuk menemui istri baru Adnan.
Miranda berpikir sebentar, "mungkin.. berkelas.."
"Dan juga seksi." Furi menambahkan dengan membentuk pola gitar spanyol di udara.
Miranda memukul kepala Furi untuk menghilangkan kebodohan yang belakangan ini sering kali menempel pada Furi. "Dasar bodoh!!! Tidak bisakah kamu berhenti memikirkan wanita seksi??"
Furi menggosok kepala bekas pukulan Miranda dengan jengkel, "aku pria normal, jadi sangat wajar jika aku memikirkan wanita seksi di kepalaku. Atau.. bagaimana jika kita mengadakan B*kini Party di sini?? Bukankah itu akan sangat menyenangkan?? Plus, anggap saja ini sebagai perayaan atas perjumpaan Sasya dengan makhluk Jahannam itu!!"
"Dasar gila," Miranda mengumpat kepada Furi dengan kesal, sesaat kemudian Miranda menoleh ke arah ku, "apa yang kamu pikirkan, hm?"
Aku mengangkat bahu, "entahlah, aku tidak yakin."
"Jangan terlalu di pikirkan!! Adnan tidak akan datang. Apa kamu pikir Adnan akan membiarkan kamu bertemu dengan Rubah itu jika Adnan tahu?? Tentu saja Rubah itu melakukan semuanya di belakang Adnan."
__ADS_1
Sebenarnya.. Miranda benar, Adnan tidak mungkin mengetahui ini, dan Adnan juga tidak akan pernah membiarkan wanita rubah itu berbuat ulah.
Aku tersenyum, "baiklah, ayo buat penampilanku berkelas malam ini."